Sastra Cerpen Menjaga Ayah

bebas akses Cerpen Digital

Menjaga Ayah

”Anjaaaaarrrrrrr...!” Suara ayah memanggilku. Memutus konsentrasiku nonton film dari Youtube. Suara dengan nada jengkel. Aku mencoba tidak peduli. Namun, belum sempat mengeraskan volume suara, ayah lebih dulu meninggikan suaranya. Mau tidak mau, aku jadi terpaksa menoleh.

Oleh Regina Rukmorini
· 8 menit baca

Kompas/Didie SW

”Anjaaaaarrrrrrr…!” Suara ayah memanggilku. Memutus konsentrasiku nonton film dari Youtube. Suara dengan nada jengkel. Aku mencoba tidak peduli. Namun, belum sempat mengeraskan volume suara, ayah lebih dulu meninggikan suaranya. Mau tidak mau, aku jadi terpaksa menoleh.

”Mana adikmu? Mana Gilar? Mana Bani?” tanya Ayah lagi. Bau alkohol itu begitu menyengat. Aku menghela napas.

”Gilar sama Bani pergi ke toko depan gang. Tadi, kan, mereka disuruh beli rokok buat ayah,” ujarku.

Aku membalikkan badan dan ayah menceracau menjauh. Ini sudah biasa. Sebentar lagi, dia pasti akan keluar lagi, menengok 5 kucing, 2 ayam, dan 7 ekor burung punya Eyang. Bergaya, bersiul-siul sambil menenteng kandang ayam dan burung ke petak sebelah yang sengaja dibuat Eyang sebagai garasi sekaligus gudang.

Yah, begitulah keseharianku. Keseharian yang harus kuhadapi setelah Ayah muncul dari persembunyiannya dari rumah temannya di Kota Kudus setelah dikejar-kejar polisi karena terlibat dalam kasus penipuan. Ayah baru berani muncul setelah Eyang membereskan semuanya.

Eyang Kakung purnawirawan polisi. Dengan semua relasi yang dimiliki, Ayah pun bisa kembali melenggang. Dan inilah yang kami hadapi sekarang. Aku dan adik-adikku yang semula hidup tenang di rumah Eyang Kakung dan Uti harus menerima ayah dengan segala tabiatnya. Menerima dia, pria berumur 39 tahun yang penganggur, tidak pernah mengeluarkan satu sen pun untuk biaya sekolah dan makan kami. Laki-laki yang masih menerima uang saku dari Eyang, sama seperti kami, cucu-cucunya. Laki-laki yang menjadi pilihan terakhir kami akan sosok orangtua.

Ibu sudah lama bercerai dengan Ayah. Pisah, tapi sepertinya masih sayang. Tapi, ah, entahlah. Ibu bisa mengurusi hidupnya sendiri dengan menjadi manajer hotel kecil di Semarang. Namun, tentu saja, Ibu sangat sayang sama kami. Ibu cuma sering kali harus sembunyi-sembunyi menjemput kami demi menghindari tatapan Eyang berdua yang penuh benci. Ibu tidak disukai karena dia berbeda agama, berbeda latar belakang ekonomi dengan kami. Ibu, yang berasal dari keluarga tukang becak, dianggap berbeda derajat dengan kami oleh Uti.
Karena ketidaksukaan itu, setelah Ayah terlibat kriminal dan bercerai, kami pun harus ikut dengan Eyang. Dan begitulah hidup yang kami jalani selama lima tahun ini. Empat tahun yang tenang, bonus satu tahun yang hiruk-pikuk setelah Ayah datang.

Kelakuannya adalah satu masalah yang harus kami hadapi bertiga, yang sebelumnya masalah kami hanyalah mencari cara bagaimana bertemu dengan Ibu. Adik bungsuku, Bani, pernah mendapat tugas mengarang tentang pekerjaan Ayah dan Ibu. Dan dia pun spontan bertanya, ”Apa yang harus kutulis soal Ayah, Kak?” ujarnya. Kami berpikir keras. Tapi, kemudian, keluarlah ideku.

”Tulis saja peternak burung, Dik. Supaya panjang dan bagus, karang saja kalimatnya.” Ide itu tidak sepenuhnya bohong. Ayah memang pernah bertransaksi menjual burung. Aku mendengarnya dalam perbincangan di garasi bersama teman-temannya sembari menuangkan minuman dalam botol-botol dan mengisap sesuatu. Pertemuan seperti itu pernah terjadi berkali-kali. Dan entah pembeli yang mana, satu burung laku terjual Rp 6 juta. Nominal uang yang terus didengungkan berulang-ulang, tapi entah kenapa uang sekolah kami tetap nunggak. Sampai akhirnya ada pemberitahuan dari sekolah dan Utilah yang kemudian tergopoh-gopoh membayar.

