Politik & Hukum Mendag: Gagasan Habibie Melintasi Zaman

bebas akses indonesia berduka

Mendag: Gagasan Habibie Melintasi Zaman

Di saat kita tidak bisa berpikir untuk membuat pesawat, Habibie mulai membuat pesawat. Beliau memang berpikir jauh ke depan di luar zamannya.

Oleh M Paschalia Judith J
· 2 menit baca
KOMPAS/DUDY SUDIBYO

Kedua test-pilot Gatotkoco, Erwin Danuwinata bersama Sumarwoto, mendampingi Menristek Habibie di muka pesawat N-250.

JAKARTA, KOMPAS — Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie telah menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu (11/9/2019) malam. Di mata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Habibie merupakan sosok dengan gagasan yang melintasi zaman.

Hal itu digambarkan melaui pemikiran Habibie terkait pesawat. “Di saat kita tidak bisa berpikir untuk membuat pesawat, Habibie mulai membuat pesawat. Beliau memang berpikir jauh ke depan di luar zamannya,” kata Enggartiasto saat ditemui di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Saat kita tidak bisa berpikir untuk membuat pesawat, Habibie mulai membuat pesawat. Beliau memang berpikir jauh ke depan di luar zamannya.

Pada saat memimpin Indonesia, Habibie mengawali masa reformasi. Enggartiasto berpendapat, Habibie berhasil membawa demokrasi pada era kepemimpinannya.

Baca juga: Untung Habibie Ahli Aeronotika 

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan penjelasan terkait kebijakan sektor perdagangan saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/6/2019). Kebijakan peningkatan devisa menjadi salah satu topik sorotan dalam rapat pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian / Lembaga dan Rencana Kerja Pemerintah tahun 2020 tersebut.

Saat bersama-sama bernaung dalam Partai Golongan Karya (Golkar), Enggartiasto menilai Habibie sebagai sosok yang egaliter. Pada saat itu, Habibie menjabat sebagai dewan pembina dan Enggartiasto sebagai wakil bendahara umum.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Good Day, It's Payday!

Diskon 30% langganan Kompas.id, buku reguler, board game, & kaus. Promo berlaku di official store Harian Kompas di marketplace*, 22-30 September

“Saya pikir hanya dengan petinggi Golkar saja beliau akan cium pipi kanan-kiri, saya tidak termasuk. Ternyata, dia juga mencium pipi kanan-kiri saya. Kita semua diperlakukan sama, itu kelebihannya,” tuturnya.

Di akhir masa hidupnya, Enggartiasto menilai, Habibie kerap kali menyampaikan nasihat-nasihat persatuan bangsa agar Indonesia tidak tercerai-berai. Habibie selalu mengingatkan negara ini untuk bersatu.

Baca juga: Sebelum Menjadi Presiden, Habibie Telah Berpikir Indonesia Harus Demokratis

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Puspayoga menyatakan belasungkawa atas meninggalnya Habibie. “Semoga yang ditinggalkan diberi kekuatan untuk melanjutkan perjuangannya,” katanya.

Enggartiasto dan Puspayoga berada di dalam rapat kerja terkait anggaran di Komisi VI DPR RI. Sebelum rapat berakhir, peserta rapat mengheningkan cipta sebagai ungkapan duka atas meninggalnya Habibie.

Editor -
Bagikan