Riset Kajian Data Gejolak di Ladang-ladang Minyak

Gejolak di Ladang-ladang Minyak

Dinamika politik di berbagai belahan dunia tak urung berujung pada harga minyak yang melambung.

Oleh BIMA BASKARA
· 5 menit baca
GETTY IMAGES/CARL COURT

Seorang bocah menghentikan sepedanya saat melewati ladang minyak yang dibakar oleh anggota NIIS yang mundur menjelang serangan di Mosul, 21 Oktober 2016, di Qayyarah, Irak.

Dalam tiga dekade belakangan, tercatat harga minyak dunia mengalami beberapa kali lonjakan harga. Lonjakan itu dipicu dinamika antarnegara yang berseteru.

Harga minyak mentah, baik jenis Brent maupun West Texas Intermediate (WTI), tercatat mengalami peningkatan pada awal 1990-an. Harga minyak jenis Brent naik dari 18,22 dollar AS per barel pada 1989 menjadi 23,76 dollar AS per barel pada 1990. Harga minyak WTI juga naik 25 persen sepanjang periode yang sama.

Harga minyak mentah dunia juga tercatat mengalami peningkatan mencolok pada awal tahun 2000. Pada 2002-2003, kenaikan harga untuk kedua jenis minyak mentah dunia tersebut mencapai 30 persen.

Harga minyak mentah kembali mengalami kenaikan mencolok sepanjang 2006-2008. Dalam kurun waktu tersebut, harga minyak mentah dunia untuk jenis Brent dan WTI naik hingga sekitar 50 persen.

Minyak mentah light sweet alias WTI juga sempat tercatat melonjak 10,75 dollar AS per barel pada 6 Juni 2008. Ini merupakan lompatan terbesar harga minyak mentah satu hari yang pernah terjadi—meroket setinggi 139,12 dollar AS per barel. Pada 11 Juli 2008, harga minyak mentah dunia pun sempat mencapai titik rekor tertinggi baru pada 147,50 dollar AS per barel di London dan 147,27 dollar AS per barel di New York.

Memasuki dekade kedua tahun 2000, lonjakan harga minyak kembali terjadi. Kali ini, harga minyak mentah Brent naik 40 persen pada 2010-2011, sedangkan WTI naik hampir 20 persen pada tahun yang sama.

 

Negara minyak

Harga minyak selalu rentan terhadap gangguan yang disebabkan oleh sejumlah faktor, antara lain konflik. Sejak 1989 hingga tahun lalu, paling tidak ada tiga periode kenaikan harga minyak mentah dunia yang dilatarbelakangi oleh konflik yang terjadi di sejumlah negara.

Konflik terkait Iran, Irak, Kuwait, Libya, Nigeria, dan Amerika Serikat berdampak langsung dan signifikan terhadap gejolak harga minyak dunia. Mereka adalah negara-negara produsen sekaligus pemilik cadangan besar minyak dunia, merujuk pada data Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Dunia (OPEC) dan US Energy Information Administration (EIA) tahun 2018.

Sementara itu, konflik terkait India dan Pakistan juga berdampak signifikan, mengingat mereka adalah negara konsumen minyak yang terbilang besar di dunia. Tahun 2018, data BP Statistical Review of World Energy menunjukkan, konsumsi minyak India dan Pakistan mencapai 5.654 ribu barel per hari. Angka konsumsi tersebut mencapai sekitar 16 persen dari total konsumsi minyak di kawasan Asia-Pasifik sebesar 35.863 ribu barel per hari pada tahun yang sama.

 

Rentetan konflik

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.

Harga minyak mentah menanjak tajam pada 1990 terjadi seiring menguatnya kekhawatiran dunia akan pecahnya konflik antara Irak dan Kuwait. Pada 28-30 Mei 1990, Saddam Hussein, Presiden Irak saat itu, mengatakan, kelebihan produksi minyak oleh Kuwait dan Uni Emirat Arab adalah ”perang ekonomi” melawan Irak.

