Humaniora Perubahan Daftar PTN Favorit (2-Habis)

bebas akses PERGURUAN TINGGI

Perubahan Daftar PTN Favorit (2-Habis)

Dari perubahan pola pendaftaran SBMPTN, ada dua hal penyebab PTN favorit, seperti UI, UGM, ITB, dan IPB, tak lagi begitu dilirik pendaftar.

Oleh Dedy Afrianto
· 5 menit baca
KOMPAS/ERWIN EDHI PRASETYA (RWN) 12-08-2019

Tim Bengawan Formula Student Universitas Sebelas Maret (UNS)meluncurkan mobil balap Yudhistira di Kampus UNS, Solo, Jawa Tengah, Senin (12/8/2019). Mobil ini akan dipakai untuk lomba di ajang Formula Society of Automotive Engineers (SAE) Jepang, 27-31 Agustus 2019.

Dari perubahan pola pendaftaran SBMPTN, ada dua hal penyebab PTN favorit, seperti UI, UGM, ITB, dan IPB, tak lagi begitu dilirik pendaftar. Penyebab pertama adalah adanya nilai ujian tulis berbasis komputer yang dapat diketahui sebelum pendaftar memilih program studi.

Nilai ujian tulis berbasis komputer (UTBK) ini membantu para pendaftar mengukur kemampuan dari nilai yang dicapai. Dengan mengetahui nilai terlebih dahulu, peserta dapat menimbang peluang apakah dapat diterima pada PTN tertentu atau tidak.

Meski setiap program studi tidak menerbitkan prediksi nilai yang dibutuhkan untuk lolos, perbandingan tetap dapat dilakukan, yakni dengan melihat nilai rekan-rekan seangkatan dan rekam jejak senior di tahun sebelumnya yang lulus pada program studi tertentu.

Situasi inilah yang berdampak terhadap perubahan PTN yang dituju pendaftar. Akibatnya, PTN yang biasanya tidak dilirik pendaftar akhirnya berhasil menggaet calon pendaftar lebih banyak. Calon mahasiswa agaknya memilih risiko terkecil dengan memilih program studi yang peluangnya lebih besar di PTN yang tidak begitu favorit ketimbang risiko besar memilih program studi yang peluangnya lebih kecil di PTN favorit.

Faktor kedua penyebab perubahan pola pendaftar PTN adalah berkurangnya jumlah program studi yang dapat dipilih. Kini, setiap peserta hanya berkesempatan memilih dua program studi atau lebih sedikit ketimbang tahun lalu saat peserta SBMPTN bisa memilih tiga program studi.

Kondisi ini tentu menyebabkan pendaftar kian selektif untuk memilih universitas, terutama untuk universitas yang selama ini dikenal ketat dalam seleksinya, seperti UI, UGM, ITB, dan IPB University.

Prodi favorit
Hanya saja, perubahan sistem pendaftaran tidak mengubah prodi favorit. Jika melihat prodi favorit sejak tahun 2017, ilmu hukum masih menjadi primadona bagi para pendaftar SBMPTN.

Pada 2017, pendaftar pada Program Studi Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran 4.958 orang dengan daya tampung 228 orang. Artinya, hanya 4,6 persen jumlah pendaftar yang diterima. Jumlah pendaftar pada prodi ini naik menjadi 5.898 orang dengan daya tampung 251 orang pada 2018.

Tahun ini, ilmu hukum kembali menjadi prodi favorit. Perguruan tinggi negeri dengan jumlah pendaftar pada prodi ilmu hukum terbanyak adalah Universitas Diponegoro dengan jumlah pendaftar 3.702 orang. Jumlah pendaftar ini lebih sedikit dibandingkan dengan pendaftar tahun lalu yang 4.402 orang.

Sementara untuk bidang saintek, prodi pendidikan dokter masih primadona. Dalam dua tahun sebelumnya, pendidikan dokter di Universitas Padjadjaran menjadi jurusan dengan pendaftar terbanyak, yakni 5.979 pendaftar pada 2017 dan naik menjadi 6.513 pendaftar pada 2018.

Kini, peminat terbanyak untuk jurusan saintek masih didominasi prodi pendidikan dokter. Namun, pemilih terbanyak tak lagi didominasi Universitas Padjadjaran, tetapi Universitas Udayana dengan jumlah pemilih 2.301 pendaftar. Jumlah pendaftar ini menurun dibandingkan dengan tahun 2018 (3.006 pendaftar).

