Riset Kajian Data 74 Tahun Indonesia, Kitab Suci Paling Banyak Dibaca Masyarakat

bebas akses Survei Literasi

74 Tahun Indonesia, Kitab Suci Paling Banyak Dibaca Masyarakat

Jika setiap penduduk Indonesia yang berusia minimal lima tahun ditelusuri kegiatan membacanya dalam seminggu terakhir, terungkap bahwa kitab suci menjadi mayoritas dibaca penduduk.

Oleh Bestian Nainggolan
· 8 menit baca
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Murid-murid SDN Setu 1, Jakarta Timur, memanfaatkan perpustakaan keliling untuk membaca buku bacaan, seperti komik, novel, dan buku lainnya di sekolah mereka, Selasa (26/2/2019). Pada 2016, Central Connecticut State University dari Amerika Serikat merilis hasil survei yang menunjukkan rendahnya tingkat literasi di Indonesia. Dari total 61 negara yang disurvei, Indonesia menduduki peringkat ke-60.

Jika setiap penduduk Indonesia yang berusia minimal lima tahun ditelusuri kegiatan membacanya dalam seminggu terakhir, terungkap bahwa kitab suci menjadi mayoritas dibaca penduduk. Membaca kitab suci menduduki urutan pertama dari jenis buku yang dibaca, jauh mengalahkan buku pelajaran, buku pengetahuan, buku cerita, ataupun surat kabar dan majalah.

Hasil interpretasi demikian tersimpulkan dari membaca ”Publikasi Statistik Sosial Budaya Tahun 2018” yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di pengujung Juli 2019. Data statistik kegiatan membaca masyarakat Indonesia semacam ini bersumber dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada 2018.

Secara umum, dalam persoalan minat baca, bangsa ini sebenarnya boleh berbangga.

Kini, sebagaimana yang diungkapkan dalam laporan tersebut, budaya minat baca penduduk telah hampir dirasakan pada semua kelompok umur. Jika diproporsikan jumlahnya, lebih dari tiga per empat bagian penduduk (77,94 persen).

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Warga membaca buku yang disediakaan di Perpustakaan Kota yang ada di Taman Trunojoyo, Kota Malang, Minggu (19/5/2019). Keberadaan perpustakaan di ruang publik bertujuan untuk meningkatkan budaya literasi khususnya bagi generasi muda.

Meskipun demikian, BPS juga memberikan catatan bahwa tingginya angka minat baca masih diiringi pula oleh kesenjangan. Di antaranya, kesenjangan membaca antara penduduk non-disabilitas dan disabilitas.

Data yang terungkap, sebanyak 78,68 persen penduduk non-disabilitas berkegiatan membaca. Namun, pada kalangan disabilitas, tercatat hanya 47,51 persen.

Di sisi lain, kesenjangan juga terjadi pada kelompok penduduk yang tinggal di wilayah berkategori perdesaan dan perkotaan. Bagi penduduk perkotaan, tidak kurang 82,65 persen berkegiatan membaca, sedangkan pada penduduk perdesaan sebanyak 72,07 persen.

Namun, pada kelompok jenis kelamin, hasil survei ini menunjukkan tidak ada perbedaan minat baca yang signifikan di antara kelompok laki-laki dan perempuan (Grafik 1).

Grafik 1. Proporsi Penduduk Berusia 5 tahun ke Atas yang Membaca Selama Seminggu Terakhir.

Sumber: Statistik Sosial Budaya (Badan Pusat Statistik), 2019.

Dari uraian data kegiatan membaca di atas, BPS juga menyiratkan bahwa persoalan usia dan pendidikan juga berperan dalam besaran minat baca yang dikaji.

Dalam persoalan usia, misalnya, terjadi kecenderungan semakin tua usia semakin menurun kegiatan membacanya. Puncak tertinggi membaca, menurut survei BPS, terjadi pada kisaran usia 7-18 tahun. Pada penduduk berusia di atas 60 tahun, hanya 58,66 persen yang masih punya kegiatan membaca.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Komunitas anak-anak muda yang rata-rata mahasiswa memfasilitasi anak-anak jalanan untuk belajar membaca dan menulis. Meski dilakukan di sekitar perempatan, hal tersebut tidak menyurutkan minat anak-anak jalanan untuk tetap belajar di tempat sederhana, Minggu (29/6/2014).

Berbeda dengan usia, semakin tinggi pendidikan penduduk, semakin besar proporsi yang membaca. Pada jenjang tamatan perguruan tinggi, misalnya, hampir semuanya (94,18 persen) membaca. Sebaliknya, pada jenjang pendidikan terendah (tidak/belum tamat SD) sebanyak 78,62 persen yang membaca.

