Humaniora Yang Bisa Kita Lakukan di Tengah Ancaman Perubahan Iklim

bebas akses LINGKUNGAN HIDUP

Yang Bisa Kita Lakukan di Tengah Ancaman Perubahan Iklim

Indonesia dan dunia dihadapkan pada dua isu besar terkait perubahan iklim, yakni menipisnya lapisan ozon dan kondisi emisi gas rumah kaca yang kian mencemaskan. Banyak hal yang bisa kita lakukan di tengah ancaman ini.

Oleh Fajar Ramadhan
· 5 menit baca

 

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tolo-1 di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Sabtu (2/2/2019). PLTB berkapasitas 72 MW ini menjadi PLTB terbesar kedua di Indonesia setelah PLTB Sidrap yang berkapasitas 75 MW. Ada 20 kincir angin yang terpasang di PLTB ini. Beroperasinya PLTB ini akan memperkuat pasokan listrik di Sulawesi Selatan. Pemerintah akan terus mendorong penggunaan sumber energi baru terbarukan.

Indonesia dan dunia kini tengah menghadapi dua isu besar terkait perubahan iklim, yakni semakin menipisnya lapisan ozon dan kondisi emisi gas rumah kaca yang kian mencemaskan. Meski keduanya memiliki dampak yang berbeda, ada satu persamaannya, semua berasal dari kebiasaan manusia mengabaikan lingkungan hidup.

Lapisan ozon selama ini berfungsi sebagai penyaring sinar ultraviolet (UV) yang masuk ke bumi. Menipisnya lapisan tersebut menjadikan sinar UV yang masuk ke bumi menjadi tidak terbendung. Padahal, unsur radikal pada sinar UV itu dapat membahayakan manusia.

”Senyawa CFC bereaksi dengan UV dan membentuk klorin yang menggerus lapisan ozon,” kata Kepala Subbidang Analisis Komposisi Kimia Atmosfer Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Eka Suharguniyawan, di Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Penipisan lapisan ozon terjadi akibat penggunaan perlengkapan rumah tangga yang mengandung kloroflourocarbon (CFC) dari manusia. CFC tersebut umumnya berasal dari kebocoran alat pendingin, seperti lemari pendingin dan pendingin ruangan atau penggunaan spray. Kebocoran CFC biasanya terjadi pada produk pendingin yang sudah lama digunakan.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN

Kepala Subbidang Analisis Komposisi Kimia Atmosfer BMKG Eka Suharguniyawan saat memberikan penjelasan, di Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Risiko kanker

Konsultan Dermatologi Venereologi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soetomo Cita R S Prakoeswa mengatakan, keberadaan lapisan ozon penting untuk menyerap 97-99 persen sinar UV frekuensi tinggi. Jika penipisan lapisan ozon terus terjadi, sinar UV frekuensi tinggi itu dapat meningkatkan risiko kanker dan efek negatif pada kulit manusia.

Akibat penipisan ozon tersebut, misalnya, sinar UV-A yang menerpa kulit manusia dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kulit menua dan menghitam. Adapun untuk sinar UV-B efeknya jauh lebih ekstrem, yakni bisa mengakibatkan kulit menjadi terbakar.

”Kulit yang terbakar tersebut menjadi faktor risiko utama melanoma dan kanker kulit non-melanoma,” ujar Cita.

Menurut dia, kelompok yang lebih rentan terkena risiko tersebut adalah bayi, anak-anak dan orang berkulit putih. Masyarakat pun dianjurkan melindungi tubuh dari paparan sinar UV secara langsung. Jika diperlukan, bisa juga menggunakan tabir surya alami yang melindungi dari sinar UV-A dan UV-B serta mengandung antioksidan, vitamin, dan mineral.

Saat ini, kondisi penipisan ozon paling parah terjadi di Antartika. Meski begitu, sebagai langkah antisipatif, sejak 1992 Indonesia telah meratifikasi Protokol Montreal hasil Konvensi Geneva bersama 35 negara lainnya. Aturan tersebut salah satunya fokus menekan penggunaan bahan perusak ozon.

Baca juga: Kotak Pandora

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN

Kepala Pusat Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan saat ditemui di Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Untuk itu, Kepala Pusat Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan meminta agar masyarakat memilih produk-produk elektronik lemari pendingin atau pendingin ruangan dengan teknologi R32. Teknologi tersebut diklaim sebagai teknologi yang ramah lingkungan sebab sudah tidak mengandung CFC di dalamnya.

