Riset Linimasa Vaksin, Harapan Pencegahan Wabah Virus Korona Jenis Baru

Virus Korona

Vaksin, Harapan Pencegahan Wabah Virus Korona Jenis Baru

Penemuan vaksin menjadi harapan bagi pencegahan penularan korona jenis baru (2019-nCoV). Namun, dibutuhkan waktu yang lama untuk menemukan vaksin yang benar-benar berfungsi.

Oleh DEBORA LAKSMI INDRASWARI
· 5 menit baca
AFP/STR

Para pekerja menyiapkan tempat tidur di pusat pameran yang diubah menjadi rumah sakit di Wuhan, Hubei, China, Selasa (4/2/2020). Pemerintah Wuhan berencana mengubah tiga tempat yang ada, termasuk gimnasium dan pusat pameran, menjadi rumah sakit untuk menerima pasien yang mengalami gejala ringan dari penyakit akibat virus korona baru.

Merebaknya virus korona membuat Pemerintah China bergerak cepat menanggulanginya. Pemerintah China langsung membangun dua rumah sakit khusus pasien korona jenis baru (2019-nCoV), yaitu RS Leishenshan dan RS Huoshensan di Wuhan, Provinsi Hubei. Kedua rumah sakit ini berkapasitas 2.300 tempat tidur.

Selain itu, Pemerintah China merilis kode genetik virus korona jenis baru yang dapat digunakan untuk mengembangkan upaya pencegahan. Dengan dikeluarkannya kode tersebut, para peneliti di dunia dapat segera meneliti dan menemukan vaksin untuk mencegah penularan wabah penyakit.

Sehari setelah diumumkan, beberapa ilmuwan mulai mengembangkan vaksin untuk melawan virus korona baru. Institut Kesehatan Nasional (NIH) Amerika Serikat dan Moderna Inc sudah memulai desain prototipe vaksin keluarga virus korona. Mereka menggunakan metode baru yang lebih baru dan cepat, yaitu menggunakan sepotong kode genetik virus korona yang disebut RNA pembawa pesan (messenger RNA/mRNA).

Ilmuwan di Australia bersama tiga perusahaan, yaitu Johnson & Johnson, Moderna Therapeutics, dan Inovio Pharmaceuticals, juga bekerja untuk menemukan vaksin virus korona baru. Inovio menggunakan teknologi berbasis DNA. Sementara Johnson & Johnson menyediakan vaksin melalui adenovirus. Para ilmuwan menguji partikel yang meniru struktur virus.

AFP/STR

Sebuah drone menyemprotkan desinfektan di sebuah desa di Pingdingshan, Provinsi Henan, China, Jumat (31/1/2020), untuk mencegah wabah virus korona.

Pentingnya vaksin

Dalam wabah penyakit menular, seperti virus korona baru, vaksin menjadi upaya pencegahan penyebaran. Vaksin dapat memberi sistem kekebalan dalam mengenali dan membangun pertahanan melawan mikroba penyebab penyakit, seperti bakteri atau virus. Vaksinasi mencegah orang terinfeksi virus lebih awal. Dengan demikian, virus atau bakteri tidak dapat menyebar dari orang ke orang.

Vaksin yang ditemukan pertama kali oleh Edward Jenner pada 1796 telah berhasil mencegah berbagai penyakit, seperti tetanus, hepatitis, polio, serta wabah ebola dan flu burung. Vaksin-vaksin tertentu wajib disuntikkan ke tubuh pada saat anak balita.

Vaksin diciptakan dengan berbagai pendekatan. Dalam beberapa kasus, bakteri atau virus dibunuh atau dilemahkan menjadi bahan untuk vaksin. Bakteri dan virus tersebut tidak dapat menyebabkan penyakit. Sebaliknya, virus atau bakteri ini mengatur sistem peringatan pada sel imun jika ada penyusup asing yang tidak diinginkan. Tubuh yang telah melihat mikroba asing ini membuat antibodi yang berfungsi sebagai penghancur mikroba asing dan berbahaya.