Irak menuduh Kuwait mencuri minyak dari ladang minyak Rumaylah di perbatasan Irak-Kuwait dan memperingatkan tindakan militer pada 15-17 Juli 1990. Peristiwa ini berujung pada pecahnya Perang Teluk 16 Januari 1991, diikuti dengan aksi Irak meledakkan sumur minyak Kuwait sepanjang 22-25 Januari 1991.

Sementara itu, tahun 2002-2003 terjadi efek besar dari krisis Libya akibat perang di dalam negaranya. Gejolak harga minyak dunia pada periode ini juga tak lepas dari penumpasan gerakan Al Qaeda di Yaman.

Yaman mengusir lebih dari 100 ulama Islam asing dalam penumpasan terhadap Al Qaeda, Februari 2002. Delapan bulan kemudian, serangan Al Qaeda merusak supertanker minyak MV Limburg di Teluk Aden, menewaskan satu orang dan melukai 12 anggota awak, serta merugikan Yaman karena kehilangan pendapatan negara mereka dari sektor pelabuhan.

Awal tahun 2008, harga minyak mentah dunia tercatat sempat mencapai 100 dollar AS per barel untuk pertama kalinya dalam sejarah, di tengah kekhawatiran mendalam atas kekerasan di Nigeria serta ketidakstabilan di Pakistan yang berseteru dengan India.

Pada Juli 2008, India menyalahkan direktorat Inter-Service Intelligence (ISI) Pakistan atas serangan bom terhadap Kedutaan India di Kabul, yang menewaskan 58 orang dan melukai 141 orang lainnya. Konflik antara India dan Pakistan telah berlangsung sejak 1947, berkaitan dengan sengketa wilayah Khasmir, perbatasan India dan Pakistan.

Sementara konflik di Nigeria berkaitan dengan gerakan militan di Delta Niger sejak awal 2006. Kelompok militan ini menyerang pipa dan fasilitas minyak lainnya dan menculik pekerja minyak asing, menuntut kontrol lebih besar atas kekayaan minyak di negara tersebut.

Gejolak harga minyak mentah dunia, lagi-lagi terjadi pada pertengahan 2008. Pemicunya, antara lain, menguatnya kekhawatiran baru dari serangan  Israel terhadap Iran. Iran dan Israel sudah lama berkonflik lantaran kepentingan mereka masing-masing atas klaim Jalur Gaza di Timur Tengah.

Pertengahan 2008, kenaikan harga minyak mentah kembali terjadi karena didorong oleh kekhawatiran pasar akan situasi geopolitik di Iran dan Nigeria yang memanas.

Saat itu, situasi di Iran ataupun Amerika Serikat dan sekutunya memanas sejak Teheran mengumumkan telah melanjutkan konversi uranium di pabrik Isfahan pada Agustus-September 2005. Walaupun Iran menegaskan bahwa program itu berjalan untuk tujuan damai, Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) menemukan Iran melanggar Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.

AS kemudian campur tangan dengan mengumumkan sanksi baru terhadap Iran pada Oktober 2007. Upaya Iran melanjutkan konversi uranium diikuti dengan hasil rapat Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengeluarkan resolusi baru yang menegaskan kembali tuntutan bahwa Iran menghentikan pengayaan uranium pada September 2008.

Minyak Brent London melonjak kembali di atas 100 dollar AS per barel untuk pertama sejak Oktober 2008, pada 31 Januari 2011. Para pedagang resah atas dampak kerusuhan kekerasan di Mesir yang berujung pada jatuhnya kekuasaan Hosni Mubarak.

Kekhawatiran pasar didorong oleh kekhawatiran bahwa kekacauan Mesir bisa mengganggu aliran minyak melalui Terusan Suez ke Barat. Pada 2011, tercatat juga konflik besar warga Libya menentang kekuasaan Moammar Khadafy yang juga mendapatkan perhatian khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pada akhirnya, gejolak di ladang-ladang minyak dan negara konsumen besar minyak dunia mengakibatkan gejolak pada sisi pasokan dan distribusi yang berujung pada kelangkaan dan mendorong naiknya harga minyak. Pada awal tahun ini, tidak tertutup kemungkinan harga minyak kembali bergejolak seiring dengan meningkatnya tensi kepentingan antara Amerika Serikat dan Iran. (Litbang Kompas)