Opini Kolom Vaksin, dari Sapi sampai Jokowi

ePILOG

Vaksin, dari Sapi sampai Jokowi

Flu spanyol menewaskan 100 juta manusia dalam dua tahun, lebih banyak dibandingkan korban Perang Dunia I. Pemikir kebudayaan Jean Couteau menyitir, ketika flu spanyol reda, lahir fasisme, dimulai di Italia dan Jerman.

Oleh Putu Fajar Arcana
· 9 menit baca

Putu Fajar Arcana, wartawan ”Kompas”

Andaikan percobaan dokter Edward Jenner terhadap bocah 8 tahun bernama James Phipps gagal, kemungkinan besar kita tak mengenal istilah vaksin. Bisa terjadi pula penyakit cowpox dan varisela simplex yang merebak pada abad ke-18 masih mengintai bak hantu bagi kita semua sampai hari ini. Selain itu, cara manusia menghadapi pandemi, yang nyaris selalu muncul dalam sejarah hidup kita, akan berbeda sama sekali.

Seperti kau dan aku kemudian tahu, bahwa ketika wabah-wabah ganas, seperti sampar, cacar, tipus, kolera, hepatitis, dan polio, menjadi pandemi dan nyaris menghancurkan sebagian hidup manusia, vaksin selalu menjadi harapan satu-satunya. Vaksinasi massal selalu pula menjadi tindakan untuk mengeradikasi wabah yang telah memicu pandemi.

Di sela kepanikan dan ketakutan itu, Jenner mengamati, warga yang pernah tertular cowpox atau cacar sapi terhindar dari serangan cacar air.

Suatu hari di tahun 1796, seorang gadis pemerah susu bernama Sarah Nelmes berlari-lari penuh cemas menemui Jenner. Sarah memperlihatkan tangannya yang penuh ruam dan nanah. Sebelum Sarah datang, di desanya, Berkeley, Gloucestershire, Inggris, Jenner berhadapan dengan kenyataan pahit.

Setiap saat, warga desa meninggal akibat serangan varisela simplex alias cacar air. Di sela kepanikan dan ketakutan itu, Jenner mengamati, warga yang pernah tertular cowpox atau cacar sapi terhindar dari serangan cacar air. Pengalaman itulah yang membuatnya mengambil tindakan nekat.

Baca Juga: Penanggalan yang Tersayat Menyambut Matahari Baru

ARSIP KITLV

Seorang pria di Maluku mendapatkan vaksinasi. Foto diperkirakan diambil pada 1935.

Jenner mencukil lesi di tangan Sarah dengan pisau tajam, lalu mengoleskannya pada luka di lengan Phipps. Tindakan berani itu mencemaskan hampir seluruh warga desa, terutama orangtua Phipps yang menjadi pengurus kebun milik Jenner. Benar saja, tak berapa lama, Phipps tertular cacar sapi walaupun kemudian ia segera sembuh.

Percobaan itu membuat Jenner semakin nekat. Ia kemudian mengoleskan materi yang ia ambil dari cacar air ke dalam luka yang ia buat di tangan Phipps. Seperti dugaannya, Phipps sama sekali tidak mengalami sakit cacar air sebagaimana dialami warga lain. ”Sesuatu yang berasal dari Phipps telah melindunginya,” kata Jenner yakin.

Jenner tak berhenti. Dokter kelahiran 17 Mei 1749 itu kemudian melakukan percobaan terhadap 23 warga desa yang pekerjaan utamanya memerah susu, termasuk kepada anak lelakinya yang baru berusia 11 bulan. Ia sukses.

Baca Juga: Isyarat Hujan di Bulan Desember

Seluruh detail percobaannya ia kumpulkan dalam sebuah buku berjudul An Inquiry the Causes and Effects of the Variolae Vaccinae. Dari buku inilah kemudian lahir ilmu imunologi dan istilah vaksin pun mulai digunakan. Padahal, secara generik, Jenner mengambil istilah vaksin itu dari vacca, bahasa Latin untuk sapi.

Memang pada awalnya istilah vaksin merujuk pada sejenis serum yang berasal dari virus cacar sapi yang telah dilemahkan untuk menimbulkan imunitas terhadap cacar air.

Jenner berkesimpulan bahwa virus cacar sapi yang telah lemah bisa memicu kekebalan tubuh terhadap cacar air. Logika itu kemudian perlahan-lahan menjadi logika ilmiah yang dianut para ilmuwan sampai hari ini sebagai prinsip dasar menciptakan serum vaksin.

ARSIP KITLV

Wabah cacar melanda banyak daerah pada masa Hindia Belanda. Dalam gambar adalah vaksinasi cacar yang dilakukan di sebuah kampung di Jawa oleh seorang dokter pribumi pada 1910.

Setelah percobaan Jenner, seabad kemudian Louis Pasteur mengembangkan teknik vaksinasi dan kemudian mengaplikasikan penggunaanya pada penyakit antraks dan rabies.