Hal menarik dari SBMPTN tahun ini adalah tingginya peminat untuk beberapa program studi di Universitas Pembangunan Nasional (UPN), baik di Jakarta, Jawa Timur, maupun Yogyakarta. Padahal, ketiga perguruan tinggi negeri ini baru saja berubah status menjadi PTN, tepatnya pada 2014.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Good Day, It's Payday!

Diskon 30% langganan Kompas.id, buku reguler, board game, & kaus. Promo berlaku di official store Harian Kompas di marketplace*, 22-30 September

Pada bidang soshum, dari 10 prodi terfavorit, lima di antaranya merupakan prodi dari UPN. Kelima prodi tersebut adalah Ilmu Komunikasi UPN ”Veteran” Jakarta, Manajemen UPN ”Veteran” Yogyakarta, Manajemen UPN ”Veteran” Jakarta, Ilmu Komunikasi UPN ”Veteran” Yogyakarta, dan Manajemen UPN ”Veteran” Jawa Timur.

Kondisi ini menggambarkan perubahan sistem berdampak pada semakin meratanya sebaran pendaftar pada setiap program studi dan universitas. Para pendaftar tak hanya terfokus pada PTN ternama.

Meratanya sebaran pendaftar juga terlihat dari jumlah pendaftar pada prodi terfavorit. Jika pada dua tahun sebelumnya jumlah pendaftar untuk prodi terfavorit dapat mencapai 5.000-6.000 pendaftar, kini jumlah pendaftar terbanyak hanya berkisar 2.000-3.000 pendaftar.

Artinya, terjadi penurunan hampir 50 persen untuk pendaftar prodi favorit. Padahal, pada saat bersamaan jumlah pendaftar SBMPTN hanya turun 16,9 persen.

Sistem baru ini memberikan dampak positif untuk mencegah adanya bangku kosong pada setiap program studi. Selain itu, penerapan sistem ini juga berdampak pada pemerataan persebaran para calon mahasiswa pada perguruan tinggi negeri di setiap daerah.

Komposisi tak berubah
Senada dengan prodi favorit, perubahan sistem pendaftaran juga tidak mengubah daftar kampus dengan rerata nilai tertinggi untuk peserta ujian yang lulus. Sama seperti tahun sebelumnya, universitas ternama, seperti UI, UGM, ITB, dan ITS, masih menjadi kampus dengan rata-rata nilai tertinggi untuk pendaftar yang diterima. Nilai rata-rata pendaftar yang diterima pada ketiga kampus ini adalah di atas 650.

Pada bidang saintek, ITB menjadi kampus dengan nilai rerata tertinggi di Indonesia untuk pendaftar yang diterima, yakni 689,75. Senada dengan ITB, nilai rerata pendaftar UI dan UGM yang lulus pada bidang saintek juga menduduki peringkat teratas, yakni 679,96 (UI) dan 659,06 (UGM).

Kampus ternama lainnya pada bidang saintek yang juga dilirik oleh pendaftar dengan nilai tinggi adalah ITS dengan rerata nilai 653,13. Pada tahun lalu, ITS juga masuk pada peringkat empat besar dengan nilai rerata untuk pendaftar yang diterima tertinggi di Indonesia. Prodi dengan rataan nilai tertinggi tahun lalu di kampus ini adalah informatika (645,98), teknik industri (642,24), dan teknik mesin (639,41).

UI, UGM, dan ITB juga menjadi kampus dengan nilai rerata tertinggi pada bidang soshum. Rata-rata nilai pendaftar yang diterima adalah 662,83 (UI), 662,64 (ITB), dan 659,91 (UGM). Meski tak masuk pada 10 besar kampus dengan pendaftar terbanyak, ketiga kampus ini tetap dilirik oleh pendaftar yang berhasil meraih nilai UTBK tinggi.

Kondisi ini menggambarkan bahwa peserta dengan nilai tinggi dalam UTBK tetap memilih kampus ternama sebagai pilihan universitas dalam SBMPTN. Artinya, sistem pendaftaran yang kini diterapkan efektif untuk memberikan gambaran bagi para pendaftar untuk memilih kampus pilihan sesuai dengan nilai yang diraih. (LITBANG KOMPAS)

Editor -
Bagikan