Opini Kolom Antagonisme Air Banjir

Epilog

Antagonisme Air Banjir

Air tak pernah diperlakukan sebagai penjahat terkejam kecuali di masa modern Jakarta dan sekitarnya. Ia menjelma monster yang nyaris mengalahkan Hercules. Apakah kita harus menemukan Hercules untuk menanggulangi banjir?

Oleh Putu Fajar Arcana
· 8 menit baca
KOMPAS/ILHAM KHOIRI

Putu Fajar Arcana, wartawan Kompas

Drama banjir yang terjadi di Jakarta sejak era kolonialisme di bawah Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen secara evolutif menempatkan air sebagai penjahat terkejam bagi warga kota.

Sejak dibangun Coen dengan nama Batavia pada 1619, kota yang menjadi muara 13 sungai ini sudah menderita akibat banjir besar tahun 1621.

Perlahan, tetapi pasti, air tidak lagi dipandang sebagai pembawa berkah. Alih-alih pertanda kemakmuran, air justru senantiasa mendatangkan musibah.

Mendung hitam yang menggantung di langit menjadi hantu yang menakutkan. Kepanikan akan bertambah parah ketika hujan benar-benar turun di saat jam kantor usai.

Bisa dipastikan, hampir seluruh moda transportasi akan lumpuh. Rel-rel terendam, jalan raya tergenang, pohon-pohon bertumbangan, dan kemudian rumah-rumah mengambang. Banyak penghuni kota terjebak, bergerak tidak mungkin, diam pun merasa tak berdaya.

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Polisi dan tentara membantu warga menembus banjir yang merendam hunian padat di Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Rabu (1/1/2020) pukul 12.20. Banjir menggenangi sebagian area Jabodetabek setelah hujan mengguyur sejak Selasa (31/12/2019) sore.

Jan Pieterszoon Coen sebenarnya merancang Jakarta sebagaimana Amsterdam, yakni dengan membangun kanal-kanal yang berfungsi menampung luapan Sungai Ciliwung.

Namun, entah kenapa, banjir seolah terjadi secara berkala di kota ini. Tercatat, banjir besar yang nyaris menenggelamkan seluruh Jakarta (Batavia) terjadi pada 1654, 1873, 1918, dan 1909. Kemudian terjadi lagi tahun 1965, 1976, 1979, 1996, 2002, 2007, 2013,  2014, dan pada awal 2020.

Baca juga: Penanggalan Merah Gus Dur

Banjir terakhir setidaknya terjadi di Jabodetabek dan Lebak dengan korban meninggal 61 orang (data BNPB, 14 Januari 2020). Saat puncak banjir, jumlah pengungsi mencapai 92.621 jiwa yang tersebar di 189 titik pengungsian (data BNPB, 4 Januari 2020). Ini memang bukan yang terparah. Pada 2007, jumlah pengungsi di Jakarta mencapai 522.569 dengan korban jiwa 48 orang.

Selalu terjadi drama bertema kemanusiaan setiap kali terjadi banjir. Sementara para pejabat tak cuma sibuk menanggulanginya, tetapi juga sibuk mencari kambing hitam, yang layak dipersalahkan untuk menutupi ketidakbecusannya.

Pada era pemerintahan Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum, terjadi banjir besar di Batavia tahun 1918. Pengalaman itu membuat Stirum mencanangkan pembangunan Kanal Banjir Barat pada 1920.

NATIONAAL ARCHIEF (DUTCH NATIONAL ARCHIVES)

Banjir 18 Januari 1949 yang merendam Jakarta, termasuk mengganggu operasionalisasi trem.

Pembangunannya dimulai dari Pintu Air Manggarai sampai Muara Angke. Nyatanya, babak demi babak berjalan; sejak masa kolonialisme, masa kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, sampai kepada Orde Reformasi, tragedi banjir tak pernah benar-benar pergi. Tragedi selalu berakhir dengan kesedihan, perpisahan, pengungsian, dan kesengsaraan yang seolah tiada akhir.

Setelah memasuki era modern, setidaknya ketika kolonialisme bercokol di Jayakarta (Batavia), air mengalami perubahan peran yang drastis. Ia dituduh sebagai pelaku utama yang menyebabkan tragedi terjadi babak demi babak.

Baca juga: Cintalah yang Membuat Diri Bertahan

Perannya di masa tradisional sebagai pembawa kesuburan dan kemakmuran dan begitu dimuliakan terkikis secara perlahan. Pengikisan ini menyebabkan narasi tentang air yang berkembang hampir selalu bernuansa negatif.

