Ekonomi Perpaduan Merek dan Ekosistem Perdagangan Bantu UMKM Menembus Pasar

Strategi Pemasaran

Perpaduan Merek dan Ekosistem Perdagangan Bantu UMKM Menembus Pasar

Belakangan muncul ide untuk mengekspor toko dan isinya. Ide ini muncul karena kebanyakan barang dari Indonesia yang dikirim ke luar negeri yang tidak memiliki merek kuat, sedikit pembelinya.

Oleh CYPRIANUS ANTO SAPTOWALYONO
· 4 menit baca
KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA

Berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah dipamerkan dalam acara Temu Bisnis Produk Unggul UMKM Hasil Pembinaan Pendampingan Ekonomi Masyarakat Terdampak Gempa Bumi di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis (23/7/2020). Saat ini, mulai adanya konsep normal baru, diakui pelaku UMKM di Lombok, cukup menggairahkan usaha mereka setelah lama terpuruk akibat merebaknya pandemi Covid-19.

JAKARTA, KOMPAS — Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah membutuhkan solusi praktis dalam upaya membangun merek. Berbarengan dengan upaya itu, jaringan ekosistem pemasaran juga perlu diperkuat. Selain itu, perlu disiapkan strategi mengekspor toko dan isinya.

Hal itu mengemuka dalam diskusi daring Zoom Business and Innovation Talk bertajuk ”The Beyond Branding: Bukan tuk Sekedar Gaya-gayaan, tapi yang Langsung Jualan” di Jakarta, Sabtu (1/8/2020). Acara digelar oleh Arrbey Consulting, Perhimpunan Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (Himpuni), Apindo UMKM Akademi, dan Kemah Kemasan.

Ketua Tim ukmindonesia.id Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia Dewi Meisari mengatakan, pendampingan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bukanlah sekadar pendampingan. Pendampingan itu harus benar-benar ada hasilnya.

”Arah kami dalam pendampingan adalah yang langsung ada hasilnya. Terkait branding, misalnya, kami juga membuatkan logo bagi mereka,” kata Dewi yang juga menjadi anggota tim kurikulum Apindo UMKM Akademi.

Menurut Dewi, jika saat pelatihan ada peserta yang produknya memiliki keunggulan, tim akan memberikan manfaat tambahan berupa pendampingan dalam pembuatan kemasan, desain, logo, dan slogan. Banyak produk UMKM yang sebenarnya bagus, tetapi dibungkus dengan wadah yang menurunkan kualitas isinya.

Untuk pemasaran produk, pelaku UMKM yang ingin hadir di pasar daring didampingi dalam pemilihan platform e-dagang. Penampilan produk di pasar daring pun disesuaikan dengan segmen pasar yang dibidik.

”Kami juga bantu membuat foto produk dan arah pengambilan sudut. Tujuannya supaya dapat menaikkan nilai produk dari sisi brand-nya,” kata Dewi.

Pendampingan terhadap UMKM bukanlah sekadar pendampingan. Pendampingan itu harus yang benar-benar ada hasilnya.

Baca juga : Ekosistem Digital Selamatkan UMKM dari Dampak Pandemi

KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA

Berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah dipamerkan dalam acara Temu Bisnis Produk Unggul UMKM Hasil Pembinaan Pendampingan Ekonomi Masyarakat Terdampak Gempa Bumi di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis (23/7/2020). Saat ini, mulai adanya konsep normal baru, diakui pelaku UMKM di Lombok, cukup menggairahkan usaha mereka setelah lama terpuruk akibat merebaknya pandemi Covid-19.

Senior partner Arrbey, Glenn Sompie, menilai penting pembangunan ekosistem dalam membantu UMKM. Kontak jaringan setiap pihak sebaiknya didaftar dan semua harus saling melengkapi. Yang dibutuhkan pelaku UMKM saat ini adalah jaringan kerja dan pemasaran yang luas dan bermanfaat bagi mereka.

Terkait arti penting merek, Glenn mengapresiasi upaya pemerintah daerah yang memfasilitasi pelaku UMKM mulai dari pembuatan merek hingga pemasaran. Salah satu pemda yang memiliki produk unggulan kopi, misalnya, mendorong produk pelaku UMKM kopi melalui riset, pengenalan produk dan merek, serta pemasaran.

”Seorang pejabat pemda tersebut memperkuat pencitraan kopi unggulan daerahnya itu dengan membuat film. Bahkan, pelaku usaha kopi tersebut berhasil meraih juara II di ajang internasional,” ujar Glenn.

Sayangnya, lanjut Glenn, capaian itu tidak mampu menaikkan penjualan kopi asal daerah tersebut. Hal ini terjadi karena jaringannya masih lemah. Berbeda dengan pengusaha kopi yang sudah memiliki jaringan dan memperkuat mereknya. Perpaduan jaringan dan merek ini mampu membuat pembeli dari luar negeri mencari produk kopinya.

Baca juga : Pandemi Bisa Makin Tingkatkan Peran UMKM di Pasar Domestik

Ekspor toko

Sementara itu, Chief Strategy Arrbey Consulting Handito Joewono menyebutkan, belakangan muncul ide untuk mengekspor toko dan isinya. Ide ini muncul karena kebanyakan barang dari Indonesia yang dikirim ke luar negeri yang tidak memiliki merek kuat, sedikit pembelinya.

Belakangan muncul ide untuk mengekspor toko dan isinya.

Tidak hanya itu, pemasaran produk yang sudah memiliki merek pun kerap kali susah. Ini karena jalur distribusinya tidak terbuka. ”Masih banyak pelaku ritel besar di luar negeri yang menganggap produk-produk bermerek Indonesia masih anak bawang,” ujarnya.

Menurut Handito, jika kondisi tersebut masih berlangsung, produk UMKM Indonesia akan sulit tampil lebih bagus di pasar ritel luar negeri. Maka, Arrbey Consulting bekerja sama dengan sejumlah pemangku kepentingan terkait terus mengembangkan dan memperkuat UMKM.

”Salah satunya melalui sekolah ekspor untuk mengekspor toko dan isinya,” katanya.

Baca juga : Digitalisasi Topang UMKM Jangkau Pasar Ekspor

Handito menambahkan, banyak barang dari Jepang, China, Taiwan, dan Korea Selatan yang masuk ke negara lain, termasuk Indonesia, sekaligus dengan toko-tokonya. Sama halnya dengan toko-toko sejumlah negara tersebut yang menjual produk-produk negaranya, Indonesia dimungkinkan pula mengembangkan konsep yang sama.