Ekonomi Deutsche Bank, Korban Ambisi Besar?

Krisis Perbankan

Deutsche Bank, Korban Ambisi Besar?

Deutsche Bank (DB), ikon kebesaran Jerman pada industri perbankan, kini menjadi bank yang bermasalah dan mencoreng kualitas Jerman. DB merugi dan memiliki aset “beracun” yang membebani. DB juga disebut terlibat aksi penipuan keuangan, mendanai nasabah terjerat skandal moral.

Oleh Simon Saragih
· 11 menit baca
HANDINING

Simon Saragih, wartawan senior Kompas

Deutsche Bank (DB), ikon kebesaran Jerman pada industri perbankan, kini menjadi bank yang bermasalah dan mencoreng kualitas Jerman. DB merugi dan memiliki aset “beracun” yang membebani. DB juga disebut terlibat aksi penipuan keuangan, mendanai nasabah terjerat skandal moral.

“Dalam bentuknya sekarang, Deutsche Bank tidak berguna bagi siapa pun,” demikian kutipan di sebuah artikel berjudul “Deutsche Bank – pudarnya sebuah ikon,” yang dituliskan Henrik Bohme di situs berita Jerman, Deutsche Welle pada 8 April 2018.

Sekian lama DB adalah ikon yang mengundang kekaguman. “Sebagai pedagang obligasi kelembagaan pada 1980-an dan 1990-an saya menyatakan DB adalah standar emas pada industri perbankan Jerman. Aku beruntung pernah berurusan dengan banyak individu di DB yang independen … para staf cermat dan sangat handal soal perdagangan,” demikian kesaksian Steven Morris, warga AS yang menuliskan kesannya di harian The Wall Street Journal pada 15 Juli 2019.

DB merupakan lembaga perbankan elegan dan terhormat dengan analisis tajam. Miriplah dengan kualitas Jerman di industri otomotif lewat eksistensi BMW dan Marcedes-Benz, kebanggaan bangsa yang dikenal berkualitas. Jika Jerman juga dikenal memiliki tim nasional sepak bola yang jago dalam Piala Dunia, di perbankan Jerman memiliki DB.

REUTERS/KAI PFAFFENBACH

Kawasan distrik keuangan, salah satunya gedung kantor bank terbesar Jerman, Deutsche Bank, di Frankfurt, Jerman, 29 Januari 2019.

Di industri keuangan Jerman, terkenal paling handal. Sebelum menggunakan euro, mata uang tunggal zona euro, Jerman memiliki mata uang deutsche mark yang terkenal paling stabil sedunia. Kebijakan ekonomi negara yang pruden dan saksama juga memunculkan Jerman yang paling kaya di Uni Eropa dan nomor empat di dunia dari segi besaran ekonomi dengan nilai produk domestik bruto 3,997 triliun dollar AS berdasarkan data Bank Dunia pada 2019.

Profesionalisme dan nasionalisme

Profesional dan bendera negara dari segi perbankan, itulah citra tentang DB. Awalnya DB memang dirikan para bankir swasta, yakni Adelbert Delbruck dan Ludwig Bamberger, dua pendiri utama, pada 22 Januari 1870. Bank yang didirikan oleh para bankir dengan ide-ide terbuka ini didukung kemajuan ekonomi Eropa hasil revolusi industri.

Baca juga: “The Squad” Melawan Trump, Potret Industri Politik Kepentingan

DB didirikan untuk penekanan bisnis internasional. “Tujuan perusahaan melayani bisnis perbankan dalam segala bentuk, khususnya mendorong dan memberi dukungan hubungan dagang Jerman dengan Eropa dan di seberang. Tujuan langsung pendirian DB adalah mengimbangi hegemoni perbankan Inggris, yang mendominasi pembiayaan perdagangan internasional Jerman,” demikian tertulis di situs DB.

