Riset Donasi Digital Generasi Milenial

DONASI

Donasi Digital Generasi Milenial

Banyak cara untuk menolong sesama, salah satunya melalui donasi. Sikap baik tersebut dilakukan oleh semua lapisan usia, termasuk milenial. Dalam perkembangannya, kegiatan donasi juga dilakukan melalui ranah digital.

Oleh YOESEP BUDIANTO
· 7 menit baca
KOMPAS/RIZA FATHONI

Anggota grup orkestra Taman Suropati Chamber membawakan beberapa nomor komposisi lagu nasional pada Konser bertajuk ”Muda Bersatu dan Peduli” di Taman Suropati, Jakarta Pusat, Minggu (28/10/2018). Konser tersebut, selain untuk memperingati 90 tahun Sumpah Pemuda, juga untuk menggalang dan donasi peduli bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi di Sulawesi Tengah.

Donasi berarti sumbangan atau pemberian dari penderma. Menurut kamus Merriam-Webster, istilah donasi juga memiliki makna sebuah sikap kedermawanan. Dalam konteks dukungan sosial, sikap kedermawanan lekat dengan identitas manusia sebagai makhluk sosial.

Salah satu bentuk dukungan sosial adalah bantuan yang diterima oleh seseorang melalui kontak langsung ataupun tidak langsung dengan individu atau kelompok. Dukungan sosial dalam interaksi antarmanusia dilakukan kepada mereka yang berada dalam situasi yang menekan atau dalam situasi kesulitan.

Misalnya, mereka yang tertimpa kemalangan, kesusahan, atau sedang dalam keadaan tidak berdaya. Dukungan itu dapat berupa empati atau membantu kesulitan dalam bentuk sumbangan, baik berupa barang maupun uang.

Tujuan kegiatan memberikan sumbangan atau donasi kepada pihak yang berada dalam situasi kesulitan tersebut juga tecermin dari hasil jajak pendapat Kompas pada 22-23 Januari 2019.

Setidaknya ada dua pihak yang menjadi tujuan donasi yang dilakukan masyarakat Indonesia, yaitu korban bencana alam dan mereka yang berada di panti asuhan yatim piatu, panti jompo, dan tunawisma.

KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA

Pelari dari beberapa daerah, seperti Padang, Sawahlunto, Kota Solok, dan Bukittinggi, mengikuti lomba lari bertajuk ”Fun Run 5k for Donation” yang diadakan di Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Padang, Minggu (30/12/2018). Selain lomba, panitia juga menyisihkan sebagian dari biaya pendaftaran untuk donasi bagi penyintas tsunami di Banten dan Lampung.

Mereka menggambarkan bagian masyarakat yang sedang dalam situasi yang kurang beruntung sehingga mereka layak dibantu untuk dapat kembali berdaya. Korban bencana alam menjadi tujuan donasi yang paling banyak. Banyaknya kejadian bencana membuat penderitaan masyarakat Indonesia akibat bencana tidak terhindarkan.

Sebagai gambaran, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama dua dekade terakhir ada 24.222 kejadian bencana alam. Jumlah masyarakat yang menderita karena bencana mencapai 47 juta jiwa.

Jajak pendapat juga memotret kepedulian masyarakat Indonesia terhadap sesamanya. Sedikitnya 7 dari 10 responden mengaku pernah memberikan donasi.

Frekuensi sumbangan yang diberikan paling sedikit dilakukan satu kali dalam sebulan. Temuan ini menggambarkan masih terjaganya kepedulian masyarakat Indonesia terhadap sesama dan lingkungannya.

Sejumlah masalah sosial, seperti kemiskinan dan anak telantar di Indonesia, masih membutuhkan uluran tangan dari sesama warga. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah penduduk miskin Indonesia sekitar 24,9 juta jiwa pada 2019.

Usia muda

Pemberi donasi atau sumbangan terdiri dari beragam kelompok usia, dari muda hingga tua. Setidaknya ada dua pandangan yang muncul terhadap pemilihan donatur prioritas, yaitu kelompok usia mapan yang mapan secara finansial atau kelompok usia muda yang gemar memberi.

