Bebas Akses

Pemilu Tim Hitung Cepat Litbang “Kompas” Sudah Tersebar di Hampir 80 Persen Titik Sampel
Pemilu 2019

Tim Hitung Cepat Litbang “Kompas” Sudah Tersebar di Hampir 80 Persen Titik Sampel

Oleh NIKOLAUS HARBOWO
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Members of Litbang (Research and Development) Kompas team made the final checking for the hardware to be used for quick counting the results of the Jakarta regional elections at Kompas Gramedia Building, Palmerah, Jakarta, Tuesday (14/2).Kompas/Wawan H Prabowo

JAKARTA, KOMPAS – Persiapan hitung cepat atau quic count Litbang Kompas dalam Pemilihan Umum 2019 mendatang sudah hampir matang. Dari 2.000 titik sampel pemungutan suara, tim sudah tersebar di hampir 80 persen titik, sementara sisanya masih terkendala beragam kondisi geografis setempat.

Manajer Database Litbang Kompas Ignatius Kristanto di Jakarta, Senin (15/4/2019) mengatakan, persiapan hitung cepat hampir selesai karena tinggal menyelesaikan 20 persen dari 2.000 titik tempat pemungutan suara yang akan menjadi sampel. Namun, secara sistem dan alat hitung semua sudah aman.

“Tak ada kendala berarti secara sistem. Hanya tinggal yang 20 persen itu (belum didatangi) karena daerah-daerah terpencil, tetapi besok akan kami datangi semua,” kata dia.

Dalam hitung cepat kali ini, Litbang Kompas mengambil sampel 488.826 pemilih dari 2.000 TPS yang tersebar di seluruh Indonesia. Tingkat kepercayaan penghitungan ini 99 persen dari total maksimal pemilih adalah 185.732.093 orang.

Pengambilan 2.000 sampel itu dilakukan atas pertimbangan target toleransi kesalahan (margin of error), kemampuan sumber daya yang ada, dan biaya.

Baca juga: Litbang “Kompas” Berkomitmen Jaga Akurasi

Hitung cepat Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 ini merupakan hitung cepat ke-16 yang telah dilakukan Litbang Kompas. Setidaknya, sebanyak 2.000 pewawancara (interviewer) dilibatkan dalam proses tersebut dan dikoordinasi oleh 368 orang.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN
Manajer Database Litbang Kompas Ignatius Kristanto.

Kristanto menjelaskan, pewawancara mayoritas diambil dari kalangan mahasiswa. Mahasiswa yang dipilih pun harus mengikuti seleksi agar hasil hitung cepat dapat terjaga kredibilitas dan kualitasnya.

“Jaminan netralitas adalah kami dalam merekrut tenaga tak boleh berafiliasi pada peserta pemilu. Itu juga bisa dilihat dari aktivitas media sosialnya, tak boleh ada atribut simbol pemilu,” tutur Kristanto.

Baca juga: Tenaga Lapangan Hitung Cepat Diikat Aturan Ketat

Jaminan netralitas adalah kami dalam merekrut tenaga tak boleh berafiliasi pada peserta pemilu. Itu juga bisa dilihat dari aktivitas media sosialnya, tak boleh ada atribut simbol pemilu.

Sudah berlangganan? Silakan Masuk

Harga Khusus Langganan Mulai dari Rp20.000

Cari tahu semua konten seputar Pemilu dan dapatkan harga Khusus mulai dari Rp20.000 per bulan

Kristanto juga mengatakan, tantangan hitung cepat pada Pemilu 2019 ini lebih berat. Sebab, penghitungan hasil pemilihan presiden dan pemilihan legislatif dilakukan secara bersamaan.

“Kami harus selesaikan pilpres baru pileg dan itu akan sampai malam. Teman-teman di lapangan juga harus sampai malam. Jadi, harus menjaga kondisi di lapangan,” kata Kristanto.

Daerah terpencil

Secara terpisah, Koordinator Wilayah di Nusa Tenggara Timur, Toto Suryaningtyas, menuturkan, tantangan di daerah Indonesia bagian timur adalah letak geografis yang tak bisa disamakan dengan kondisi di kota Jakarta. Dia menceritakan, empat orang dari timnya harus melewati hampir 150 kilometer untuk menuju kecamatan Amfoang Utara dari Kota Kupang.

“Itu mungkin jalan aspal 130 km, selebihnya jalan tanah dan tanah batu,” tutur Toto.

Tantangan lain adalah sinyal sehingga anggota tim harus rela berjalan lebih dari 12 km untuk mengirim pesan.

Baca juga: Akurasi Hitung Cepat Kawal Kualitas Pemilu

Sementara itu, Koordinator Wilayah di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat, Rangga Eka Sakti, menyatakan, salah satu anggota timnya ada yang kecelakaan dalam perjalanan menuju TPS di Desa Campurjo, Wonomulyo, Polewali Mandar. Meski luka yang dialami tak begitu parah, anggota timnya tersebut tetap berjuang menyelesaikan tugasnya.

“Saya salut dengan semangat para interviewer, karena dia berusaha untuk menyelesaikan tugasnya dengan sampai di TPS yang dituju, baru mau diantarkan ke puskesmas. Mungkin karena tinggal 1 sampai 2 km lagi,” tutur Rangga.

Artikel Terkait

Tim Hitung Cepat Litbang ”Kompas” Sudah Tersebar di Hampir 80 Persen Titik Sampel

Kristanto menjelaskan, pewawancara mayoritas diambil dari kalangan mahasiswa. Mahasiswa yang dipilih pun harus mengikuti seleksi agar hasil hitung cepat dapat terjaga kredibilitas dan kualitasnya. ”Jaminan netralitas adalah kami dalam…

Hitung Cepat ”Kompas”: Ganjar-Yasin Ungguli Sudirman-Ida

JAKARTA, KOMPAS — Hasil sementara hitung cepat Litbang Kompas Pilkada 2018 menunjukkan, pasangan nomor 1 calon gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo-Taj Yasin, mengungguli pasangan calon nomor 2, Sudirman Said-Ida Fauziah. Dari 96,25…

Di Balik Hitung Cepat Litbang Kompas

Di balik Hitung Cepat Litbang Kompas terdapat 2.368 tenaga lapangan yang disebar di 2.000 sampel TPS di seluruh Indonesia, baik di pegunungan hingga pulau terluar Indonesia.