Humaniora Malam Gelap Itu Romantis

bebas akses

Malam Gelap Itu Romantis

Polusi cahaya, khususnya di perkotaan, membuat langit malam jadi terang. Akibatnya, cahaya aneka benda langit, seperti bintang, planet, meteorit, gugus bintang hingga galaksi menjadi sulit diamati.

Oleh M Zaid Wahyudi
· 7 menit baca
KOMPAS/STELLARIUM

Suasana langit Jakarta pada Selasa (6/8/2019) pukul 20.30 WIB. Namun, pemandangan itu hanya akan terlihat jika langit malam Jakarta benar-benar gelap dan minim polusi cahaya.

Polusi cahaya, khususnya di perkotaan, membuat langit malam jadi terang. Akibatnya, cahaya aneka benda langit, seperti bintang, planet, meteorit, gugus bintang hingga galaksi menjadi sulit diamati. Jika tak segera diselamatkan, manusia di masa depan dikhawatirkan tidak bisa lagi menikmati keindahan langit malam.

Untuk itu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) kembali mengampanyekan Langit Malam Gelap, Selasa (6/8/2019). Program yang digagas sejak 2016 itu dimaksudkan untuk menjaga keindahan langit malam yang makin sulit dinikmati.

Sejak awal peradaban manusia, malam yang gelap tak hanya identik dengan kesuraman, mistisisme, atau kejahatan. Langit malam juga menjadi sumber inspirasi, keindahan, pengetahuan, dan romantisme manusia. Hampir semua budaya di dunia memiliki memori dan keterikatan mendalam dengan megahnya panorama langit malam.

Dengarlah apa yang disuarakan Fairuz, legenda Lebanon yang melantunkan Udzkuriny atau ”Ingatlah Aku”. ”Udzkuriny kullama al-fajru bada’/wa’dzkuriny al-ayyam laila al-sahari…”, yang artinya kurang lebih ingatlah aku setiap fajar terbit dan ingatlah hari-hari saat malam berbulan. Bulan jadi penanda yang mengingatkan seseorang kepada kekasihnya.

Hampir semua budaya di dunia memiliki memori dan keterikatan mendalam dengan megahnya panorama langit malam.

Terangnya cahaya bulan, terlebih saat purnama tiba, memang menimbulkan suasana romantis bagi siapa pun. Seperti halnya juga yang dinyanyikan Frank Sinatra dalam ”Fly Me to The Moon” untuk merayu kekasihnya. ”Fly me to the moon/and let me play among the stars/let me see what spring is like/on Jupiter and Mars/in other words/holds my hand/in other words/baby kiss me”.

Dalam kampanye Langit Malam Gelap yang dilaksanakan, Selasa (6/8/2019), Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin menghimbau masyarakat mematikan lampu di luar rumah antara pukul 20.00-21.00 waktu setempat. ”Imbauan ini bersifat umum, ke depan diharapkan ada partisipasi massal dan kesadaran bersama (untuk mematikan lampu luar) walau 1 jam saja,” ujarnya.

KOMPAS/NASA

Suasana Jawa dan Bali saat malam hari yang diambil dari angkasa pada 9 Juni 2018. Terangnya cahaya di satu wilayah menunjukkan perkembangan kota dan masifnya penggunaan lampu.

Padamnya lampu di luar rumah dan jalanan itu diharapkan akan membuat langit sedikit lebih gelap dari biasanya sehingga sejumlah obyek langit pun bisa diamati. Sejumlah benda langit yang bisa diamati malam itu antara lain Bulan nyaris separuh yang hampir tenggelam di langit barat, Planet Jupiter dan Saturnus yang ada di atas kepala, serta Bintang Alfa Centauri dan Beta Centauri yang ada di dekat ufuk selatan.

Imbauan ini bersifat umum, ke depan diharapkan ada partisipasi massal dan kesadaran bersama (untuk mematikan lampu luar) walau 1 jam saja.

Untuk rasi bintang, ada Rasi Layang-layang atau masyarakat pesisir menyebutnya Ikan Pari. Masyarakat Barat menyebutnya Crux atau Salib Selatan yang jadi panduan arah selatan. Orang Jawa yang agraris menamainya Rasi Gubug Péncéng alias Gubuk Miring, sedangkan orang Bugis memanggilnya Bintoéng Bola Képpang atau Bintang Rumah Belum Jadi.

Orang Jawa menyebut Bintang Alfa Centauri (Rigil Kentaurus) dan Beta Centauri (Hadar) sebagai Lintang Wulanjar Ngirim. Kedua bintang itu masuk dalam 11 bintang terterang di langit malam. Dalam mitologi Jawa, kedua bintang itu jadi perlambang mata gadis jelita atau sumber lain menyebut sebagai mata indah Nyai Wulanjar, janda tanpa anak.

KOMPAS/KOMPAS

Ilustrasi tentang kisah Lintang Wulanjar Ngirim dan Gubug Penceng dalam mitologi Jawa. Lintang Wulanjar Ngirim adalah Bintang Alfa Centauri dan Beta Centauri, sedangkan Gubug Penceng adalah Rasi Layang-layang atau Crux.

Kisah Lintang Wulanjar Ngirim tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Gubug Péncéng, keduanya mengandung cerita nan romantis. Syahdan, Nyai Wulanjar hendak pergi mengantarkan makanan ke sawah. Di tengah perjalanan, ia melintas di depan sekelompok lelaki yang sedang membangun rumah. Keindahan sorot matanya membius para lelaki itu hingga tanpa disadari rumah yang dibangun miring hingga diabadikan sebagai Gubug Péncéng.

