Opini Kolom Apakah Sudah Musim PHK di Usaha Rintisan?

bebas akses Industri Digital

Apakah Sudah Musim PHK di Usaha Rintisan?

Kabar pemutusan hubungan kerja di usaha rintisan selalu membuat gempar jagat industri digital. Berbagai spekulasi bermunculan dari yang jelas dan berkelas sampai gosip murahan.

Oleh Andreas Maryoto
· 4 menit baca
KOMPAS/ILHAM KHOIRI

Andreas Maryoto, wartawan senior Kompas

Kabar pemutusan hubungan kerja di usaha rintisan (start-up) selalu membuat gempar jagat industri digital. Berbagai spekulasi bermunculan dari yang jelas dan berkelas sampai gosip murahan.

Usaha rintisan tengah berjuang dari mulai membangun sosok bisnis sampai kemudian jalan menuju bisnis yang benar-benar menghasilkan profit. Jalan ini tak mudah, di tengah jalan ada perbaikan sana-sini.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) sangat mungkin terjadi, apalagi beberapa usaha rintisan mulai memastikan fokus bisnisnya. Apa penyebab sesungguhnya?

Awal pekan ini, menurut laman Axio, Uber melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 435 karyawannya atau sekitar 8 persen dari berbagai departemen, seperti rekayasa, pemasaran, dan produk. Di India, laman Inc42 menyebutkan, beberapa usaha rintisan juga dilaporkan mengurangi karyawan.

REUTERS/SHANNON STAPLETON

Logo Uber tertempel di kaca mobil di New York, AS, 12 April 2019. Uber diberitakan melakukan sejumlah PHK terhadap karyawannya.

Shopclues mengurangi sekitar 150 sampai 200 karyawannya. Foodpanda di India juga mengurangi karyawannya untuk level menengah sekitar 40 orang dan sejumlah eksektutif lainnya. Sementara Rivigo memutus sekitar 70 sampai 100 karyawannya. Urban Ladder yang menjalankan bisnis rental mebel memutus 90 karyawannya. Usaha rintisan lainnya, Cleartrip, memberhentikan sekitar 80 karyawannya.

Baca juga: Bisnis Transportasi Daring Mulai Mentok

Banyak penyebab pemutusan hubungan kerja di usaha rintisan. Uber diperkirakan mengurangi karyawan sebagai bagian merampingkan pengeluaran mereka. Laporan keuangan kuartal kedua yang tak sesuai harapan diduga menjadi penyebab Uber melakukan berbagai langkah, termasuk pemutusan hubungan kerja.

Pendapatan Uber diharapkan mencapai 3,3 miliar dollar AS, tetapi ternyata hanya 3,17 miliar dollar AS. Akibatnya, harga saham Uber di Bursa New York jatuh 12 persen. Sejak masuk di lantai bursa pada Mei lalu, harga saham Uber terus turun. Pengurangan karyawan sangat mungkin menjadi bagian dari menekan pengeluaran sehingga laporan keuangannya bakal membaik.

AP PHOTO/RICHARD DREW

Logo uber ditampilkan dalam layar di lantai bursa New York Stock Exchange, 9 Agustus 2019. Saham Uber sejak penawaran perdana ternyata tak sesuai harapan.

Usaha rintisan lainnya memiliki berbagai alasan untuk mengurangi karyawannya. Shopclues mengakui bahwa jumlah konsumen dan pendapatan relatif stagnan, tetapi karyawan terus bertambah. Pada saat yang bersamaan, mereka harus mencapai target profitabilitas sehingga mereka mengurangi karyawan untuk menekan biaya.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Beli Kompas.id, Main ke Toko Buku Kemudian!

Langganan Kompas Digital Premium 3, 6, atau 12 bulan sekarang dan dapatkan voucer Gramedia Store hingga Rp200.000.

Foodpanda mempunyai alasan lain. Mereka melihat kompetisi di pengantaran makanan sudah jenuh dan tak ada inovasi lain selain diskon. Oleh karena itu, mereka memasuki bisnis lain, salah satunya memiliki merek atau lebel makanan sendiri. Mereka tak bisa lagi hanya bertempur dengan membakar uang terus-menerus. Oleh karena itu, karyawan yang terkait dengan pengantaran makanan dikurangi.

Baca juga: Industri Pensiun Pun Mulai Terdisrupsi

Rivigo tak terlalu terbuka ketika ditanya soal alasan mereka mengurangi jumlah karyawan. Mereka hanya mengatakan langkah itu dilakukan terkait dengan dinamika dan kinerja di pasar. Mereka juga disebutkan tengah melakukan restrukturisasi bisnis. Di sisi lain, penempatan lokasi usaha rintisan ini di sebuah kampus menjadikan mereka mudah mengelola tenaga lepas, yaitu para mahasiswa yang tidak terikat kontrak dengan perusahaannya. Urban Ladder mengungkapkan, bisnis mereka akan makin ramping sehingga dilakukan pemutusan hubungan kerja, sementara mereka terus melakukan perbaikan kinerja bisnis.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Para pelaku usaha rintisan (start-up) mengikuti BTN Digital Startup Connect 2018 di Jakarta, Jumat (7/12/2018). Pelaku usaha rintisan menghadapi berbagai tantangan untuk terus berkembang.

Sementara Cleartrip yang memasuki usaha agregator perjalanan mengungkapkan, pesanan hotel dan tiket mengalami penurunan sejalan dengan pertumbuhan bisnis yang menurun di negara itu. Kompetisi antarusaha rintisan juga sangat ketat setelah dua lawannya melakukan merger. Lawan mereka diakui makin kuat dan membesar sehingga membuat mereka kesulitan untuk berkompetisi di pasar.

Semua penyebab pemutusan hubungan kerja di atas sangat umum dan bisa terjadi di berbagai usaha rintisan lainnya. Sesuai namanya, yaitu usaha rintisan, perbaikan-perbaikan dalam berbisnis terus dilakukan setiap waktu. Apalagi, di tengah jalan ternyata tantangan berubah sehingga mereka harus mempertajam fokus atau menggeser sedikit fokus bisnis sehingga dilakukan pengurangan jumlah tenaga kerja.

Baca juga: Menyalakan Api Transformasi Digital di Perusahaan

Kita tak bisa menduga ketika kita masih duduk nyaman tiba-tiba perubahan bisnis harus dilakukan sehingga kita harus meninggalkan kursi kita dalam waktu singkat. Pemilik usaha rintisan mungkin tak bisa memberi kemewahan ketika kita meninggalkan tempat usaha itu karena usaha itu baru benar-benar dirintis.

AFP/MANJUNATH KIRAN

Penggunaan kecerdasan buatan dalam perusahaan teknologi tak bisa dielakkan. Namun, penggunaannya dikhawatirkan juga memiliki dampak, salah satunya adalah dibutuhkannya lebih sedikit tenaga manusia sehingga berakibat pengurangan jumlah karyawan.

Lepas dari semua itu, isu penggunaan kecerdasan buatan makin kuat di kalangan karyawan usaha rintisan. Mereka makin khawatir dengan kehadiran teknologi ini karena dipastikan akan pengurangan jumlah karyawan bakal makin masif.

Oleh karena itu, karyawan-karyawan baru akan makin terkena dampak ini. Keterampilan mereka yang belum matang akan kalah dengan otomatisasi. Gambaran paling seram adalah, menurut sebuah survei, penggunaan kecerdasan buatan akan mengurangi karyawan 30 persen hingga 2030. Kita perlu bersiap untuk itu.

Editor -
Bagikan