Riset Dampak Berganda Wisata Olahraga

BOROBUDUR MARATHON

Dampak Berganda Wisata Olahraga

Keberadaan pariwisata olahraga atau ”sport tourism” berpotensi mengembangkan sektor wisata nasional. Ajang seperti Borobudur Marathon menciptakan dampak berganda yang berkontribusi pada perekonomian di daerah.

Oleh WIRDATUL AINI
· 5 menit baca
KOMPAS/REGINA RUKMORINI

Sejumlah pelari kategori full marathon Borobudur Marathon 2019, menjelang start, Minggu (17/11/2019) pagi.

Pariwisata olahraga memiliki ceruk potensi pengembangan dalam industri pariwisata dunia. Menyadur data dari Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO), pertumbuhan sport tourism mencapai 6 persen per tahun atau senilai 600 miliar dollar AS setiap tahun. Kontribusi ajang yang memadukan unsur olahraga dan wisata ini mencapai 25 persen dari total penerimaan industri wisata global.

Pariwisata dan olahraga merupakan dua sektor saling terkait. Sebagai kegiatan profesional, amatir, maupun sekadar rekreasi, ajang olahraga selalu melibatkan banyak orang untuk bermain di berbagai tujuan dan negara.

Selain itu, acara-acara olahraga besar, seperti Olimpiade, Piala Dunia, Asian Games, kejuaraan bulu tangkis, dan rugbi memiliki potensi daya tarik wisatawan untuk datang dan menyaksikan. Bagi suatu negara atau daerah, kehadiran acara pariwisata olahraga yang bertaraf internasional menjadi suatu potensi pendapatan.

Alasannya, karena adanya kegiatan olahraga, daerah tersebut akan dikunjungi lebih banyak wisatawan. Mereka tidak hanya menyaksikan event olahraga semata, tetapi juga mengunjungi tempat-tempat wisata dan sentra kesenian/kerajinan. Kedatangan ribuan wisatawan dari banyak daerah dan negara dalam satu waktu memberikan dampak berganda (multiplier effect) bagi perekonomian negara.

Di Indonesia, pariwisata olahraga yang berkembang selama beberapa tahun terakhir, antara lain Tour de Singkarak, Tour de Banyuwangi, Borobudur Marathon, Ironman 70.3 Bintan, dan Golf Indonesia Master.

Konsep wisata olahraga tersebut mulai dari balap sepeda, golf, hingga maraton. Konsep ini semakin menarik wisatawan karena ditambah dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya dari daerah.

Kementerian Pariwisata mencatat, pada 2013 pariwisata menyumbang devisa 10 miliar dollar AS. Dari total devisa tersebut, pariwisata olahraga menyumbang kontribusi 5 persen.

Potensi sektor ini juga terlihat dari kajian Bappenas dan LPEM FEB Universitas Indonesia terhadap penyelenggaraan Asian Games 2018. Kajian tersebut mencatat pengeluaran pengunjung Asian Games mencapai Rp 3,7 triliun, dengan pengeluaran wisatawan mancanegara Rp 1,9 triliun.

Sebagian besar pengeluaran untuk belanja suvenir, hotel, dan makanan minuman. Adanya Asian Games membuat pertumbuhan ekonomi nasional meningkat sekitar 0,05 persen.

Borobudur Marathon

Potensi lain perpaduan wisata dan olahraga ini juga terlihat dari penyelenggaraan Borobudur Marathon 2019 di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Acara ini mendatangkan 10.900 peserta untuk memeriahkan ajang olahraga di berbagai kelas lari.

Banyaknya wisatawan yang datang untuk mengikuti ajang olahraga sekaligus dimanfaatkan sebagai ajang promosi pariwisata daerah. Ajang olahraga ini sekaligus menjadi sarana promosi pariwisata untuk menunjukkan keunikan dan keunggulan yang dimiliki suatu daerah, seperti kekayaan alam, seni, dan budaya.

Daya tarik pariwisata olahraga memberikan dampak berganda (multiplier effect) yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi. Dampak berganda ini dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat, pelaku usaha, dan pegiat seni.

