Riset Kajian Data Ancaman Mematikan Penyakit Tuberkulosis

Hari Tuberkulosis Sedunia

Ancaman Mematikan Penyakit Tuberkulosis

Dikenal dengan mitos mengerikan hingga penyakit mematikan, tuberkulosis membawa atribut buruk bagi penderitanya. Walau dapat disembuhkan, keberadaan tuberkulosis tetap menjadi ancaman masyarakat.

Oleh Yohanes Mega Hendarto
· 7 menit baca
KOMPAS/FABIO MARIA LOPES COSTA

Pemberian obat khusus bagi pasien yang menderita tuberkulosis resisten obat di Puskesmas Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, Rabu (18/3/2020).

Hari-hari belakangan ini, warga dunia dicekam wabah korona Covid-19 yang telah menjangkiti 335.000 orang di 173 negara/teritori hingga 23 Maret 2020. Pandemi virus korona jenis baru menimbulkan kekhawatiran bagi penduduk dunia. Bukan saja karena telah merenggut 14.600 orang, melainkan juga menutup kegiatan dan konektivitas warga di beberapa wilayah atau negara.

Jauh sebelum pandemi Covid-19, dunia juga dicekam kekhawatiran akibat penyakit tuberkulosis (TB). Penyakit ini telah membuat 1,5 juta orang meninggal pada 2018 sehingga dikenal sebagai satu dari 10 penyakit penyebab kematian terbesar di dunia.

Pada awal kemunculan tuberkulosis dikaitkan dengan mitos atau legenda setempat. Tepatnya di Rhode Island, Amerika Serikat, mitos tentang vampir dan nenek sihir masih dipercaya kuat oleh masyarakat setempat.

Jika ditarik sejarah sebelumnya, pada 1692 daerah ini dikenal dengan penangkapan dan pembunuhan orang-orang yang diduga sebagai penyihir dan pengikutnya.

Dugaan tentang mitos vampir ini diperkuat dengan penemuan para ahli yang menemukan tulang belulang dua perempuan yang meninggal pada Maret 1892. Keduanya meninggal dalam keadaan sakit parah yang kala itu masih tidak diketahui penyebabnya.

Pasien tuberkulosis resisten obat (TB MDR) yang telah selesai minum obat berada di gazebo di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur, Jumat (20/3/2015), menunggu efek samping obat hilang. Mereka harus menjalani pengobatan hingga dua tahun agar penyakit TB MDR-nya sembuh.

Karena saat sakit keduanya mengalami kesulitan bernapas, kulit yang memucat, serta batuk berdarah yang sering menetes dari pinggir bibir mereka, warga lokal menduga mereka adalah vampir.

Kemudian pada 1990, para peneliti melakukan observasi kepada 29 kerangka manusia di pemakaman Griswold, Connecticut, Amerika Serikat. Penelitian yang dikenal sebagai The Jewett City Vampires ini menghasilkan temuan bahwa para mayat yang dikubur seturut tradisi menguburkan vampir tersebut, merupakan korban kuman Mycobacterium tuberculosis. Temuan ini sekaligus meyakinkan masyarakat bahwa TB adalah penyakit serius yang perlu ditangani secara ilmiah.

Adanya temuan pada tahun tersebut bukan berarti penyakit TB baru saja ditemukan saat itu juga. Kuman Mycobacterium tuberculosis pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada 24 Maret 1882.

Jika tahun 2016 tingkat kematian TB berada di angka 23 persen, WHO menargetkan penurunan angka menjadi 10 persen pada 2030.

Dalam usaha penanganan kuman ini, Albert Calmette dan Jean-Marie Camille Guerin mengembangkan vaksin yang kemudian dinamakan Bacille Calmette-Guérin (BCG) pada 1921. Secara umum, vaksin ini tidak diberikan kepada para penderita TB, tetapi kepada anak-anak dan manula sebagai usaha pencegahan kuman tuberkulosis. Meski demikian, vaksin ini bukanlah jaminan terhindar dari penyakit TB.

Di tingkat global, TB menjadi penyakit yang mengancam manusia karena tingkat kematiannya tergolong tinggi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa tiap tahunnya terdapat sekitar 10 juta orang meninggal akibat TB. Jumlah ini mengantar TB sebagai penyakit berbahaya dengan tingkat kematian di atas HIV/AIDS.

Sadar akan bahaya ini, WHO sejak 1997 merilis laporan global penyakit TB dari sejumlah negara. Sejak 2016, WHO memasukkan usaha penanganan TB dalam agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), tepatnya di poin ketiga tentang kesehatan. Jika tahun 2016 tingkat kematian TB berada di angka 23 persen, WHO menargetkan penurunan angka menjadi 10 persen pada 2030.

Perjalanan panjang

Di Indonesia, jejak penyakit TB dan usaha penanganannya dimulai sejak 1908. Kala itu Pemerintah Hindia Belanda membentuk suatu perkumpulan bernama Centrale Vereeniging voor Tuberculose Bestrijding (CVT) dan mendirikan beberapa sanatorium untuk perawatan penderita tuberkulosis. Pada 1933, perkumpulan ini mulai menjalankan usaha-usaha preventif dan pengobatan kepada rakyat setempat.

Setelah era kemerdekaan, Pemerintah Indonesia mendirikan Lembaga Pemberantasan Penyakit Paru-paru (LP4) pada 1949. Lembaga ini disebar di 53 lokasi dan dikenal dengan Balai Pemberantasan Penyakit Paru-Paru (BP4).

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Baca Berita Korona Terkini di Kompas.id, GRATIS

Harian Kompas berikan BEBAS AKSES untuk seluruh artikel di Kompas.id terkait virus korona.

