Tokoh Sosok Brata T Hardjosubroto, sejak Anak-anak hingga Tua Setia di Jalur Pramuka

bebas akses Sosok

Brata T Hardjosubroto, sejak Anak-anak hingga Tua Setia di Jalur Pramuka

Bergabung dengan Pramuka mengubah hidup Brata menjadi sosok yang berani dan percaya diri. Ketika lulus SD, ia mendaftar seorang diri ke SMP.

Oleh Ester Lince Napitupulu
· 5 menit baca
KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU

Brata Tryana Hardjosubroto

Sejak belia hingga usia tua, Brata Tryana Hardjosubroto (60) setia di jalur Pramuka. Buat dia, Pramuka telah mengubah hidupnya. Karena itu, ia ingin membalas semua kebaikan yang telah ia terima darinya.

Kiprah Brata dalam gerakan Pramuka tidak berhenti di tingkat nasional. Pria yang murah senyum ini juga aktif dalam organisasi Pramuka dunia untuk kawasan Asia Pasifik. Berkat kontribusinya pada gerakan Pramuka, ia mendapat beberapa penghargaan dari dalam ataupun luar negeri.

Pada 10 Juli 2019, misalnya, Brata mendapatkan penghargaan Distinguished Service Bronze Award dari Pramuka Singapura yang diserahkan Presiden Singapura Halimah Yacob. Ia dianggap berkontribusi  mengembangkan kepramukaan di Asia Pasifik ataupun ASEAN dan  menguatkan hubungan Singapura-Indonesia. Tahun lalu, Brata mendapat Asia Pacific Chairman’s Award dari Asia Pacific Regional–World Organization of Scout Movement (APR-WOSM) sebagai pengakuan pada kepemimpinan dan kontribusi tak ternilai untuk mempromosikan dan mengembangkan Pramuka.

”Saya sangat bersyukur mendapatkan sejumlah penghargaan terkait dengan kiprah di Pramuka. Meskipun saya melakukan semua itu bukan untuk dapat penghargaan, semua pengakuan itu membuat saya lebih bersemangat,” ujar Brata yang bekerja di bidang komunikasi di sejumlah korporasi besar di Jakarta.

Brata lebih dari 15 tahun ini secara terus-menerus berkiprah di APR-WOSM sejak 2003. Terakhir kali, pada 2018, ia menjabat Ketua Subkomite Scouting Profile, yang merupakan jenjang terakhir, sebelum berlanjut ke komite. Ia berencana berkampanye sebagai komite APR-WOSM dalam APR Scout Conference di Taiwan pada 2021 untuk masa jabatan 2021-2027.

”Sepanjang pengetahuan saya, (saya) termasuk yang terpanjang dalam pengabdian di organisasi Pramuka kawasan Asia Pasifik secara terus-menerus. Yang lain biasanya ada jeda,” kata Brata.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU

Brata Tryana Hardjosubroto setia di jalur pramuka sejak usia SD hingga sekarang berusia 60 tahun.

Menurut Brata, untuk bergiat di organisasi Pramuka kawasan Asia Pasifik, tidak hanya butuh dukungan dari Gerakan Pramuka Indonesia. Pengakuan pada kontribusi dan kepemimpinan seseorang juga menjadi hal yang penting untuk  bisa eksis dalam gerakan Pramuka di kawasan Asia Pasifik.

Gerakan Pramuka bersifat internasional  digagas Bapak Pramuka Dunia Baden Powell asal Inggris. Adapun Organisasi Gerakan Pramuka Sedunia (WOSM) didirikan pada 1920. Indonesia menjadi negara yang terbanyak memiliki anggota Pramuka. Namun, belum banyak Andalan Nasional Kwarnas Gerakan Pramuka Indonesia yang bisa menjadi anggota komite di APR-WOSM.  Sejak dua tahun lalu, Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka yang juga Duta Besar Indonesia untuk Thailand Ahmad Rusdi terpilih sebagai anggota komite kepramukaan kawasan Asia Pasifik (APR-WOSM).

Meskipun berkiprah pada organisasi Pramuka internasional, Brata tak segan  turun ke sekolah-sekolah atau gugus depan yang membutuhkan pembinaan. Ia masih bergiat dalam kepramukaan di Universitas Indonesia. Ia juga ikut memantau gugus depan di SMPN 3 Depok, Jawa Barat, yang menjalankan program kepramukaan WOSM bertajuk ticket to life. Sekolah ini membuka kelas khusus untuk anak-anak jalanan.