Jenis vaksin lainnya bekerja untuk mengedukasi sistem imun dengan mengekspos sel kekebalan pada protein yang dibuat virus atau bakteri. Hanya dengan satu protein ini, sel-sel imun dapat mengenalinya sebagai sesuatu yang berbahaya.

Selain itu, terdapat tiga pendekatan lagi untuk menemukan vaksin. Ketiga cara itu antara lain penggunaan virus lain yang memiliki pola RNA yang sama dengan virus, penggunaan vaksin DNA, dan kombinasi antara lima pendekatan tersebut (Kompas, 1/7/2003).

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

GOOD DAY, IT’S PAY DAY!

Love is in the air! Diskon hingga 30%

Tantangan pencegahan

Meskipun ampuh untuk mencegah penularan wabah, penemuan vaksin membutuhkan waktu selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Ilmuwan harus menyelidiki wabah penyakit dari awal. Selain itu, vaksin juga harus diuji secara ekstensif pada hewan dan manusia. Untuk tahapan ini, minimal dibutuhkan waktu satu tahun hingga vaksin dapat diedarkan di masyarakat.

Pada kejadian wabah SARS tahun 2003 dibutuhkan sekitar 20 bulan dari rilis kode genom virus untuk menghasilkan vaksin yang siap diujicobakan kepada manusia. Pada epidemi virus zika, peneliti membutuhkan waktu enam bulan untuk mengeluarkan vaksin.

Pada percobaan penemuan vaksin untuk wabah korona baru tahun ini, pihak Johnson & Johnson yang bekerja sama dengan ilmuwan Australia dan dua perusahaan lain memperkirakan butuh 8-12 bulan sebelum vaksin diuji klinis kepada manusia.

Waktu ini belum termasuk proses prakualifikasi dan lisensi vaksin oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Proses ini merupakan prosedur standar untuk menentukan apakah vaksin memenuhi standar kualitas, keamanan, dan kemanjuran WHO.

CHINATOPIX VIA AP

Seorang dokter dengan pakaian khusus sedang mengecek hasil medis pasien yang ada di sebuah hotel yang digunakan untuk merawat pasien yang sakit di Wuhan, Provinsi Hubei, China, Senin (3/2/2020).

Tahun lalu, WHO mengumumkan prakualifikasi vaksin ebola untuk pertama kali. Keberhasilan ini merupakan puncak pengembangan vaksin selama wabah ebola Afrika Barat pada 2014-2016. Hal ini menjadi langkah awal kepastian pencegahan ebola sebab selama lima tahun dunia berjuang mencegah ebola tanpa vaksin.

Vaksin Ervebo yang diproduksi Merck terbukti efektif dalam melindungi orang dari virus ebola Zaire dan direkomendasikan oleh Kelompok Ahli Penasihat Strategis WHO. Setelah diuji di Eropa dan Afrika dan mendapatkan prakualifikasi serta lisensi dari WHO, vaksin ini dapat digunakan di negara-negara yang berisiko terhadap wabah ebola.

Karena membutuhkan waktu yang lama, penemuan vaksin mungkin tidak begitu membantu pada tahap awal wabah. Namun, pengembangan vaksin masih tetap dinanti sebagai aset untuk pencegahan penyakit menular. Dengan perkembangan teknologi, para ilmuwan diharapkan dapat mempercepat penemuan vaksin untuk penyakit menular yang belum tertangani.

Sembari menunggu penemuan vaksin yang tepat, yang dapat dilakukan adalah melakukan pencegahan penularan virus korona jenis baru dengan cara sederhana. Misalnya, dengan mencuci tangan secara berkala dan menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit. (LITBANG KOMPAS)

Baca juga: Mengapa Harus Membayar Berita Daring?