Ekonomi Penataan Kawasan Stasiun Manggarai Jadi Tantangan Berat

bebas akses transportasi

Penataan Kawasan Stasiun Manggarai Jadi Tantangan Berat

Pemerintah akan menjadikan Stasiun Manggarai sebagai pusat stasiun kereta api yang melayani perjalanan kereta jarak jauh dan kereta rel listrik mulai 2021. Penataan kawasan stasiun tersebut menjadi tantangan berat.

Oleh ayu pratiwi
· 4 menit baca
KOMPAS/RIZA FATHONI

Calon penumpang KRL memadati peron Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Kamis (24/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS – Pemerintah akan menjadikan Stasiun Manggarai di Jakarta Selatan sebagai pusat stasiun kereta api yang melayani perjalanan kereta jarak jauh antarkota dan kereta rel listrik mulai 2021. Pemerintah akan memulainya dengan menata kawasan sekitar stasiun tersebut yang padat dan semrawut.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Kementerian Perhubungan Sugihardjo di Jakarta, Kamis (10/9/2019), mengatakan, penataan itu penting untuk memberikan akses masyarakat ke Stasiun Manggarai.

“Kalau kawasan dan stasiun itu belum siap, ya jangan dipaksakan. Perlu ditata dulu. Targetnya kan baru 2021,” kata dia.

Kalau kawasan dan stasiun itu belum siap, ya jangan dipaksakan. Perlu ditata dulu. Targetnya kan baru 2021.

Kondisi jalan di sekitar Stasiun Manggarai saat ini kurang nyaman atau teratur. Apalagi sejak Stasiun Manggarai mulai melayani kereta bandara pada Sabtu pekan lalu. Sering kali kawasan itu dipadati kendaraan umum, ojek, dan ojek daring yang ngetem.

Tidak sedikit pula pedagang kaki lima yang berjualan di tepi jalan dan di trotoar. Fasilitas parkir stasiun itu juga masih minim, karena hanya menyediakan tempat parkir untuk kendaraan roda dua, tidak ada untuk kendaraan roda empat.

KOMPAS/AYU PRATIWI

Suasana di Stasiun Kereta Api Bandara di Stasiun Manggarai, Jakarta, Senin (7/10/2019). Kereta Api Bandara lewat stasiun itu sejak dua hari sebelumnya.

Sugihardjo mengemukakan, saat ini Stasiun Manggarai memang belum melayani kereta api jarak jauh antarkota. Namun sejak Orde Baru, stasiun itu dikonsep sebagai stasiun kereta jarak jauh dan komuter Jakarta, Bogor, Depok, Tengerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Dengan menjadi pusat stasiun kereta api, Stasiun Manggarai akan melayani perjalanan kereta api jarak jauh antarkota. Stasiun itu juga menghubungkan stasiun-stasiun antarkota Jabodetabek, serta stasiun bandara.

“Ini akan memudahkan pergerakan penumpang di wilayah Jabodetabek yang menuju atau dari bandara atau yang akan dan telah memanfaatkan kereta api jarak jauh,” kata dia.

Baca juga: Kereta Bandara Kini Menjangkau Stasiun Manggarai

Sugihardjo juga belum dapat memastikan fungsi Stasiun Gambir setelah rencana pemindahan pusat stasiun itu diputuskan. “Ini akan dilihat bertahap, apakah secara keseluruhan atau hanya pada jurusan tertentu. Yang pasti, hub-nya di Manggarai,” ujar Sugihardjo.

KOMPAS/KRISTIAN OKA PRASETYADI

Beberapa pengojek menunggu dan menjemput penumpang di depan Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Presiden Dilantik, Dapatkan Diskon Terbaik!

Khusus 20 Oktober 2019, nikmati diskon 50% untuk berlangganan Kompas Digital Premium, buku, board game, dan kaus. Gunakan kode DILANTIK50.

Mantan Menteri Perhubungan dan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Ignasius Jonan mengatakan, Stasiun Gambir tetap harus melayani kereta api jarak jauh. Pengalihan perjalanan kereta api jarak jauh dari Stasiun Gambir ke Stasiun Manggarai tidak tepat.

Hal itu mengingat lalu lintas dari dan menuju Stasiun Manggarai masih sangat menantang. Stasiun Manggarai adalah stasiun pengendali dari banyak arah perjalanan kereta api, termasuk kereta bandara.

“Jika kereta api jarak jauh dipindah ke Stasiun Manggarai bersama kereta bandara, maka sebaiknya Stasiun Manggarai tidak lagi melayani penumpang KRL,” kata dia.

Pengalihan perjalanan kereta api jarak jauh dari Stasiun Gambir ke Stasiun Manggarai tidak tepat. Hal itu mengingat lalu lintas dari dan menuju Stasiun Manggarai masih sangat menantang.

Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Deddy Herlambang menyatakan pentingnya memperbaiki akses jalan dari dan menuju Stasiun Manggarai. Pemerintah perlu belajar dari permasalahan yang dialami Bandara Kertajati di Jawa Barat.

“Bandara itu merupakan sebuah bandara baru dan megah, Jika tidak didukung infrastruktur akses menuju bandara, okupansi bandara juga sulit mencapai ideal sesuai kapasitas yang diinginkan,” katanya.

KOMPAS/AYU PRATIWI

Suasana di Stasiun Kereta Api Bandara di Stasiun Manggarai, Jakarta, Senin (7/10/2019). Kereta Api Bandara lewat stasiun itu sejak dua hari sebelumnya.

Deddy juga menyinggung belum adanya parkir kendaraan roda empat dan area pengantaran dan penjemputan di Stasiun Manggarai yang juga melayani kereta bandara. Integrasi dengan angkutan massal bus Metrotrans atau Transjakarta memang telah ada, tetapi okupansinya masih sangat minim.

“Pengguna kereta api bandara atau kereta api antarkota pasti akan memilih diantar jemput mobil pribadi atau taksi karena membawa banyak barang bawaan,” ujar Deddy.

Baca juga: Sejarah Stasiun Kereta dari Stasiun Jakarta Kota

Ia mencatat, saat ini, ada lebih dari 100.000 penumpang per hari yang transit di Stasiun Manggarai. Sementara itu, ada 766 perjalanan kereta api, termasuk kereta bandara yang beroperasi di sana sejak hampir seminggu.

“Jumlah perjalanan itu sangat besar. Namun akses dan angkutan penghubung ke Stasiun Manggarai terlalu kecil. Saya tidak terlalu yakin dalam waktu dua tahun bisa dibangun infrastruktur jalan sesuai kapasitas Stasiun Manggarai,” ucap Deddy.