”Hindari juga penggunaan pestisida atau pupuk kimia. Selain itu, menanami tumbuhan peneduh juga penting untuk menghalangi paparan UV secara langsung,” ujarnya.

Gas rumah kaca

Jika penipisan lapisan ozon menyebabkan paparan langsung sinar UV frekuensi tinggi, lapisan gas rumah kaca menyebabkan inframerah dalam sinar UV tidak mampu memantul keluar dari atmosfer. Akibatnya, cuaca di bumi menjadi lebih panas dari semestinya akibat radiasi inframerah tersebut. Hal ini memberi dampak pada perubahan iklim.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.

Penyebabnya lagi-lagi dekat dengan aktivitas kita sehari-hari. Emisi gas rumah tangga terjadi antara lain dari penggunaan energi dan bahan bakar berbahan fosil secara masif atau pembakaran lahan dan sampah anorganik. Polutan-polutan tersebut menghasilkan karbondioksida (CO2) yang menyelimuti bumi.

Baca juga: Tanpa Terobosan Energi Terbarukan, Target NDC Sulit Dicapai

Jika penipisan lapisan ozon sudah mempunyai langkah penanganan dengan teknologi R32, hingga saat ini belum ada langkah konkret penanganan emisi gas rumah kaca. Salah satu cara paling mudah yang bisa dilakukan adalah penghematan energi atau beralih pada penggunaan energi baru terbarukan.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN

Kepala Sub Bidang Analisis Komposisi Kimia Atmosfer BMKG Eka Suharguniyawan di Jakarta, Selasa (17/9/2019).

”Di rumah, bisa dimulai dengan menghemat listrik atau menggunakan elektronik berbahan LED. Lebih bagus jika sudah memanfaatkan tenaga surya,” kata Eka Suharguniyawan.

Grafik Perbandingan Konsentrasi CO2 antara Stasiun Pengamatan BMKG di Kototabang-Global-Mauna Loa (AS) menunjukkan emisi gas rumah kaca Indonesia dan dunia yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2009, konsentrasi CO2 Indonesia berada di kisaran 375 bagian per juta (ppm), sementara pada Juli 2019 jumlahnya sudah lebih dari 405 ppm.

Adapun Konferensi Perubahan Iklim pada 2015 yang melahirkan Kesepakatan Paris menyatakan ambang batas konsentrasi CO2 adalah sebesar 450 ppm. Dengan asumsi, jika konsentrasi melebihi batas tersebut, dunia akan mengalami kenaikan suhu lebih dari 2 derajat celcius.

Baca juga: Pasar Energi Surya: Antara Gairah dan Belenggu

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN

Perbandingan konsentrasi CO2.

”Dengan begitu, es di kutub akan lebih cepat mencair sehingga kenaikan permukaan laut akan terjadi. Dengan demikian, banjir rob akan terjadi dan pulau-pulau akan menciut,” ujar Eka menambahkan.

Konsentrasi CO2 diperkirakan bisa menembus ambang batas sesuai Kesepakatan Paris dalam waktu sekitar 15 tahun jika tidak muncul kesadaran penanganan secara kolektif.

Baca juga: Masyarakat Ingin Beralih ke Energi Bersih

Menurut Ketua Program Studi Pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Padang Indang Dewata, masyarakat harus memahami bahwa permasalahan lingkungan bukan hanya tentang pengelolaan sampah, melainkan juga yang berkaitan dengan perubahan iklim. Dibutuhkan kampanye-kampanye soal perubahan iklim secara masif.

”Hindari pembakaran sampah plastik yang saat ini masih cukup tinggi. Sebab, gas metan yang dihasilkan berdampak buruk pada lingkungan,” ujarnya.

Baca juga: Perubahan Iklim dan Kemiskinan

Selain penanaman pohon darat, pohon bakau menjadi salah satu cara untuk melawan emisi gas rumah kaca. Selain itu, keberadaan terumbu karang di dasar laut harus dijaga, bahkan dilestarikan, karena dapat turut mencegah timbulnya emisi tersebut. Hal paling mudah yang bisa dilakukan masyarakat adalah seperti yang sudah dibahas sebelumnya, yakni mengurangi penggunaan energi fosil, seperti BBM, dengan beralih ke penggunaan kendaraan umum.