Humaniora Hujan Meteor Perseid Mencapai Puncaknya

bebas akses

Hujan Meteor Perseid Mencapai Puncaknya

Hujan meteor Perseid yang tiap tahunnya berlangsung antara 17 Juli hingga 24 Agustus mencapai puncaknya pada Selasa, 13 Agustus 2019 pukul 14.00 WIB. Karena terjadi saat di Indonesia sedang siang hari, maka waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor ini adalah pada 13 Agustus atau 14 Agustus dini hari hingga menjelang subuh.

Oleh
· 6 menit baca
KOMPAS/SKY & TELESCOPE MAGAZINE

Dalam perjalanannya mengelilingi Matahari, setiap akhir Juli hingga Agustus, Bumi akan berpapasan dengan bekas lintasan komet 109P/Swift-Tuttle. Pertemuan itu membuat Bumi setiap tahunnya akan mengalami hujan meteor Perseid yang puncaknya terjadi antara 12-13 Agustus.

Hujan meteor Perseid yang tiap tahunnya berlangsung antara 17 Juli hingga 24 Agustus mencapai puncaknya pada Selasa, 13 Agustus 2019 pukul 14.00 WIB. Karena terjadi saat di Indonesia sedang siang hari, maka waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor ini adalah pada 13 Agustus atau 14 Agustus dini hari hingga menjelang subuh.

Selama masa puncak hujan meteor Perseid tersebut, ahli meteor dari Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat Bill Cooke, seperti dikutip space.com, Senin (12/8/2019) memperkirakan akan ada 10-15 meteor setiap jamnya. Jumlah meteor per jam yang tidak terlalu besar itu terjadi karena gangguan cahaya Bulan yang cukup besar.

“Sayang, cahaya Bulan menjelang purnama yang cukup kuat akan mengalahkan cahaya meteor Perseid lebih redup,” katanya. Umur Bulan saat puncak hujan meteor Perseid kali ini berkisar 12-13 hari atau 2-3 hari menjelang purnama.

Sayang, cahaya Bulan menjelang purnama yang cukup kuat akan mengalahkan cahaya meteor Perseid lebih redup.

Meski dianggap sebagai hujan meteor terbaik tahun ini, namun jumlah meteor Perseid yang bisa diamati selama puncaknya pada tahun ini jauh dari jumlah idealnya, dalam kondisi terbaiknya, yang bisa mencapai 150-200 meteor per jamnya.

Kondisi ideal itu akan tercapai bila langit benar-benar gelap, tanpa ada gangguan cahaya dari berbagai sumber mulai dari polusi cahaya perkotaan, partikel dari polusi udara, maupun dari cahaya terang obyek langit lain, terutama Bulan. Situasi itu setidaknya pernah terjadi pada tahun 2016 silam.

Meski demikian, jangan membayangkan hujan meteor yang sesungguhnya seperti yang digambarkan dalam sejumlah film, seperti Meteor Garden, drama televisi Taiwan yang sangat populer di Indonesia tahun 2001. Dalam film itu, hujan meteor digambarkan sebagai meteor yang datang dan terlihat secara kontinyu.

Sejatinya, hujan meteor akan tampak seperti kelebatan cahaya yang bergerak cepat di langit yang sumbernya berasal dari rasi Perseus. Jarak antarkelebatan cahaya itu tidak pasti, bisa beberapa detik hingga belasan menit.

Rasi Perseus terletak di dekat arah utara agak ke timur. Di Jakarta, seperti dikutip dari in-the-sky.org, Selasa (13/8/2019), Perseus baru terbit selepas tengah malam. Hingga menjelang fajar, ketinggian rasi Perseus hanya berkisar 30-40 derajat. Padahal, makin tingginya posisi rasi Perseus, makin banyak pula peluang meteor yang bisa diamati.

Meteor sebenarnya bisa terlihat saat siang maupun malam hari. Namun saat siang, cahayanya menjadi terlalu lemah, kalah terang dengan cahaya Matahari, kecuali dia memiliki cahaya amat kuat. Waktu terbaik mengamati meteor adalah selepas tengah malam hingga menjelang subuh. Dalam kasus hujan meteor Perseid, menjelang subuh adalah waktu terbaik karena posisi Perseus cukup tinggi sebelum rasi itu hilang tertelan cahaya Matahari pagi.

Cahaya meteor yang tampak dari Bumi bak bintang berekor sebenarnya adalah jejak udara pijar yang ditimbulkan debu dan batuan kecil luar angkasa. Saat debu dan batuan itu masuk ke atmosfer Bumi, dia akan bergesekan dengan partikel di udara sehingga terbakar. Gerak dan jejak udara yang berpijar itulah yang akan menghasilkan kelebatan cahaya meteor.

