Bebas Akses

Humaniora Indonesia Tempati Seksi Khusus di Museum Multikultural Seoul
Diplomasi Budaya

Indonesia Tempati Seksi Khusus di Museum Multikultural Seoul

Oleh Pascal S Bin Saju
PENSOSBUD KBRI SEOUL
Kolintang, topeng, dan wayang, juga menjadi benda-benda koleksi di ruangan khusus Indonesia di Museum Multikultural di Seoul, Korea Selatan. Foto diambil pada Rabu (12/6/2019).

SEOUL, RABU — Indonesia telah memiliki satu seksi khusus yang permanen untuk memajang koleksi seni dan budaya Nusantara di Museum Multikultural di  Seoul, Korea Selatan. Peresmian seksi Indonesia dilakukan pada Selasa (11/6/2019) dan peristiwa ini merupakan sejarah baru bagi museum tersebut.

Pejabat Pensosbud KBRI Seoul Purno Widodo, Rabu (12/6) malam, mengabarkan, peresmian Seksi Khusus Indonesia dilakukan bersama-sama oleh Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar RI di Seoul, Sofia Sudarma, dan pendiri sekaligus  Direktur Museum Multikultural Kim Yun-tae.

Museum Multikultural itu berdiri pada 2007.  Kini museum tersebut menyajikan berbagai artefak seni dan budaya Indonesia secara khusus di ruang seluas 3 x 7 meter persegi.

Saat ini, seksi khusus Indonesia sepenuhnya berisi benda etnografi sumbangan KBRI Seoul berupa patung besar Jatayu, kolintang, angklung, wayang kulit, wayang golek, berbagai topeng dan busana daerah di berbagai wilayah Nusantara.

PENSOSBUD KBRI SEOUL
Ruangan khusus Indonesia di Museum Multikultural di Seoul, Korea Selatan, sepenuhnya berisi benda etnografi sumbangan KBRI Seoul berupa patung besar Jatayu, kolintang, angklung, wayang kulit, wayang golek, berbagai topeng dari berbagai daerah dan busana daerah di Indonesia.

Menurut Purno, kerja sama pembukaan seksi Indonesia ini berawal dari pertemuan Kim dengan Dubes RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi, pada pertengahan 2018. Kim, pengusaha muda Korea sekaligus filantropis baru berusia 40 tahunan ini meminta bantuan KBRI untuk menyediakan narasumber pada berbagai program pengenalan Indonesia di museum yang didirikannya ini.

Dalam kesempatan itu, KBRI Seoul mengajak pihak museum untuk merevitalisasi berbagai benda seni etnografi di KBRI Seoul yang sudah berusia sangat tua dan meminta Museum Multikultural untuk menyediakan  seksi khusus Indonesia, seperti halnya China, Thailand, Mesir, Turki dan berbagai bagian dari negara dengan kekuatan budayanya yang menonjol di dunia.

Berkat berbagai pendekatan dan negosiasi yang berlangsung hampir setahun, pihak museum akhirnya bersedia merevitalisasi berbagai benda etnografi KBRI yang sejatinya sudah memasuki masa penghapusan. Museum juga menyediakan ruang yang cukup luas bagi Indonesia, bahkan lebih luas dari yang disediakan untuk negara-negara lainnya.

PENSOSBUD KBRI SEOUL
Kuasa Usaha Ad-Interim (KUAI) KBRI Seoul, Sofia Sudarma dan Direktur sekaligus pendiri Museum Multikultural Kim Yun Tae berposer di depan pintu utama museum di Seoul, ibu kota Korea Selatan, Selasa (11/6/201).

Kim mengatakan, dia ingin sekali mendirikan museum yang berfungsi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Korea Selatan akan keberadaan ragam budaya di seluruh dunia. Saat ini orang-orang dari berbagai negara datang untuk tinggal, bekerja dan belajar di Korea Selatan. Semakin banyak orang asing memanggil Korea Selatan sebagai rumah.

“Di lain pihak, meskipun komunitas asing tumbuh, publik Korea masih kurang memiliki pemahaman yang cukup tentang dunia yang lebih besar,” kata Kim tentang alasan yang mendorongnya mendirikan museum tersebut, sebagaimana disampaikan Purno.

Yang Chil-seong alias Komarudin

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Tengah Minggu, Kok Lesu? Ada Diskon 50% Nih!

Pakai kode TENGAHMINGGU201906, dapat diskon 50% untuk Kompas Digital Premium, board game, buku reguler, dan kaus. Hanya berlaku 19 Juni 2019.