Kesadaran akan pencegahan TB sudah muncul sejak 1965 dengan keluarnya surat keputusan dari Menteri Kesehatan Mayor Jenderal Dr Satrio kepada kepala-kepala dinas kesehatan. Keputusan ini tercatat dalam arsip Kompas, 8 November 1965.

Dalam surat tersebut, Menteri Kesehatan menginstruksikan adanya vaksinasi BCG yang dilakukan oleh Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) kepada bayi dan anak-anak berusia 0-6 tahun.

Dalam catatan Kompas, pada 20 Mei 1968 diadakan peresmian Perhimpunan Pemberantasan Penyakit TBC Indonesia (PPTI) di Jakarta. Perhimpunan tersebut diketuai oleh Rusiah Sardjono, seorang menteri pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Hingga saat ini, PPTI masih aktif bergerak dalam penanganan TBC dengan berbagai jenis layanannya.

Selanjutnya pada masa Orde Baru, yakni 1969-1973, tanggung jawab penanganan TB diambil alih oleh Direktorat Jenderal Pemberantasan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (P4M) Kementerian Kesehatan RI.

Salah satu program yang dijalankan ialah pemberian imunisasi BCG yang dikenal dengan Program Pemberantasan Tuberkulosis dan BCG (P2TBC/BCG). Pada kurun 1976-1994, dimulai uji coba strategi directly observed treatment short-course (DOTS) yang pertama kalinya untuk menyingkat masa pengobatan penderita TB.

Selanjutnya, pemerintah memberikan perhatian khusus melalui survei, strategi nasional, dan berbagai pendekatan untuk mengedukasi masyarakat. Secara khusus, pemberantasan TB menjadi salah satu target Rencana Nasional Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Hingga saat ini, pemerintah berkomitmen terus-menerus melakukan revisi strategi penanggulangan TB di Indonesia sesuai dengan hasil survei prevalens TB terbaru yang jauh lebih akurat.

Meski demikian, nampaknya pemerintah perlu belajar dari negara lain dalam menangani TB mengingat jumlah penderita TB yang tinggi dibandingkan negara-negara lainnya. WHO mencatat, di Indonesia pada 2015 terdapat notifikasi 331.703 kasus TB yang kemudian naik menjadi 563.879 kasus baru TB pada 2018. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari delapan negara dengan beban TB terberat selain India, China, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh, dan Afrika Selatan.

Keberhasilan Singapura

Jika ada negara yang perlu dijadikan sebagai rujukan dalam usaha memerangi penyakit TB, maka Singapura jawabannya. Pada 1958, tingkat penyakit TB berada pada angka 307 per 100.000 penduduk, sedangkan tahun 2007 jumlahnya turun drastis menjadi 35 per 100.000 penduduk. Kuncinya, Singapura menaruh perhatian besar pada lembaga penelitian dalam mengatasi TB.

Ada tiga langkah utama yang dilakukan Singapura terkait pengembangan penelitian ini. Pertama, dimulai dengan pengembangan infrastruktur dan tenaga riset yang memadai untuk meneliti kuman TB beserta obat yang dapat mengatasinya.

Baca juga: Melawan Stigma Negatif Penderita TB

Sebagai langkah lanjutan yang berjalan hingga saat ini terdapat lembaga penelitian bernama Singapore Programme of Research Investigating New Approaches to Treatment of Tuberculosis (SPRINT TB) yang berkolaborasi dengan peneliti dari Amerika Serikat dan Eropa.

Kedua, dengan adanya lembaga penelitian yang mumpuni, maka Singapura melibatkan diri untuk membantu negara lain dalam mengatasi TB. Sejak 2016, Universitas Nasional Singapura menginisiasi program riset TB di Kamboja. Program ini dijalankan oleh Saw Swee Hock School of Public Health yang memberikan arahan kepada Kamboja mengenai strategi mengurangi penderita TB dalam 15 tahun ke depan.

KOMPAS/ADHITYA RAMADHAN

Pimpinan negara-negara di dunia berkumpul pada Sidang Umum PBB ke-73 di New York, Rabu (26/9/2018). Salah satu isu krusial yang dibahas adalah pengendalian penyakit tuberkulosis yang menjadi beban kesehatan global.

Terakhir, mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan, maka Singapura membuka donasi di tingkat dunia untuk mengembangkan lebih lanjut lembaga penelitian mereka. Dengan kapasitas dan keseriusan menghadapi TB, peluang Singapura untuk mendapatkan dana secara global tentu bukan hal sulit. Apalagi, Singapura juga membuka diri untuk kolaborasi dan berbagi dengan negara lainnya.

Maka, pengembangan penelitian untuk menemukan strategi dan obat yang ampuh menjadi salah satu jalan yang perlu diikuti oleh Indonesia. Terbuka pada kolaborasi turut menjadi kunci.

Alasannya, TB bukanlah penyakit lokal, melainkan sudah menjadi perhatian global dalam waktu yang lama. Lembaga Stop TB Partnership Indonesia mengingatkan setiap hari lebih dari 2.300 orang jatuh sakit akibat TBC. Penyakit menular yang dapat dicegah dan diobati ini juga telah merenggut lebih dari 200 jiwa setiap harinya.

Perlu kerja sama seluruh negara di dunia untuk mencapai eliminasi TB pada 2030. Terlebih di tengah munculnya penyakit menular baru seperti Covid-19, upaya mengatasi kedua pandemi perlu lebih sinergis. Butuh kolaborasi multi-sektor untuk mengatasi memerangi Covid-19 dan mengeleminasi TB. (LITBANG KOMPAS)