Air disamakan dengan monster Hydra dalam mitologi Yunani. Monster penghuni mata air di Danau Lerna ini berbentuk naga berkepala sembilan. Selain memiliki napas beracun, setiap satu kepalanya dipotong, ia akan tumbuh menjadi dua kepala.

Sudah ratusan tahun para pengelola Batavia (Jakarta) berupaya mengalahkan ”monster” menakutkan ini, tetapi selalu menemui kegagalan. Dalam kisahnya, Hydra hanya dikalahkan oleh Herakles, sebagai tugas kedua dari 12 tugas yang harus dijalaninya dalam rangka penebusan dosa.

TROPENMUSEUM/NATIONAL MUSEUM OF WORLD CULTURES

Banjir yang melanda Kampung Blandongan di Jakarta Kota pada 1949. Banjir terjadi akibat rendahnya daya serap tanah dan saluran air yang tidak memadai.

Herakles tak lain adalah Hercules dalam mitologi Romawi, putra Zeus sang raja para dewa. Zeus tinggal di Gunung Olympus dan dikenal sebagai Dewa Langit dan Petir.

Apakah kita harus menemukan Hercules untuk menanggulangi banjir di Jakarta? Pada kisah klasik lainnya, kita mengenal lakon pewayangan berjudul Dewa Ruci.

Baca juga: Inkulturasi Sebatang Bambu

Bima, putra kedua dari lima Pandawa bersaudara, diperintahkan gurunya, Drona, untuk mencari air suci (tirtha amertha) atau air kehidupan. Ketika menyelam ke dasar lautan, Bima harus berhadapan dengan naga yang selama ini memangsa seluruh penghuni laut.

Ketika naga berhasil dikalahkan, Bima bertemu dengan Dewa Ruci, yang besarnya tak lebih dari telapak tangannya. Anehnya, wujud Dewa Ruci yang kecil mirip dengan Bima.

Tirtha amertha tak ada di mana-mana. Masuklah lewat telingaku,” kata Dewa Ruci.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Petugas UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengangkut sampah yang menumpuk di Pintu Air Karet, Kanal Barat, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (9/1/2020).

Bima bingung. Bagaimana mungkin, tubuhnya yang besar dan kekar bisa memasuki tubuh Dewi Ruci yang kecil. Ajaibnya, ketika benar-benar masuk, Bima menemukan semesta mahaluas di dalam tubuh Dewa Ruci.

Tirtha amertha tak ada di mana-mana. Ia ada di dalam tubuhmu sendiri,” kata Dewa Ruci kemudian.

Bima paham, air kehidupan yang dimaksudkan gurunya tak lain kemampuan berpikir, berkata-kata, dan berbuat yang tepat dan penuh perhitungan untuk kebaikan, tak perlu dicari ke mana-mana.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.

Baca juga: Perahu Pengantar Kesedihan

Ia ada di dalam diri setiap orang. Sifat-sifat kepahlawanan seperti Hercules ada di dalam diri semua orang. Hanya saja, setiap orang mesti bekerja keras dan melakoni kehidupan dengan segala keikhlasan untuk menemukan kesejatian di dalam diri.

Lakon Dewa Ruci mengajarkan tentang kedisiplinan, kepatuhan, kehormatan, dan pemuliaan. Fitrah air diturunkan ke Bumi tak lain sebagai sumber kehidupan (tirtha amertha).

KOMPAS/DEFRI WERDIONO

Wakil Bupati Malang M Sanusi (kanan) menuangkan air suci dari mata air di Sendang Widodaren yang ada di dalam kawasan wisata Wendit, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang menjadi prosesi Grebeg Tengger Tirto Aji, pertengahan April 2018.

Oleh sebab itulah, kita mendapatkan kenyataan, lebih dari 70 persen Planet Bumi terdiri dari air (bhuwana agung) dan lebih dari 70 persen pula tubuh kita terdiri dari air (bhuwana alit).

Dalam sejarahnya, air tak pernah diperlakukan sebagai penjahat terkejam, kecuali di masa modern Jakarta dan sekitarnya. Ia menjelma menjadi makhluk antagonis, seperti monster Hdyra dan naga yang nyaris mengalahkan Hercules dan Bima.

Pada masa klasik, air dipersonifikasi sebagai Dewa Wisnu, dewa pemelihara kehidupan dalam tradisi Hinduisme. Oleh sebab itulah, banyak ritus yang digelar untuk memuliakan air, termasuk bagaimana petani di Bali membentuk organisasi tradisional bernama Subak.