Sejak itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat beberapa jenis vaksin yang telah digunakan manusia untuk melawan pandemi, seperti cacar (1798), rabies (1885), sampar (1897), difteri (1923), pertusis (1926), tuberkulosis (1927), tetanus (1927), dan yellow fever (1935).

Setelah Perang Dunia II, catat WHO, pengembangan vaksin mengalami percepatan. Vaksin penting, seperti polio, disuntikkan pertama kali kepada manusia tahun 1955 dan kemudian disempurnakan dengan polio oral tahun 1962.

Baca Juga: Makanan Terindah Oh Masa Lalu

Beberapa penyakit kemudian berhasil dieradikasi dengan pencanangan vaksinasi massal, terutama untuk kasus polio di Somalia tahun 1997. Sejak itu, penyakit polio telah dinyatakan berhasil dieradikasi.

Indonesia pertama kali melakukan vaksinasi secara massal tahun 1956 untuk memerangi penyakit cacar air. Sebelumnya, penyakit ini seperti menjadi hantu dalam hidup manusia selama berabad-abad walau Edward Jenner telah menemukan vaksin untuk meredamnya.

Sejak itu, vaksinasi secara massal di Indonesia dianggap sebagai cara paling efektif untuk memutus rantai penyebaran wabah penyakit menular. Sejarah mencatat, Indonesia melakukan vaksinasi campak tahun 1963, BCG untuk penyakit TBC tahun 1973, tetanus toksoid tahun 1974, dan vaksinasi polio tahun 1981.

KOMPAS/RONY A NUGROHO

Simulasi pemberian vaksin Covid-19 di Puskesmas Tapos, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (22/10/2020). Simulasi ini bertujuan untuk menyiapkan infrastruktur puskesmas yang ditunjuk untuk pemberian vaksin tersebut.

Rupanya sejarah penemuan vaksin dan tindakan vaksinasi yang panjang itu tak juga mengajarkan sesuatu kepada beberapa orang. Di suatu sore yang redup di Pantai Sindhu Sanur, seorang teman penyair berkeluh kesah. Hidupnya selama tahun 2020 dijejali oleh kecemasan dan ketakutan. Ia bahkan mengarah kepada gejala-gejala paranoid.

Di stang sepeda motornya, tergantung puluhan masker yang sebenarnya sudah tak layak pakai, tetapi ia tak pernah membuangnya. ”Ya, ini buat berjaga-jaga saja,” katanya. Kalau ia sedang mengendarai sepeda motornya, masker-masker bekas itu seperti melambai-lambai dan, lambaian itulah, katanya, yang sedikit membuatnya tenang.

Seorang teman lain bereaksi dengan cara berbeda. Di kamar tidurnya, ia menumpuk masker, minyak kayu putih, kapsul herbal produksi China, oxymeter, tensi meter, dan rapid test kit yang dibeli secara daring. ”Semua untuk rasa aman saja, sih,” katanya. Katanya lagi, ia akan membeli apa pun yang dianggapnya bisa menumbuhkan rasa aman dari serangan Covid-19.

Baca Juga: Maudy Berbicara kepada Pohon

Ketika aku ceritakan tentang sejarah penemuan vaksin pertama kali oleh Edward Jenner di Inggris, keduanya kompak memberi jawaban, vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh berbagai lembaga penelitian dunia, terutama dari China, Inggris, dan Amerika Serikat, belum menjamin manusia bisa mengendalikan penyebaran virus korona. ”Aku malah ragu kalau divaksin, takut ada efek sampingnya,” kata teman penyair itu.

Sampai di situ, aku seperti kehilangan catatan tentang sejarah panjang manusia ketika berhadapan dengan berbagai wabah yang mengerikan. Kata-kata teman tadi telah begitu saja menghapus pencapaian ilmu biologi dan kesehatan untuk menemukan vaksin. Kenekatan yang dilakukan Jenner seolah hanya ”imajinasi” nakal dari seorang dokter kampung yang kurang tekun melakukan penelitian.

Mari sedikit bicara fakta. Kau bisa bayangkan, bagaimana London harus kehilangan separuh dari penduduknya pada abad ke-14 ketika wabah sampar menghancurkan kota itu.

ARMED FORCES INSTITUTE OF PATHOLOGY/NATIONAL MUSEUM OF HEALTH AND MEDICINE AS

Rumah sakit darurat di Camp Funston, Fort Riley, Kansas, saat pandemi flu spanyol 1918.

Flu spanyol yang terjadi tahun 1918-1920 telah menewaskan setidaknya 100 juta manusia dalam waktu dua tahun. Bahkan, jurnalis Fernando Duarte mencatat korban flu spanyol jauh lebih banyak dibandingkan dengan korban Perang Dunia I!

Pemikir kebudayaan Jean Couteau menyitir dengan getir apa yang terjadi ketika flu spanyol mereda. ”Ketika flu spanyol reda, justru lahir fasisme, dimulai dari Italia dan Jerman,” katanya.

