Internasional Ujian Gelombang Kedua untuk Vietnam

pandemi covid-19

Ujian Gelombang Kedua untuk Vietnam

Respons Pemerintah Vietnam menghadapi Covid-19 yang agresif dan modal sosial warganya yang kuat kini menghadapi ujian ketika lonjakan kasus Covid-19 terjadi lagi.

Oleh ADHITYA RAMADHAN
· 6 menit baca
REUTERS/KHAM

Seorang pria membawa anak-anaknya dengan sepeda motor sambil memakai masker di jalanan di Hanoi, Vietnam, Senin (27/7/2020). Setelah hampir 100 hari tidak melaporkan kasus baru Covid-19 kini Vietnam menghadapi lonjakan kasus baru.

Untuk pertama kalinya selama pandemi Covid-19 berlangsung tujuh bulan terakhir, Vietnam melaporkan kasus meninggal akibat Covid-19, Jumat (31/7/2020). Negara yang berhasil mengendalikan pandemi ini akan kembali menghadapi ujian gelombang infeksi menyusul lonjakan kasus di Kota Da Nang seminggu terakhir.

Seperti dilaporkan AFP, setelah hampir 100 hari tidak melaporkan adanya kasus baru, Vietnam melaporkan penambahan 93 kasus baru di Kota Da Nang sejak akhir pekan lalu hingga Jumat (31/7/2020). Dengan begitu, kini total kasus Covid-19 di Vietnam sebanyak 509 kasus.

Pemerintah Vietnam pun bergerak cepat dengan mengevakuasi sebanyak 80.000 orang wisatawan domestik di lokasi-lokasi wisata di Da Nang kembali ke kota asalnya. Puluhan pakar kesehatan, 1.000 tenaga kesehatan lainnya, dan personel militer langsung diterjunkan untuk membantu otoritas Da Nang menghadapi lonjakan kasus.

Baca juga: Tiga Warga Ditemukan Positif Covid-19, Vietnam Evakuasi 80.000 Orang

Sebuah rumah sakit lapangan dengan kapasitas 1.000 tempat tidur didirikan untuk membantu rumah sakit di Da Nang yang beberapa di antaranya sudah ditutup karena jadi lokasi penularan. Setidaknya 21.000 warga Hanoi yang pulang dari Da Nang pun sudah menjalani tes.

Dunia menyaksikan ada banyak negara maju yang “tumbang” oleh virus korona. Meski di atas kertas jadi negara yang dinilai paling siap menghadapi pandemi, Amerika Serikat, misalnya, justru menjadi negara dengan jumlah kasus Covid-19 dan kasus kematian karena Covid-19 terbanyak di dunia. Beberapa negara di Eropa juga masuk ke dalam daftar negara dengan jumlah kematian akibat Covid-19 yang tinggi.

Tapi, negara berkembang dengan sumber daya kesehatan terbatas seperti Vietnam justru berhasil “menaklukkan” pandemi Covid-19. Sebelum lonjakan kasus di Da Nang terjadi, kasus Covid-19 di negara yang berbatasan langsung dengan China ini tidak sampai 500 kasus dengan tak ada satupun kasus meninggal. Sekali lagi, tak ada satupun yang meninggal.

TRAN LE LAM/VNA VIA REUTERS

Wisatawan mengantre daftar di bandar udara Da Nang di Vietnam, Minggu (26/7/2020). Setelah hampir 100 hari tidak melaporkan kasus baru, sejak pekan lalu hingga Jumat (31/7/2020) Vitenam melaporkan 93 kasus baru Covid-19.

Wakil Perdana Menteri Vietnam Vu Duc Dam, menjelaskan, sejak awal wabah Covid-19 muncul bahkan sebelum kasus pertama di Vietnam muncul tanggal 23 Januari 2020, pihaknya menyadari bahwa sumber daya kesehatan yang dimiliki Vietnam terbatas. Apabila wabah menyebar luas maka bisa dipastikan sistem pelayanan kesehatan mereka tidak akan sanggup menanganinya.

Mengutip laporan Bank Dunia, CNN, misalnya, melaporkan bahwa Vitenam hanya memiliki delapan dokter untuk setiap 10.000 penduduk atau sepertiga rasio dokter di Korea Selatan.

Menyadari keterbatasan itu, Pemerintah Vietnam mengambil tindakan pencegahan yang agresif sejak awal. Sangat penting untuk memastikan kasus yang muncul sedikit, sehingga tak ada kata lain selain mencegah dengan segala daya upaya. “Kami harus selangkah lebih maju,” ujar Vu.

Pada pertengahan Januari 2020 Vietnam telah memiliki rencana penanganan Covid-19. Sebelum memasuki Februari, beberapa rencana penanganan wabah sudah mulai berjalan.