Baca juga: Intuisi untuk Mati

Subak selalu berhulu kepada Dewi Danu (dewi yang menguasai danau atau sumber air). Selanjutnya, pada setiap hulu sawah, didirikan Pura Subak sebelum akhirnya air benar-benar sampai di sawah-sawah petani.

Subak telah menjadi salah satu pandangan hidup, yang menghormati air sejak dari sumbernya sampai kemudian memberikan kesuburan kepada padi petani. Di dalamnya terdapat perpaduan antara ”teknologi tradisional” dan religiositas lokal, yang diterjemahkan dalam berbagai ritus pemuliaan air.

KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA

Kain merah putih sepanjang 1.945 meter dibentangkan dan bendera Merah Putih dikibarkan di kawasan Subak Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (14/8/2019).

Sampai kini kita pun masih melihat ritus penggunaan air pada setiap awal dan akhir dari sebuah upacara. Sebelum melakukan sembahyang, umat Hindu diperciki air suci yang disebut tirtha pebersihan, di pintu gereja-gereja Katolik Roma, selalu ditempatkan air suci dalam wadah bernama stoups.

Umat Katolik mencelupkan jarinya untuk kemudian membentuk tanda salib sebelum memasuki gereja. Umat Muslim menggunakan air sebagai sarana berwudu sebelum melakukan shalat.

Baca juga: Ayu, tetapi Berhantu

Dalam ritus lain, air pun digunakan sebagai medium penglukatan (pembersihan diri) lahir dan batin manusia; juga menjelma sebagai air zamzam, yang diyakini bisa membersihkan manusia dari segala penyakit.

Umat Buddha selalu melakukan pengambilan air suci yang dilakukan oleh para biksu di sebuah mata air sebelum dilakukan upacara hari suci Waisak.

Sebelum benar-benar disebut sebagai agama Hindu, berdasarkan berbagai prasasti, para peneliti Barat menyebutnya dengan agama Tirtha. Penyebutan itu tak lain merupakan representasi dari banyaknya penggunaan air sebagai bagian dari ritus keagamaan yang utama.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Para biksu mengikuti prosesi pengambilan air suci di mata air Umbul Jumprit, Desa Tegalrejo, Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Senin (8/5/2017). Air selanjutnya disemayamkan di Candi Mendut dan akan digunakan dalam puncak perayaan Waisak di Candi Borobudur.

Sejarah perjalanan air sejak masa klasik sampai ke masa-masa agraris (mitologis) sebenarnya dipenuhi oleh ritus-ritus yang memuliakan dirinya sebagai berkah kehidupan.

Dalam banyak drama yang diturunkan para dewata, air selalu menjadi tokoh protagonis, yang dilumuri sifat-sifat kepahlawanan, kepatuhan, kehormatan, dan kemuliaan.

Baca juga: Musang Berbulu Ayam

Entahlah bagaimana ceritanya, ketika air permukaan Bumi begitu melimpah di tengah cuaca yang berhujan di Jakarta, ia tiba-tiba menjadi antagonisme yang menyeramkan. Air tidak lagi dianggap memiliki sifat-sifat mulia sebagai pemberi kehidupan, tetapi sebagai penghancur tatanan kehidupan manusia.

Di manakah sesatnya cara berpikir ini? Jawabannya sederhana, tetapi sulit dilakukan. Cobalah kembali memuliakan air sebagai pemberi kehidupan.

Kembalilah ke dalam diri dan bertanya, apakah tindakan membuang sampah dan segala kekotoran di kali tempat air berjalan menuju laut, sebagai ibu segala air, menjadi tindakan yang mulia?

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Sampah rumah tangga yang didominasi sampah berbahan plastik mengapung di permukaan anak Sungai Ciliwung yang membelah perkampungan padat penduduk di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Jumat (30/8/2019).

Apakah mendirikan bangunan dengan mengokupasi bantaran sungai, tempat air berlalu-lalang, juga sebuah tindakan yang menghormati air?

Baca juga: Parlemen Keindahan Rendra

Memuliakan air berarti memberi keleluasaan sungai-sungai untuk mengantarkan air sampai ke laut, tempat ia akan melebur segala wujud fisiknya menjadi biru dan berasa asin.

Apakah air hujan terasa asin walau bersumber dari laut? Itulah keajaiban Semesta yang seharusnya kita syukuri dengan penuh rasa takzim.