Nusantara Gempa 4,5 M di Indramayu Dirasakan Warga, Belum Ada Laporan Kerusakan

GEMPA

Gempa 4,5 M di Indramayu Dirasakan Warga, Belum Ada Laporan Kerusakan

Gempa di Indramayu dirasakan dengan skala intensitas III MMI. Artinya, getaran dirasakan nyata di dalam rumah, seperti truk yang melintas. Hingga kini, belum ada laporan kerusakan infrastruktur.

Oleh ABDULLAH FIKRI ASHRI
· 3 menit baca
KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI

Asdani dari Tim Pusat Survei Geologi Badan geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan hasil pemetaan terkait potensi gempa di Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu.

INDRAMAYU, KOMPAS – Gempa tektonik berkekuatan Magnitudo 4,5 terjadi di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (1/8/2020) pukul 23.24. Pusat gempa yang berada di darat pada jarak 14 kilometer barat daya kota Indramayu itu berkedalaman 12 kilometer. Hingga kini belum ada laporan kerusakan.

Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut dirasakan di wilayah Indramayu dengan skala intensitas III  MMI. Artinya, getaran dirasakan nyata di dalam rumah, seperti truk yang melintas.

“Terasa banget. Kayak ada truk kontainer lewat. Ada suara gemuruh. Kaca di tembok bergetar kencang, paling dua sampai tiga detik,” kata Haris, warga Desa Tambak, Kecamatan Indramayu, saat dihubungi Kompas, Sabtu malam. Tambak berada di kawasan pesisir Indramayu.

Baca Juga : Gempa Langka di Utara Indramayu

TANGKAPAN LAYAR LAPORAN GEMPA

Laporan gempa tektonik berkekuatan M 4,5 di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (1/8/2020) pukul 23.24.

Menurut Haris yang tinggal di Indramayu lebih dari 30 tahun, gempa dengan getaran seperti itu baru kali ini ia rasakan. Itu sebabnya, ia bersama sejumlah tetangga langsung keluar rumah saat merasakan getaran gempa. “Sekarang, sudah aman. Warga kembali ke rumah,” ucapnya.

Kepala Balai BMKG Wilayah II Tangerang Selatan Hendro Nugroho menerangkan, gempa tersebut merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar lokal dan tidak berpotensi tsunami. Hingga kini, belum ada laporan kerusakan bangunan.

“Hasil pemantauan BMKG, belum menunjukkan aktivitas gempa bumi susulan (after shcok),” ungkapnya. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI

Tim survei mikrozonasi dan seismotektonik tengah menghitung getaran di Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin (20/8/2018). Pemetaan itu untuk membuat zona wilayah rentang guncangan akibat gempa bumi.

Sebelumnya, pada 26 Juni lalu, BMKG juga mencatat adanya gempa tektonik M 3,3 di Indramayu. Pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer. Jauh sebelum itu, pada 23 Juni 2018, gempa terktonik berkekuatan M 5,3 berpusat di bawah laut dengan kedalaman 662 kilometer.

Gempa tersebut tergolong langka. Gempa di kedalaman Laut Jawa ini menjadi petunjuk bahwa semua proses subduksi lempeng di zona subduksi dangkal, menengah, dan dalam Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat, hingga kini masih sangat aktif (Kompas.id, 23/6/2018).

Hasil penelitian sementara, diduga terdapat sesar atau patahan Cimanuk aktif yang tersebar di Kabupaten Sumedang, Majalengka, dan Indramayu.

Tim Pusat Survei Geologi Badan geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga telah memetakan potensi gempa bumi di Jawa Barat bagian timur. Hasil penelitian sementara, diduga terdapat sesar atau patahan Cimanuk aktif yang tersebar di Kabupaten Sumedang, Majalengka, dan Indramayu (Kompas.id, 20/8/2018).

Di sekitar sesar itu, terdapat infrastruktur besar. Di Indramayu, misalnya, sejumlah daerah menjadi lokasi ekploitasi minyak dan gas bumi. Adapun Majalengka terdapat Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati.

Baca Juga : Potensi Gempa di Jabar Timur Dipetakan

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI

Pekerja mengecek tangki produksi minyak mentah di Stasiun Pengumpul PT Pertamina EP Asset 3 Jatibarang Field, Selasa (5/11/2019). Dari stasiun pengumpul tersebut, sekitar 44 barel setara minyak per hari dikirim ke unit pengolahan minyak di Balongan, Kabupaten Indramayu, Jabar.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.