Gaya Hidup Gawai Serangan Balik Tiktok

Media Sosial

Serangan Balik Tiktok

Setelah mendapat berbagai tuduhan dan kritik, Tiktok menyerang balik. Tiktok akan membuka algoritma demi transparansi dan akuntabilitas.

Oleh SATRIO PANGARSO WISANGGENI
· 4 menit baca
REUTERS/DADO RUVIC/ILLUSTRATION

Ilustrasi logo Tiktok yang muncul di layar ponsel pintar.

JAKARTA, KOMPAS — Serangan dibalut patriotisme. Ini adalah sebutan CEO Tiktok Kevin Mayer terhadap berbagai tuduhan yang disampaikan sejumlah pihak terhadap pihaknya yang dianggap sebagai proxy intelijen China. Menangkis tudingan ini, Tiktok menyatakan siap membuka algoritmanya untuk dapat dilihat publik.

Mayer menyampaikan hal ini dalam keterangan yang ia publikasikan pada Rabu (29/7/2020) malam. Ia bahkan terang-terangan menyebut serangan yang dibalut patriotisme itu dilakukan oleh Facebook, yang ingin menghilangkan atau menyingkirkan kompetisi terhadap sejumlah produk platform media sosialnya.

”Kami menilai kompetisi adalah yang mendorong kita lebih baik. Kepada mereka yang ingin mengeluarkan produk kompetitor, silakan. Facebook bahkan meluncurkan satu produk copycat bernama Reels setelah produk tiruan lain bernama Lasso gagal di pasar,” kata Mayer melalui blog resmi Tiktok.

Baca juga: Kita Segera Menonton Perang Tiktok Versus Instagram Reels

Tim kampanye Donald Trump pun dilaporkan telah menggunakan Facebook untuk membuat iklan anti-Tiktok, seperti yang dilaporkan Reuters. Menanggapi hal ini, seorang juru bicara Tiktok mengatakan bahwa Facebook menerima uang untuk sebuah iklan politik yang menyerang kompetitor bersamaan ketika Facebook akan meluncurkan tiruan Tiktok.

AFP/NARINDER NANU

Relawan Sikh memasang papan pemberitahuan yang berbunyi ”Tiktok dilarang di sini”. di Kuil Emas, di Amritsar, India, Senin (10/2/2020).

Seperti yang diketahui, Tiktok, sebagai anak perusahaan Bytedance asal China, mendapat banyak serangan dari berbagai pihak karena dianggap memiliki hubungan yang dekat dengan Pemerintah China.

Pemerintah India pada akhir Juni lalu melarang Tiktok dan lusinan aplikasi asal China lainnya. Pemerintah AS, melalui Menteri Luar Negeri Mike Pompeo,  bahkan telah menuduh bahwa data pribadi pengguna Tiktok pasti sudah dipegang oleh Partai Komunis China.

Baca juga: India Larang Puluhan Aplikasi asal China, Termasuk Tiktok dan Mobile Legends

Pada beberapa saat yang lalu, Tiktok beserta sejumlah aplikasi lainnya, termasuk dari perusahaan AS, juga terdeteksi merekam teks yang di-copy (berada di clipboard) oleh pengguna. Saat itu Tiktok mengatakan hal tersebut adalah bug.

Mengenai berbagai tuduhan tersebut, Mayer mengatakan bahwa secara khusus Tiktok telah mendapat kritikan yang berlebihan hanya karena berasal dari China. Ia justru menganggap ini sebagai tantangan untuk memberikan kenyamanan bagi para penggunanya melalui transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar.

”Kami percaya bahwa penting untuk menunjukkan kepada pengguna, pemasang iklan, kreator, dan regulator bahwa kami adalah warga negara yang mengikuti hukum AS,” kata Mayer.

Mayer menyampaikan bahwa Tiktok akan menciptakan sebuah Transparency and Accountability Center di mana para pakar dapat melihat kebijakan moderasi internal Tiktok sekaligus memeriksa kode algoritma Tiktok.

”Langkah ini membuat kami satu langkah lebih maju dibandingkan dengan industri dan kami mendorong untuk para pelaku industri lainnya untuk mengikuti langkah ini,” kata Mayer.

Baca juga: Di Balik Rencana Larangan Tiktok di Amerika Serikat

Sementara itu, CEO Facebook Mark Zuckerberg yang bersaksi kepada Kongres AS pada Kamis dini hari ini waktu Indonesia mengakui bahwa Facebook meniru berbagai fitur yang diperkenalkan oleh para kompetitornya.

”Facebook tentu sudah mengadaptasi berbagai fitur yang pihak lain sudah memperkenalkan terlebih dahulu,” kata Zuckerberg.

FACEBOOK

CEO Facebook Mark Zuckerberg

Saat meminta keterangan dari Zuckerberg, anggota DPR merujuk korespondensi antara CEO Facebook tersebut dengan tangan kanannya, COO Facebook Sheryl Sandberg, pada Maret 2012.

Dalam percakapan melalui surel tersebut, kedua petinggi Facebook tersebut sepakat bahwa meniru fitur milik platform lain akan dapat mencegah pengguna pindah ke platform lain.

Zuckerberg dan tiga CEO perusahaan teknologi terbesar dunia, Sundar Pichai dari Google, Jeff Bezos dari Amazon, dan Tim Cook dari Apple, pada dini hari tadi menghadiri panggilan Subkomite Persaingan Usaha DPR AS terkait praktik monopoli.

Dalam pernyataan pembukaannya, Zuckerberg secara tidak langsung seakan-akan menyindir Tiktok tanpa menyebutkan namanya. Ia mengatakan bahwa Facebook meyakini proses kompetisi kapitalis, tetapi ia khawatir bahwa nilai dan budaya AS akan menang.

”China sedang membangun versi internet mereka sendiri dan diekspor ke negara lain,” dalam pernyataan tertulisnya.