Humaniora Bukan Penjaga Akses, Pustakawan adalah Penjaga Informasi

bebas akses Literasi

Bukan Penjaga Akses, Pustakawan adalah Penjaga Informasi

Pustakawan harus mampu memberikan pengaruh kepada masyarakat. Salah satunya dengan menumbuhkan literasi masyarakat melalui pendekatan-pendekatan yang kreatif.

Oleh Fajar Ramadhan
· 3 menit baca
KOMPAS/PRIYOMBODO

Pengunjung anak-anak menikmati buku koleksi Perpustakaan Nasional di Jakarta Pusat, Rabu (2/1/2019). Rak buku yang menjulang tinggi menjadi dekorasi di Perpustakaan Nasional di Jakarta Pusat, Rabu (2/1/2019).

 

JAKARTA, KOMPAS — Sebagai penjaga informasi, pustakawan dituntut lebih aktif menumbuhkan kegemaran membaca masyarakat melalui inovasi-inovasi baru. Perpustakaan dituntut mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat masa kini yang cenderung tertarik dengan hal-hal visual ketimbang tekstual.

Dosen Manajemen Informasi Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Ida Fajar Triyanto, mengatakan, sebagian besar pustakawan baru berperan sebagai penjaga akses masuk perpustakaan, bukan penjaga informasi. Padahal, mereka dituntut memiliki banyak cara untuk menarik masyarakat datang ke perpustakaan.

”Rata-rata menunjukkan tampang yang seram sehingga para pengunjung perpustakaan tidak merasa senang,” ujarnya seusai pembukaan Lomba Pustakawan Berprestasi di Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Menurut Ida, menjadi pustakawan bukan hanya sekadar berkutat di balik meja. Lebih dari itu, mereka harus mampu memberikan pengaruh kepada masyarakat. Salah satunya dengan menumbuhkan literasi masyarakat melalui pendekatan-pendekatan yang kreatif.

”Pustakawan, jika tidak bisa memberikan pengaruh berarti mereka tidak punya kapasitas,” katanya.

Terlebih, karakteristik masyarakat saat ini cenderung tertarik dengan hal-hal yang bersifat visual ketimbang tekstual. Hal tersebut menjadi tantangan terbesar bagi para pustakawan. Jika perpustakaan hanya berisi mengenai buku tekstual, kebutuhan masyarakat akan sulit terakomodasi.

Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan oleh pustakawan adalah melalui kinestetik atau mengajak masyarakat untuk mempelajari sesuatu melalui praktik langsung. Contohnya  di Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, pustakawan mengajak masyarakat belajar sekaligus praktik menanam tumbuhan jenis baru.

”Kreativitas dan inovasi menjadi poin penting yang harus dimiliki oleh pustakawan,” katanya.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.
KOMPAS/FAJAR RAMADHAN

Pembukaan Lomba Pustakawan Berprestasi ditandai dengan pemukulan gong oleh mantan Kepala Perpustakaan Nasional Sri Sularsih didampingi Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando dan para juri di Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengatakan, pustakawan adalah motor penggerak perpustakaan. Perpustakaan harus mampu menjangkau masyarakat sehingga kegemaran membaca menjadi tumbuh.

”Profesi pustakawan menjadi mulia jika bisa mendorong masyarakat menjadi lebih berwawasan dan cerdas,” ujarnya.

Berubah

Syarif mengatakan, perubahan menjadi sesuatu yang mutlak bagi para pustakawan agar tidak tertinggal. Indonesia saat ini membutuhkan sekitar 500.000 tenaga pustakawan. Sayangnya, jumlah pustakawan yang ada hanya 5.000 orang.

Lomba Pustakawan Berprestasi menjadi salah satu rangkaian acara Hari Kunjung Perpustakaan pada 14 September 2019. Ada 29 pustakawan yang terlibat dalam lomba yang dilaksanakan pada 13-19 Agustus 2019 tersebut.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando.

Salah seorang peserta dari Perpustakaan Balai Teknologi Pertanian Kabupaten Kendari Sulawesi Tenggara, La Munadi, mengatakan pengunjung perpustakaan adalah raja baginya sehingga komunikasi menjadi penting. Perpustakaan juga saat ini ditantang untuk berpacu dengan perkembangan teknologi.

”Perpustakaan harus diubah menjadi lebih menarik secara visual agar masyarakat berminat untuk datang,” katanya.

Editor -
Bagikan