Dari ketiadaan, DB berkembang menjadi bank global. Hanya dalam dua tahun (periode 1871 – 1873), DB memiliki cabang di Bremen, Yokohama, Shanghai, Hamburg, dan London. DB siap menghadapi persaingan ketat dalam perbankan global. Tidak terlalu mencuat di permukaan seperti perbankan Inggris dan AS tetapi DB kukuh di bidangnya, pembiayaan perdagangan barang dan sarat inovasi.

Ekspansi ke AS

Karyawan DB memiliki kebanggaan sebab serasa memiliki privilege bekerja di lingkungan yang sarat orang-orang cerdas dan profesional. Pada Juli 2019 DB memiliki 90.866 karyawan di seluruh dunia dengan 1.994 cabang. DB memiliki aset 1,436 triliun euro.

REUTERS/KAI PFAFFENBACH

Papan dengan tulisan “This is your day” terlihat di dekat kantor Deutsche Bank di Frankfurt, Jerman, Oktober 2016.

DB memiliki budaya korporasi yang dikenal menjunjung integritas, kinerja berkesinambungan, fokus pada klien, inovasi, disiplin, dan kemitraan. Ini membuat DB sangat percaya diri untuk beranjak lebih jauh.

Dalam sejarahnya, DB bermasalah hanya ketika PD I dan PD II. Selebihnya DB selalu kembali berdaya dengan budaya korporasi yang kuat. Dari sini, DB terus beranjak. Sejak 1958, DB semakin menancapkan bendera bisnis internasional.

Hingga 1989, DB terus memperluas sepak terjangnya. DB mengembangkan bisnis derivatif, transaksi keuangan rumit sekaligus sarat spekulasi, didukung aksi ekspansi yang agresif. DB Ingin bersaing dengan raksasa Wall Street seperti Goldman Sachs dan JPMorgan seperti dikatakan pakar perbankan Inggris, Philip Augar.

Sebelum gencar memasuki AS, DB berambisi kuat di pasar Eropa dengan akuisisi atas Morgan Grenfell Group (Inggris) pada 1989, akusisi Banco de Madrid dan Banca Popolare di Lecco pada 1993, memasuki Polandia pada 1995, akuisisi Credit Lyonnais Belgium (1998).

REUTERS/BRENDAN MCDERMID

Suasana lantai bursa New York Stock Exchange (NYSE), AS.

Di AS, DB sebenarnya sudah mulai mengonsolidasikan bisnis sejak 1991 di bawah perusahaan induk, Deutsche Bank North America Holding. Pada 1999 dilakukan akusisi dan integrasi bisnis Bankers Trust (AS). Puncak kejayaan DB adalah pada 2001 dengan penjualan saham publik di New York Stock Exchange di samping listing di bursa saham Frankfurt.

Lalai pada ramalan?

Akuisi berlanjut hingga pada dekade 2000-an, era yang sangat dikenal dengan kejatuhan pamor perbankan global modern dan kelak meledakkan resesi ekonomi besar di AS pada 2008 dan Eropa pada 2009. DB tampaknya tidak melihat fenomena rawan di depan walau peringatan-peringatan sudah muncul dari para pakar ternama.

Ekonom AS Nouriel Roubini misalnya pada 2005 sudah meramalkan bahwa telah terjadi manipulasi di sektor perumahan di AS yang akan menyeret pereknomian ke dalam resesi. DB juga terlibat pembiayaan sektor perumahan AS, yang kemudian ketahuan marak dengan aksi penipuan. Ini tidak saja melibatkan DB tetapi juga bank-bank global.

Baca juga: Mengapa Negara Wajib Memiliki Kestabilan

Michael Mayo pada 1999 telah menyarankan pelepasan saham-saham perbankan dengan risiko kehilangan jabatannya di Credit Suisse serta kehilangan jaringan di Wall Street. Mayo mengatakan perbankan terlalu banyak memegang “asset-backed securities”, surat berharga dengan jaminan bisnis perumahan di AS. Sektor perumahan AS sempat melambung tinggi karena “didongkrak” lewat penipuan, kemudian pemegang surat utang merugi besar setelah harga perumahan di AS ambruk drastis.

