Humaniora Jejak Langkah Jakob Oetama dalam Bingkai Foto

Pameran Foto

Jejak Langkah Jakob Oetama dalam Bingkai Foto

Kisah perjalanan Jakob Oetama ditampilkan dalam Pameran Foto Jejak Langkah Jakob Oetama yang akan dibuka pada Minggu (18/10/2020) besok di Galeri Yakopan Omah Petroek, Karang Kletak, Pakem, Sleman.

Oleh Aloysius Budi Kurniawan
· 6 menit baca
ARSIP CROWN

Jakob Oetama (kiri) dan Aristides Katoppo dari Indonesia berfoto bersama editor berita Daily Telegraph, Jack Hill (tengah), ketika mereka mengunjungi kantor surat kabar Inggris, Daily Telegraph, di Fleet-Street, London. Jakob Oetama dan Aristides Katoppo mengunjungi Inggris sebagai tamu BOAC (British Overseas AirwaysCorporation).

”Inquietum est cor nostrum donec requiescat in Te....” (Gelisahlah hatiku selalu, sampai aku beristirahat di dalam Diri-Mu). Melalui jeritan Santo Agustinus, wartawan  Sindhunata merefleksikan sosok Jakob Oetama, salah satu pendiri Kompas Gramedia yang berpulang 9 September 2020. Karena hati yang selalu gelisah, Jakob menjalani hidup ini sebagai perjalanan ziarah yang penuh liku sebagai seorang wartawan.

Menurut Sindhunata, kegelisahan Jakob Oetama bukan dalam arti gundah. Ia gelisah karena imannya mengajak dia untuk tidak pernah merasa mapan dalam hidupnya. Ia belum berhenti gelisah sejauh Kompas belum benar-benar menjadi koran yang andal, koran yang bisa ikut membangun dan mencerdaskan bangsa. Ia gelisah sejauh karyawan-karyawannya belum sejahtera, seperti yang diinginkannya (Jejak Langkah Jakob Oetama: Warisan Sang Pemula, Penerbit Buku Kompas, 2020).

Kisah perjalanan  Jakob Oetama ditampilkan dalam Pameran Foto Jejak Langkah Jakob Oetama yang akan dibuka Minggu (18/10/2020) besok di Galeri Yakopan Omah Petroek, Karang Kletak, Pakem, Sleman.

Pameran foto memperingati 40 hari berpulangnya Jakob Oetama ini digelar 18 Oktober hingga 15 Desember 2020. Selain pameran foto, di Galeri Yakopan, Omah Petroek, digelar pula kenduri bersama dan pertunjukan tari teatrikal mengenang Jakob Oetama yang digelar dengan protokol kesehatan.

Pameran foto ini menggambarkan perjalanan Jakob Oetama dalam membesarkan Kompas, juga kiprah kemanusiaan dan keindonesiaannya. (Danu Kusworo)

Pameran foto ini menggambarkan perjalanan Jakob Oetama dalam membesarkan Kompas, juga kiprah kemanusiaan dan keindonesiaannya, kata kurator pameran, Danu Kusworo, Jumat (16/10/2020), di Jakarta.

Jejak langkah Jakob Oetama disarikan dalam empat frame halaman depan atau headline koran Kompas edisi perdana 28 Juni 1965, edisi 50 tahun Kompas, edisi 55 tahun Kompas, dan edisi berpulangnya Jakob Oetama. Ditampilkan pula 51 frame foto tentang aneka macam kiprah Jakob Oetama dari awal merintis karier di media hingga akhir hayatnya.

ARSIP KOMPAS

Foto cukup lengkap anggota Redaksi Kompas ketika masih di Pintu Besar Selatan, Jakarta Kota, sebelum bermarkas di Palmerah Selatan. Ada PK Ojong (baris keempat dari bawah, paling kanan berkacamata); Jakob Oetama (baris kelima dari bawah, kedua dari kiri); Leo Hadi (bawah paling kanan, berkacamata); August Parengkuan (baris ketiga dari bawah, ketiga dari kiri); J Adisubrata (deret ketiga dari bawah, paling kanan); Threes Nio, wartawan politik (pakai bando, deret kedua dari atas); Edward Linggar (deret kedua dari bawah, paling kanan); dan Alfons Taryadi (depan Pak Jakob, pakai kacamata).

Perjalanan awal Jakob Oetama merintis koran Kompas diwakili dengan foto bersama sejumlah awak redaksi Kompas di Pintu Besar Selatan, Jakarta Kota. Tampak dalam foto itu, Jakob Oetama bersama pendiri Kompas Gramedia PK Ojong serta generasi awal jurnalis Kompas tengah duduk santai di tangga.