Hanya, di balik tingginya kegiatan membaca dari hasil survei ini, tidak juga menjamin tinggi pula tingkat literasi umumnya masyarakat Indonesia.

Dengan merujuk hasil penelitian Organisation for Economic Co-Operation dan Development (OECD) dalam proyek Program for International Student Assessment (PISA) 2015, BPS menyatakan, literasi Indonesia tergolong rendah di dunia.

Literasi Indonesia tergolong rendah di dunia.

Dalam PISA, Indonesia berada pada peringkat ke-62 dari 70 negara yang dikaji. Kondisi demikian menunjukkan, para pelajar Indonesia kurang kompetitif dalam persoalan literasi.

KOMPAS/REGINA RUKMORINI

Sejumlah penyandang tunanetra berlatih membaca Al Quran berhuruf Braille di Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra (PPSDN) Penganthi Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (10/5/2019).

Merujuk penelitian Perpustakaan Nasional pada 2017, BPS mengungkapkan tingkat kegemaran membaca orang Indonesia tergolong rendah.

Penelitian ini mengungkapkan frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata 3-4 kali per minggu, dengan lama waktu membaca per hari rata-rata hanya 30-59 menit. Sementara dari sisi jumlah buku yang dibaca per tahun, rata-rata hanya 5-9 buku.

Problem masih rendahnya kegemaran membaca dan buruknya tingkat literasi penduduk Indonesia sudah menjadi persoalan klasik, yang berkali-kali dipersoalkan. Dengan membandingkan data pada tahun-tahun sebelumnya pun terkesan tidak ada suatu perubahan radikal dalam pertumbuhan minat baca masyarakat.

Di balik persoalan-persoalan minat baca dan literasi, hasil survei BPS kali ini menarik untuk diulas lebih jauh, terutama terkait dengan jenis-jenis bacaan apa saja yang selama ini dikonsumsi masyarakat.

KOMPAS/ JUMARTO YULIANUS

Siswa SD Negeri Standar Nasional Pasar Lama 3 Banjarmasin, Kalimantan Selatan, membaca koran Kompas bersama Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina (berkalung bunga) selama 15 menit pada saat Peresmian Program Budaya Membaca bertajuk ”Morning Reading Mania (Morena)” di sekolah tersebut, Sabtu (29/10/2016).

Dalam laporan BPS ini setidaknya terinventarisasikan enam jenis bacaan yang dibaca masyarakat Indonesia dalam seminggu terakhir (merujuk pada saat survei dilakukan).

Keenamnya terkategorisasikan dalam buku pengetahuan, buku pelajaran sekolah, buku cerita, kitab suci, dan media massa koran serta majalah atau tabloid.

Hasil survei ini menunjukkan bahwa kitab suci menjadi yang paling banyak dibaca masyarakat. Dari semua responden survei, sekitar dua pertiga bagiannya (66,34 persen) menyatakan membaca kita suci dalam kurun seminggu terakhir.

Proporsi penduduk yang membaca kita suci jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kategori penduduk yang membaca jenis-jenis buku lainnya.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.
KOMPAS/ ZULKARNAINI

Anak-anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama sedang membaca Al Quran di balai pengajian tradisional di Desa Alue Naga, Banda Aceh, Aceh, Rabu (3/2/2016). Setiap sore anak-anak di desa tersebut mengisi waktu dengan mengaji.

Buku pelajaran sekolah, misalnya, hanya dibaca 25,74 persen dari total penduduk. Menyusul selanjutnya, sebanyak 21,59 persen membaca buku pengetahuan; dan 10,85 persen membaca buku cerita.

Tidak hanya terhadap buku-buku berjenis pengetahuan ataupun buku cerita, membaca kita suci jauh lebih sering dibandingkan dengan membaca media massa.

Membaca kita suci jauh lebih sering dibandingkan dengan membaca media massa.

Dalam survei ini, media massa sejenis surat kabar hanya dibaca 17,34 persen penduduk. Majalah atau tabloid jauh lebih kecil lagi, hanya dikonsumsi 6,05 persen penduduk.

Elaborasi terhadap kalangan pembaca kitab suci menunjukkan bahwa kalangan usia muda relatif lebih banyak. Terbesar pada mereka yang masuk dalam kisaran usia 7-18 tahun. Terhitung sebanyak tiga perempat bagian penduduk dalam kategori usia tersebut, kategori usia dari mereka yang mengenyam pendidikan formal, membaca kitab suci.