William Poole, mantan President Bank Sentral AS cabang St Louis juga sudah memberikan peringatan serupa pada 2002. Juga ada Raghuram Rajan, ekonom senior dan Direktur Riset International Monetary Fund (2003-2006) yang sudah memprediksi potensi krisis besar sepanjang 2005 dan 2006. Ekonom Christopher Thornberg pada 2005, Paul Singer pada 2006, Janet Yellen pada 2007 juga mengingatkan agar mengantisipasi potensi krisis global.

Melanjutkan akusisi

Banyak lembaga yang meremehkan peringatan demi peringatan tersebut. Saat bersamaan DB mengakumulasi kegiatan bisnis global dengan mengambil alih Scudder Investments pada 2002, akusisi atas Rued, Blass & Cie (Swiss) pada 2003, akuisisi Postbank dan Sal, Oppenheim di Jerman, serta mengakuisisi bagian dari kepemilikan saham ABN AMRO di Belanda.

Ekspansi berlanjut di era kepemimpinan Josef Ackermann (2002-2012). Ini merepotkan penerusnya, Anshu Jain (2012-2015), Jurgen Fitschen (2012 – 2016), John Cryan (2015-2018), dan kini Christian Sewing. Era sebelum penunjukan Sewing, DB sudah dipimpin dua orang. Gelagat masalah sudah terjadi setelah Ackermann, dimana DB dipimpin dua orang.

AFP/DANIEL ROLAND

Christian Sewing, CEO Deutsche Bank, dalam pertemuan tahunan pemegang saham di Frankfurt, Jerman, 24 Mei 2018.

Ekonom AS yang terkenal, Robert J Shiller, pada dekade 2010-an ini juga kembali memperingatkan bahwa resesi akan muncul dari sektor keuangan. Pada era ini muncul pula skema permainan “high speed trading” dengan permainan algoritma yang terlalu canggih untuk ukuran awam. Ini adalah sarana untuk tipu muslihat di sektor keuangan, yang menjerat petaruh pasar yang lugu atau terlalu berani menantang risiko besar.

Menipu dan klien buruk

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Dapatkan Cashback 30% dari OVO!

Pakai OVO sebagai metode pembayaran di Gerai Kompas, dapatkan cashback 30% (maksimal Rp10.000) di Kompas.id! Hanya berlaku hingga 31 Desember 201

Deutsche Welle menyebutkan DB terserang ambisi dan keteledoran. DB bahkan terbukti kemudian terlibat penipuan yang berakhir dengan pengenaan denda demi denda yang harus dibayar. DB didenda karena memanipulasi London Inter-bank Offered Rate (LIBOR) dan banyak lagi sanksi lain yang dikenakan pada DB di AS, termasuk akibat keterlibatannya pada pembiayaan untuk Suriah dan Iran.

Ini belum cukup. DB kemudian dikenal melayani nasabah “penjahat” dan yang terlibat skandal. DB melayani transaksi keuangan untuk orang seperti Jeffrey Epstein sejak 2013, kala bank-bank lain tidak lagi mau melayani. Epstein dikenal terlibat kejahatan sebagai sex trafficker. Dia memasok pekerja seks komersial hingga melibatkan perempuan di bawah umur, yang dibawa ke rumah Epstein di New York City dan di Palm Beach, Florida.

NEW YORK STATE DIVISION OF CRIMINAL JUSTICE SERVICES/HANDOUT VIA REUTERS

Foto Jeffrey Epstein yang diambil oleh New York State Division of Criminal Justice Services.

DB bahkan terlibat upaya pencucian uang dalam kaitan dengan Rusia. Bahkan DB meminjamkan uang miliaran dollar AS kepada Presiden AS Donald Trump untuk transaksi yang mencurigakan. Muncul pula isu bahwa DB memata-matai wartawan atau siapa saja yang dianggap berpotensi menganggu DB walau tidak ditemukan bukti kriminal soal ini.