KOMPAS/STELLARIUM

Lingkaran kuning di dekat rasi Perseus adalah radian atau sumber asal meteor-meteor dalam hujan meteor Perseid berasal. Pemandangan ini diambil menggunakan piranti Stellarium yang menunjukkan kondisi langit Jakarta pada Rabu (14/8/2019) sekitar pukul 03.00 WIB.

Asal mula

Batu-batu luar angkasa yang menjadi sumber dari hujan meteor Perseid berasal dari sisa komet 109P/Swift-Tuttle. Komet yang ditemukan oleh Lewis Swift dan Horace Tittle pada tahun 1862 ini termasuk obyek yang cukup besar dan secara periodik mengitari Bumi.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.

Komet 109P/Swift-Tuttle memiliki diameter inti sekitar 26 kilometer. Ukuran inti yang cukup besar itu membuat debu dan batuan yang dihasilkan dari proses pembakaran inti cukup banyak. Akibat lanjutannya, jumlah meteor yang bisa diamati selama puncak hujan meteor pun sangat besar.

Komet ini mengitari Matahari tiap 133,28 tahun sekali. Dia terakhir kali mendekati Bumi pada 1992 dan akan kembali mengunjungi Bumi pada tahun 2126. Sejak 1992 itu, setiap akhir Juli hingga Agustus, Bumi yang sedang berada dalam perjalanan mengitari Matahari, akan memasuki wilayah bekas lintasan komet 109P/Swift-Tuttle.

Bekas lintasan itu kaya akan debu dan batuan kecil hasil pembakaran inti komet saat mendekati Matahari. Saat debu dan batu itu bersentuhan dengan atmosfer Bumi, maka debu dan batu itu akan bergesekan dengan atmosfer Bumi dan terbakar. Debu dan batu itu juga tertarik oleh gravitasi Bumi hingga memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 60 kilometer per detik.

Meski hujan meteor dengan jumlah meteor cukup besar itu terjadi berulang, seperti dikutip Kompas, 12 Agustus 2010, peristiwa itu tidak akan menimbulkan dampak berarti bagi Bumi. Namun, dalam jangka panjang, penumpukan debu di bagian atas atmosfer Bumi itu bisa menghalangi cahaya Matahari dan mengotori satelit buatan manusia hingga mempercepat kerusakannya.

Pengamatan

Untuk dapat mengamati hujan meteor ini, tidak diperlukan peralatan pengamatan yang rumit atau mahal. Masyarakat hanya perlu menjauh sejenak dari wilayah perkotaan dan mencari daerah-daerah gelap dengan polusi cahaya yang minim, seperti di kawasan perdesaan atau pinggir kota.

Selain itu, lokasi pengamatan harus memiliki medan pandang langit yang luas. Terlebih karena posisi rasi Perseus yang menjadi lokasi radian atau asal hujan meteor Perseid masih rendah, maka medan pandang ke arah utara dan timur perlu bebas dari penghalang, baik gunung, pohon, atau aneka bangunan lain.

AFP PHOTO / PHILIP FONG

Sejumlah orang menanti perseid, atau hujan meteor, di sebuah bendungan air di dataran tinggi Hong Kong, Senin (13/8/2018).

Karena waktu terbaik mengamati hujan meteor Perseid adalah selepas tengah malam hingga menjelang subuh, pengamat harus mempersiapkan fisik sebaik mungkin. Mereka harus siap berada di luar ruangan selama beberapa jam pada dinihari. Fisik yang baik itu sangat diperlukan mengingat saat ini di sebagian besar wilayah Indonesia sedang berada di puncak musim kemarau hingga suhu udara pada dinihari jauh lebih rendah dari biasanya.

Sebelum mengamati hujan meteor Perseid, Cooke mengingatkan perlunya mata beradaptasi dengan langit yang gelap, setidaknya selama setengah jam. Semakin lama mata seseorang beradaptasi dengan suasana langit gelap, makin besar kemampuan mata untuk menangkap kelebatan cahaya meteor dalam medan langit yang luas.

Tak diperlukan peralatan khusus untuk mengamati hujan meteor. Namun, baju hangat mutlak diperlukan. Jika memungkinkan, kursi malas atau media bersandar diperlukan agar leher Anda tidak pegal karena terlalu lama mendongak ke atas.

author: MUCHAMAD ZAID WAHYUDI
byline: MUCHAMAD ZAID WAHYUDI

KOMPAS/STELLARIUM

Lingkaran kuning di dekat rasi Perseus adalah radian atau sumber asal meteor-meteor dalam hujan meteor Perseid berasal. Pemandangan ini diambil menggunakan piranti Stellarium yang menunjukkan kondisi langit Jakarta pada Rabu (14/8/2019) sekitar pukul 03.00 WIB.

Editor -
Bagikan