Fotografi Antara Tugas dan Kesehatan Diri (1)
KOMPAS/PRIYOMBODO
Foto Cerita

Antara Tugas dan Kesehatan Diri (1)

Oleh Priyombodo ·

Setiap wartawan foto harus siap ditugaskan untuk meliput apa saja, termasuk observasi warga negara Indonesia yang baru saja dievakuasi dari Wuhan, China, terkait virus korona jenis baru. Persiapan harus benar-benar matang sehingga tugas dapat berjalan dengan baik dan kesehatan diri tetap terjaga.

KOMPAS/PRIYOMBODO (PRI)

Sejumlah awak media televisi mengenakan masker di hanggar Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara Raden Sadjad, di Natuna, Kepulauan Riau.

Minggu (2/2/2020) pukul 20.30,  pesan singkat dari editor masuk.

”Besok ke Natuna.”
”Usahakan penerbangan pagi.”

Dalam hitungan detik, saya jawab, ”OK.”

Tanpa pikir panjang, saya langsung mencari tiket penerbangan ke Natuna, Kepulauan Riau, melalui aplikasi. Entah beruntung atau sudah jalannya, kebetulan penerbangan pagi Jakarta-Natuna yang transit di Batam pada pukul 07.00 masih tersedia.

Malam itu, saya menyiapkan berbagai alat kerja, seperti kamera, lensa tele beserta konverter tele 2x, dan drone. Lokasi observasi 238 warga negara Indonesia (WNI) berada di hanggar Pangkalan TNI Angkatan Udara Raden Sadjad, di Natuna. Lokasi ini berada di area terbatas dan sulit diakses. Tidak lupa, saya juga membawa masker N95 dan kacamata goggle.

Baca juga : Kesaksian Jurnalis Meliput di Wuhan

Ketegangan bermula

Saat transit di Batam, penumpang dengan lanjutan penerbangan menuju Natuna tidak diperbolehkan turun. Hal ini terkait dengan pendeknya waktu transit yang hanya 30 menit. Pesan berisi ucapan selamat bertugas dan hati-hati masuk ke grup Whatsapp saat saya menyalakan telepon genggam. ”Seperti hendak liputan di medan perang,” pikir saya dalam hati.

KOMPAS/ PRIYOMBODO

Sejumlah penumpang pesawat mengenakan masker.

Penumpang dari Batam pun mulai naik ke pesawat. Hampir semuanya mengenakan masker, mulai dari masker operasi hingga masker N95. ”Tugas kali ini berasa berat mengingat mendadak Natuna menjadi lokasi observasi WNI dari Wuhan, China,” ujar salah seorang penumpang yang duduk di samping saya.

Penumpang pesawat yang mengenakan masker, serta ekspresi mereka, menjadi pemandangan yang tidak biasa. Dan, saya pun mengabadikan raut muka para penumpang yang khawatir tersebut.

Baca Juga : Kiat Pewarta Foto Meliput Banjir

Setiba di Bandara Raden Sadjad, Kabupaten Natuna, saya bergegas menuju penginapan untuk bertemu Pandu, teman reporter yang tiba lebih dulu. Pagi itu, saya mengajak Pandu untuk mencari vitamin dan hand sanitizer.

Vitamin dan hand sanitizer itu digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kebersihan diri. Ternyata, barang itu telah menjadi barang langka di Natuna. Kami baru bisa mendapatkannya di apotek keempat yang kami datangi.

Liputan pertama di Natuna saya lakukan di Kota Lama, Penagi, yang berjarak 1,3 kilometer dari hanggar tempat observasi WNI dari Wuhan. Kampung di ujung landasan pacu bandara itu sunyi karena ditinggal warganya mengungsi.

Baca Juga : Memotret Api Biru Kawah Ijen

Menurut keterangan warga yang masih bertahan, banyak tetangga mereka yang mengungsi ke rumah famili, bahkan hingga ke luar pulau. Kekhawatiran warga cukup beralasan mengingat keputusan mendadak dan tidak adanya sosialisasi yang baik membuat warga panik.

Tak hanya itu, sekolah diliburkan selama 14 hari. Warga juga berunjuk rasa menolak kedatangan WNI dari Wuhan tersebut.

Persoalan teknis

Hari berikutnya, Selasa (4/2/2020), kami mengujungi SD Negeri 001 dan 002 Ranai. Keputusan libur sekolah selama 14 hari itu dicabut oleh dinas pendidikan setempat.

Saya berpikir foto anak-anak yang datang ke sekolah dan belajar dengan mengenakan masker pasti sangat menarik. Namun, ternyata, hanya sebagian murid yang datang ke sekolah. Mungkin para orangtua siswa masih khawatir dan ada yang masih mengungsi.

Kompas/Priyombodo

Siswa SD Negeri 002 Ranai di Pulau Natuna, Kepulauan Riau.

Selesai memotret di SD, saya dan wartawan lain mencoba masuk ke Pangkalan TNI AU, lokasi observasi WNI dari Wuhan. Setelah menjawab aneka pertanyaan di pos penjagaan, kami diizinkan masuk hingga berjarak 700 meter dari hanggar observasi.

Dengan jarak ini, memotret menggunakan lensa 400 milimeter (lensa 200 mm ditambah tele konverter 2x) pun terasa sia-sia. WNI yang sedang berolahraga di depan hanggar itu masih terlihat sangat kecil. Saya pun mengganti file perekaman menjadi RAW agar saat di-crooping ukuran file-nya masih besar.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Swafoto di atas tangga.

KOMPAS/PRIYOMBODO

WNI dari Wuhan yang diobservasi selama 14 hari terkait virus korona tipe baru.

Persoalan tidak berhenti di situ. Panasnya matahari menciptakan fatamorgana yang membuat hasil foto tidak tajam. Beruntung ada tangga untuk naik dan turun penumpang pesawat.

Saya pun naik ke tangga itu untuk mengurangi efek fatamorgana. Lumayan, walaupun tetap terlihat kecil, efek fatamorgana bisa diminimalkan. Paling tidak saya sudah berusaha mendapatkan foto terbaik WNI yang menjalani observasi kesehatan dari jarak paling maksimal dari yang bisa saya capai. (Bersambung)

Editor Demitrius Wisnu Widiantoro