Produk-produk derivatif

Tidak terlalu jelas benang merah kekacauan yang terjadi di DB. Hanya saja Dewan Pengawas yang dipimpin Paul Achleitner dengan Dewan Direksi DB sudah terlihat tidak akur dalam beberapa tahun terakhir. Investor dan klien pun mulai meninggalkan DB. Ini ditandai dengan kemerosotan saham DB dari puncaknya 110 euro per lembar saham pada 2007 menjadi sekitar 7 euro sekarang ini.

Masa jabatan pimpinan di DB pun sudah mencurigakan dengan periode yang pendek-pendek. DB biasanya memiliki masa kepemimpinan selama 10 tahun sejak 1950-an. John Cryan meninggalkan DB dengan data-data yang memprihatinkan berupa kerugian berturut-turut selama tiga tahun.

Beban dan masalah di DB tidak muncul begitu saja. Warisan kesalahan termasuk pada divisi bisnis di AS periode 2005 – 2007 masih menjerat DB. “Kesalahan serius telah terjadi,” kata Cryan pada Februari 2017. Agak berat situasinya hingga pada 2016 muncul isu bahwa DB akan disuntikkan modal oleh pemerintah Jerman tetapi hal ini tidak pernah terwujud.

Kini Sewing menjadi pemimpin yang akan mengatasi masalah. “Pengangkatannya mungkin juga bisa dipandang sebagai pengakuan tersembunyi akan kesalahan yang dibuat para pejabat puncak DB, termasuk Anshu Jain, yang tidak lancar berbahasa Jerman,” demikian situs Duetsche Welle.

Salah satu benang merah masalah di DB adalah perbedaan antara manajemen dan para pemegang saham. DB memiliki divisi perbankan komersial yang menjadi kekuatan lama dan divisi bank investasi.

DB tampaknya memiliki masalah dengan divisi bank investasi, dimana pesaing besar muncul, yakni raksasa Wall Street. Televisi Bloomberg pada 6 Juli 2018 mewawancarai David Herro, Ketua Divisi Perdagangan Saham Internasional dari Harris Associates. Herro mengatakan ada banyak pemain tangguh di bidang ini seperti Goldman Sachs, Credit Suisse, UBS, JPMorgan.

AP PHOTO/RICHARD DREW

Suasana perdagangan saham di New York Stock Exchange, AS.

Profesor Hans-Peter Burghof, Kepala Divisi Jasa Perbankan dan Keuangan dari University of Hohenheim mengatakan, DB telah mengabaikan jangkar bisnisnya yang kuat di Jerman dan Eropa.

Burghof juga mengindikasikan DB telah terjebak pada bisnis bank investasi yang spekulatif dan didominasi raksasa korporasi AS. Pada 13 Juli 2016, Burghof mengatakan sangat ragu pada bentuk bisnis ini. Secara fundamental jenis bisnis ini, menurut Burghof, meriah untung dengan pola zero sum game. Artinya, untung satu bank berarti kerugian bank lain atau untung sekarang, berpotensi menjadi kerugian di lain waktu.

Ini karena bank investasi menjalankan perdagangan saham, taruhan riskan pada pergerakan suku bunga, dan jenis transaksi derivatif lainnya. Tampaknya DB memang terjebak kerugian akibat bisnis pada divisi ini. DB kini ingin menangani aset sebesar 288 miliar euro yang tidak diinginkan pada divisi spekulatif ini. Berita lain menyebutkan, DB memiliki 74 miliar euro toxic assets, alias aset beracun.

Pesaing “mencibir”

Ada kesulitan DB menangani aset-aset yang menjadi beban tersebut. Hal ini yang juga ditangkap sesama industri perbankan lainnya. Rencana merger dengan Commerzbank (Jerman) juga gagal dengan alasan terlalu berisiko menggabungkan kedua bank ini.

Belum ada kejelasan tentang penuntasan masalah yang dihadapi DB, yang merugi 3 miliar euro lebih pada kuartal kedua 2019. Para nasabah DB juga sudah “berlarian”. “Bukan hal aneh dan alamiah jika sejumlah klien ingin berpindah…,“ demikian seorang jubir DB kepada Reuters.

