Nusantara Kesaksian Mantan Pembalak Liar: Tidak Mungkin Aparat Tidak Tahu

KEJAHATAN LINGKUNGAN

Kesaksian Mantan Pembalak Liar: Tidak Mungkin Aparat Tidak Tahu

Pembalakan liar di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kampar, Riau, merebak. Di musim hujan ini, gelondongan kayu memenuhi sungai dari hutan untuk diangkut ke kota. Sepanjang tahun, pepohonan ditebang. Pembalak terang-terangan mengangkut kayu di depan mata polisi dan dibiarkan.

Oleh SYAHNAN RANGKUTI
· 9 menit baca

Perjalanan ke Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kampar, Riau, biasanya sangat menyenangkan. Langsung terbayang keindahan liukan Sungai Subayang yang berair jernih dan berbatu dengan latar belakang hijau pepohonan di bukit barisan. Lukisan alam semesta indah itu adalah mahakarya tiada banding. Sering kali orang menyangka Rimbang Baling tidak berada di wilayah Provinsi Riau.

”Tidak mungkin Riau memiliki alam seindah itu,” ucap beberapa orang ketika diperlihatkan foto-foto indah alam Rimbang Baling.

Namun, pada Kamis (14/3/2019) pekan lalu, ketika sampai di Gema, ibu kota Kecamatan Kampar Kiri Hulu, perasaan menyenangkan mengunjungi Rimbang Baling langsung berubah memilukan. Pemandangan indah alam semesta dikotori dengan keberadaan ribuan potong kayu log terhampar dengan rapi, tersusun di pinggir dermaga.

Siapa pun yang datang ke Gema, warga biasa, pedagang, tukang perahu, kepala desa, camat, polisi, atau TNI, pasti melihat kayu-kayu itu. Dan tidak ada yang menyangkal bahwa ribuan potong kayu itu adalah hasil tebangan liar dari Suaka Margasatwa (SM) Rimbang Baling.

Setiap hari setidaknya 10 truk datang ke Gema untuk mengangkut kayu-kayu itu dari sungai untuk dibawa menuju sawmill (tempat pengolahan kayu) ilegal di sepanjang jalur Lipat Kain menuju Pekanbaru. Setelah stok kayu menipis di sungai, ribuan log lainnya akan dihanyutkan dari hulu. Seakan kayu tidak akan habis. Nyata bahwa bisnis kayu ilegal telah menjadi salah satu mata pencarian utama warga di sepanjang aliran Sungai Subayang dan Sungai Bio yang membelah SM Rimbang Baling.

Pembalakan liar itu sudah berlangsung bertahun-tahun dengan skala berbeda. Pada tahun ini, pencurian kayu disebut-sebut sebagai yang terbesar sepanjang 10 tahun terakhir.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI

Kayu hasil tebangan liar dari SM Rimbang Baling dialirkan lewat sungai sebelum dikumpulkan di dermaga Gema. Foto bulan November 2018.

Untuk menelusuri alur bisnis pencurian kayu dari hutan alam indah itu, Kompas mewawancarai Ujang Susanto (42), seorang warga Gema yang pernah berkecimpung dalam dunia pembalakan liar. Ujang pernah bekerja sebagai buruh pengangkut kayu dan sopir mobil balak (sebutan untuk truk pembawa kayu) sebelum menyatakan insaf dan tidak mau lagi merusak alam.

Sejak kapan pembalakan liar ini berlangsung?

Sebenarnya sudah lama. Dahulu warga mengambil kayu hanya untuk membangun rumah. Beberapa tahun terakhir ini, orang mengambil kayu di hutan sebagai pekerjaan.

Kenapa?

Masyarakat yang hidup di sepanjang Sungai Subayang dan Sungai Bio (terdapat 14 desa yang berada di aliran dua sungai yang membelah SM Rimbang Baling) mayoritas miskin. Penghasilan utamanya berladang karet. Sejak harga karet anjlok, banyak warga beralih menjadi penebang kayu. Awalnya sedikit, tapi sekarang ini semakin banyak orang terlibat.

Desa-desa mana saja yang warganya menjadi penebang kayu di SM Rimbang Baling?

Semua desa. Biasanya mereka berkelompok. Satu kelompok berisi tiga sampai lima orang. Dalam satu desa, penebang bisa lima sampai sepuluh kelompok.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI

Kayu dari SM Rimbang Baling ditebang di dalam hutan pada Desember 2018. Kayu kemudian dialirkan melewati Sungai Subayang dan Sungai Bio yang membelah hutan konservasi harimau sumatera itu.

Artinya, di sepanjang Sungai Subayang dan Sungai Bio ada ratusan kelompok penebang?

Iya.

Bagaimana ceritanya?

