Di Balik Berita Menggotong Motor Melewati Banjir di Kawasan Hutan

Di Balik Berita

Menggotong Motor Melewati Banjir di Kawasan Hutan

Untuk meliput konflik satwa, wartawan ”Kompas”, Irma Tambunan, harus masuk hutan dan menginap. Ia bahkan ikut menggotong motor seberat 150-an kg saat melewati sungai yang banjir demi menemui suku Talang Mamak.

Oleh Irma Tambunan
· 6 menit baca
KOMPAS/IRMA TAMBUNAN

Aktivis konservasi satwa liar tengah memantau pergerakan kawanan gajah sumatera di hutan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Tebo, Jambi, Februari 2020.

Situasi tak terduga dapat terjadi saat meliput di wilayah pedalaman. Salah satunya pengalaman Kompas menembus medan terjal dan menyeberangi sungai-sungai tak berjembatan. Tatkala debit air sungai naik, kendaraan yang ditumpangi terpaksa ditandu demi mencapai lokasi tujuan.

Februari 2020, saya bertolak menuju hutan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh di Kabupaten Tebo, Jambi. Rencana liputan itu untuk melihat kondisi terkini hutan yang menjadi habitat satwa-satwa dilindungi serta melihat praktik perdagangan satwa ilegal.

Baca juga: Menembus Hutan, Mengendus Jejak Konflik Satwa

Demi memastikan perjalanan lancar selama meliput di hutan, kendaraan gardan ganda pun dipersiapkan. Perjalanan dari Kota Jambi memakan waktu sekitar 6 jam hingga tibalah saya di salah satu desa penyangga hutan di Tebo.

Sebuah persimpangan jalan di desa itu menjadi tempat pertemuan saya dengan dua teman. Mereka bernama Maskun dan Agus Salim, aktivis konservasi satwa liar. Mereka akan membawa saya menjelajah selama tiga hari.

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN

Aktivis konservasi satwa liar tengah memantau pergerakan kawanan gajah sumatera di hutan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Tebo, Jambi, Februari 2020.

Tak lama setiba di dekat tugu, saya pun bertemu keduanya. Masing-masing mengendarai motor trail. ”Medannya bakal sangat berat. Sebagian titik hanya bisa ditembus dengan motor,” ujar Maskun. Ah, baiklah. Mereka tentunya lebih mengerti jalur yang bakal kami lalui.

Keduanya telah lebih dari 10 tahun bergiat dalam konservasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Keseharian mereka terbiasa tidur dalam hutan. Mengendus pergerakan gajah. Saat terjadi konflik masyarakat dengan gajah, mereka hadir sebagai garda terdepan untuk meredam konflik sekaligus menyelamatkan satwa itu dari ancaman perburuan liar.

Baca juga: Jejak Terakhir Para Penjaga Rimba

Karena harus mengikuti pergerakan satwa, penjelajahan mereka pun tak mengenal jalur kendaraan. Tak akrab dengan jalanan mulus, tetapi lebih sering melintasi semak belukar atau jalur terjal berbukit ataupun jurang.

Setelah mampir di sebuah kamp penjagaan hutan, Maskun menyarankan agar mobil ditinggal di sana, selanjutnya saya bergabung naik motor. Perjalanan pun berlanjut. Menjelang sore, kami tiba di tepi sebuah sungai. Motor trail tak dapat menembus lagi karena di seberang sungai adalah jalur berbukit sehingga kami melanjutkan dengan berjalan kaki.

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN

Melintasi habitat gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di hutan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Kabupaten Tebo, Jambi, Februari 2020.

Untung saja alur liputan pada hari itu berjalan lancar. Kami dapat kembali ke kamp dengan aman. Salah satu teman menceritakan pengalamannya di hutan yang kerap menghadapi pertemuan tak terduga. Satu ketika dirinya diserang seekor beruang.

Saat itu, tak disangka-sangka tiba-tiba beruang muncul dan bermaksud menyerang temannya. Karena ingin menyelamatkan sang teman, ia nekat melawan beruang. Entah bagaimana, pergumulan pun berakhir dan dirinya selamat dengan luka-luka yang hingga kini masih membekas pada tangan dan leher.

Baca juga: Wartawan dan Koleksinya, dari Arbain Rambey sampai PK Ojong

Kami berhasil mencapai kamp saat hari telah gelap dan hujan turun deras. Kami menumpang tidur dalam tenda. Keesokan pagi, langit tampak cerah. Hari itu kami berencana bertolak menuju wilayat adat suku Talang Mamak di Suo-suo.