Sore ini pun, ayah bilang mau transaksi di garasi. Tapi, entah benar atau tidak. Aku pernah penasaran mencoba mencuri dengar, dengan berpura-pura main bola bersama Gilar di depan garasi. Tapi, detik berikutnya kami disuruh pergi. Malam hari, setelah rumah sepi, aku pun dipanggil dan ditampari.

Uti tahu ini. Tapi, Uti cuma menyarankan agar aku menurut saja, membiarkan semuanya, dan tidak coba-coba ingin tahu urusan Ayah lagi. Tidak ada kata-kata menghibur karena hiburan memang tidak ada artinya. Waktu itu, Eyang bilang biarkan saja kelakuan Ayah. Aku tahu dalam hal ini Eyang pun sudah kewalahan dan ketakutan melihat tingkah Ayah. Catatan kriminalnya memang tidak boleh diabaikan. Seiring waktu, teman-teman Ayah pun tambah banyak. Botol, gelas, dan plastik selalu bertumpuk menandai kehadiran mereka. Kadang-kadang, Ayah menyuruhku membantunya, membersihkan segala sesuatunya.
Pada saat itu, Uti mengawasi. Katanya padaku, ”Hati-hati, ya, turuti saja permintaannya. Tolong jaga kelakuan ayahmu, semoga semua baik-baik saja,” ujarnya.

Menjaga Ayah. Itulah kata-kata kunci yang sering disampaikan Uti setelah Eyang Kakung tidak lagi berdaya menasihati. Setelah kedatangan Ayah, kesehatan Eyang Kakung memang tambah memburuk. Pernah serangan jantung sekali. Kedatangan Ayah juga membuat Tante Listya, adik Ayah yang tinggal satu kompleks dengan kami, tidak lagi seramah dulu. Begitu pun tetangga yang lain. Untung saja kami tinggal di kompleks permukiman baru, di kompleks tanah kapling, hanya dengan lima tetangga. Tapi, yah, itu sudah cukup. Kehadiran Ayah sudah cukup membuat lingkungan kecil itu jadi tidak nyaman dibandingkan dengan sebelumnya. Karena itu, kami bertiga, terutama aku, harus berhati-hati menjaga Ayah.

”Jangan sampai ayahmu bikin suasana di sini tambah kacau lagi,” begitu kata Uti. Kata Uti lagi, kata-kata kami, anak-anaknya, akan jauh lebih didengar daripada orangtuanya.

Yah, dan menjaga itu kutafsirkan dengan memperhatikan semua kelakuan Ayah di senggang waktu yang aku punya, di sela-sela waktu belajar di kelas V SD. Aku jadi ikut menghafal ”perlengkapan” Ayah. Aku hafal bau miras oplosan. Aku mulai kenal apa saja yang dijadikan bahan pengoplos, mulai dari minuman suplemen sampai obat antinyamuk cair. Aku mulai hafal beberapa nama temannya, siapa yang biasa membawa, dan dari mana miras dibeli. Aku pernah tanpa sengaja melihat salah seorang teman Ayah membawa miras itu dari warung kampung tetangga. Miras itu dibeli dalam bungkus plastik dan waktu itu kulihat jelas ketika aku baru saja pulang dari belajar kelompok pada malam hari di kampung itu. Diam-diam, aku juga mencermati perkakas Ayah yang disimpan di garasi. Uti pasti tahu itu, tapi tidak pernah berkomentar apa-apa soal ini. Yah, untuk sementara, pengetahuanku sebatas itu.

Sebagai anak sulung, aku memang harus proaktif menjaga Ayah. Namun, sayangnya, Uti dan Tante Listya sering kali menerjemahkannya dengan kelewatan. Saat musim libur sekolah, kami bertiga tidak lagi bisa piknik, pergi-pergi lagi bersama Tante Listya dan Sinta, putrinya, sepupu kami.
”Harus ada yang bersama ayahmu di rumah,” kata Uti. Dan itu berarti akulah yang harus sering kali mengalah. Gilar dan Bani masih bisa sesekali menginap di rumah ibu di Semarang, tetapi itu pun paling lama cuma dua hari. Aku boleh pergi menginap, tapi cuma satu hari.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.

Aku bersama adik-adikku juga harus terlihat lebih ramah dengan tetangga. Setidaknya dengan melakukan ini, orang-orang di sekitar kami bisa lebih melupakan sikap Ayah yang kadang menceracau dan suka membanting botol.
Semua harus dilakukan demi tugas menjaga Ayah. Apa pun harus dikerjakan supaya semua terlihat baik-baik saja.

