Bebas Akses

Olahraga Beruntunnya Drama Heroik Liga Champions 2019
Sepak Bola

Beruntunnya Drama Heroik Liga Champions 2019

Oleh Adi Prinantyo
REUTERS/PHIL NOBLE
Gelandang serang Liverpool Georginio Wijnaldum (kiri) meluapkan kegembiraan bersama kapten Jordan Henderson dan bek Trent Alexander-Arnold seusai mencetak gol ketiga Liverpool pada laga kedua semifinal Liga Champions antara Liverpool dan Barcelona di Stadion Anfield, Liverpool, Inggris, Rabu (7/5/2019).

Kisah mendebarkan yang silih berganti sepanjang Liga Champions 2018-2019, yang menyisakan laga final antara Liverpool melawan Tottenham Hotspur, membuat drama-drama itu diandaikan menyaingi adegan drama di Netflix. Kisah-kisah itu didominasi tim-tim underdog yang nyaris tersisih gara-gara kalah di laga pertama, berbalik lolos melalui laga dramatis di laga kedua.

Lima klub berhasil membalikkan keadaan, dari semula underdog menjadi perkasa. Ada Liverpool, lalu Ajax Amsterdam, Manchester United, Juventus dan Tottenham Hotspur.

MU, meski musim ini tak gemerlap dan gagal meraih trofi, masih bisa mencatatkan namanya di daftar tim-tim pengukir mukjizat. “Setan Merah” gagal memanfaatkan dukungan penonton kala harus menyerah 0-2 dari Paris St Germain, pada laga pertama babak 16 besar di Old Trafford, Manchester.

PSG menanti MU bertandang ke Stadion Parc de Princes, Paris, pada laga kedua 7 Maret 2019, dengan dada terbusungkan. Kalau di Manchester saja bisa menang, apalagi di Paris. Ketika itu MU hanya punya kans 5 persen untuk lolos ke perempat final, sesuai data Euro Club Index.

Namun, kenyataan berkata lain. Tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer justru menang 3-1 di Paris. Dengan agregat gol sama kuat 3-3, MU lolos ke perempat final berkat keunggulan gol tandang. PSG “tertampar” di hadapan suporter mereka.

AP/FRANCOIS MORI
Marcus Rashford (depan), penyerang Manchester United, merayakan gol penentu kemenangan MU atas Paris Saint-Germain pada laga kedua babak 16 besar Liga Champions di Stadion Parc des Princes, Paris, Kamis (7/3/2019) dini hari WIB. Tendangan penalti Rashford pada tambahan waktu membawa MU menang 3-1 atas PSG dan lolos ke perempat final dengan keunggulan gol tandang.

Chris Burke, jurnalis yang melaporkan untuk laman uefa.com menulis, PSG menerima respon dari fans atas ketersingkiran mereka, dan tentu bukan komentar yang manis. “Kami pikir kami kuat. Faktanya, kami lemah. Kami ini sampah,” ujar salah seorang fans, seperti dilaporkan Burke.

Di babak 16 besar juga muncul kisah heroik Ajax, yang bangkit dari kekalahan 1-2 dari Real Madrid di laga pertama, justru di Johan Cruyff Arena, Amsterdam. Lagi-lagi, seperti dialami PSG di Paris, Real Madrid juga tampil tanpa impresi di Santiago Bernabeu, Madrid. Tim berjulukan “Los Galacticos” yang bertabur bintang itu, keok di hadapan bintang-bintang muda Ajax dengan skor 1-4. Ajax lolos ke perempat final dengan agregat 3-5.

Ajax kembali menjadi buah bibir tatkala menyisihkan Juventus di perempat final. Ditahan seri 1-1 oleh Juventus di Amsterdam, Ajax berbalik menang 2-1 di Turin. Mukjizat kedua Ajax ini membawa tim asuhan Erik ten Hag lolos ke semifinal, sekaligus mengulang pencapaian 22 tahun lalu, atau tepatnya 1997.

Tottenham Hotspur kemudian menghentikan langkah superior Ajax, dengan kemenangan dramatis 3-2 di Amsterdam, setelah tumbang 0-1 di London. Dengan agregat 3-3, Spurs melaju ke final berkat keunggulan gol tandang.

Beruntunnya drama heroik Liga Champions 2019

Bermain dengan hati 

Namun, kisah super heroik ditampilkan Liverpool, yang menang telak 4-0 atas favorit juara Barcelona di Anfield. Kemenangan ini “jawaban” terhadap kekalahan 0-3 yang dialami Liverpool di Camp Nou, Barcelona. Para pemain Liverpool meyakini, kesuksesan mereka ke final sangat dipengaruhi suntikan motivasi pelatih Juergen Klopp saat turun minum. Motivasi itu membuat Jordan Henderson dan kawan-kawan bermain dengan hati. Tak ketinggalan, dukungan fans “The Reds” yang tak pernah kendor.

