Ekonomi Buah Simalakama Para Orangtua Tunggal Pengemudi Taksi Daring Selama Wabah Covid-19

wabah covid-19

Buah Simalakama Para Orangtua Tunggal Pengemudi Taksi Daring Selama Wabah Covid-19

Saat normal, menjadi sopir daring perempuan lebih berat dibandingkan sopir laki-laki. Jam mereka lebih pendek karena harus mengurus anak sebelum pergi. Inilah dilema orangtua tunggal perempuan yang menjadi sopir daring.

Oleh sekar gandhawangi
· 6 menit baca
KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI

Sejumlah sopir taksi daring mengeluhkan minimnya penumpang sejak Covid-19 mewabah di Indonesia. Sementara itu, mereka tidak bisa diam di rumah untuk menghidupi diri. Risiko terpapar virus SARS-CoV-2 pun ditempuh agar dapur tetap mengebul. Foto diambil di Jakarta, Rabu (25/3/2020).

Pembatasan sosial sama dengan mimpi buruk bagi mereka yang bergantung pada pendapatan harian. Orangtua tunggal yang menjadi tumpuan keuangan keluarga harus membuat pilihan sulit setiap hari: pergi keluar dengan risiko terpapar virus korona baru atau diam di rumah, tetapi kelaparan?

Sudah empat hari Lyla Adrian (38) menunggu ponselnya berbunyi. Namun, notifikasi pesanan taksi daring tidak pernah muncul di layar ponselnya. Segala cara sudah ia lakukan. Ia bahkan mengaktifkan aplikasi taksi daring sejak pukul 3 dini hari. Namun, tidak ada satu pun pesanan masuk.

Keadaan ini berat bagi Lyla dan ribuan sopir daring lainnya. Sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Covid-19 sebagai pandemi global, pemerintah di seluruh dunia serentak menerapkan pembatasan sosial. Masyarakat juga diminta berada di rumah untuk menekan penyebaran virus SARS-CoV-2.

”Tidak ada yang menafkahi keluarga kalau saya hanya diam di rumah. Di sisi lain, ada risiko bahaya ketika saya bekerja ke luar. Ini berat sekali untuk kami para orangtua tunggal,” kata Lyla.

Baca juga: Pendapatan Hilang, Pekerja Informal Tunggu Uluran Bantuan

Ia berpisah dengan suaminya sejak dua tahun lalu. Sejak itu pula ia harus banting tulang menghidupi diri dan kedua anaknya. Menjadi sopir taksi daring adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa ia lakukan. Pekerjaan itu tidak punya batasan usia, jenis kelamin, dan Lyla masih bisa mengurus anak pada pagi hari sebelum bekerja.

Dalam kondisi normal, ia bisa mendapat 15-18 penumpang dalam 15 jam. Pembatasan sosial membuat taksi daringnya sepi penumpang. Ia bahkan tidak mendapatkan satu penumpang pun sejak Minggu lalu.

KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI

Tampilan aplikasi taksi daring, Rabu (25/3/2020). Warna merah pada peta menunjukkan adanya permintaan penumpang. Pada hari biasa, peta dipenuhi tanda merah. Hal berbeda terjadi selama Covid-19 mewabah di Indonesia.

Kendati demikian, dapurnya harus tetap mengebul. Ia pun ”membelot” dan memilih berhadapan dengan bahaya terpapar virus. Lyla menjaga diri dengan mengenakan masker di dalam mobil. Ia juga menyediakan cairan pembersih tangan dan masker untuk penumpang.

Situasi pandemi membuatnya khawatir. Ia bahkan melarang diri memeluk kedua anaknya selepas bekerja. ”Harus mandi dulu,” katanya.

Hal yang sama dialami Arie Yulianti (47). Sebagai ibu tunggal, ia bergantung pada pendapatan sebagai sopir taksi daring. Mewabahnya Covid-19 membuat ia kehilangan penumpang. Penghasilannya pun kini tidak tentu.

Ia berpisah dengan suaminya sejak dua tahun lalu. Sejak itu pula, ia harus banting tulang menghidupi diri dan kedua anaknya. Menjadi sopir taksi daring adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa ia lakukan.

Ia bisa mendapatkan 18-19 penumpang dalam sehari. Angka itu menurun drastis sejak pemerintah menetapkan aturan pembatasan sosial. Mendapatkan lima penumpang dalam sehari sudah seperti keajaiban di kondisi ini.

”Saya meliburkan diri karena sepi penumpang. Selain itu, saya juga harus menjaga diri karena usia sudah tidak muda lagi. Kondisi kesehatan pun cukup rentan,” kata Arie.

Lalu, bagaimana Arie menghidupi diri saat pandemi? ”Mau tidak mau harus ngirit. Bertahan dengan tabungan yang ada,” katanya.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Baca Berita Korona Terkini di Kompas.id, GRATIS

Harian Kompas berikan BEBAS AKSES untuk seluruh artikel di Kompas.id terkait virus korona.