Maskun mengingatkan bahwa jalur menuju wilayah adat itu bagaikan jalur neraka bagi para pengendara. Sepanjang jalur bertopografi curam dengan jalan tanah yang licin dan berlubang. Setelah hujan semalaman, lumpur menutupi lubang-lubang sepanjang jalan.

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN

Warga suku Talang Mamak membawa hasil panen duku dan merpayang di wilayah Suo-suo, Kabupaten Tebo, Jambi, Februari 2020. Dari tepi dusun, hasil panen akan diangkut menuju pasar terdekat.

Mengingat pentingnya keperluan menemui pemimpin adat dan masyarakat di dusun itu, saya coba menepis rasa khawatir soal beratnya medan. Yang terpenting hari itu kami bisa menemui masyarakat adat.

Saya butuh mendapatkan cerita dan sudut pandang mereka sebagai komunitas tradisional yang telah turun-temurun memiliki cara hidup berdamai dengan satwa-satwa penghuni hutan. Barangkali cara hidup tersebut bisa menjadi inspirasi untuk mengatasi konflik manusia dengan satwa yang kian memanas di banyak tempat.

Baca juga: Wartawan ”Kemarin Sore” di Tengah Deraan Krisis Ekonomi

Namun, harus saya akui, perjalanan menuju lokasi memang terasa berat. Beberapa kali, kami hampir tergelincir. Saat roda menuruni jalanan licin, saya menahan napas. Jangan sampai ada gerakan tubuh sedikit saja yang mengganggu keseimbangan motor. Lengah sedikit, motor bakal terjerembab.

Akan tetapi, pada sejumlah titik, lubang tak bisa dihindari. Ban motor terperosok ke dalamnya. Karena duduk di belakang, saya pun harus bolak-balik turun dan membantu mengangkat motor. Beberapa kali pula, kami berhenti untuk membantu pengendara lain yang mengalami kondisi serupa.

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN

Warga beristirahat setelah berhasil mencapai ujung tanjakan di salah satu jalur menuju wilayah Suo-suo, Tebo, Jambi. Kondisi jalan rusak dan licin membuat kendaraan roda dua mudah tergelincir.

Sejumlah warga yang terjebak menyebutkan bahwa masalah jalan buruk di sana sudah menahun. Musim panen raya kali ini memberi hasil buah yang melimpah. Sayang, antusiasme warga membawa hasil panennya ke pasar terhambat. Ratusan karung buah merpayang, duku, dan getah damar tercecer di jalur itu.

Salah seorang warga bercerita, hasil panen yang dibawanya memiliki volume hingga ratusan kilogram. Perjalanan membawa beban berat melintasi medan curam dengan kondisi jalan rusak bagaikan bertaruh nyawa.

Baca juga: Sensasi Naik V-22 Osprey, Pesawat yang Lepas Landas dan Mendarat seperti Helikopter

Jika tak awas pada tanjakan ataupun turunan, motor mudah tergelincir dan jatuh. Barang bawaannya yang berat rawan terguling dan menimpa pengendara di sekitarnya.

Setelah selesai melewati jalur neraka tadi, kami sedikit lega. Namun, hambatan belum usai. Lagi-lagi motor terhadang oleh sungai yang tengah meluap. Dalamnya sungai mencapai sebatas pinggang. Jika dipaksakan melintas, mesin motor bisa rusak karena kemasukan air.

Tak hilang akal, sebatang kayu kami selipkan pada bagian bawah motor. Maskun pun berjuang mengangkat kayu yang difungsikan sebagai derek, sementara saya mengangkat sekaligus mendorong bagian belakang agar motor tetap dapat melaju.

Tentu saja tak mudah menggotong atau menandu motor trail yang beratnya 150-an kilogram itu. Namun, bagaikan mukjizat, motor akhirnya berhasil diseberangkan menembus sungai selebar hampir 20 meter. Setibanya di seberang sungai, segala letih bagaikan sirna karena terbayar oleh rasa lega.

Tak lama kemudian, sampai juga kami di rumah sang pemimpin adat Talang Mamak, Patih Serunai. Oleh tuan rumah, kami disuguhi buah duku yang baru saja dipanen. Lelah dan ketegangan berganti rasa senang karena berkunjung pada saat yang tepat, yakni pada musim buah.

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN

Warga komunitas suku Talang Mamak di wilayah Suo-suo, Tebo, Jambi.

Editor -
Bagikan