Humaniora Bukan Kusta yang Berbahaya, tetapi Ketidaktahuan

bebas akses Penyakit Kusta

Bukan Kusta yang Berbahaya, tetapi Ketidaktahuan

Ketidaktahuan warga dan terbatasnya layanan kesehatan membuat kusta yang sebenarnya tidak mudah menular menjadi terlambat diatasi.

Oleh Ahmad Arif
· 5 menit baca
KOMPAS/AHMAD ARIF

Peneliti Litbang Kesehatan Papua dibantu Dinas Kesehatan Asmat tengah mengambil sampel jaringan kulit di belakang telinga untuk identifikasi kusta di Kampung Jomnak, Distrik Joutu, Asmat, Kamis (15/8). Kampung-kampung di pedalaman Papua masih menjadi kantong kusta.

Awalnya, warga di Kampung Somnak dan Daikot, Distrik Joutu, di pedalaman Kabupaten Asmat, Papua, menganggap fenomena kulit mereka yang kebas, melepuh, nyeri persendian, hingga jemari tangan yang kaku, bahkan kelumpuhan, itu sebagai hal biasa. Apalagi, gejala ini dialami oleh banyak warga, termasuk anak-anak.

”Itu dulu kami kira penyakit kulit biasa saja. Tidak tahu sejak kapan, tetapi sudah lama orang-orang di kampung kami kena penyakit ini,” kata Kepala Kampung Somnak, Tadius Joutu (60).

Hingga pada April 2019, para petugas dari Litbang Kesehatan Papua yang dipimpin peneliti kusta, Hana Krisnawati, dan tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat datang ke dua kampung yang berjarak sekitar enam dan tujuh jam dengan perahu cepat dari kota Agats, ibu kota Asmat itu. Pemeriksaan awal menemukan sekitar 30 persen penduduk di dua kampung, yang masing-masing dihuni sekitar 200 dan 300 warga ini, menderita kusta.

”Awalnya kami mendapatkan informasi dari para perawat yang bertugas di kampung tentang dugaan banyak warga terkena kusta pada Februari 2019. Hanya saja, untuk mencapai ke sana memang sulit dan mahal sehingga baru bisa survei dua bulan kemudian,” kata Hana yang pada pertengahan Agustus 2019  kembali mengunjungi kampung ini. Kunjungan kali ini berbarengan dengan pemeriksaan genetika oleh para peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Dalam kunjungan kedua ini, jumlah penderita kusta yang ditemukan kembali bertambah. Seperti kampung-kampung lain di pedalaman Asmat, masyarakat di Somnak dan Daikot sehari-hari kebanyakan tinggal di bivak di dalam hutan dan hanya pada hari-hari tertentu ke kampung sehingga tidak sempat diperiksa pada April lalu.

”Gejalanya jelas kusta. Kulitnya mulai kebas, tidak lagi merasakan saat diraba,” ujar Elihud Robaha dari Dinas Kesehatan Papua, kepada seorang ibu yang tengah memeriksakan anaknya yang masih berusia sekitar sembilan tahun.

Bocah lelaki itu terlihat kurus dengan kulit punggung dipenuhi bercak putih melebar. Sebelah kakinya juga mulai mengecil, yang menandakan kuman Mycobacterium lepra mulai menyerang tulang. Elihud kemudian mengambil sel jaringan kulit di belakang telinga bocah untuk diperiksa lebih lanjut, selain juga sampel darahnya.

Kebanyakan yang diperiksa hari itu adalah anak-anak dan sebagian besar di antaranya didiagnosis telah terjangkit kusta. ”Kalau anak-anaknya kena, kemungkinan besar tertular dari orangtuanya. Penyakit ini tidak mudah ditularkan, butuh interaksi intensif dengan penderita baru bisa tertular, selain memang ada populasi tertentu yang secara genetik rentan dan dugaan saya Papua termasuk yang rentan,” kata Hana.

Selain faktor genetik, kerentanan di Papua juga dipicu oleh perilaku dan lingkungan. Menurut Tadius, warga kampungnya sangat jarang mandi. Jika pun mandi di sungai atau rawa-rawa, biasanya tetap dengan pakaian yang kemudian dibiarkan kering di badan.

