Nusantara Seorang Dokter yang Menangani Pasien Covid-19 Meninggal di Medan

COVID-19

Seorang Dokter yang Menangani Pasien Covid-19 Meninggal di Medan

Seorang dokter spesialis paru yang menangani pasien Covid-19 meninggal dunia setelah terinfeksi Covid-19 di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (1/8/2020). Sudah tiga dokter yang menangani Covid-19 meninggal di Medan.

Oleh NIKSON SINAGA
· 3 menit baca
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Petugas medis mengambil sampel usap tenggorok salah seorang warga di Puskesmas Jurang Mangu, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (15/7/2020).

MEDAN, KOMPAS – Seorang dokter spesialis paru yang menangani pasien Covid-19 meninggal setelah terinfeksi Covid-19 di Kota Medan, Sumatera Utara, Sabtu (1/8/2020). Dengan kasus ini, sudah tiga dokter yang menangani langsung pasien Covid-19, meninggal di Medan.

“Iya benar. Seorang dokter spesialis paru yang menangani Covid-19 meninggal hari ini di Medan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara Alwi Mujahit Hasibuan saat dikonfirmasi terkait hal tersebut, Sabtu (1/8/2020) malam.

Dari informasi yang dihimpun, tenaga medis yang meninggal tersebut yakni dr Andika Kesuma Putra SpP (K). Dokter yang berjuang di garda terdepan tersebut meninggal setelah dirawat selama dua pekan di Rumah Sakit Columbia Asia, Medan. Ia sempat menangani pasien di rumah sakit rujukan Covid-19 di RS dr GL Tobing, Deli Serdang. Ia juga menangani pasien Covid-19 di RS Columbia Asia, Medan.

Baca juga : Medan Jadi Episentrum Meluasnya Kasus Covid-19 di Sumut

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Petugas berjaga di pintu kampus Universitas Sumatera Utara, Medan, Selasa (28/7/2020). Kampus USU ditutup total sejak 27 Juli hingga 2 Agustus karena ditemukan 12 kasus positif Covid-19 di kampus itu, antara lain, rektor, wakil rektor, dekan, dosen, dan staf.

Alwi mengungkapkan, penambahan kasus positif baru di Sumatera Utara (Sumut) terus meningkat dan pekan ini beberapa kali mencapai 200 kasus baru per hari. Kasus meninggal di Sumut pun sudah mencapai 195 orang.

Menurut Alwi, langkah utama yang dilakukan pemerintah untuk memutus penularan Covid-19 di Sumut adalah dengan melakukan penelusuran kontak dan tes massal yang lebih masif. Penelusuran kontak diharapkan bisa memutus rantai penularan dari semua kasus positif dengan lebih cepat.

Hampir semua tempat publik di Medan sekarang sudah sangat ramai, seperti tidak ada pandemi. (Alwi Mujahit-Dinkes Sumut)

“Namun, kami berlomba dengan kasus yang terus bertambah akibat tidak disiplinnya warga menerapkan protokol Covid-19. Hampir semua tempat publik di Medan sekarang sudah sangat ramai, seperti tidak ada pandemi,” kata Alwi.

Dia mengatakan, episentrum penularan paling besar di Sumut berada di Medan dengan 2.385 kasus positif serta daerah penyangganya, Deli Serdang dengan 532 kasus. Kedua daerah itu mencakup 73 persen dari semua kasus positif di Sumut. Ironisnya, menurut Alwi, penerapan protokol Covid-19 di kawasan tersebut masih sangat lemah.

Baca juga : Dokter di RS USU Meninggal karena Covid-19

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Warga berbelanja di Pasar Sukaramai, Medan, Sumatera Utara, Selasa (28/7/2020). Kasus positif Covid-19 di Sumut terus meningkat, namun penerapan protokol Covid-19 di tengah masyarakat kian longgar.

Alwi mengatakan, rasio kasus positif terhadap spesimen yang diperiksa pun masih cukup tinggi. Dari 22.669 spesimen yang diperiksa, sebanyak 17,4 persen di antaranya positif Covid-19. Rasio pasien positif ini menjadi salah satu indikator masih tingginya penularan Covid-19 di Sumut.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumut Baskami Ginting mengatakan, peningkatan kasus positif dan kasus meninggal Covid-19 seharusnya menjadi peringatan bagi warga untuk semakin disiplin menerapkan protokol Covid-19. “Saat ini sangat disesalkan masyarakat kian tidak disiplin melaksanakan protokol Covid-19. Tempat-tempat publik di mana-mana ramai,” kata Baskami.

Baskami juga meminta pemerintah daerah meningkatkan sosialisasi penerapan protokol pencegahan Covid-19. Menurut dia, kesadaran masyarakat untuk berperan memutus rantai penularan sangat penting. Pemutusan rantai penularan Covid-19, lanjut dia, tidak bisa hanya dilakukan pemerintah, tetapi juga mengandalkan peran aktif masyarakat.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.