Baca juga: ASEAN Rumuskan Tujuh Keputusan Penting Mitigasi Covid-19

Penapisan penumpang yang tiba di bandara sudah dilakukan sejak 11 Januari 2020 atau sehari setelah China melaporkan kasus meninggal pertamanya. Karantina juga wajib bagi mereka yang berasal dari daerah dengan risiko tinggi. Di bulan yang sama sekolah sudah ditutup.

Tes, penelusuran kontak, dan mengisolasi pasien positif dilakukan dengan agresif. Hingga akhir April, kapasitas tes Vietnam sudah mencapai 27.000 sampel sehari dan dari hampir 1.000 tes didapati satu kasus positif atau lebih baik dari Selandia Baru atau Taiwan pada saat itu yang mendapati satu kasus positif dari 150 tes yang dilakukan.

AFP/MANAN VATSYAYANA

Sejumlah warga mengenakan masker dan saling mengambil jarak saat antre untuk menjalani tes cepat Covid-19 di Pusat Tes Cepat di salah satu rumah sakit di Hanoi, Vietnam, Selasa (31/3/2020).(AFP/Manan VATSYAYANA) 

Semua kebijakan itu dilakukan dengan tetap melibatkan masyarakat. Komunikasi risiko berjalan sehingga warga selalu mendapat informasi terbaru yang terpercaya seputar wabah Covid-19.

Tindakan agresif dalam skala besar yang dilakukan Pemerintah Vietnam itu mungkin terlihat seperti sesuatu yang terlalu berlebihan. Apalagi di awal wabah muncul banyak pemimpin negara yang meremehkan potensi dampak Covid-19.

“Ketika kita menghadapi patogen baru yang berpotensi berbahaya, lebih baik bereaksi berlebihan,” kata Todd Pollack dari Partnership for Health Advancement in Vietnam di Hanoi seperti ditulis BBC, 15 Mei 2020.

“Tindakan yang sangat cepat waktu itu mungkin terlihat terlalu ekstrem tapi sekarang jadi masuk akal,” kata Prof Guy Thwaits, Direktur Oxford University Clinical Research Unit (OUCRU) di Ho Chi Minh yang bekerja sama dengan Pemerintah Vietnam dalam program penyakit menular.

Baca juga: Vietnam Kembali Waspada Setelah Penularan Lokal Covid-19 Terjadi

Salah satu aspek utama dalam pendekatan Vietnam menghadapi pandemi adalah mereka mengidentifikasi dan mengarantina kasus terduga berdasarkan risiko epidemiologi, bukan berdasarkan gejala yang timbul. Pendekatan ini menjadi resep sukses menekan penyebaran kasus di tingkat komunitas sejak dini.

AFP/NHAC NGUYEN

Seorang wanita ditemani dua orang anaknya menunggu di sebuah pusat pengujian cepat atau rapid test di Hanoi, Jumat (31/7/2020). 

Alhasil, Vietnam berhasil menekan jumlah kasus Covid-19 tidak sampai 500 kasus dan tak ada satu pun yang positif meninggal.

Di balik fakta tak ada kasus meninggal akibat Covid-19 di Vietnam diduga kuat kondisi itu terkait dengan rendahnya angka obesitas di negeri itu. Struktur kependudukan negeri itu dengan struktur usia penduduk yang didominasi oleh usia muda. Median usia warga Vietnam adalah 30,5 tahun dan hanya 6,9 persen penduduk yang berusia di atas 65 tahun ke atas. Sementara median usia pasien Covid-19 adalah 29 tahun.

Catatan impresif dalam menangani Covid-19 juga tidak terlepas dari bagaimana negara ini menghadapi wabah penyakit. Vietnam merupakan negara yang ditempa oleh banyak wabah penyakit, antara lain Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS), Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS), flu burung, campak, dan demam dengue.

Ketika wabah SARS, misalnya, Vietnam mendapat pengakuan sebagai negara bebas SARS dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2003. Setelah wabah SARS Vietnam meningkatkan anggaran kesehatannya per kapita rata-rata 9 persen setiap tahun dari tahun 2000 sampai 2016.

Warga yang menggunakan masker mengantre untuk menjalani tes Covid-19 di Hanoi, Vietnam, 31 Maret 2020.

Satu hal yang tidak bisa dikesampingkan dalam menghadapi pandemi adalah sikap penduduk Vietnam yang memiliki kohesi sosial yang kuat dan kesadaran akan pentingnya kesehatan. Vu menyampaikan bahwa warga Vietnam sangat menghargai satu sama lain. Warga tidak sulit untuk mengulurkan tangan untuk menolong warga lain.

Sikap ini kemudian mewujud dalam kepatuhan atas protokol kesehatan. Penduduk patuh memakai masker selain untuk mencegah dirinya tertular juga agar warga lain tidak tertular. Kini, modal sosial ini kembali menghadapi ujian.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 1 Agustus 2020 di halaman 4 dengan judul "Ujian Gelombang Kedua untuk Vietnam" . Baca ePaper Kompas