Bebas Akses

Ekonomi Ubud Dilirik Jadi Destinasi Gastronomi
PARIWISATA

Ubud Dilirik Jadi Destinasi Gastronomi

Oleh Maria Clara Wresti
KOMPAS/RIZA FATHONI
Turis menikmati wisata alam Ceking di kawasan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, yang terkenal dengan pemandangan sawah bertingkat (terasering), Minggu (7/8/2016). Agen wisata di Bali menjadikan obyek ini sebagai salah satu titik perhentian bagi para turis di Ubud.

JAKARTA, KOMPAS — Kekayaan gastronomi Indonesia belum distandardisasi secara global. Akibatnya, kekayaan tersebut belum bisa menjadikan Indonesia sebagai destinasi gastronomi dunia.

Padahal, Indonesia kaya budaya dan tradisi, yang melahirkan keragaman gastronomi yang kaya dan menarik.

”Untuk wisatawan Nusantara, wisata kuliner sudah menjadi tujuan wisata. Namun, untuk wisatawan mancanegara, kuliner belum menjadi daya tarik. Padahal, di balik kuliner itu ada tradisi, budaya, dan cerita yang diturunkan turun-temurun. Jadi, gastronomi tidak sekadar kulinernya atau makanannya, tetapi semua kegiatan yang terkait dengan kuliner tersebut. Jika dikemas baik, gastronomi bisa menjadi tujuan wisata,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya saat menerima kunjungan delegasi Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) di Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Delegasi UNWTO akan datang ke Ubud, Bali, untuk menilai, memverifikasi, dan menganalisis kegiatan gastronomi di daerah itu. Ubud, yang berada di Kabupaten Gianyar, akan dijadikan destinasi gastronomi tingkat dunia. Oleh karena itu, Ubud akan dinilai sesuai standar dunia yang ditetapkan UNWTO.

Ada beberapa hal yang akan dinilai UNWTO, antara lain kuliner yang sudah menjadi gaya hidup di kawasan Ubud. Kuliner tersebut harus menggunakan produk lokal di daerah itu. Selain itu, kuliner itu mempunyai hubungan dengan budaya dan tradisi. Bahkan, kuliner tersebut mempunyai cerita serta enak dan sehat untuk dikonsumsi.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata Vita Datau menambahkan, pihaknya sudah mulai menggarap gastronomi sejak 2017. ”Kini melangkah lebih jauh lagi ke panggung dunia dengan melakukan standardisasi dunia,” kata Vita.

Berdasarkan data Kemenpar, pengeluaran wisatawan untuk kuliner selama berwisata berkisar 30-40 persen dari total pengeluaran wisatawan. Jika ditambah belanja, pengeluarannya menjadi 70 persen.

Dalam industri ekonomi kreatif, sektor kuliner juga memiliki porsi yang sangat besar, yakni 42 persen, dari 16 subsektor industri kreatif.

Vita menuturkan, Ubud dipilih sebagai destinasi gastronomi karena masyarakat Ubud sudah siap dan telah mengembangkan gastronominya. Pemerintah daerah juga mendukung wilayahnya menjadi destinasi gastronomi.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Tengah Minggu, Kok Lesu? Ada Diskon 50% Nih!

Pakai kode TENGAHMINGGU201906, dapat diskon 50% untuk Kompas Digital Premium, board game, buku reguler, dan kaus. Hanya berlaku 19 Juni 2019.

Dikembangkan

Arief mengatakan, wisata gastronomi penting untuk dikembangkan karena Indonesia belum mempunyai makanan nasional. Thailand punya tomyam, Jepang memiliki sushi, Malaysia punya nasi lemak, dan Singapura mempunyai laksa. Indonesia memiliki banyak kuliner sehingga tidak ada yang bisa disebut sebagai makanan nasional.

”Kemenpar kini telah menetapkan lima makanan yang disebut sebagai makanan nasional, yakni rendang, soto, sate, nasi goreng, dan gado-gado. Penentuan lima makanan ini berdasarkan sumber atau asal makanan. Sementara Badan Ekonomi Kreatif hanya menyebut soto sebagai makanan nasional karena Bekraf menggunakan dasar pasar. Soto dipilih karena hampir semua daerah memiliki soto,” tutur Arief.

Indonesia belum terkenal sebagai destinasi kuliner dunia karena kuliner Indonesia belum mendunia seperti halnya restoran China dan Thailand. ”Saat ini ada 20.000 restoran Thailand di seluruh dunia. Pemerintah Thailand memberi bantuan Rp 1,4 miliar kepada pengusaha yang mau membuka restoran di luar negeri. Kita belum mampu. Oleh karena itu, sekarang kita membuat destinasi gastronomi berstandar internasional,” katanya.

Wakil tim UNWTO yang datang ke Indonesia, Aditya Amaranggana, mengatakan, UNWTO akan melihat bagaimana gastronomi dikembangkan sehingga mendukung pembangunan berkelanjutan dan bisa membuka lapangan kerja baru.

Adapun lead expert yang ditunjuk UNWTO dalam penilaian Ubud, Roberta Garibaldi, menyampaikan, destinasi gastronomi yang holistik memiliki nilai warisan budaya dan kualitas produk lokal dengan industri yang berkembang. Amenitas gastronomi juga cukup mumpuni dan berkelanjutan sehingga mengangkat kearifan lokal.

”Selain itu juga akan dilihat perdagangan yang menyangkut gastronomi, seperti pasar tradisional, pemasok bahan baku, memiliki tempat belajar gastronomi formal dan informal yang fokus pada kearifan lokal, serta fasilitas pendidikan lain, seperti museum, pusat edukasi, lembaga riset, festival, ekspo yang fokus pada makanan, minuman, dan bahan lokal,” ujar Garibaldi.

Artikel Terkait

Ubud Dilirik Jadi Destinasi Gastronomi

JAKARTA, KOMPAS — Kekayaan gastronomi Indonesia belum distandardisasi secara global. Akibatnya, kekayaan tersebut belum bisa menjadikan Indonesia sebagai destinasi gastronomi dunia. Padahal, Indonesia kaya budaya dan tradisi, yang…

Pameran Lukisan Lintas Generasi Kawitan di Bentara Budaya Bali

Bentara Budaya Bali akan menggelar pameran lukisan lintas generasi Kawitan, Jumat (17/5/2019) pukul 18.30 Wita. Pameran kali ini tidak semata menghadirkan karya-karya perupa Bali lintas generasi, tetapi juga merupakan upaya untuk merunut…

Koran Elektronik Kompas

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Juni 2019 di halaman 14 dengan judul "Gastronomi Ubud Dilirik ".