Sebaliknya, justru kalangan yang berusia tua, berusia di atas 60 tahun ke atas, paling sedikit membaca kitab suci (Grafik 2).

Grafik 2. Proporsi Penduduk yang Membaca Kitab Suci Berdasarkan Usia

Sumber: Statistik Sosial Budaya (Badan Pusat Statistik), 2019.

Menarik sebenarnya membahas dua fakta di atas jika kalangan berusia muda lebih banyak membaca kitab suci dibandingkan dengan usia tua.

Jika memang data yang terangkum ini menunjukkan kondisi yang sesungguhnya menjadi pertanyaan bagi kalangan usia muda, apakah perbedaan yang signifikan ini lebih banyak disebabkan pendidikan keagamaan di sekolah?

Sementara bagi usia tua, apakah justru persoalan kendala fisik: seperti kemampuan membaca yang melemah, turut menghalangi akses kegiatan membaca kitab suci? Ataukah justru terdapat faktor lain yang mendasarinya?

Sayangnya, tidak banyak informasi yang terjelaskan terkait dengan penjelasan hasil survei ini. Seperti juga elaborasi terhadap variabel-variabel lainnya, agama misalnya, tidak terpublikasikan.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Pengunjung memanfaatkan kotak literasi cerdas (kolecer) yang berisi ratusan buku berbagai judul di Taman Ekspresi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/8/2019). Kolecer berupaya mendekatkan buku kepada masyarakat sehingga mendorong tingkat literasi. Data UNESCO menunjukkan, indeks minat baca warga Indonesia 0,001. Jadi, dari 1.000 orang, hanya 1 orang yang punya minat baca bagus.

Dalam survei ini tidak terjelaskan, apakah terdapat perbedaan minat baca kitab suci di antara berbagai agama yang tumbuh di negeri ini. Dengan berbagai elaborasi semacam ini, sebenarnya dapat ditarik pemaknaan lebih dalam lagi.

Sebagai gambaran, apakah arus kebangkitan identitas keagamaan yang secara kasat mata tampak belakangan ini, misalnya, tidakkah itu semua turut memengaruhi atau dipengaruhi kegiatan membaca kitab suci?

Akan tetapi, di balik keterbatasan data yang dipublikasikan, terdapat berbagai informasi menarik dari survei ini.

Dari pemilahan berdasarkan jenis kelamin, misalnya. Hasil survei mengungkapkan adanya perbedaan yang cukup signifikan di antara laki-laki dan perempuan.

Yang tampak, lebih banyak kelompok perempuan yang membaca kitab suci dibandingkan dengan laki-laki. Namun, terhadap media massa, khususnya surat kabar, justru laki-laki lebih banyak.

KOMPAS/SIWI YUNITA

Nabila (8), siswa putus sekolah, belajar mengaji di mushala Al Ilham Banyuwangi. Selama sepuluh tahun, kelompok pengajar Al Ilham bekerja menyelamatkan anak-anak putus sekolah, Rabu(31/8/2016).

Begitu pula dari sisi domisili. Hasil survei ini mengungkapkan sisi yang menarik tatkala penduduk kota lebih banyak membaca kitab suci dibandingkan dengan penduduk desa. Perbedaannya cukup mencolok, lantaran terpaut hingga sekitar 10 persen di antara keduanya.

Penduduk kota lebih banyak membaca kitab suci dibandingkan dengan penduduk desa.

Perbedaan mencolok lainnya terkait dengan pemilahan penduduk berdasarkan kondisi fisik.

Mereka yang tergolongkan sebagai kelompok ”non-disabilitas” terlihat lebih banyak yang mengaku membaca kitab suci. Sebaliknya, mereka yang tergolong kelompok disabilitas kurang dari separuh bagian saja yang mengaku membaca kitab suci (Grafik 3).

Grafik 3. Proporsi Penduduk yang Membaca Kitab Suci


Sumber: Statistik Sosial Budaya (Badan Pusat Statistik), 2019.

Dari segenap hasil survei ini, tingginya masyarakat yang membaca kitab suci dibandingkan dengan buku-buku lainnya, sedikit banyak telah menunjukkan wajah kekinian masyarakat Indonesia yang tidak lepas dari dimensi religinya.

Setidaknya, hal semacam inilah yang ditunjukkan oleh dua pertiga penduduk Indonesia yang terepresentasikan dari hasil survei ini. (Bestian Nainggolan/Litbang Kompas).

 

Editor -
Bagikan