Humaniora Material Dalam Negeri Tak Dimanfaatkan

bebas akses Inovasi Teknologi

Material Dalam Negeri Tak Dimanfaatkan

TANGERANG SELATAN, KOMPAS—Defisit neraca perdagangan Indonesia bisa dikurangi dengan memanfaatkan berbagai jenis material yang mengandalkan impor. Pembuatan produk implan, magnesium karbonat, dan aneka produk baja unggul yang memanfaatkan sumber daya alam domestik untuk keperluan industri dalam negeri membutuhkan keberpihakan pemerintah.

Oleh Ichwan Susanto
· 6 menit baca
KOMPAS/ICHWAN SUSANTO

Peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Eko Sulistiyono, Selasa (13/8/2019) di Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, menunjukkan proses spray dryer dalam menghasilkan magnesium karbonat dari dolomit. Dolomit ini banyak terdapat di pantai utara Jawa bagian timur yaitu Rembang hingga Gresik serta Kabupaten Bangkalan Madura. Galian C ini banyak ditambang untuk bahan pupuk, bata, dan campuran semen. LIPI mengolah dolomit untuk mendapatkan magnesium karbonat yang bisa dimanfaatkan untuk bahan pemutih kertas maupun bahan baku medis.

TANGERANG SELATAN, KOMPAS—Defisit neraca perdagangan Indonesia bisa dikurangi dengan memanfaatkan berbagai jenis material yang mengandalkan impor. Pembuatan produk implan, magnesium karbonat, dan aneka produk baja unggul yang memanfaatkan sumber daya alam domestik untuk keperluan industri dalam negeri membutuhkan keberpihakan pemerintah.

Saat ini, peningkatan kualitas produk-produk itu dikerjakan Pusat Penelitian Metalurgi dan Material Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2MM LIPI). Untuk membuat baja unggul, mereka memanfaatkan ketersediaan mineral lateriat atau bijih besi yang mengandung  nikel yang melimpah di Indonesia.

Profr Nurul Taufiqu Rochman, Kepala P2MM LIPI, Selasa (13/8/2019), di Kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, Tangerang Selatan, Banten, memaparkan pihaknya mengembangkan material baja untuk pembangkit listrik dan riset baja unggul nasional berbasis bijih laterit. Para peneliti juga pengembangan produk implan (pen dan tempurung lutut) sesuai bentuk tubuh orang Indonesia, serta pembuatan magnesium karbonat dari material dolomit.

Harapannya, di masa depan, baja yang saat ini diekspor sebagai bahan mentah bisa dikurangi dan industri baja dalam negeri meningkat. Pasar penggunaan baja di dalam negeri amat tinggi karena pembangunan berbagai proyek infrastruktur maupun menopang kegiatan sektor lain.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO

Peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Selasa (13/8/2019) di Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, mengeluarkan bubuk dolomit ke dalam wadah untuk diproses menghasilkan magnesium karbonat. Dolomit ini banyak terdapat di pantai utara Jawa bagian timur yaitu Rembang hingga Gresik serta Kabupaten Bangkalan Madura. Galian C ini banyak ditambang untuk bahan pupuk, bata, dan campuran semen. LIPI mengolah dolomit untuk mendapatkan magnesium karbonat yang bisa dimanfaatkan untuk bahan pemutih kertas maupun bahan baku medis.

Ketahanan korosi

Nurul Taufiqu mengatakan Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI mengembangkan penelitian dan pengembangan sifat-sifat logam tambang dengan menonjolkan keunggulan kandungannya untuk menambah nilai jualnya. Contohnya pengembangan material yang digunakan untuk industri listrik yaitu baja tahan karat (stainless steel) 410 modifikasi yang dikembangkan untuk mensubstitusi impor baja dan komponen sudut turbin PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) atau panas bumi.

“Dengan meningkatkan ketahanan korosinya, jangka waktu pemakaian sudu (kipas) turbin menjadi lebih lama,” katanya.

Dengan meningkatkan ketahanan korosinya, jangka waktu pemakaian sudu (kipas) turbin menjadi lebih lama.

Efendi Mabruri, peneliti paduan logam dan korosi P2MM mengatakan mesin utama sebuah pembangkit listrik tenaga uap ada pada turbin, khususnya sudu turbin atau baling-baling turbin. “Ini komponen kritis atau sering rusak karena mendapat putaran beban tinggi, suhu tinggi, dan media korosif. Kebanyakan kerusakan pada turbin, khususnya sudu turbin,” ujarnya.

Suku cadang sudu turbin ini diimpor dari negara asal teknologi turbin seperti China, Jerman, atau Jepang. Karena itu, ia mengembangkan modifikasi pada baja tahan karat jenis martensitik (standar 410) untuk sudu turbin PLTU dengan ketahanan korosi dan gesekan/abrasif yang lebih baik.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO

Pusat Penelitian Metalurgi dan Material Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Selasa (13/8/2019) di Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, menunjukkan sejumlah hasil riset andalannya kepada media.

Hasil pengujian menunjukkan modifikasi baja tahan karat (13Cr3Mo3Ni) tersebut memiliki daya tahan abrasif atau keausan yang lebih tinggi daripada baja tahan karat standar (13Cr). Perbandingan pada putaran 1.000, baja tahan karat hasil modifikasi memiliki keausan sekitar 43 miligram per centimeter persegi dan baja tahan karat standar memiliki keausan 65 miligram per centimeter. Namun itu masih pada skala laboratorium yang akan diuji pada kondisi nyata di PLTU.