Operasional yang merugi akhirnya memaksa DB mengurangi sekitar 18.000 karyawan, atau seperlima dari total karyawannya. DB ingin kembali ke dasar, ke bisnis perbankan tradisional. Intinya DB ingin meninggalkan porsi terbesar bisnis dari divisi bank investasi yang spekulatif. Hanya saja tidak banyak lembaga keuangan besar yang berminat pada aset-aset yang menjadi beban DB itu.

Operasional yang merugi akhirnya memaksa DB mengurangi sekitar 18.000 karyawan, atau seperlima dari total karyawannya.

Bahkan DB dipandang akan kesulitan mengatasi masalahnya. Para analis JPMorgan misalnya menyebutkan restrukturisasi DB tetap menjadi pertanyaan. Analis JPMorgan mempertanyakan seberapa terpercaya langkah, bagaimana potensi penerimaan ke depan, dan apa yang terjadi pada semangat para pekerja, yang juga mulai berhamburan. Lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service juga mengatakan DB menghadapi tantangan signifikan. “Strateginya tidak jelas bagi kami,” demikian Goldman Sachs.

“Lembaga-lembaga pemeringkat global tidak terlihat optimistis tentang rencana restrukturisasi DB,” demikian sebuah artikel di situs Forbes. Ini merupakan kelanjutan dari peringatan Dana Moneter Internasional (IMF) pada 2016. “Kaitan DB dengan lembaga-lembaga peminjam terbesar global membuatnya menjadi sebuah potensi risiko terbesar bagi sistem keuangan lebih luas, lebih besar dari lembaga keuangan global mana pun,” demikian pernyataan IMF.

Tetap percaya diri

Akan tetapi, Sewing tetap menunjukkan rasa percaya diri lewat pernyataannya pada 24 Juli lalu. Dia memang mengakui tentang ekstremnya masalah yang sedang menerpa. “Kolega, klien, dan mitra bisnis telah mengajukan sejumlah pertanyaan. Namun saya dapat mengatakan dengan yakin bahwa kita telah melewati tantangan pertama, strategi kita tidak lagi perlu dipertanyakan. Saya juga memiliki impresi bahwa Anda juga yakin kita dalam langkah tepat,” demikian Sewing kepada karyawan DB.

REUTERS/KAI PFAFFENBACH

Kantor Deutsche Bank di Frankfurt, Jerman, 8 Juli 2019.

Hal yang dia maksudkan adalah perampingan bisnis DB, termasuk pengurangan karyawan dan pemangkasan divisi bisnis. Sewing menyebutkan beberapa lini bisnis DB yang masih meraih untung seperti Private & Commercial Bank, Global Transaction Banking.

Namun dia menambahkan ada angin kencang pada divisi bank investasi. “Kita harus berhadapan dengan meningkatkan spekulasi tentang langkah masa depan yang memengaruhi kilen,” katanya.

DB telah mengakui tidak mampu bersaing di bidang ini dengan JPMorgan Chase, Bank of America, atau Citigroup.

Meski demikian Sewing menegaskan dia sangat optimistis dan memiliki energi yang meningkat untuk restrukturisasi. “Orang-orang tidak segan mengonfrontasikan isu-isu sulit yang sedang kita hadapi tetapi hal pertama dan terutama tetap sama-sama bersatu padu mencari solusi dan bekerja penuh semangat untuk melanjutkan perjalanan ke depan,” kata Sewing.

Dia menambahkan, restukturisasi, pengurangan karyawan dan divisi juga merupakan langkah selanjutnya hingga pada 2022. Untuk ini Sewing mengatakan DB akan melakukan yang terbaik hingga tidak ada yang kecewa.

Lepas dari itu semua, DB adalah perbankan Jerman, negara terkaya di Eropa. Tidak sedikit bank-bank yang dotolong negaranya seperti terjadi di Eropa dan AS lewat penyuntikan dana talangan. Hanya saja sejauh ini langkah ke sana belum terlihat. DB milik swasta, juga belum pernah menerima dana talangan dari pemerintahnya. (REUTERS/AFP/AP)