Buku ”Invisible Women” dan Dominasi Data Laki-laki di Kehidupan Perempuan

Pustaka

”Invisible Women” dan Dominasi Data Laki-laki di Kehidupan Perempuan

Selama ini, ada bias data sehingga dunia dirancang untuk laki-laki dan keberadaan perempuan cenderung tidak terlihat.

Oleh Debora Laksmi Indraswari
· 8 menit baca
KOMPAS/DENTY PIAWAI NASTITIE

Peserta aksi dalam rangka Hari Perempuan Sedunia 2020 membentangkan poster di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (8/3/2020). Dalam aksi ini, massa menyuarakan tentang keberagaman, kesetaraan jender, dan penuntasan kekerasan terhadap perempuan.

Jika dunia dirancang berdasarkan data yang didominasi oleh kaum pria, bagaimana dampaknya terhadap kehidupan perempuan? Buku karya Caroline Criado Perez mengajak kita melihatnya berdasarkan pendekatan data dalam berbagai aspek kehidupan yang cenderung mengabaikan keberadaan perempuan.

Sosok perempuan dengan segala potensi, pencapaian, dan keberhasilannya semakin diakui oleh publik. Seiring perkembangan zaman, perempuan diberikan kesempatan untuk memimpin, berkarya, dan diakui hak-haknya oleh masyarakat. Dalam keberhasilannya pun, perempuan sangat diapresiasi luar biasa.

Seperti saat Pemilu AS 2020, sosok Kamala Harris, calon wakil presiden yang berpasangan dengan Joe Biden, cukup merebut perhatian publik. Setelah terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden ke-46 Amerika Serikat, Kamala Harris memecahkan rekor sebagai wakil presiden perempuan, berkulit hitam, keturunan Asia-Amerika pertama. Tidak hanya disambut meriah warga berkulit hitam dan keturunan Asia-Amerika, keberhasilan Harris dirayakan oleh para perempuan.

Dalam pidato kemenangannya, ia meyakinkan para perempuan untuk terus berjuang mengambil kesempatan yang ada. ”Sementara saya menjadi perempuan pertama di gedung ini, saya tidak akan menjadi yang terakhir. Karena setiap gadis kecil yang menonton malam ini melihat bahwa ini adalah negara dengan segala kemungkinan.”

Tak hanya Kamala Harris, dalam pandemi ini, sejumlah pemimpin perempuan berhasil menangani Covid-19 di negaranya dibandingkan negara-negara lain. Mereka adalah Perdana Menteri Finlandia Sanna Marin, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, Pemimpin Taiwan Tsai Ing-wen, dan Kanselir Jerman Angela Merkel.

Contoh-contoh di atas adalah sebagian kecil kiprah perempuan dari sedikit sektor kehidupan. Masih banyak peranan perempuan dalam kehidupan masyarakat. Mereka semakin diperhitungkan dalam banyak hal.

Akan tetapi, meskipun sudah diakui, bukan berarti praktik kesetaraan jender sudah diadopsi sempurna. Faktanya, masih ada sektor-sektor kehidupan yang abai akan kesetaraan jender. Karena itu, isu ini masih relevan untuk terus diperjuangkan.

Caroline Criado Perez membuktikan fakta bahwa praktik kesetaraan jender belum diterapkan menyeluruh dalam kehidupan manusia. Dalam bukunya yang berjudul Invisible Women: Data Bias in A World Designed For Men, ia menjabarkan penyebab dan dampak dari keberadaan perempuan yang kurang diakui.

Menariknya, ia membuktikan bahwa selama ini bias data menyebabkan kita menggeneralisasi kata ”manusia” (people) sebagai ”laki-laki” (man), sementara perempuan hanya bagian di dalamnya. Akibatnya, seluruh hal yang kita rancang atau rencanakan untuk ”manusia” cenderung cocok untuk laki-laki, tetapi tidak melayani perempuan.

Caroline mengumpulkan bukti-bukti mulai dari kehidupan manusia prasejarah, gambar emoticon dalam telepon pintar, penggunaan kosakata maskulin-feminin, sejarah musik klasik dunia, hingga arkeologi. Dari bukti-bukti tersebut, Caroline merangkainya menjadi simpul-simpul permasalahan yang menunjukkan bahwa umumnya kita dibawa untuk melihat dunia dan perkembangannya dari hasil karya laki-laki. Sebagai contoh, dalam penelitian etnografi, hampir semua bidang diteliti dengan menggunakan pendekatan perspektif laki-laki.

