Humaniora Pemanasan Global Mereduksi Kemampuan Tanah Menyerap Air

bebas akses Perubahan Iklim

Pemanasan Global Mereduksi Kemampuan Tanah Menyerap Air

Pemanasan global bisa berdampak menurunkan kemampuan tanah untuk menyerap air. Peningkatan 35 persen curah hujan menyebabkan penurunan 21 persen hingga 33 persen tingkat infiltrasi air di tanah.

Oleh Ahmad Arif
· 3 menit baca
FOTO-FOTO: KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Lumpur sisa banjir bandang tampak di Kecamatan Oheo, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Minggu (4/8/2019). Banjir pada awal Juni lalu merupakan yang terparah di daerah tersebut. Banjir bandang menghantam 50 desa dan kelurahan di tujuh kecamatan. Sebanyak 370 rumah hanyut, dan puluhan ribu warga mengungsi. Kerugian mencapai Rp 109 miliar.

JAKARTA, KOMPAS — Pemanasan global bisa berdampak menurunkan kemampuan tanah untuk menyerap air. Hal itu memiliki implikasi serius bagi pasokan air tanah, produksi dan keamanan pangan, limpasan air hujan, hingga keanekaragaman hayati dan ekosistem.

Studi oleh para peneliti dari Beberapa kampus di Amerika Serikat meliputi Universitas Rutgers, Universitas California, Universitas Kansas, dan Universitas Colorado ini dipublikasikan dalam jurnal Science Advances pada 10 September 2019.

Penelitian dilakukan menggunakan lahan percobaan yang diberikan hujan buatan selama 25 tahun.

Tim ilmuwan menemukan bahwa peningkatan 35 persen curah hujan menyebabkan penurunan 21 persen hingga 33 persen tingkat infiltrasi air di tanah dan hanya sedikit peningkatan retensi air. Perubahan terbesar terjadi karena menyusutnya pori-pori tanah yang besar.

Tim ilmuwan menemukan bahwa peningkatan 35 persen curah hujan menyebabkan penurunan 21 persen hingga 33 persen tingkat infiltrasi air di tanah dan hanya sedikit peningkatan retensi air.

Pori-pori besar berguna menangkap air dan dapat digunakan tanaman serta mikroorganisme. Hal ini juga berkontribusi pada peningkatan aktivitas biologis dan siklus nutrisi dalam tanah untuk mencegah erosi tanah. Namun, meningkatnya curah hujan menyebabkan akar tanaman membesar dan dapat menyumbat pori-pori tanah.

BPBD KOTABARU

Banjir melanda wilayah Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (8/6/2019). Banjir dipicu hujan deras yang terjadi sejak Sabtu pagi.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.

Mengingat bahwa rezim curah hujan diperkirakan akan berubah dengan laju yang semakin cepat secara global, pergeseran dalam struktur tanah dapat terjadi di wilayah yang luas dan dengan demikian mengubah penyimpanan dan pergerakan air di berbagai ekosistem darat.

“Karena pola curah hujan dan kondisi lingkungan lainnya bergeser secara global akibat dari perubahan iklim, kajian kami menunjukkan interaksi air dengan tanah juga berubah di banyak bagian dunia, dan itu terjadi dengan cukup cepat,” kata Daniel Giménez, ilmuwan tanah dan profesor di Departemen Ilmu Lingkungan di Rutgers University-New Brunswick, dalam siaran pers kampus ini.

Air di tanah sangat penting untuk menyimpan karbon, dan perubahan tanah dapat mempengaruhi tingkat karbon dioksida di udara. Karbon dioksida adalah salah satu gas rumah kaca utama yang terkait dengan perubahan iklim.

Air di tanah sangat penting untuk menyimpan karbon, dan perubahan tanah dapat mempengaruhi tingkat karbon dioksida di udara.

Giménez ikut menulis sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature tahun sebelumnya yang menunjukkan bahwa peningkatan curah hujan regional karena perubahan iklim dapat mengurangi infiltrasi air ke dalam tanah, menyebabkan lebih banyak limpasan air dan erosi, dan risiko banjir bandang yang lebih besar.

Berapa banyak air hujan akan menyusup atau mengalir di permukaan tanah menentukan berapa banyak air yang akan tersedia untuk tanaman atau akan menguap ke udara. Penelitian telah menunjukkan bahwa infiltrasi air ke tanah dapat berubah selama satu hingga dua dekade dengan meningkatnya curah hujan, dan perubahan iklim diperkirakan akan meningkatkan curah hujan di banyak wilayah di dunia.

Editor Yovita Arika
Bagikan