Dari data Euro Club Index, peluang Liverpool lolos ke final, hanya empat persen. Dengan hasil ini, Liverpool menambah deretan klub yang berhasil membalikkan defisit dua gol atau lebih pada laga pertama, di perhelatan Liga Champions yang amat kompetitif. Sejak 2015, tercatat hanya delapan kali sebuah klub bangkit dari defisit dua gol lebih pada laga pertama, termasuk yang terakhir Liverpool.

Sudah berlangganan? Silakan Masuk

Tangkap Hadiah Ramadhanmu!

Diskon 30% untuk produk Kompas Digital Premium, board game, buku reguler, dan kaus. Cukup gunakan kode kupon THR2019. Promo berakhir 6 Juni 2019.

Kebangkitan klub dari kekalahan di laga perdana, juga amat jarang terjadi. Dalam 22 tahun pertama Liga Champions, hanya pernah terjadi come back tujuh kali. Khususnya di perhelatan 1999-2000, tidak ada tim yang mampu bangkit dari defisit dua gol atau lebih di laga pertama.

REUTERS/PHIL NOBLE
Pendukung Liverpool membentangkan banner sebelum laga kedua semifinal Liga Champions, Selasa (7/5/2019) di Stadion Anfield, Liverpool. Pada laga itu, Liverpool mengalahkan Barcelona dengan skor 4-0.

Singkat kata, dengan tujuh drama heroik oleh lima klub, bisa dibilang Liga Champions musim 2018-2019 ini istimewa. Tersaji drama-drama penuh sensasi, ketika klub-klub yang nyaris tersingkir, bisa bangkit dengan berbalik menundukkan lawannya pada laga kedua.

Sepak bola mengajarkan kerja keras, hingga detik-detik terakhir pertandingan. Tak heran, skor laga masih bisa berubah di saat wasit hendak meniup peluit panjang, tanda laga usai. Teristimewa di Liga Champions, peluang sebuah tim untuk lolos ke babak berikutnya, bukan hanya sepanjang satu laga atau 90 menit, tetapi dua laga (180 menit). Mengingat, kecuali final, laga-laga lain dimainkan secara kandang dan tandang.

Yang membuat musim ini makin menarik, kemenangan di laga tandang bukan jaminan sebuah tim akan lolos ke fase berikutnya. Tim tamu pada laga kedua, masih punya 90 menit yang bisa diperjuangkan untuk mengubah keadaan.

Bagi Juergen Klopp, pelatih Liverpool, tidak sulit membangkitkan semangat pemain asuhannya, setelah kalah 0-3 di Barcelona. “Saya mendengar para pemain mengatakan, mereka punya peluang, dan kita tidak perlu yang lain kecuali peluang. Itu yang mereka perlukan, dan mereka memanfaatkan itu dengan cara yang sensasional,” ujar dia.

Ia menambahkan, optimisme bahwa “The Reds” bakal lolos ke final, tetap muncul meski timnya tumbang di kandang Barca. “Karena kami tidak merasa sedih setelah kalah 0-3 dari Barca,” tutur Klopp, seperti dikutip uefa.com.

Bagi pelatih asal Jerman itu, tim bisa kalah karena tampil buruk, bisa juga tetap kalah meski sudah bermain bagus. Jika tim kalah setelah tampil impresif, maka di situ pulalah, ujar Klopp, masih terbuka peluang pada pertemuan berikutnya.

 

AFP/ADRIAN DENNIS
Penyerang Tottenham asal Brasil Lucas Moura merayakan kemenangan atas Ajax dengan skor 3-2 di Amsterdam, pada laga kedua Liga Champions, 8 Mei lalu.

Perasaan emosional juga melingkupi pelatih Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino. Spurs kalah 0-1 dari Ajax di London, tetapi kemudian menang 3-2 di Amsterdam.

“Untuk bersaing di level ini, di kompetisi magis ini, yang seperti ini bisa terjadi. Saya sangat bangga sebagai pelatih, berada di kancah sepak bola, dan berada di tengah momen seperti ini,” ucapnya.

Artikel Terkait

Beruntunnya Drama Heroik Liga Champions 2019

Kisah mendebarkan yang silih berganti sepanjang Liga Champions 2018-2019, yang menyisakan laga final antara Liverpool melawan Tottenham Hotspur, membuat drama-drama itu diandaikan menyaingi adegan drama di Netflix. Kisah-kisah itu…

Kudeta Inggris di Puncak Eropa

  Liverpool dan Tottenham Hotspur, berlomba mengangkat harkat Liga Inggris dalam final Liga Champions di Madrid, kota yang diidentikan rumah dinasti ”raja” Eropa. AMSTERDAM, KAMIS – Final Liga Champions di Stadion Wanda…

Final Liga Champions

Profil dua tim yang melaju ke babak final Liga Champions.