***

Kami dulu tinggal di Magelang. Waktu itu, Ayah masih bekerja jadi tenaga administrasi di sebuah koperasi dan ibu magang jadi staf hotel di bagian restoran. Kami mengontrak rumah di gang kecil.

Ayah sebenarnya dari keluarga kaya. Pangkat terakhir kakek brigjen dan masih mewarisi kekayaan orangtuanya, buyut kami, sebagai juragan tembakau. Waktu itu, kakek sudah punya lima rumah. Tapi, dengan riwayat Ayah yang hanya lulus SMA, tidak melanjutkan sekolah dan memilih menikahi ibu yang berbeda agama, kami pun harus melupakan kekayaan itu.

Walau begitu, dulu, sepertinya hidup kami cukup tenang. Sampai akhirnya, adik-adikku lahir, dan kami begitu sering kekurangan uang. Ayah mulai sering terlibat bisnis tidak jelas. Ibu mulai sering menangis. Untuk kali pertama, Ayah dipenjara. Sebelum Ayah ditahan, munculah Eyang yang serta-merta membawa kami pergi, dan tinggal di Solo. Dengan campur tangan Eyang, Ayah hanya ditahan beberapa hari, tapi setelah itu disuruh pergi jauh-jauh dari kami. Hal serupa terjadi pada Ibu.

Itulah awal mulanya dan sekarang inilah kami bersama Eyang berdua. Ketika akhirnya bertemu lagi dengan Ayah lima tahun lalu, tidak lagi ada emosi berlebihan. Kami bertiga terbiasa dengan Eyang, sekalipun juga tidak terlalu nyaman dengan sikap Eyang yang sering kali agak congkak dan sering menjelek-jelekkan Ibu. Tapi, setidaknya kami berkecukupan di sini.

Dan Ayah pun memperlihatkan respons biasa saja. Kangen yang menggebu cuma kami peroleh dari Ibu dan Ayah hanya sibuk dengan minumannya melulu. Saat itulah dia merasa lebih bahagia. Kami pun bahagia ketika dia merasakan kebahagiannya jauh dari rumah.

Hari ini Ayah ulang tahun, dan entah kenapa Eyang Kakung dan Uti menganggapnya istimewa. Genap 40 tahun dan mereka beranggapan sudah waktunya Ayah berubah.

”Sekali-kali carilah kado buat ayahmu. Kado yang bikin dia senang dan sekaligus bisa bikin dia kapok minum miras dan sebagainya,” ujarnya.
Yah, sejujurnya, kami pun ingin Ayah jera, tapi tidak tahu caranya.

Aku pun mendiskusikannya dengan Gilar dan Bani. ”Kak, apa bisa minumannya Ayah dibuat agak pahit atau enggak enak, gitu? Kakak ingat cara Ibu menghentikan kebiasaanku yang suka gigit jempol? Jempolku akhirnya diolesin jamu. Mungkin cara yang sama bisa dipakai buat Ayah,” ujar Gilar.

Aku dan Bani manggut-manggut. Saran itu ada baiknya dipertimbangkan.
Saran Gilar direalisasikan. Namun, dugaan kami ternyata salah. Ayah tidak punya kesempatan untuk jera. Dia meninggal satu hari setelah meminum miras yang dibeli dari uang kami.

Miras itu dibeli oleh Om Andre, teman minum Ayah. Teman Ayah yang paling ramah sama kami dan kami pesankan dengan sangat supaya jangan bilang uang beli miras berasal dari tabungan kami.

Waktu itu kami cuma pesan, ”Tolong buat Ayah kami kapok mabuk, Om.”
Om Andre waktu itu bilang semuanya bisa diatur. ”Campuran yang dipakai bisa diatur supaya ayahmu muntah-muntah, teler, sakit perut, dan kapok minum itu lagi,” katanya.

Tapi, entah apa yang dipakai, kami tidak tahu. Malam Ayah minum, paginya muntah-muntah tak karuan dan hampir pingsan. Setelah dibawa ke rumah sakit, malam harinya Ayah mengembuskan napas terakhir. Om Andre, teman minumnya, ikut dirawat di rumah sakit selama seminggu. Setelah lumayan sehat, Om Andre menemui kami dan meminta maaf. ”Om minta ampun, minta maaf sekali, mungkin campurannya kurang pas. Racikan Om salah,” ujarnya.
Dugaan Om Andre salah. Dugaan kami bertiga salah. Tapi, setidaknya kami tahu, mulai hari itu selesailah sudah tugas kami menjaga Ayah.

Regina Rukmorini, pencinta sastra dan jurnalis; tinggal di Magelang, Jawa Tengah. Karya-karya jurnalistiknya banyak menyuarakan kalangan kelas bawah.

Editor -
Bagikan