Terlalu banyak hal yang tampak maupun tidak disadari kita terima sebagai hal yang umum, padahal itu tidak berpihak kepada perempuan. Fatalnya, hingga saat ini kondisi ini masih terjadi dan terus berlalu meskipun isu kesetaraan jender digaungkan terus-menerus.

Karena itu, Caroline mengajak pembacanya melihat situasi di mana keberadaan perempuan diabaikan, bagaimana kehidupan perempuan dibangun di atas data perspektif laki-laki dan bagaimana dasar itu membahayakan hidup perempuan.

Kesenjangan data jender

Sebagai seorang penulis, jurnalis, dan aktivis feminis, ia mengulik kesetaraan jender perempuan dari sudut pandang unik, yaitu kesenjangan data jender atau gender data gap. Isu ini menjadi latar belakang dan juga premis utama dalam setiap bab di bukunya.

Secara umum, gender data gap dapat dijelaskan sebagai ketiadaan atau kurangnya data perempuan dalam sektor-sektor kehidupan manusia di masa lampau hingga saat ini. Salah satu penyebabnya dan sekaligus dampaknya adalah man default atau dominasi perspektif laki-laki.

Sejak zaman dahulu, segala sesuatu dilihat dari sudut pandang laki-laki. Hal itu karena segala sesuatu yang berhubungan dengan laki-laki adalah universal dan yang berhubungan dengan perempuan adalah sesuatu yang khusus.

”Anggapan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan laki-laki adalah universal adalah konsekuensi langsung dari kesenjangan data jender. Tetapi, hal-hal terkait laki-laki yang menjadi umum juga penyebab dari kesenjangan data jender: karena perempuan tidak terlihat dan tidak diingat. Karena data laki-laki membangun mayoritas yang kita ketahui sehingga segala sesuatu yang sebenarnya dominan laki-laki tampak menjadi universal”.

Contoh yang paling dekat dengan kita adalah penggunaan kosakata bahasa. Sejumlah negara seperti Perancis, Jerman, dan Spanyol memang menerapkan penggunaan sifat berdasarkan jender dalam kosakatanya sehingga ada kata bersifat maskulin dan feminin.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Sejumlah elemen masyarakat menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (8/3/2018). Dalam aksi menyambut Hari Perempuan Internasional tersebut, mereka menyerukan perlawanan terhadap ketidakadilan berbasis jender, menuntut hak dan upah layak bagi pekerja perempuan, menghentikan perkawinan anak, serta menghentikan kekerasan terhadap perempuan.

Namun, penggunaan kata yang merujuk pada orang (secara umum laki-laki dan perempuan), standar jender kata yang digunakan adalah kata maskulin. Misalnya terjemahan kata pengacara dalam bahasa Inggris (lawyer) ke bahasa Jerman akan menjadi kata Anwalt yang artinya pengacara laki-laki.

Selain itu, kurangnya data perempuan di masa lampau disebabkan budaya patriarki di mana laki-lakilah yang utama. Posisi perempuan berada di bawah laki-laki, pencapaian dan hak-hak perempuan tidak diakui.

Misalnya, dalam sejarah musik klasik dunia, kemunculan perempuan dalam penciptaan musik ini bukanlah karena ketiadaan karya seni mereka. Namun, perempuan terkungkung dari pasar musik canon karena dalam sejarah tidak mungkin perempuan menciptakan canon. Sekalipun diperbolehkan menyusun komposisi musik, mereka hanya boleh tampil secara privat atau lokal saja, bukan dalam pertunjukan orkestra besar.

Faktor lain yang menyebabkan gender data gap adalah murni karena tidak adanya pengumpulan data terkait perempuan. Bisa jadi karena asumsi bahwa tidak ada masalah tentang hal itu atau karena memang tidak ada laporan dari perempuan sendiri tentang hal-hal yang dirasakannya.

Dalam penataan kota, aspirasi perempuan sering kali diabaikan. Para perencana transportasi, infrastruktur, dan fasilitas perkotaan sering kali menganggap bahwa kebutuhan laki-laki dan perempuan adalah sama. Padahal, perilaku mobilitas perempuan dan laki-laki berbeda.