Hasil survei Kompas pada 17-19 November 2019 menangkap kontribusi penyelenggaraan Borobudur Marathon bagi pelaku usaha lokal. Survei dilakukan terhadap 100 pelaku usaha akomodasi dan perhotelan di Kabupaten dan Kota Magelang saat Borobudur Marathon 2019 berlangsung.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

GOOD DAY, IT’S PAY DAY!

Love is in the air! Diskon hingga 30%

Sebanyak 60 persen responden memberi kesan bahwa acara wisata olahraga seperti Borobudur Marathon membantu ekonomi dan pariwisata daerah. Kehadiran acara ini memberi tambahan pendapatan bagi pelaku usaha.

Hal ini dapat dilihat dari tingkat hunian kamar (occupancy rate) yang menjadi 100 persen pada hari penyelenggaraan di 97 persen usaha akomodasi dan perhotelan. Selain itu, ada perubahan harga selama acara ini berlangsung. Sebanyak 45 persen usaha akomodasi dan perhotelan menaikkan harganya sebesar 21 hingga 40 persen.

Penyerapan tenaga kerja juga meningkat. Ini karena adanya kelebihan permintaan (over demand) untuk meningkatkan pelayanan terhadap pengunjung. Sebanyak 40 persen usaha akomodasi dan perhotelan menambah satu karyawan dan 12 persen usaha menambah dua karyawan.

Usaha akomodasi dan perhotelan juga menyediakan fasilitas khusus selama Borobudur Marathon 2019. Sebanyak 23 persen memberi fasilitas khusus seperti extra bed, antar jemput (shuttle), minuman yang disajikan bagi tamu yang baru datang (welcome drink), menu dan jam sarapan disesuaikan dengan jam dan kondisi peserta, dan lainnya.

Secara umum, Borobudur Marathon membuat pendapatan usaha hotel dan restoran meningkat. Pada tahun sebelumnya, 80 persen pelaku usaha akomodasi dan hotel mengaku pendapatannya bertambah dua kali lipat.

Pada tahun ini, berbagai kelas akomodasi dan hotel berbintang dan nonbintang dari harga Rp 125.000 per malam hingga 3.500 dollar AS per malam habis terjual. Nilai ekonomi yang dihasilkan untuk usaha akomodasi dan perhotelan selama Borobudur Marathon 2019 diperkirakan lebih dari Rp1,7 miliar.

KOMPAS/REGINA RUKMORINI

Bank Jateng melatih 25 UMKM di kawasan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, untuk melakukan transaksi nontunai, Selasa (22/10/2019).

Kalender kegiatan

Adanya kegiatan pariwisata olahraga memberikan kontribusi bagi perekonomian daerah. Nilai tersebut tersebut antara lain muncul dari peningkatan nilai ekonomi masyarakat, menciptakan lapangan kerja, serta menggerakkan roda usaha masyarakat sekitar.

Dalam skala yang lebih luas, penyelenggaraan Borobudur Marathon bersamaan dengan fenomena peningkatan kunjungan wisatawan di Provinsi Jawa Tengah. Kunjungan wisatawan pada 2019 meningkat 10,4 persen dari tahun sebelumnya, yaitu 53,7 juta wisatawan Nusantara dan 623 ribu orang wisatawan mancanegara.

Diversifikasi kegiatan wisata melalui pariwisata berbalut olahraga menjadi prospek pengembangan pariwisata Indonesia ke depan. Besarnya kekuatan pariwisata olahraga bagi perkembangan wisata membuat Kementerian Pariwisata memasukkan kegiatan olahraga dalam Calender of Events (CoE) Wonderful Indonesia.

Peluncuran CoE ini berupaya menjaring kunjungan wisatawan. Kegiatan pariwisata olahraga seperti Borobudur Marathon yang masuk dalam 10 besar CoE 2020 dapat menambah nilai jual kegiatan.

Semakin menjamurnya ajang olahraga berbalut pariwisata yang diimbangi dengan infrastruktur dan pengelolaan yang baik diharapkan dapat menggerakkan pariwisata di Indonesia. Promosi destinasi pariwisata lewat kegiatan olahraga dapat dijadikan strategi andalan dalam meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara di Indonesia. (LITBANG KOMPAS)

Baca juga : Mengapa Harus Membayar Berita Daring?