Bebas Akses Suhu Dingin Dipicu Aliran Massa Udara Dingin Australia

bebas akses Cuaca

Suhu Dingin Dipicu Aliran Massa Udara Dingin Australia

Suhu dingin yang menyebabkan terjadinya embun beku di wilayah dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, merupakan fenomena yang lazim pada musim kemarau. Kondisi itu dipicu adanya aliran massa udara dingin dan kering dari Australia.

Oleh Ahmad Arif
· 3 menit baca
KOMPAS/WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO

Cuaca ekstrem melanda Dataran Tinggi Dieng di Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (25/6/2019) pagi. Suhu turun hingga minus 7 derajat celsius. Selain menjadi daya tarik wisatawan, embun juga mengancam tanaman kentang petani.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Beli Kompas.id, Main ke Toko Buku Kemudian!

Langganan Kompas Digital Premium 3, 6, atau 12 bulan sekarang dan dapatkan voucer Gramedia Store hingga Rp200.000.
JAKARTA, KOMPAS — Suhu dingin yang menyebabkan terjadinya embun beku di wilayah dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, merupakan fenomena yang lazim pada musim kemarau. Kondisi itu dipicu adanya aliran massa udara dingin dan kering dari Australia.
Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) R Mulyono Prabowo di Jakarta, Selasa (25/6/2019), mengatakan, secara klimatologis, monsun dingin Australia aktif pada periode Juni-Juli-Agustus, yang umumnya merupakan periode puncak musim kemarau di wilayah Indonesia selatan ekuator.
Desakan aliran udara kering dan dingin dari Australia ini menyebabkan kondisi udara yang relatif lebih dingin, terutama pada malam hari, dan dapat dirasakan lebih signifikan di wilayah dataran tinggi atau pegunungan di Jawa hingga Nusa Tenggara Timur.
Kondisi musim kemarau dengan cuaca cerah dan tutupan awan sedikit di sekitar wilayah Jawa-Nusa Tenggara dapat memaksimalkan pancaran panas bumi ke atmosfer pada malam hari. Kondisi tersebut menyebabkan suhu permukaan bumi akan lebih rendah dan lebih dingin dari biasanya.
Hal itu bertolak belakang dengan kondisi saat musim hujan atau peralihan, di mana kandungan uap air di atmosfer cukup banyak. Sebab, banyaknya pertumbuhan awan, atmosfer menjadi semacam ”reservoir panas” sehingga suhu udara permukaan bumi lebih hangat.
Menurut pantauan Kompas, kondisi suhu di pegunungan Sumba, Nusa Tenggara Timur, terpantau cukup dingin dalam sepekan terakhir, terutama saat malam hari. Kepala Desa Meurumba, Kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur, Balla Nggiku mengatakan, cuaca dingin itu terjadi di tiap musim kemarau, terutama puncaknya sekitar Juni-September. ”Tapi, tahun ini terasa lebih dingin.”
Embun beku
Berdasarkan data pengamatan BMKG, selama sepekan terakhir suhu udara lebih rendah dari 15 derajat celsius tercatat di beberapa wilayah, seperti di Frans Sales Lega (NTT) dan Tretes (Pasuruan). Suhu udara terendah terukur di Frans Sales Lega hingga 9,2 derajat celsius pada 15 Juni 2019.
Menurut Mulyono, suhu dingin lebih terasa dampaknya di wilayah dataran tinggi Dieng (Jawa Tengah) ataupun daerah pegunungan lainnya, di mana pada kondisi ekstrem bisa menyebabkan terbentuknya embun beku atau frost. ”Diprediksi kondisi suhu dingin seperti ini masih dapat berlangsung selama periode puncak musim kemarau, Juni-Juli-Agustus, terutama di wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara,” katanya.
Diprediksi kondisi suhu dingin seperti ini masih dapat berlangsung selama periode puncak musim kemarau, Juni-Juli-Agustus, terutama di wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara.
Dibandingkan dengan tahun lalu, suhu udara di Dieng kali ini sebenarnya tidak lebih dingin. Data BMKG mencatat, suhu minimum di Dataran Tinggi Dieng pada 5 Juli 2018 adalah 8 derajat celsius, 6 Juli 7 sebesar 2018 derajat celsius, 7 Juli 2018 sebesar 9 derajat celsius, dan 8 Juli 2018 sebesar 10 derajat celsius.

Editor -
Bagikan