”Kusta sangat dipengaruhi oleh kondisi tubuh kita. Jika kebersihan tubuh tidak baik, saat kuman kusta menyerang, imunnya sudah habis untuk melawan banyak bakteri lain. Apalagi, di Papua juga ada persoalan kekurangan nutrisi sehingga daya tahan tubuh juga lemah,” kata Hana.

Kusta sangat dipengaruhi oleh kondisi tubuh kita. Jika kebersihan tubuh tidak baik, saat kuman kusta menyerang, imunnya sudah habis untuk melawan banyak bakteri lain.

Selain berbagai faktor itu, meluasnya penyebaran kusta di dua kampung di pedalaman Asmat ini juga terjadi karena terlambatnya identifikasi dan pengobatan. Jika diobati sejak dini, kemungkinan penderita untuk menularkan kuman kusta sangat kecil.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Good Day, It's Payday!

Diskon 30% langganan Kompas.id, buku reguler, board game, & kaus. Promo berlaku di official store Harian Kompas di marketplace*, 22-30 September

Puncak gunung es

Dengan banyaknya daerah terisolasi, fenomena kusta di Papua sebenarnya ibarat puncak gunung es. Sejumlah perkampungan yang terisolasi di pedalaman Papua sangat mungkin menjadi kantong kusta.

Tingginya kerentanan kusta di Papua mulai terdeteksi pada 2009 saat ditemukan kasus kusta pertama di Kampung Mumugu, Distrik Sawaerma, Asmat. Kampung tersebut berbatasan dengan wilayah Nduga di Pegunungan Tengah. Jumlah penduduk yang menderita kusta di kampung ini hingga di atas 70 persen.

Sejak itu, pemerintah telah intensif melakukan pengobatan di Kampung Mumugu, di antaranya dengan menggandeng Keuskupan Agats. ”Pada Januari 2015, pemerintah memberikan pelayanan intensif setelah Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dua kali meninjau,” kata Ketua Yayasan Alfons Suwada Asmat (YASA) Keuskupan Agats, Pastor P Hendrikus Haga Pr.

Kini, kusta di Mumugu mulai teratasi. Namun, kantong-kantong baru kusta ternyata masih ditemukan. Selain kendala aksesibilitas ke daerah pedalaman, faktor sosial juga menjadi tantangan berat.

Perspektif sakit dari masyarakat di Papua juga cenderung berbeda. Menurut Hana, bagi masyarakat Papua umumnya merasa sakit jika sudah tidak bisa bergerak lagi. ”Kalau masih bisa melakukan sesuatu, bahkan malaria plus tiga, mereka masih merasa sehat. Apalagi kusta, yang gejalanya perlahan,” ujarnya.

Tantangan lainnya, menurut kajian Hana, sebagian penderita kusta di Papua ternyata memiliki alergi terhadap obat kusta ”dapson”. Padahal, dapson merupakan salah satu dari paket obat yang direkomendasikan Organisasi  Kesehatan Dunia (WHO) yang harus diminum setiap hari selama setahun. Orang yang alergi dapson ini biasanya matanya kuning, kulit bersisik, sesak napas, hingga meninggal.

”Beberapa waktu lalu, saya menemukan dua kasus anak penderita kusta yang meninggal karena alergi dapson. Karena hal ini belum diketahui luas, banyak rumah sakit yang belum tahu sehingga terlambat penanganannya,” kata Hana.

Menurut Hana, setiap penderita bisa memiliki respons alergi yang berbeda terhadap obat ini. Rata-rata gejala awal alergi mulai terdeteksi setelah dua hingga tiga minggu pengobatan. Namun, pernah ada kasus, pasien sudah hampir selesai berobat, tetapi kemudian jatuh sakit.

Hana menduga, masyarakat Papua memiliki faktor genetik yang membuat mereka hipersensitif dengan obat-obatan kusta ini. Maka, selain melakukan pemeriksaan penderita kusta, tugas para petugas medis ini juga untuk meneliti resistensi obat dan potensi alergi.

Dengan kompleksitas persoalan ini, upaya mengeliminasi kusta di Papua butuh perlakuan khusus. Namun, di antara berbagai persoalan ini, lapis yang paling mengkhawatirkan adalah ketidaktahuan warga dan terbatasnya layanan kesehatan sehingga kusta yang sebenarnya tidak mudah menular menjadi terlambat diatasi.

Editor -
Bagikan

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 September 2019 di halaman 1 dengan judul "Ancaman di Tengah Ketidaktahuan". baca epaper kompas