Selain Rasi Layang-layang, pada langit Selasa malam juga terdapat Rasi Scorpius atau Si Kalajengking dan Rasi Teko atau Sagitarius. Kedua rasi ini mudah dikenali dari bentuknya yang mirip dengan sebutannya. Kebetulan, saat itu Scorpius terletak di dekat Jupiter dan Saturnus di dekat Sagitarius.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.

Kisah Lintang Wulanjar Ngirim tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Gubug Péncéng, keduanya mengandung cerita nan romantis.

Jika masyarakat mau bersabar menunggu pertunjukan langit hingga subuh menjelang, akan terbit Rasi Orion di timur sekitar pukul 03.00. Manthous dalam lagu ”Nyidam Sari” menggambarkan dengan indah konstelasi yang oleh orang Jawa disebut Lintang Luku atau Waluku ini. ”Sineksen lintange luku/semono/janji prasetyaning ati,” yang artinya kurang lebih Rasi Orion jadi saksi diikrarkannya janji setia.

Lintang Luku memiliki makna penting bagi masyarakat Jawa. Kemunculan rasi yang berbentuk bajak sawah itu di awal malam jadi tanda datangnya musim tanam padi. Namun, seiring datangnya perubahan iklim, keakuratan penanda ini juga berkurang.

Galaksi Bimasakti

Apabila langit malam benar-benar gelap, maka bagian dari Galaksi Bimasakti pun bisa terlihat. Galaksi ini oleh masyarakat Barat disebut Milkyway atau Jalur Susu karena terlihat seperti kabut yang berisi taburan bintik-bintik putih dan memanjang dari langit selatan ke utara.

Masyarakat Jawa menyebutnya Bimasakti karena di antara kabut putih itu terdapat bagian hitam yang jadi perlambang ular naga raksasa Nemburnawa atau Rajapanulah. Ular itulah yang dikalahkan Bima, salah satu anggota Pandawa dalam lakon Mahabarata, saat Bima mencari air kehidupan Tirta Pawitra atas perintah gurunya Resi Druna.

KOMPAS/NASA

Bagian hitam di galaksi Bimasakti itulah yang dipandang sebagai ular naga raksasa Nemburnawa atau Rajapanulah yang berhasil dikalahkan Bima saat mencari air kehidupan Tirta Pawitra atas perintah gurunya Resi Druna. Kemenangan Bima itu membuat galaksi itu oleh masyarakat Jawa disebut Bimasakti yang merujuk pada Milkyway.

”Keberhasilan Bima mengalahkan naga itulah yang membuat masyarakat Jawa menamai semburat kabut putih yang sejatinya berupa bintang-bintang itu sebagai Bimasakti,” kata ahli etnoastronomi di Planetarium dan Observatorium Jakarta sekaligus pembina Himpunan Astronomi Amatir Jakarta, Widya Sawitar.

Selain itu, kehadiran meteor atau lintang alihan dan juga komet atau lintang kemukus juga bisa saja terlihat. Meski bukan di masa puncak hujan meteor, meteor hampir selalu terlihat setiap malamnya, khususnya menjelang pagi. Namun, itu semua hanya bisa dilihat jika langit benar-benar gelap.

Menjaga langit malam tetap gelap penting agar semua cerita keindahan langit itu tidak berakhir hanya sebagai dongeng yang tidak bisa dilihat langsung oleh generasi masa depan. Seperti yang diajarkan orangtua kita tentang kisah ”Bintang Kejora” karya AT Mahmud, ”Tampak sebuah lebih terang cahayanya/Itulah bintangku bintang kejora yang indah selalu”,  tanpa banyak orang tahu bagaimana wujud Bintang Kejora sesungguhnya.

Bintang Kejora adalah nama lain dari Planet Venus atau Lintang Panjer Isuk atau Lintang Panjer Sore sesuai waktu penampakannya. Venus yang merupakan Dewi Kecantikan dalam mitologi Romawi akan selalu terlihat sebelum Matahari terbit atau sesudah Matahari terbenam. Planet ini tidak pernah terlihat tengah malam, seperti Jupiter dan Saturnus.

KOMPAS/STELLARIUM

Penampakan Planet Venus atau Bintang Kejora dari langit Jakarta yang terlihat pada 4 Mei 2019 sekitar pukul 05.00.

Gelapnya langit malam perlu dijaga dengan mengendalikan polusi cahaya. Penggunaan tudung pada lampu jalanan perlu digerakkan karena, toh, yang membutuhkan penerangan di malam hari adalah orang atau jalanan, bukan langit. Mematikan nyala papan reklame dengan lampu terang selepas jam tertentu juga perlu dipertimbangkan mengingat pada jam tersebut sudah makin sedikit orang yang menyaksikannya.

Menjaga langit gelap bukan hanya demi menjaga ingatan dan keterikatan manusia dengan keindahan langit, tetapi juga menjaga kesehatan manusia modern yang makin sulit mendapat tidur malam berkualitas.

Menjaga langit gelap bukan hanya demi menjaga ingatan dan keterikatan manusia dengan keindahan langit, tetapi juga menjaga kesehatan manusia modern yang makin sulit mendapat tidur malam berkualitas serta menjamin keberlangsungan aneka binatang malam. Di luar itu, penggunaan energi pun bisa dihemat hingga saat listrik mati kita bisa lebih menghargai betapa pentingnya listrik bagi kehidupan.

Editor -
Bagikan

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Agustus 2019 di halaman 10 dengan judul "Malam Gelap Itu Romantis". baca epaper kompas