Awalnya dulu, seorang tauke kayu (ilegal) dari Simalinyang (Kecamatan Kampar Kiri Tengah) mulai kesulitan mendapat pasokan kayu dari Taman Nasional Tesso Nilo. Tauke itu memindahkan bisnisnya ke tempat kami (Kampar Kiri Hulu). Dia mengajak warga menebang kayu. Tauke memberi modal senso (chainsaw, gergaji mesin) dan memberi pinjaman. Pinjaman dibayar dengan hasil kayu tebangan. Ketika bisnis ini berjalan lancar, beberapa tauke lain, masih dari Simalinyang, masuk. Sekarang ini setidaknya ada lima tauke kayu bermain kayu di sini.

Bagaimana sistem kerjanya?

Tauke memberikan pinjaman modal kerja kepada kelompok penebang. Setelah itu, penebang masuk ke hutan. Karena hutan di sini kondisinya berbukit, kayu yang ditebang hanya di pinggir anak sungai saja.

Kayu yang dipilih jenis meranti dan balam. Kayu itu ringan sehingga gampang digeser dan mengapung di air. Kalau kayu berat tidak bisa dialirkan di sungai yang dangkal. Kayu-kayu yang ditebang dikumpulkan sebanyak-banyaknya. Ketika musim hujan tiba, anak sungai di hutan terisi air. Kayu di anak sungai dialirkan menuju sungai besar.  Setelah kayu sampai di sungai besar, penebang menghubungi tauke untuk menjual kayu.

Bagaimana hitung-hitungannya?

Ukurannya per mobil (truk). Penebang dan tauke sudah memiliki cara hitung yang disepakati. Misalnya, untuk kayu berdiamater 40 sentimeter (cm), jumlah satu mobil minimal 40 tual (kayu log). Kalau diameter 30 cm, kayunya lebih banyak, 50 sampai 60 tual. Harga kayu per mobil Rp 4 juta sampai Rp 6 juta. Kalau tauke dan penebang sudah sepakat, kayu langsung dibayar cash setelah dipotong uang pinjaman kerja.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI

Kayu yang ditebang dari SM Rimbang Baling biasanya dipilih jenis meranti dan balam yang ringan. Kayu akan mengapung di air meskipun tidak terlalu dalam. Gambar diambil akhir Februari 2019.

Berapa pendapatan seorang penebang?

Tergantung jumlah kayu yang ditebang. Biasanya untuk pekerjaan dua minggu, mereka mendapat Rp 3 juta per orang.

Bagaimana tauke membawa kayu?

Tauke memiliki kelompok yang bekerja menarik kayu di sungai. Tim itu memakai piyau (perahu). Biasanya dua orang. Kalau aliran sungai banyak batu besar, seperti di Desa Pangkalan Serai, Subayang Jaya, dan Terusan, ikatan dilepas agar kayu tidak tersangkut batu besar.

Namun, setelah mengalir sampai ke Desa Aur Kuning, air sungai sudah lebih tenang, kayu kembali dirangkai dan dialirkan ke Gema. Kayu yang berasal dari Sungai Bio juga dialirkan menuju Sungai Subayang dan menuju Gema. Biaya menarik kayu Rp 500.000 per mobil.

Berapa jumlah tim penarik kayu di sungai?

Saya kurang tahu persisnya, tapi banyak. Jumlahnya lebih dari 20 orang.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI

Sebelum diangkut truk, kayu dikumpulkan di pinggir sungai di Gema, ibu kota Kecamatan Kampar Kiri Hulu. Gambar diambil pada pertengahan November 2018.

Bagaimana proses pengangkutan kayu dari sungai di Gema ke atas truk?

Di Gema ada kelompok lain yang kerjanya hanya menaikkan kayu dari sungai ke mobil. Satu kelompok biasanya enam orang. Posisi mobil dimundurkan hingga buntutnya hampir masuk ke sungai. Anggota kelompok bersama-sama mengangkat kayu ke mobil sampai penuh. Bayaran memuat kayu satu mobil Rp 700.000.

Berapa volume kayu satu truk?

Sekitar 10 meter kubik.

Berapa truk yang datang setiap hari?

Sekitar 10 truk.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI

Pengangkutan kayu ke truk dilakukan secara manual. Truk dimundurkan sampai ke bibir sungai, kemudian buruh angkut mengangkat kayu ke dalam truk. Pengangkutan kayu hanya berlangsung pada musim hujan atau pada saat muka air tinggi.

Apakah pengangkutan kayu berlangsung sepanjang tahun?

Tidak. Truk hanya datang pada musim hujan saja, terutama dari bulan November sampai Maret. Karena air sungai cukup tinggi untuk mengalirkan kayu. Di musim kering, air sungai dangkal sehingga kayu tidak bisa dialirkan. Kandas. Namun, pekerjaan menebang kayu berlangsung sepanjang tahun. Kayu yang sudah ditebang di musim kering adalah tabungan warga yang akan dibuka pada musim hujan.