Aku tak tahan untuk bertanya, apakah setelah pandemi Covid-19 akan terjadi hal serupa? Tidakkah vaksinasi yang kini sudah mulai dilakukan di negara-negara, seperti Amerika Serikat dan Inggris, bisa mencegah sesuatu yang lebih buruk bagi eksistensi umat manusia?

Baca Juga: Ada Apa dalam Sate Lilit?

Bagiku akan jadi kabar gembira jika benar Presiden Jokowi adalah orang pertama di Indonesia yang akan menerima pemberian vaksin Covid-19 dari Sinovac.

Kalau segala sesuatunya berjalan lancar, Rabu (13/1/2021) ini, Presiden Jokowi akan divaksin dan menjadi jaminan bagi seluruh rakyat dunia bahwa vaksin adalah tindakan aman. Meski kau dan aku harus memahaminya, bahwa vaksin Covid-19 yang berasal dari virus yang telah dilemahkan merupakan tindakan darurat untuk segera memutus mata rantai penyebaran wabah ganas ini.

Kau bisa saja berpikir apa yang dilakukan Presiden Jokowi lebih bernuansa politis ketimbang benar-benar bermuatan kesehatan. Bagiku, ketika Covid-19 diumumkan sebagai pandemi global oleh Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, di Swiss, Rabu (11/3/2020), wabah telah menggerus segala dimensi dalam hidup manusia. Ia tidak lagi sekadar fenomena kesehatan, tetapi telah melebar menjadi soal-soal ekonomi, pendidikan, sosial, politik, dan kebudayaan.

KOMPAS/RONY A NUGROHO

Loket pendaftaran vaksin saat digelar simulasi pemberian vaksin Covid-19 di Puskesmas Tapos, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (22/10/2020). Depok menjadi salah satu tujuan utama di wilayah Jawa Barat untuk pengiriman vaksin anti-Covid-19 ini.

Kesan yang muncul, antara kesehatan dan ekonomi selalu berhadapan secara diametral. Jika persoalan kesehatan tak segera dituntaskan, misalnya, pandemi Covid-19 terjadi bertahun-tahun, kondisi ekonomi akan terjun bebas ke titik nadir.

Kondisi itu bisa memicu berbagai persoalan baru, terutama soal-soal pengangguran karena pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat perusahan-perusahaan gulung tikar. Pada ujungnya, ini akan mendorong kekacauan sosial politik yang oleh Jean dikhawatirkan memicu ketegangan yang tak terduga, seperti muncul fasisme di Eropa setelah pandemi flu spanyol itu.

Maafkan, aku telah berbicara hal-hal yang mengkhawatirkan. Jangan-jangan, seperti sahabat penyair itu, aku juga sedang menuju kondisi paranoid, mencemaskan segala sesuatu secara berlebihan lalu melupakan tindakan-tindakan rasional.

Baca Juga: Mak Erot dan Sindrom Maskulinitas

Seharusnya, setidaknya untuk situasi yang sangat darurat, di mana penyebaran Covid-19 nyaris mustahil dihentikan hanya dengan tindakan 3 M (menjaga jarak, menggunakan masker, dan mencuci tangan), vaksin menjadi harapan satu-satunya. Semoga ia bukan semacam cakrawala, apalagi fatamorgana, akibat kondisi depresi yang mendera kita semua.

Kau dan aku telah mendapatkan pelajaran penting dari kenekatan Jenner di masa lalu. Tanpa kenekatan di masa darurat, aku percaya akan lebih banyak lagi korban berjatuhan. Jangan menunggu situasi semakin tak terkendali, sebaiknya bersama-sama ”nekat” secara kompak untuk memberi efek herd immunity yang berguna untuk melindungi kita semua.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Baliho sosialisasi manfaat vaksin terpasang pada bekas tiang monorel di Jalan Asia-Afrika, Jakarta Selatan, Kamis (19/11/2020).

Pertanyaan untuk kita semua, jika Jenner, seorang dokter kampung bisa belajar dari para pemerah susu sapi di desanya, mengapa kita orang-orang ”modern” tidak mampu belajar dari para dokter dan tenaga kesehatan yang telah berjibaku di garis depan melawan Covid-19?

Dulu, ratusan pemerah susu sapi di Berkeley menjadi korban cacar air. Begitu pula kini, ratusan tenaga kesehatan di negara kita berkorban untuk menghadapi pandemi. Apa yang sudah kau lakukan?

Kadang-kadang kita harus menaruh hormat kepada kenekatan bukan?

Sekarang vaksin itu menjelma di depan mata. Bukankah hanya perlu sedikit melapangkan hati, tidak sekadar demi sendiri, tetapi demi orang-orang yang kita kasihi di sekitar kita?

Jangan sampai mereka menjadi korban karena kau mati-matian meragukan apa yang sudah dicapai oleh ilmu pengetahuan. Mari sama-sama menyongsong era normal baru, betapapun utopianya bagimu. Kadang-kadang kita harus menaruh hormat kepada kenekatan bukan? Kita hormat kepada Jokowi karena ia nekat!

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.