Nusantara Sekolah yang Dibangun Dana Kemanusiaan ”Kompas” Hampir Rampung

bebas akses BANTUAN KEMANUSIAAN

Sekolah yang Dibangun Dana Kemanusiaan ”Kompas” Hampir Rampung

Gedung sekolah yang dibangun Yayasan Dana Kemanusiaan ”Kompas” pascagempa di Sulawesi Tengah hampir rampung. Ruang-ruang kelas tersebut diperkirakan bisa ditempati pada akhir Oktober ini.

Oleh VIDELIS JEMALI
· 3 menit baca

PALU, KOMPAS — Gedung sekolah yang dibangun Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas pascagempa di Sulawesi Tengah hampir rampung. Ruang-ruang kelas tersebut diperkirakan bisa ditempati akhir Oktober ini. Selama ini, siswa belajar di tenda darurat.

Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas membangun empat sekolah di Sulteng. Dua sekolah dibangun di Palu, dua sekolah lainnya di Kabupaten Sigi. Empat sekolah itu hancur total saat gempa hampir setahun lalu, 28 September 2018. Dana yayasan merupakan donasi pembaca harian Kompas dan konser amal sejumlah artis Indonesia untuk membantu pemulihan pascabencana di Sulteng.

KOMPAS/VIDELIS JEMALI

Tampak gedung sekolah SD Inpres Bayoge, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Sulteng, Kamis (12/8/2019), yang dibangun Yayasan Dana Kemanusiaan ”Kompas”. Gedung lama hancur karena gempa hampir 1 tahun lalu.

Salah satu sekolah yang dibantu itu adalah SD Inpres Boyage, Kecamatan Tatanga, Kota Palu. Pantaun Kompas pada Kamis (12/9/2019), enam ruang kelas sudah dibangun semuanya. Dua ruangan telah lengkap dengan plafon dan keramik. Sisanya masih dikerjakan dinding, lantai keramik, dan plafonnya. Pekerja yang berjumlah 15 orang mengerjakan elemen-elemen gedung.

Baca juga: Huntara dari DKK dan Musisi Indonesia untuk Penyintas Gempa Palu

Kepala Sekolah SD Inpres Bayoge Salbia menyampaikan, menurut rencana gedung baru akan ditempati satu bulan lagi. ”Kami harap itu tercapai karena sudah hampir setahun kami di tenda darurat,” katanya saat ditemui di sekolah darurat di tanah lapang sekitar 200 meter dari bangunan sekolah lama.

KOMPAS/VIDELIS JEMALI

Siswa menyiram tanah di lorong antartenda darurat yang dipakai untuk kegiatan belajar SD Inpres Bayoge, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Sulteng, Kamis (12/8/2019). Debu beterbangan dari lorong antartenda saat kegiatan belajar berlangsung.

Para siswa selama ini belajar di tenda darurat. Tenda dibangun dengan dinding bambu setinggi 1 meter, disambung dengan terpal. Atap tenda dari rumbia menggantikan terpal yang sudah robek atau rusak. Debu dari bambu yang dimakan rayap dan lantai tanah di lorong antartenda juga cukup mengganggu kegiatan belajar. Tenda itu didirikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan satu bulan setelah gempa terjadi.

Kami harap itu tercapai karena sudah hampir setahun kami di tenda darurat.

Manajer Proyek Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas Zaenal mengatakan, sesuai rencana, pembangunan empat sekolah tersebut dipastikan rampung pada akhir Oktober. Pembangunan SD Inpres Bayoge termasuk salah satu yang progesnya cepat. ”Ditargetkan pada November sekolah-sekolah itu diresmikan dan diserahkan kepada pemerintah,” katanya saat dihubungi dari Palu.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Beli Kompas.id, Main ke Toko Buku Kemudian!

Langganan Kompas Digital Premium 3, 6, atau 12 bulan sekarang dan dapatkan voucer Gramedia Store hingga Rp200.000.
KOMPAS/VIDELIS JEMALI

Siswa masih belajar di tenda darurat di SD Negeri 21 Kota Palu di Kecamatan Tatanga, Sulteng, Kamis (12/8/2019). Gedung sekolah mereka hancur karena gempa hampir setahun lalu.

Selain SD Inpres Bayoge, masih banyak sekolah di Kota Palu menggelar kegiatan belajar di tenda darurat. Persis di samping ruang-ruang kelas SD Inpres Bayoge ada SD Negeri 21 Palu. Ruang kelas juga mirip dengan SD Inpres Bayoge. Pemandangan sama juga dijumpai di SD Negeri Pengawu, Kecamatan Tatanga.

Baca juga: Kerugian Gempa Bumi Palu-Donggala Capai Rp 13,82 Triliun

Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu, saat ini dari 200-an sekolah yang terdampak bencana, separuhnya sudah diperbaiki dan sedang dikerjakan.

Ditargetkan pada November sekolah-sekolah itu diresmikan dan diserahkan kepada pemerintah.

Menunggu anggaran

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu Ansyar Sutiadi mengatakan, perbaikan sekolah menunggu anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pemkot Palu, dan yayasan atau lembaga swasta yang membantu. Dalam dua tahun diharapkan semua sekolah sudah diperbaiki. Dua tahun merupakan jangka waktu tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa Sulteng.

Selain gedung sekolah, Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas membangun hunian sementara di Kota Palu dan Kabupaten Sigi untuk penyintas. Hunian sementara tersebut ditempati sejak April 2019.

KOMPAS/VIDELIS JEMALI

Kampanye menjaga dan hemat penggunaan air ditampilkan di dinding unit atau blok hunian sementara (huntara) di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Senin (9/9/2019). Masalah air menjadi salah satu masalah utama saat huntara ditempati pada awal 2019. Penghuni huntara diminta menjaga sumber-sumber air dan hemat menggunakan air.

Editor -
Bagikan