Metropolitan Tren Urban Farming dan Festival Pangan 2019

bebas akses Pertanian Perkotaan

Tren Urban Farming dan Festival Pangan 2019

Tren urban farming alias pertanian perkotaan sudah merambah Jakarta. Target dari Wali Kota Jakarta Selatan pada 2020 saja di setiap RW di 65 kelurahan harus ada gang hijau. Saat ini baru terealisasi 150 titik gang hijau binaan Suku Dinas Ketahanan Pangan dan Kelautan dan Pertanian Jakarta Selatan.

Oleh Dian Dewi Purnamasari
· 4 menit baca

Tren urban farming alias pertanian perkotaan sudah merambah Jakarta. Target dari Wali Kota Jakarta Selatan pada 2020 saja di setiap RW di 65 kelurahan harus ada gang hijau. Saat ini baru terealisasi 150 titik gang hijau binaan Suku Dinas Ketahanan Pangan dan Kelautan dan Pertanian Jakarta Selatan.

KOMPAS/DIAN DEWI PURNAMASARI

Pengunjung berjalan-jalan di area pameran Festival Pangan 2019 Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (14/8/2019).

JAKARTA, KOMPAS – Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta menggelar Festival Pangan 2019 di pelataran Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan, Rabu-Jumat (14-16/8/2019). Pameran tersebut menampilkan produk pangan dan olahan unggulan DKI Jakarta.

Sebanyak 60 stan pangan dan makanan-minuman olahan memamerkan produk dagangannya, Rabu (14/8/2019).

Mulai dari sayuran hidroponik, buah-buahan, kopi, jamu, hingga kerak telor dan kue kembang goyang khas Betawi ditampilkan. Para pengunjung dan karyawan kantor di sekitar Pasaraya Blok M memadati area pameran itu. Mereka terlihat antusias mengunjung stan yang mengelilingi area pelataran tersebut.

Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Ketahanan Pangan Jakarta Selatan Wachyuni, Rabu (14/8/2019), mengatakan, masyarakat khususnya di Jakarta Selatan diharapkan dapat memanfaatkan lahan yang sempit di sekitarnya untuk kegiatan pertanian perkotaan.

Baca juga : Lahan Sempit Bukan Halangan

Di Jaksel, sudah ada 150 titik gang hijau yang dibina oleh Sudin KPKP. Di gang perkampungan itu ditanam berbagai macam sayuran, dan tanaman obat. Ada masyarakat yang menerapkan metode hidroponik, menanam di media pot, hingga memanfaatkan lahan kosong di sekitarnya.

Diharapkan, dengan kegiatan pertanian perkotaan itu masyarakat dapat memenuhi kebutuhan sayuran. Selama ini, Jakarta masih bergantung pada provinsi lain seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur untuk memenuhi kebutuhan sayur-mayur.

“Konsumsi sayuran masyarakat Jakarta dinilai masih rendah. Makanya, dengan menanam sayur sendiri diharapkan konsumsi sayuran meningkat. Selain itu, juga untuk membangun ketahanan pangan masyarakat perkotaan,” ujar Wachyuni.

“Konsumsi sayuran masyarakat Jakarta dinilai masih rendah. Makanya, dengan menanam sayur sendiri diharapkan konsumsi sayuran meningkat. Selain itu, juga untuk membangun ketahanan pangan masyarakat perkotaan,” ujar Wachyuni.

Sudin KPKP Jakarta Selatan juga memberikan pelatihan pertanian perkotaan kepada warganya. Pelatihan dilakukan secara berkala dengan mengundang narasumber praktisi pertanian perkotaan.

Target dari Wali Kota Jakarta Selatan pada 2020, di setiap RW di 65 kelurahan harus ada gang hijau. Wali kota Jakarta Selatan berharap kampung-kampung bisa menjadi kampung hijau dan sehat. Di Jakarta Selatan, paling banyak warga membuat kebun di atap (roof garden) maupun kebun vertikal (vertical garden) untuk menyiasati lahan yang terbatas.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.
KOMPAS/KRISTI UTAMI

Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Marullah Matali.

“Kami juga memberikan bantuan pelatihan, rak vertikal, bibit hingga pupuk untuk warga masyarakat yang mau dibina dalam program pertanian perkotaan,” kata Wachyuni.

Tamara Satria (42), pelaku usaha sayuran hidroponik di Jaksel, mengatakan, permintaan akan sayuran semakin banyak mengingat tren hidup sehat terus berkembang.

Awalnya, keluarga Tamara hanya iseng memanfaatkan lahan milik mereka yang tidak terpakai di daerah Antasari. Mereka memanfaatkan lahan tersebut untuk menanam sayur mayur seperti aneka selada, bayam, kale, dan sawi-sawian. Mereka menanam sayuran dengan metode campuran yaitu di media pot serta hidroponik.

Sejak 2016 hingga sekarang, usaha sayuran hidroponik milik keluarga Tamara terus berkembang. Dari awalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, kini omzet penjualan sayuran serta media tanam hidroponik sudah mencapai Rp 5 juta per bulan. Produk pertanian hidroponik tersebut diberi nama Hidroponic Alley.

Baca juga : IPB Tawarkan Konsep Penataan Pulo Armin

“Sekarang, kami juga memenuhi permintaan untuk beberapa restoran yang menyajikan menu makanan sehat. Selain itu, kami juga kerap mengisi materi pelatihan dan menjual media atau instalasi hidroponik kepada warga,” kata Tamara.

“Sekarang, kami juga memenuhi permintaan untuk beberapa restoran yang menyajikan menu makanan sehat. Selain itu, kami juga kerap mengisi materi pelatihan dan menjual media atau instalasi hidroponik kepada warga,” kata Tamara.

Selain produk pertanian, produk makanan olahan seperti olahan mangrove juga dijual di Festival Pangan 2019 ini. Ayu Triani (38), anggota Pelatihan Kewirausahaan Terpadu Koja, Rawa Badak Utara, Jakarta Utara membawa berbagai olahan mangrove seperti cheese stik, pangsit, dan kerupuk dari daun mangrove. Produk-produk yang dijual adalah hasil panen dari Komunitas Mangrove Penjaringan.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

ILUSTRASI. Semakin menyempitnya lahan pertanian di perkotaan disiasati dengan membuat kebun hidroponik seperti yang dilakukan sejumlah petani dengan mendirikan pusat pertanian hidropoik di kawasan Depok, Jawa Barat, Kamis (28/3/2019). Selain udara yang sejuk, aktivitas ini juga dapat menghasilkan bahan sayuran organik yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Hasil panen sayuran dipasarkan ke restoran dan pasar swalayan di Jabodetabek.

“Saya sudah kurang lebih setahun bergabung dengan PKT Rawa Badak Utara. Kami diajari oleh para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mengolah produk olahan mangrove,” kata Ayu.

Editor -
Bagikan