Kelompok usia mapan diwakili oleh generasi X, baby boomers, dan silent gen yang memiliki usia lebih dari 41 tahun. Sementara usia muda diwakili oleh generasi anak-anak muda berusia 17-30 tahun yang termasuk kelompok generasi Z dan milenial muda, serta generasi milenial matang yang berusia 31-40 tahun.

Hasil jajak pendapat menemukan sebagian besar donatur dilakukan oleh kelompok usia mapan. Sebanyak 48,3 persen responden generasi X, baby boomers, dan silent gen mengaku pernah memberikan donasi atau sumbangan.

Usia mapan tidak hanya matang dari segi umurnya, tetapi juga diimbangi dengan mapannya kondisi keuangan. Kemampuan secara finasial inilah yang membuat kegiatan donasi atau sumbangan banyak dilakukan oleh mereka yang berusia di atas 41 tahun ke atas.

Ini sejalan dengan temuan penelitian dari Blackbaud Institute tahun 2018 tentang donasi yang dirilis di laman Forbes, generasi yang berusia lebih tua harus menjadi prioritas bagi pihak penyelenggara donasi/sumbangan.

KOMPAS/ERIKA KURNIA

Head of Corporate Communication Go-Pay Winny Triswandhani mendemonstrasikan pemanfaatan metode scan QR Code untuk mendonasikan saldo Go-Pay ke lembaga pengelola dana masyarakat NU Care-LazisNU. Demo ini dilakukan dalam kegiatan peresmian kerja sama Gojek dan Go-Pay dengan NU Care-LazisNU di bawah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Mereka dinilai lebih mampu secara finansial dibandingkan dengan generasi lainnya. Generasi usia mapan masih menjadi kelompok terbesar penyumbang dengan besaran kontribusi mencapai 61,9 miliar dollar AS per tahun atau 43 persen dari total uang sumbangan.

Namun, geliat donasi juga terekam dari mereka yang berasal dari generasi usia muda, anak-anak muda berusia 17-30 tahun, yang termasuk kelompok generasi Z dan milenial muda, juga tidak melupakan untuk memberikan sumbangan. Sepertiga bagian responden (35,4 persen) yang pernah memberikan donasi adalah anak-anak dari generasi Z dan milenial muda.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

GOOD DAY, IT’S PAY DAY!

Love is in the air! Diskon hingga 30%

Melihat frekuensinya, sebanyak 57,3 persen anak muda menyatakan berdonasi setidaknya satu kali dalam sebulan. Sementara 30,7 persen lainnya berdonasi 3-5 kali dalam sebulan. Geliat donasi anak-anak muda merupakan gambaran yang positif berlanjutnya nilai kedarmawanan di Indonesia.

Melihat jumlah anak muda yang mencapai sepertiga dari jumlah penduduk nasional, tentu saja ini menjadi modal sosial kepedulian bangsa. Generasi ini kelak bertransformasi menjadi tulang punggung pengamalan nilai-nilai kemanusiaan bangsa melalui donasi dan berbagai aksi solidaritas lainnya.

Donasi digital

Perkembangan teknologi internet dan digital turut membuka lembaran baru kegiatan donasi yang dilakukan generasi milenial. Media sosial dan situs penggalangan dana kian mudah ditemukan dalam berbagai bentuk layanan dan platform. Banyak yayasan nonprofit yang membuat gerakan penggalangan dana.

Pada beberapa kasus, penggalangan dana dapat dilakukan sendiri oleh seorang individu untuk keluarga, teman, bahkan untuk dirinya sendiri. Situs kitabisa.com sudah tidak asing bagi banyak warga Indonesia, khususnya pengguna ponsel. Banyak ragam bantuan yang ditawarkan di situs tersebut, seperti bantuan kemanusiaan untuk korban bencana, pendidikan, kesehatan, bahkan bantuan khusus untuk pencinta binatang peliharaan.