Contoh lain, peneliti P2MM pada grup riset baja unggul, Muhammad Yunan Hasbi menunjukkan pemakaian bahan baku laterit untuk pembuatan baja unggul. “Bahan baku laterit ini melimpah, terutama di Indonesia bagian timur,” ungkapnya.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.

Laterit istimewa karena merupakan bijih besi yang telah mengandung nikel, salah satu unsur pembuat baja tahan karat. Meski demikian, mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), impor baja dan besi Indonesia masih di posisi pertama (di luar impor migas). Impor tahun 2017 sebesar 7,348 miliar dollar AS dan meningkat 28,31 persen pada 2018.

Dari sisi konsumsi dalam negeri, ia menyebut data Kementerian Perdagangan tahun 2017 menunjukkan konsumsi baja nasional sebesar  13,6 juta ton yang 52 persen diantaranya dipenuhi oleh produk impor. Di tahun 2018, konsumsi baja nasional meningkat jadi 14,2 juta ton, dan 55 persennya diimpor.

Ia pun mengembangkan baja tahan karat dari laterit itu dalam program prioritas riset nasional membentuk baja tulangan fastener, jaw crusher part, dan rel kereta cepat. Karena telah masuk program prioritas riset nasional, riset ini dikembangkan bersama sejumlah kampus, lembaga/kementerian, dan perusahaan.

Kompas/Hendra A Setyawan

Peneliti dari Pusat Penelitian Metalurgi dan Material Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan pembuatan ultra fine grain magnesium karbonat dari material dolomit, di laboratorium Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI, Puspitek, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (13/8/2019). Magnesium karbonat adalah bahan baku industri farmasi, percetakan, dan kertas yang sangat bergantung pada impor. Saat ini pemanfaatan dolomit hanya sebagai bahan bangunan dan pupuk pertanian dengan nilai jual Rp 1.000 per kilogram. Teknologi yang dikembangkan LIPI diharapkan dapat menaikkan nilai tambah dolomit menjadi Rp 50.000 per kilogram. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS)13-8-2019

Dari sisi alat kesehatan, P2MM mengembangkan pemanfaatan logam titanium berupa produk implan berupa pen dan tempurung lutut yang sesuai dengan bentuk tubuh orang Indonesia. Titanium memiliki kekuatan seperti baja, namun lebih tahan korosi dan lebih ringan.

Sebagian besar implan itu berupa produk impor yang merujuk pada data izin edar yang diterbitkan Kementerian Kesehatan sebesar 92 persen (10.893 izin) merupakan alat kesehatan impor, termasuk implan dari sejumlah negara.Produk impor ini memiliki kekurangan memiliki bentuk dan ukuran yang tidak sesuai dengan rata-rata orang Indonesia sehingga dokter seringkali harus menyesuaikan implan pada saat tindakan operasi.

Ikhlasul Amal, peneliti P2MM untuk aplikasi implan tulang, membuat produk implan ortopedi atau ketulangan berupa sistem fiksasi sekrup dan pen, sendi panggul, sendi lutut, tulang paha (untuk kanker tulang paha atau megaprostetis distal femur), dan tengkorak/tulang belakang (bagi kanker chordama/fracture iliac atau lumbo-sacro iliac).

Ia diminta sebuah kampus kedokteran di Jakarta (Universitas Indonesia) untuk membuat tulang belakang custom. Caranya, dengan mengambil data pemindaian atau scan detail ukuran tulang lalu dirancang dan dibuat simulasi serta prototype-nya menggunakan material plastik.

Riset jangka panjangnya, ia membuat implan yang tak memerlukan perawatan. Implant yang mampu luruh dalam tubuh manusia tersebut dibuat dari bahan magnesium yang aman diserap tubuh.

Penelitian unggulan lain yang dikembangkan P2MM yaitu pengolahan mineral dolomit menjadi produk magnesium karbonat. Dolomit atau bahan tambang galian C ini memiliki cadangan tinggi di pantai utara Jawa bagian timur dari Rembang hingga Gresik serta Sampang, Madura.

Umumnya dolomit hanya digunakan untuk pembuatan bahan bangunan pengganti bata atau campuran semen serta pupuk. Eko Sulistiyono, peneliti P2MM mengatakan dolomit bisa diambil magnesium karbonatnya untuk industri farmasi dan kertas. Nilai tambahnya pun berkali lipat dari Rp 1.000 per kilogram saat berupa pupuk, menjadi Rp 50.000 – 60.000 per kilogram berupa magnesium karbonat untuk keperluan bubuk antislip pada olahraga fitness dan panjat tebing/dinding.

Bahkan magnesium karbonat ini bisa menjadi bahan baku industri farmasi yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. ”Proses dari dolomit menjadi magnesium carbonat ini tidak memerlukan senyawa kimia, hanya CO2 saja,” ungkapnya.

author: ICHWAN SUSANTO
byline: ICHWAN SUSANTO

Editor -
Bagikan

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Agustus 2019 di halaman 10 dengan judul "Material Dalam Negeri Belum Dimanfaatkan". baca epaper kompas