Baca juga: Hati Jakob Oetama yang Selalu Gelisah

Perjuangan awal Kompas tidaklah mudah. Pada 1978, Kompas mengalami dilema dalam pemberitaan demonstrasi terhadap pemerintah rezim Orde Baru saat itu. Jika tidak memberitakan berarti mengingkari fakta dan jika memberitakan demonstrasi, Kompas diancam pemerintah. Akhirnya Kompas memberitakan dan kemudian untuk kedua kalinya harian ini dibredel rezim Soeharto pada 2 Januari hingga 5 Februari 1978. Sebelumnya, pada 2-5 Oktober 1965, Kompas mengalami pembredelan pertama bersama beberapa koran lain.

KOMPAS/KARTONO RYADI

Jakob Oetama (kiri) mendengarkan laporan tentang demonstrasi mahasiswa dari St Sularto (baju putih tengah) tahun 1978. Dari kiri depan: Jakob Oetama, Kristanto, Bambang SP, Mamak, RB Sugiantoro, St Sularto. Belakang: Kasijanto, Djoko, Khodyat, DJ Pamoedji, Oemar Samsuri, Chris Kelana, Purnama K.

Selain dinamika di dapur redaksi Kompas era 1970-an, pameran foto Jejak Langkah Jakob Oetama juga menampilkan sisi lain perjuangan Jakob Oetama selain di dunia media, yaitu di dunia politik. Pergulatan Jakob Oetama di dunia media serta kiprah politiknya mendapatkan pengakuan dari pemerintah. Pada Senin, 21 Mei 1973, Presiden Soeharto menyematkan tanda Bintang Utama kepada Jakob Oetama di Istana Negara, Jakarta.

IPPHOS

Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama menerima Bintang Utama dari Presiden Soeharto di Istana Negara, Jakarta, Senin (21/5).

Tampak dalam salah satu frame foto lain, ditampilkan pula sosok anggota MPR Jakob Oetama tengah duduk-duduk santai sembari ngobrol  dengan beberapa teman seusai penyampaian pidato pertanggungjawaban Presiden Soeharto di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Sabtu, 11 Maret 1978. Foto nonformal ini jarang sekali muncul di publik.

Kekuatan jaringan dan relasi Jakob Oetama dengan tokoh-tokoh bangsa tentu menjadi sisi yang tak mungkin terlewatkan dalam pameran foto. Beberapa frame foto mengabadikan momen-momen penting ketika Jakob Oetama berbincang dengan sejumlah tokoh, seperti Presiden ketiga RI almarhum Bacharuddin Jusuf Habibie saat masih menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi, almarhum Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid bersama istrinya, Sinta Nuriyah, Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri, dengan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono, serta Presiden ketujuh RI Joko Widodo saat masih menjadi Gubernur DKI Jakarta.

ARSIP KOMPAS

Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama dan Menristek BJ Habibie sekitar tahun 1997.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Cendekiawan Jakob Oetama berbincang bersama mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid dan istrinya, Sinta Nuriyah, dalam acara peringatan 60 Tahun Indonesia Merdeka yang bertajuk Menyelamatkan Komitmen Nasional”, di Gedung Arsip Nasional, Jakarta Barat, Senin (15/8/2005).

KOMPAS/EDDY HASBY

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga kandidat presiden pada Pemilu 2009 berbincang dengan Pemimpin Harian Kompas Jakob Oetama di Redaksi Kompas, Jakarta, Rabu (24/6/2009).

Beberapa momen hangat Jakob Oetama bersama rekan-rekan seprofesi juga diangkat, seperti kunjungannya ke kantor surat kabar Inggris, Daily Telegraph, bersama Aristides Katoppo, pertemuannya dengan tokoh pers Rosihan Anwar saat peringatan ulang tahunnya yang ke-88, juga dengan sahabat karibnya, P Swantoro, yang turut membesarkan harian Kompas.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Wartawan senior Rosihan Anwar (kanan) berbincang dengan Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama saat peluncuran buku berjudul Napak Tilas ke Belanda, 60 Tahun Perjalanan Wartawan KMB 1949, di Hotel Santika, Jakarta Pusat, Senin (10/5/2010).

Tidak ada foto yang menggambarkan kesedihan, semua foto menggambarkan ’perjuangan’. Melihat pameran ini, diharapkan kita diwariskan akan semangat untuk terus berkarya, dalam situasi zaman yang terus berubah, ucap Danu.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Pelayat membawa koran Kompas saat memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah pendiri Kompas Gramedia sekaligus Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta, Kamis (10/9/2020).

Di pengujung foto, terdapat satu foto Jakob Oetama yang sedang melihat waktu melalui jam tangan, tepat di hari ulang tahunnya ke-88, September tahun lalu. Dan, foto terakhir adalah foto seorang pelayat membawa koran Kompas saat memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah Jakob Oetama.

Baca juga: Kesaksian Jakob Oetama yang Banyak Terlupakan

Foto karya pewarta foto Kompas Heru Sri Kumoro ini seperti  melukiskan ucapan Santo Agustinus...sampai aku beristirahat di dalam Diri-Mu.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.