Efek domino

Ada satu lagi masalah yang menanti Lyla dan Arie, yakni membayar cicilan mobil. Mereka terancam gagal membayar cicilan karena tidak ada pemasukan. Mobil Arie, Lyla, dan ribuan sopir taksi daring lain bisa saja disita.

Permasalahan baru akan muncul jika mobil disita. Mereka akan kehilangan pekerjaan, tidak mampu membiayai hidup, kelaparan, dan anak terancam putus sekolah. Kehilangan penumpang hanya permulaan dari bencana yang harus ditanggung para ibu tunggal.

”Dalam kondisi normal saja, menjadi sopir daring perempuan lebih berat dibandingkan sopir laki-laki. Jam kerja kami lebih pendek karena harus mengurus anak sebelum pergi. Pulang kerja pun tidak bisa terlalu malam. Selain untuk mengurus keluarga, kami menghindari bahaya (kriminalitas) pada malam hari,” kata Lyla.

KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI

Sopir taksi daring mengantarkan penumpang ke tujuan di Jakarta, Rabu (25/3/2020).

Kini, para sopir taksi daring tengah harap-harap cemas membayar cicilan mobil. Respons pemerintah untuk memberi relaksasi kredit membuat mereka bisa bernapas lega sejenak. Ini berlaku untuk kredit di bawah Rp 10 miliar yang diberikan perbankan ataupun industri keuangan nonbank.

Baca juga: Pelaku Usaha Mikro Siap Manfatkan Kebijakan Pelonggaran Kredit

Presiden Joko Widodo pada Selasa (24/3/2020) menyampaikan, nasabah usaha mikro dan usaha kecil akan diberikan penundaan cicilan sampai satu tahun dan juga penurunan bunga. Begitupun bagi pengemudi ojol dan sopir taksi yang mengambil kredit sepeda motor atau mobil serta nelayan yang sedang memiliki kredit perahu (Kompas, 25/3/2020).

”Mereka tidak perlu khawatir dengan angsuran karena telah diberi kelonggaran berupa relaksasi pembayaran bunga dan angsuran selama satu tahun,” kata Presiden.

Pekerjaan rumah selanjutnya adalah memastikan kebijakan tersebut berjalan di seluruh lapisan masyarakat. Mekanisme untuk memanfaatkan relaksasi kredit pun perlu disiapkan secara jelas.

”Kami, para driver, sudah dengar soal relaksasi kredit dan itu melegakan. Tapi, kami tidak tahu teknisnya. Beberapa dari kami sudah coba tanya ke leasing soal ini, tapi malah dapat jawaban yang berbeda (dari perkataan pemerintah),” kata Lyla.

Adu nasib

Sejumlah sopir daring memilih mengadu nasib di jalan sembari menunggu kejelasan relaksasi kredit. Beberapa membekali diri dengan sarung tangan lateks, masker, dan cairan disinfektan. Industri transportasi daring pun ikut turun tangan.

KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI

Sejumlah sopir taksi daring mengeluhkan minimnya penumpang sejak Covid-19 mewabah di Indonesia. Sementara itu, mereka tidak bisa diam di rumah untuk menghidupi diri. Risiko terpapar virus SARS-CoV-2 pun ditempuh agar dapur tetap mengebul. Foto diambil di Jakarta, Rabu (25/3/2020).

Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan, Grab memberi ribuan masker dan cairan pembersih tangan bagi mitra pengemudi GrabBike dan GrabCar di beberapa kota. Ini dilakukan secara bertahap dengan menerapkan konsep pembatasan sosial. Kendaraan mitra pengemudi pun turut disemprot cairan disinfektan.

”Kami juga siapkan paket GrabCare untuk membantu keuangan dan medis mitra pengemudi. Itu jika mereka ada yang ditempatkan di karantina atau telah dinyatakan positif Covid-19,” kata Neneng.

Dalam kondisi normal saja, menjadi sopir daring perempuan lebih berat dibandingkan sopir laki-laki. Jam kerja kami lebih pendek karena harus mengurus anak sebelum pergi

Lyla yang juga moderator Sahabat Grab Club menambahkan, skenario terburuk dari wabah Covid-19 sudah dibahas. Sejumlah sopir sukarelawan disiapkan jika sewaktu-waktu kota harus ditutup (lockdown). Sopir akan ditempatkan di sejumlah rumah sakit dan akan dibayar sesuai tarif perjalanan. Adapun mobil mitra pengemudi akan dipasang pengaman agar terhindar dari paparan virus.

Skenario ini mengandung risiko tinggi bagi mereka yang bersedia ikut. Namun, demi menyuapi buah hati di rumah, para ibu tunggal harus mau maju menantang bahaya.