Di setiap sekolah atau kampus yang ia datangi, Brata  mengaku selalu  berusaha memberikan materi kepramukaan yang sesuai dengan kondisi masa kini, termasuk untuk menjawab tantangan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Menurut dia, banyak orang yang hanya kenal Pramuka dari kulitnya. Padahal, kegiatan Pramuka di dunia sudah diakui sebagai medium untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, kepemimpinan, dan kebangsaan. Nilai-nilai Pramuka itu dikenalkan antara lain lewat kegiatan, permainan, nyanyian, dan perkemahan.

Brata menyadari sebagian siswa mengikuti kegiatan Pramuka lebih karena kewajiban dari sekolah. Kegiatannya menjadi kurang menarik. Untuk mengatasi hal ini, ia mendorong supaya para pelatih/pembina Pramuka yang ada di sekolah-sekolah punya kerelaan hati untuk membuat kegiatan Pramuka menyenangkan.

”Saya bersyukur, pelatih saya (dulu) punya dedikasi. Saya ingat pelatih Kak Sutrisno sangat sederhana orangnya. Pelatih sekarang, bukan menjelekkan, kalau enggak ada honornya enggak mau datang. Padahal, dulu pelatih biasa  datang dan sharing materi kepramukaan tanpa dibayar,” kata Brata.

Mengubah hidup

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.

Kegiatan Pramuka punya kesan mendalam buat  Brata. Ketika masih belia, bungsu dari enam bersaudara itu adalah anak manja dan amat bergantung pada orangtua dan kakak-kakaknya. Saat duduk di bangku SD, Brata terkesan melihat anak-anak Pramuka di Surabaya yang  berkemah tanpa didampingi orangtua atau saudara.

DOKUMENTASI PRIBADI

Brata Tryana Hardjosubroto saat mendapat penghargaan dari Pemerintah Singapura. Penghargaan diserahkan Presiden Singapura Halimah Yacob pada 10 Juli 2019.

”Saya bilang kepada orangtua, saya mau dong ikut Pramuka. Dulu belum wajib, di sekolah enggak ada. Saya ikut Pramuka komunitas, latihan di Taman Apsari. Saya menikmati betul kegiatan Pramuka,” katanya.

Pemahaman pada nilai-nilai Pramuka membuat Brata sadar bahwa hidupnya bergantung pada dirinya sendiri. Brata yang tadinya manja memutuskan untuk mandiri dan lebih bertanggung jawab pada kehidupannya.

Bergabung dengan Pramuka mengubah hidup Brata menjadi sosok yang berani dan percaya diri. Ketika lulus SD, ia mendaftar seorang diri ke SMP. Awalnya, para orangtua lain memandangnya dengan kasihan. Setelah Brata menjelaskan bahwa dirinya memang tidak mau ditemani orangtua, mereka   memujinya dan menjadikan ia contoh bagi anak-anak mereka.

Brata menjalani kegiatan Pramuka sepenuh hati. Ketika duduk di bangku SMP, ia terpilih mewakili Surabaya mengikuti Jambore Pramuka Nasional di Cibubur tahun 1973. Dari situ, ia mulai meraih penghargaan dari kegiatan Pramuka.

”Saya berjanji untuk selalu setia pada Pramuka. Saya selalu ingin memberi. Saya senang untuk menceritakan tentang kegiatan Pramuka. Hingga saya bekerja di Jakarta dan sampai saat ini saya merasa Pramuka banyak mengubah hidup saya,” kata Brata.

Brata tengah menggalang kampanye untuk bisa menjadi duta Indonesia sebagai komite di APR-WOSM. Baginya, Pramuka Indonesia yang eksis di kawasan Asia Pasifik dan dunia menjadi jalan untuk mengenalkan Indonesia yang dicintainya dan menunjukkan kontribusi Pramuka Indonesia bagi dunia yang lebih baik.

 

Brata Tryana Hardjosubroto

Lahir: 15 Oktober 1958

Istri: Riena

Anak: Lestari Andardini dan Satrio Andardono

Kiprah di Pramuka:

  • Anggota Pramuka 1971-1974
  • Asisten Andalan Nasional untuk Humas (2002-2003)
  • Andalan Nasional Humas dan Pemberdayaan Masyarakat (2004-2008)
  • Andalan Nasional bidang Hubungan Internasional (2009-2013)
  • Anggota Asia Pacific Regional Scouting Profile Sub-Committee selama dua periode (2003-2006 dan 2007-2009)
  • Wakil Ketua Asia Pasifik Regional Scout Membership Growth Sub-Committee (2010-2012)
  • Ketua kontingen Indonesia ke Jambore Pramuka Dunia di Kristianstad, Swedia (2010)
  • Sekjen ASEAN Scout Association for Regional Cooperation/ASARC atau Asosiasi Pramuka ASEAN (2015-2021)

 

Editor -
Bagikan

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Agustus 2019 di halaman 12 dengan judul "Brata T Hardjosubroto, Setia di Jalur Pramuka". baca epaper kompas