Fotografi Foto Cerita Menjaga Dengung Festival Lima Gunung
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Foto Cerita

Menjaga Dengung Festival Lima Gunung

Oleh FERGANATA INDRA RIATMOKO ·

 

Pandemi tak ayal membuat berbagai sendi kehidupan yang sebelumnya berputar cepat nyaris berhenti total. Demikian halnya di dalam dunia seni. Panggung pertunjukan yang selalu ingar bingar dengan riuh rendah tepuk tangan penonton mendadak harus sepi selama Covid-19 menghegemoni.

Kalender acara seni tahunan yang sudah tertata rapi terpaksa berantakan dan digantikan dengan bermacam pengumuman pembatalan acara. Siasat pun perlu dilakukan agar semangat berekspresi melalui seni tetap dapat tersalurkan secara aman di panggung pertunjukan tanpa menimbulkan kekhawatiran.

 

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Atraksi Seni Dini Hari

Jalur sepi dipilih oleh Komunitas Lima Gunung (KLG) yang beranggotakan seniman dari lima gunung dan perbukitan, yakni Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan perbukitan Menoreh. Mereka tetap menggelar sejumlah perhelatan seni yang dikemas dalam acara Festival Lima Gunung XIX dengan menerapkan protokol kesehatan ekstraketat.

Jumlah penonton dibatasi, bahkan tanpa penonton. Undangan bagi sejumlah tamu khusus dan jurnalis pun disebar secara mendadak dan hanya beberapa jam sebelum acara berlangsung tanpa boleh disebarkan ke orang lain.

 

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Menari di Sungai

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Kirab dengan Protokol Kesehatan

Pimpinan KLG Sutanto Mendut, Minggu (9/8/2020), mewanti-wanti akan menghentikan berlangsungnya acara jika penonton yang tak diundang tiba-tiba berdatangan dan berkerumun sebelum acara pentas bermacam tarian dimulai di Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kajoran, Magelang, Jawa Tengah. Peringatan tersebut tak segan ia sampaikan di beberapa acara FLG lainnya selama pandemi belum usai.

 

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Pengarahan dari Sutanto Mendut

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Semua Wajib Bermasker

Alhasil, puluhan panggung pertunjukan seni khas Festival Lima Gunung berhasil digelar dalam senyap selama pandemi berlangsung. Riuh suara penonton dan penjual es krim yang biasa meramaikan tempat hajatan Festival Lima Gunung digantikan dengan gemerisik angin dan alunan alat musik pengiring pentas yang dimainkan dengan tetap menjaga nuansa pertunjukan yang digelar sederhana.

 

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Pulang Setelah Menari

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Pentas di Kaki Gunung Sumbing

Luwes dengan keadaan adalah kunci bagi FLG agar tetap dapat terus berkreasi di tengah ketidakpastian masa pandemi.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Menari di Atap Rumah

Editor Iwan Setiyawan