Ekonomi Waspadai Nasib PLTU pada Masa Mendatang

energi

Waspadai Nasib PLTU pada Masa Mendatang

Kian berkembangnya teknologi di sektor pembangkitan listrik energi terbarukan menyebabkan harga listrik kian murah. Tak tertutup kemungkinan listrik yang dihasilkan PLTU bakal lebih mahal harganya dari energi terbarukan.

Oleh ARIS PRASETYO
· 5 menit baca
Kompas/Priyombodo

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cilacap ekspansi fase 2 tengah diuji coba di Desa Karangkandri, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin (16/9/2019). PLTU Cilacap ekspansi fase 2 merupakan pembangkit batubara dengan kapasitas 1 x 1000 megawatt yang diperkirakan beroperasi secara komersial pada Oktober 2019 lebih cepat dari target awal pada Agustus 2020. PLTU ini akan memasok kebutuhan listrik Jawa-Bali.

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mesti mewaspadai nasib pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU yang membakar batubara sebagai sumber energi primer pada masa mendatang. Ada potensi dalam 10-20 tahun ke depan aset PLTU bakal menganggur lantaran tidak efisien akibat tenaga listrik yang dihasilkan energi terbarukan lebih murah.

Pemerintah disarankan untuk sementara menghentikan pembangunan PLTU di Indonesia. Di sisi lain, pembangunan pembangkit listrik yang bersumber dari energi terbarukan perlu dipercepat.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa, Sabtu (1/8/2020), mengatakan, dalam 10 tahun terakhir, harga tenaga listrik dari energi terbarukan semakin murah. Listrik yang dihasilkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang pada 2010 harganya 37,8 sen dollar AS per kWh kini turun menjadi kurang dari 6,8 sen dollar AS per kWh pada 2019.

”Begitu juga listrik dari tenaga bayu yang semula 8,6 sen dollar AS per kWh di 2010 kini lebih murah menjadi 5,3 sen dollar AS per kWh. Teknologi yang makin efisien membuat harga listrik yang dihasilkan menjadi semakin murah,” ujarnya dalam seminar daring bertajuk ”Transformasi Menuju Sistem Energi Bersih di Indonesia”.

Fabby berpendapat, tidak tertutup kemungkinan dengan teknologi yang berkembang pesat akan menghasilkan listrik energi terbarukan yang semakin murah. Bahkan, harganya bisa saja lebih murah dari listrik yang dihasilkan PLTU yang rata-rata harganya di angka 6 sen dollar AS per kWh.

Dengan demikian, akan ada potensi listrik dari PLTU ditinggalkan dan beralih ke energi terbarukan. Pada 2030, PLTU yang masih beroperasi ataupun yang hendak dibangun nanti akan kalah bersaing dengan pembangkit dari energi terbarukan.

”Oleh karena itu, aset-aset PLTU tersebut berpotensi bakal menganggur atau terbengkalai,” katanya.

Akan ada potensi listrik dari PLTU ditinggalkan dan beralih ke energi terbarukan. Pada 2030, PLTU yang masih beroperasi ataupun yang hendak dibangun nanti akan kalah bersaing dengan pembangkit dari energi terbarukan.

SUMBER: KEMENTERIAN ESDM

Grafis realisasi pembangkit listrik dari sumber energi terbarukan di Indonesia hingga 2019 dan target pada 2020.

Sepanjang 2019 tercatat ada 200.000 megawatt (MW) pertambangan kapasitas listrik terpasang yang berasal dari sumber energi terbarukan. Dari jumlah tersebut, PLTS menyumbang sekitar 58 persen atau setara 115.000 MW. Listrik dari pembangkit listrik tenaga bayu ataupun tenaga biomassa juga terus tumbuh.

”Oleh karena itu, kami mengusulkan agar pemerintah memoratorium pembangunan PLTU di Indonesia dengan mempercepat pembangunan pembangkit listrik yang bersumber dari energi terbarukan,” kata Fabby.

Baca juga: Tarif Listrik Energi Terbarukan Harus Perhitungkan Risiko Investasi

Kamis lalu, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, di tengah pandemi Covid-19, pemerintah dan PLN tetap melanjutkan megaproyek pembangkit 35.000 MW. Sebanyak 200 pembangkit dengan kapasitas 8.187 MW telah beroperasi, sedangkan yang masih dalam tahap konstruksi sebanyak 98 pembangkit dengan kapasitas total 19.250 MW.

”Untuk pembangkit yang sudah ditandatangani kontraknya, tetapi belum dibangun, sebanyak 45 unit dengan kapasitas 6.500 MW. Adapun yang masih dalam tahap pengadaan dan perencanaan sebanyak 98 unit atau setara 19.250 MW,” ucap Rida.

Hingga Mei 2020, total kapasitas terpasang listrik di Indonesia mencapai 70.900 MW. Batubara masih dominan dalam bauran sumber energi primer pembangkit, yaitu 63,92 persen.

Adapun gas bumi di peringkat kedua dengan porsi 18,08 persen. Pembangkit dengan sumber energi terbarukan berperan 14,95 persen dan sisanya sebesar 3,05 persen adalah pembangkit berbahan bakar minyak.

Hingga Mei 2020, total kapasitas terpasang listrik di Indonesia mencapai 70.900 MW. Batubara masih dominan dalam bauran sumber energi primer pembangkit, yaitu 63,92 persen.

Pekan lalu, Menteri ESDM Arifin Tasrif meresmikan secara virtual proyek ketenagalistrikan yang terdiri dari 10 pembangkit listrik, 5 proyek jaringan transmisi, dan 4 proyek gardu induk. Selain itu, PLN berhasil menjual tenaga listrik terhadap enam perusahaan smelter yang  ada di Kalimantan dan Sulawesi.

Total kapasitas terpasang proyek pembangkit listrik yang diresmikan mencapai 555 MW, yang sebagian besar ada di wilayah Papua dan Maluku. Adapun proyek jaringan transmisi tersebut memiliki panjang jaringan 280.000 kilometer sirkuit, sedangkan proyek gardu induk berkapasitas total 330 megavolt ampere (MVA).

Dalam peresmian secara virtual itu, PLN bersama pewakilan industri smelter menandatangani perjanjial jual beli tenaga listrik dengan kapasitas total 774,5 MVA.

”Total investasi infrastruktur ketenagalistrikan ini, khususnya untuk 10 pembangkit listrik, nilainya mencapai Rp 15 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 4.038 orang,” ujar Arifin dalam sambutannya.

Baca juga: Pembangkit Tenaga Diesel dan Batubara yang Tak Efisien Dihentikan

KOMPAS/Lasti Kurnia

Aktivitas di PT Pembangkitan Jawa-Bali Unit Pembangkitan Muara Karang (PT PJB UP Muara Karang), Jakarta, Senin (10/2/2020). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penambahan 8.823 megawatt (MW) pembangkit pada 2020 sebagai puncak program percepatan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan 35.000 MW.

Sementara itu, Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini menyatakan, sejumlah proyek pembangkit listrik yang baru saja diresmikan adalah bagian dari proyek pembangkit 35.000 MW. Kendati masih ada pandemi Covid-19, proyek pembangunan pembangkit listrik dan jaringan transmisi tetap berlanjut sembari memegang prinsip protokol Covid-19 secara ketat. Proyek tersebut adalah bagian dari dukungan terhadap pertumbuhan industri di dalam negeri, khususnya industri smelter.

”Kendati masih ada pandemi Covid-19, kami tetap berkomitmen untuk dapat memenuhi hak dasar masyarakat, yaitu melistriki seluruh wilayah Indonesia,” kata Zulkifli.