Nusantara Dua Gempa Mengguncang Bali

bebas akses GEMPA BUMI

Dua Gempa Mengguncang Bali

Gempa bumi melanda Pulau Bali, Senin (12/8/2019) dari dua lokasi berbeda. Kedua gempa dibangkitkan sumber gempa yang sama akibat aktivitas subduksi lempeng bumi. Sejauh ini belum ada laporan kerusakan maupun korban akibat gempa.

Oleh AYU SULISTYOWATI
· 3 menit baca

 

BMKG

Gempa pertama terasa di Bali, Senin (12/8/2019).

DENPASAR, KOMPAS – Gempa bumi melanda Pulau Bali, Senin (12/8/2019), dari dua lokasi berbeda. Kedua gempa dibangkitkan sumber gempa yang sama akibat aktivitas subduksi lempeng bumi. Sejauh ini belum ada laporan kerusakan ataupun korban jiwa akibat gempa.

Gempa pertama dengan magnitudo 4,9 terjadi pukul 06.08 Wita dengan durasi 40 detik. Gempa ini terjadi sekitar 59 kilometer barat daya Kabupaten Jembrana dengan kedalaman 82 kilometer. Adapun gempa kedua tercatat berdurasi sekitar 60 detik bermagnitudo 5 pada pukul 06.51 Wita, dengan lokasi sekitar 181 kilometer dari Kabupaten Jembrana sedalam 10 kilometer.

Berdasarkan alat rekam di Stasiun Geofisika Denpasar Balai Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kedua gempa tersebut merupakan gempa yang berbeda. Gempa kedua bukan susulan dari sebelumnya. Meskipun demikian, kedua gempa tersebut dibangkitkan sumber gempa yang sama akibat aktivitas subduksi.

Meski terasa di beberapa wilayah di Bali, hingga pukul 11.00 Wita, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyatakan tidak ada kerusakan dan korban luka akibat gempa tersebut.

Kepala Kantor Stasiun Geofisika Sanglah Denpasar Ikhsan menjelaskan, kedua gempa itu hanya berselisih beberapa menit. ”Tetapi, bukan gempa susulan dan dua gempa itu berbeda,” jelasnya, Senin. Gempa pagi ini merupakan fenomena biasa karena interaksi lempeng Indoaustralia dan lempeng Eurasia.

Baca juga: Masyarakat Bali Tingkatkan Kapasitas Mitigasi

Menurut Ikhsan, gempa bumi akan terus terjadi, lanjutnya, mengingat lempeng-lempeng bumi terus bergerak. Pergerakannya memungkinkan saling berinteraksi atau bergesekan satu sama lain.

”Ya, kedua gempa bumi yang terjadi Senin pagi ini mengingatkan kita semua bahwa zona subduksi masih aktif. Maka, mitigasi terus digemakan,” ujar Ikhsan.

REPRO BUKU PERINGATAN 200 TAHUN GEJER BALI

Foto kerusakan di Bali akibat gempa pada 21 Januari 1917.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.

Selanjutnya, ia menambahkan, gempa pertama yang terasa pada Senin pagi ini serupa dengan gempa pada 16 dan 24 juli 2019. Bedanya, magnitudo pada gempa  16 Juli tersebut terekam magnitudo 5,8 dan dirasakan merata se-Bali serta bedampak pada kerusakan sejumlah bangunan bagitu pula korban luka.

Dewa Sumarta, warga Badung, mengaku merasakan gempa tersebut. Namun, ia masih merasa aman dan tidak ada kepanikan.

Provinsi Bali berupaya memperkuat mitigasi dan pengurangan risiko bencana dengan mencanangkan setiap tanggal 26 sebagai hari simulasi bencana. Hal ini merupakan gerakan untuk membangun kesadaran, kapasitas, serta kesiapsiagaan menghadapi segala bencana, khususnya bencana alam di Pulau Bali. Ancaman dan risiko yang bisa terjadi di antaranya gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, serta longsor.

Baca juga: Gempa di Selatan Bali Tak Ganggu Umat Hindu Rayakan Galungan

BMKG

Gempa kedua terasa di bali, Senin (13/8/2019).

Bali tercatat beberapa kali dilanda gempa dan tsunami besar. Pada buku Peringatan 200 Tahun Gejer Bali, yang penyusunannya dikoordinasi I Made Kris Adi Astra, ditulis adanya gempa bumi besar pada 1815. Pusat gempa ketika itu diperkirakan berada di laut sebelah utara Buleleng (Bali bagian utara). Gempa ketika itu disebut menggetarkan seluruh Bali sehingga dinamakan gejer Bali (gejer dalam bahasa Bali artinya bergetar).

Hal itu dimuat pada Laporan Catalogue of Tsunami on the Western Shore of the Pasific Ocean yang disusun oleh S.I. Soloviev dan CH.N. Go. Mengutip ulang laporan itu, buku Peringatan 200 Tahun Gejer Bali tertulis gempa 22 November 1815 itu menewaskan 10.523 orang. Gempa tersebut diperkirakan berkekuatan magintudo 7,5 dan menimbulkan tsunami.

Gempa dari zona subduksi selatan Bali, yang menjadi pemicu gempa bumi dan tsunami 1977, menurut Peta Sumber Gempa Bumi Nasional 1977, memiliki potensi kekuatan maksimal hingga M 9. Sumber: Pusgen, 2017

Selanjutnya, lebih dari 100 tahun kemudian, gempa berkekutan magnitudo 6,5 terjadi pada 21 Januari 1917. Sebanyak 15.000 orang menjadi korban ketika itu. Catatan gempa besar di Bali utara kembali terjadi pada  1977 dan 1992.

Menurut I Made Kris Astra, catatan historis gempa bumi besar di Bali hingga Nusa Tenggara disebabkan dua pembangkit gempa yang berbeda yang mengapit busur kepulauan dari selatan dan utara. Pertama, penunjaman lempeng tektonik Indo-Australian di bawah lempeng Eurasia. Kedua, pembangkit dari patahan belakang busur Flores yang aktif.

Editor -
Bagikan