Selain kitabisa.com, situs penggalangan dana yang telah lama ada adalah Greenpeace, sebuah lembaga nonprofit yang konsentrasi pada isu-isu humaniora, khususnya pengelolaan sumberdaya lingkungan.

Setidaknya ada tiga jalur yang ditawarkan Greenpeace bagi siapa saja yang ingin berdonasi, yaitu langsung menemui calon donatur di tempat umum, menghubungi melalui telepon, dan donasi online.

KOMPAS/SONYA HELLEN SINOMBOR

Presiden of Grab Indonesia Rizki Kramadibrata menyerahkan donasi dari pengguna Grab Indonesia untuk membantu perempuan korban kekerasan kepada Direktur Eksekutif Ikatan untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komnas Perempuan, Rabu (24/4/2019), di Komnas Perempuan, Jakarta.

Demikian juga dengan Palang Merah Indonesia sebagai organisasi kemanusiaan di Indonesia juga memiliki beberapa program donasi. Program sumbangan yang dikelola oleh PMI, yaitu Donasi Siaga Pandemi, Donasi Program, Donasi Khusus, dan Donasi Umum, untuk membantu kegiatan sosial dan kemanusian.

Salah satu program yang sedang dijalankan adalah Sekolah Sehat, Aman, dan Hebat (Sahabat) PMI yang fokus pada pembenahan dan pengadaan toilet bersih di sekolah.

Kegiatan donasi atau sumbangan juga bisa diberikan melalui program sedekah di Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Sedekah merupakan salah satu cara yang digunakan untuk membantu sesama atau kemaslahatan umum.

Makin mudahnya kegiatan donasi secara online membuka peluang meluasnya jangkauan nilai-nilai kedermawanan di Indonesia. Model donasi digital tersebut juga lebih diminati oleh generasi usia muda.

Lebih dari separuh responden milenial (54 persen) mengaku pernah memberikan sumbangan melalui situs/media sosial penggalangan dana. Jika ditambah usia milenial matang, generasi muda dari usia 17-40 tahun yang menyatakan pernah menyumbang melalui situs/media sosial menjadi 70 persen. Artinya, donasi digital sebagian besar dilakukan oleh generasi muda dibandingkan dengan generasi baby boomers dan silent gen.

ISTIMEWA

Penggalangan donasi untuk pengobatan anak mantan lifter nasional, Winarni, hingga Selasa (31/7/2018) malam, melalui kitabisa.com.

Lebih mudah dan praktis dalam memberikan sumbangan merupakan alasan utama menggunakan donasi digital. Selain itu, mulai diliriknya kegiatan berdonasi online adalah transparan dalam pengelolaan dana sumbangan dan kepercayaan terhadap pengelola situs/media sosial.

Aspek transparansi ditunjukkan dengan informasi lanjutan kepada pemberi sumbangan. Penderma mendapatkan update jumlah donasi dan tindak lanjut penyaluran sumbangan yang mereka berikan. Tidak jarang, sasaran donasi bahkan disebutkan di awal kampanye kegiatan mengumpulkan sumbangan sehingga sejak awal penderma tahu kepada siapa dan kapan donasi diberikan.

Selain transparan, mekanisme pemberian donasi digital juga dibuat mudah bagi masyarakat umum. Memanfaatkan telepon pintar yang banyak digunakan kaum milenial dan kerja sama dengan aplikasi penyedia layanan, donasi kian mudah dilakukan pada era digital.

Melakukan donasi atau memberikan sumbangan menjadi salah satu kegiatan kemanusiaan untuk membantu sesama, khususnya saat kondisi darurat. Perkembangan teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan spirit kepedulian sosial generasi muda Indonesia. Selain menolong sesama yang membutuhkan, harapan lain dari aksi donasi ini adalah pengamalan nilai-nilai kemanusiaan Pancasila dapat terus lestari dan berkembang pada era digital. (LITBANG KOMPAS)

Baca juga: Mengapa Harus Membayar Berita Daring?