Perempuan cenderung memiliki pola perjalanan yang lebih beragam dibandingkan laki-laki. Perempuan lebih banyak membutuhkan transportasi umum dibandingkan laki-laki. Karena itu, jalur transportasi umum seharusnya dirancang dengan mengakomodasi kebutuhan perempuan yang mana menginginkan jalur tidak membutuhkan banyak waktu dan juga aman dari ancaman pelecehan seksual.

Menutup kesenjangan data

Contoh-contoh tersebut adalah sebagian kecil dari banyaknya data dan fakta yang dijabarkan Caroline dalam enam bab bukunya. Setiap bab dalam bukunya memuat kisah-kisah kesenjangan data jender, pengabaian dan dampaknya terhadap perempuan. Luasnya sektor kehidupan yang belum sepenuhnya mengakomodasi perempuan dituliskan Caroline dalam beragam tema, mulai dari perencanaan kota, mitigasi bencana, kesehatan dan pengobatan, teknologi, hingga pekerjaan.

Di sisi lain, Caroline juga memberikan contoh-contoh proyek, perencanaan, kegiatan yang berhasil melibatkan perempuan di dalamnya. Ia membuktikan bahwa menempatkan perempuan dalam kegiatan tidak hanya bermanfaat bagi kaumnya, tetapi adil dampaknya bagi semua kalangan. Penelitian yang ia kutip menyebutkan bahwa di negara-negara yang tidak melibatkan dan memperlakukan perempuan sebagai warga kelas dua cenderung tidak damai.

Buku dengan 272 halaman ini dapat dibaca dengan tidak berurutan. Caroline telah merangkainya berdasarkan tema-tema yang bisa dipilih pembaca sesuai ketertarikannya. Namun, pembaca harus teliti dan jeli membaca data dan banyaknya kasus yang dijelaskan.

Setelah enam bab penuh data dan fakta, Caroline menutup bukunya dengan evaluasi praktik-praktik yang memicu kesenjangan dan pengabaian perempuan serta dampaknya bagi kehidupan manusia secara umum.

”Ketika kita mengecualikan separuh umat manusia (persentase populasi perempuan) dari produksi pengetahuan, kita kehilangan wawasan yang berpotensi transformatif. Terlalu sering kita tidak mengizinkan perempuan memenuhi jejaring itu. Dan kita berlanjut menghadapi permasalahan di dunia dengan menganggapnya tidak terpecahkan”.

Kompas/Priyombodo

Peserta aksi membentangkan poster protes dalam aksi damai memperingati Hari Perempuan Sedunia 2020 bersama Aliansi Gerakan Perempuan Anti Kekerasan (Gerak Perempuan) di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (8/3/2020).

Ini juga dituliskan untuk mengerucutkan pemahaman yang sama dengan pembaca bahwa perempuan berperan penting bagi kehidupan manusia. Sementara selama ini, sesuai dengan judul bukunya, ada bias data sehingga dunia dirancang untuk laki-laki di mana keberadaan perempuan cenderung tidak terlihat.

Karena itu, menurut Caroline, hal yang dapat dilakukan pertama adalah tidak menganggap sesuatu yang netral jender sebagai kesetaraan jender. Maksudnya tidak menyamaratakan orang pada umumnya, padahal laki-laki dan perempuan memiliki kebutuhan yang berbeda. Dan orang pada umumnya yang dimaksud adalah laki-laki dan perempuan, bukan laki-laki saja.

Selain itu, diperlukan pengumpulan data berbasis jender yang mengakomodasi aspirasi laki-laki dan perempuan. ”Gagal mengumpulkan data tentang perempuan dan kehidupan mereka berarti kita terus melakukan naturalisasi seks dan diskriminasi jender. Sungguh ironi menjadi seorang wanita, sangat terlihat ketika diperlakukan sebagai kelompok yang harus patuh dan tidak terlihat ketika itu penting ketika perempuan harus diperhitungkan”.

Secara keseluruhan, upaya yang diperjuangkan Caroline adalah menghadirkan dan mengakomodasi perempuan dalam setiap aspek kehidupan. ”Dengan kata lain, kehadiran perempuan mengisi kesenjangan data jender. Dengan kata lain, menutup kesenjangan data jender benar-benar lebih baik bagi setiap orang”. (LITBANG KOMPAS)

Baca juga : ”Factfulness” dan Kesalahan Kita Memandang Dunia

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Selalu Hemat Belanja Produk Kompas

Selalu belanja hemat agar tetap produktif bersama Kompas! Nikmati belanja hemat hingga 30% untuk berbagai produk di official store Harian Kompas.