Apakah pekerjaan pengangkutan kayu dari sungai hanya bisa dilakukan di Gema?

Iya. Hanya di Gema truk bisa masuk sampai ke pinggir sungai. Di lokasi lain tidak memungkinkan. Tidak ada jalan.

Kapan waktu pengangkutan?

Biasanya sore, dari pukul 14.00 sampai menjelang maghrib. Kalau kayu lagi banyak, bahkan sampai malam.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI

Truk yang sudah memuat kayu berderet parkir di lapangan Gema, ibu kota Kampar Kiri Hulu,  Jumat (15/3/2019).

Dermaga sungai di Gema itu sangat terbuka. Siapa pun pasti dapat melihat proses pemuatan kayu selama berjam-jam. Apakah tidak ada orang yang protes atau melarang?

Tidak ada yang memprotes atau melarang. Semua orang di Gema dan desa-desa di sepanjang Sungai Subayang-Bio sudah tahu sama tahu. Mereka justru akan melawan kalau ada orang yang mengganggu. Kelompok itu tahu setiap orang asing atau yang dicurigai yang masuk ke Gema.

Apakah ada polisi dan TNI di Gema?

Ada. Sekarang ini Gema sudah menjadi ibu kota kecamatan. Sudah ada rencana polsek. Babinsa juga ada di Gema.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI

Truk kayu berhenti sementara di Simpang Tiga Lubuk Agung, Desa Teluk Paman, Kecamatan Kampar Kiri, Kampar, Riau, Rabu (13/3/2019) tengah malam. Truk itu menanti subuh untuk bergerak menuju perbatasan Kota Pekanbaru yang berjarak sekitar 80 kilometer.

Pada Rabu (13/3/2019) tengah malam, saya melihat tujuh truk kayu diparkir di Simpang Tiga Lubuk Agung, Desa Teluk Paman (Kecamatan Kampar Kiri). Apakah truk kayu itu berasal dari Gema? Iya. Benar. Biasanya sopir mobil balak menunggu pagi di warung kopi di sana. Menjelang subuh, mobil baru bergerak menuju sawmill di Teratak Buluh, perbatasan kota Pekanbaru. Kalau malam, pelanggan warung hanya mobil balak. Kalau siang hari, polisi pun ngopi disitu.  (Pada Kamis, 14/3/2019, siang, Kompas melintas dan melihat ada sebuah motor berpelat nomor dinas polisi parkir di warung itu).

Kenapa harus menunggu pagi?

Hari masih gelap sehingga tidak mencolok di jalan.

Bukankah di sepanjang jalan dari Lipat Kain (ibu kota Kecamatan Kampar Kiri) menuju Teratak Buluh terdapat dua markas polsek (satu di Lipat Kain dan satu di Perhentian Raja), satu pos polisi (di Desa Penghidupan), dan satu markas Koramil (di Lipat Kain, berjarak sekitar 200 meter dari mapolsek)? Apakah truk-truk kayu itu tidak dicegat atau ditangkap aparat?

Ha-ha-ha.... (tertawa).  Saya pernah menjadi sopir mobil balak. Sudah ada wakil tauke yang bergerak duluan memberi setoran di setiap pos dengan menggunakan mobil berbeda. Setelah setoran itu, konvoi mobil balak akan lewat terus tanpa distop. Tidak mungkin aparat tidak tahu. Kalau aparat tidak terlibat, tidak mungkin kayu bisa lolos.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI

Alam indah kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling, Kampar, Riau, sedang dibayang-bayangi kehancuran akibat pembalakan liar yang dilakukan warga dengan biaya dari para cukong. Gambar diambil pada Kamis (14/3/2019).

Hasil liputan pembalakan liar di SM Bukit Rimbang Baling dimuat dalam tulisan di harian Kompas pada Jumat (15/3/2019) dan Sabtu (16/3/2019). Kepala Polres Kampar Ajun Komisaris Besar Andri Ananta Yudhistira mengatakan telah beberapa kali melakukan sosialisasi dan menegakkan hukum atas aksi pembalakan liar di sana. Namun, Andri juga mengakui, upaya polisi belum memunculkan efek jera bagi jaringan pembalak liar.

Saya pernah menjadi sopir mobil balak. Sudah ada wakil tauke yang bergerak duluan memberi setoran di setiap pos dengan menggunakan mobil berbeda. Setelah setoran itu, konvoi mobil balak akan lewat terus tanpa distop. Tidak mungkin aparat tidak tahu. Kalau aparat tidak terlibat, tidak mungkin kayu bisa lolos.

Pada Minggu (17/3/2019), aktivitas pengangkutan kayu di Gema masih terus berlangsung. Terlihat dua truk yang memuat kayu di sungai. Namun, pada Senin (18/3/2019) sore tidak terlihat truk memuat kayu di pinggir sungai. Semoga saja aktivitas pembalakan liar benar-benar berhenti total.