Terkait pendirian Seksi Khusus Indonesia, Kim menegaskan bahwa ini adalah cara yang baik untuk menjawab berbagai pertanyaan dari pengunjung mengenai Indonesia. Walaupun saat ini koleksi Indonesia belum begitu mewakili seluruh keragaman budaya Indonesia, namun hal ini telah membuat pengunjung tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang Indonesia.

PENSOSBUD KBRI SEOUL
Kuasa Usaha Ad-Interim (KUAI) KBRI Seoul Sofia Sudarma kanan) dan  direktur sekaligus pendiri Museum Multikultural, Kim Yun Tae

Terkait dengan keragaman budaya Indonesia,  Sofia menggarisbawahi bahwa  Indonesia memiliki lebih dari 1.340 kelompok budaya yang diikat oleh bahasa persatuan yakni Bahasa Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Terkait dengan Korea Selatan, Sofia menyampaikan adanya satu sosok pahlawan Indonesia asal Korea Selatan bernama Yang Chil-seong, yang di Indonesia dikenal dengan nama Komarudin.

Disebutkan, Komarudin ikut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan ikut bergabung dengan tentara Indonesia di Garut, Jawa Barat. “Selain itu, Korea adalah salah satu komunitas asing dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia,” kata Sofia menggarisbawahi intensifnya hubungan sosial kebudayaan Indonesia-Korea Selatan

Jembatan antarbudaya

Museum Multikultur di Seoul merupakan satu-satunya yang menyajikan berbagai artefak kebudayaan dari berbagai penjuru dunia secara lengkap. Museum ini merupakan museum swasta  untuk memberikan gambaran berbagai peninggalan peradaban dunia. Museum semacam ini sangat penting untuk menjadi jembatan antarbudaya yang berbeda, terlebih kepada masyarakat Korea Selatan yang kebudayaannya cenderung homogen.

Ikatan budaya Indonesia-Korea Selatan juga dapat dilihat dari penggunaan alfabet  Korea (hangeul) untuk memvisualisasikan bahasa Cia-Cia yang digunakan di Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Sejak 2009, Bahasa Cia-Cia telah ditulis dalam alfabet/huruf hangeul, dan diajarkan dalam kurikulum lokal di tingkat dasar dan menengah. Untuk hal ini, guru-guru Korea dikirim ke Bau-bau untuk mengajar huruf hangeul tersebut.

PENSOSBUD KBRI SEOUL
Busana dari berbagai daerah di Indonesia yang dipamerkan di Museum Multikultural di Seoul, Korea Selatan. Foto diambil pada Selasa (11/6/2019).

Museum Multikultural terdiri dari lima lantai. Selain paviliun dari berbagai negara, seperti Mesir, China, Thailand, dan Italia, terdapat juga berbagai replika khas dari berbagai negara di dunia yang didapatkan melalui kerja sama dengan berbagai kedutaan besar negara terkait, serta sumbangan dari beberapa pihak maupun pembelian khusus.

Selain paviliun dari berbagai negara, terdapat juga bagian khusus untuk alat musik tradisional, uang, boneka dan snowball dari berbagai negara. Di lantai empat terdapat ruang masak untuk program memasak makanan khas dari berbagai negara dan juga ruangan khusus untuk mencoba pakaian tradisional berbagai negara.

Sedangkan di lantai lima terletak Paviliun Indonesia yang berdampingan dengan kantor dan ruang informasi. Setiap tahunnya museum ini berhasil menarik tak kurang dari 24.000 pengunjung.

Artikel Terkait

Indonesia Tempati Seksi Khusus di Museum Multikultural Seoul

Museum Multikultural terdiri dari lima lantai. Selain paviliun dari berbagai negara, seperti Mesir, China, Thailand, dan Italia, terdapat juga berbagai replika khas dari berbagai negara di dunia yang didapatkan melalui kerja sama dengan…

"Cross Border” Desainer Lia Mustafa Curi Perhatian di Seoul

Lia mewakili desainer Indonesia pada perhelatan ASEAN Week 2019 untuk menyandingkan karya-karyanya dengan karya desainer dari seluruh ASEAN. Desainer Indonesia memang salah satu yang paling ditunggu saat itu. Baca juga: Mengolah Wastra…

Kisah Indonesia di Rumah Museum

Untuk anak-anak, ada layanan digital termasuk permainan yang disiapkan pengelola tepat di depan pintu utama. ”Kalau yang berkunjung siswa-siswa SD, mereka bisa antre panjang di depan tablet ini untuk bergantian bermain,” kata…