Riset Linimasa Nyanyian Sunyi Bangsa Kurdi

KONFLIK SURIAH

Nyanyian Sunyi Bangsa Kurdi

Penarikan pasukan Amerika Serikat dari perbatasan Turki-Suriah membuat milisi Kurdi bekerja sendirian menghadapi serangan Turki dan bayang-bayang kembalinya kekuatan NIIS.

Oleh RANGGA EKA SAKTI
· 7 menit baca

Denting penarikan pasukan Amerika Serikat dari Suriah meninggalkan nada-nada sunyi bagi milisi Kurdi yang tergabung dalam Pasukan Demokratik Suriah. Mereka yang selama ini menjadi tumpuan Amerika Serikat dalam perang menghadapi Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) kini sendirian menghadapi serbuan Turki dan bayang-bayang kembalinya kekuatan ISIS.

Amerika Serikat mulai menarik militernya dari Suriah pada 7 Oktober 2019. Pasukan AS mundur dari lokasi-lokasi kunci di perbatasan Turki, seperti kota Ras al-Ain dan Tal Abyad. Ini tindak lanjut dari keputusan Presiden AS Donald Trump, 14 Desember 2018, yang mengumumkan penarikan militer AS dari Suriah. Alasannya, perang terhadap kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) di Suriah sudah berakhir.

Namun, konflik Suriah belum benar-benar berakhir. Dua hari setelah AS menarik pasukannya, militer Turki malah menggempur wilayah Suriah utara yang berbatasan dengan Turki. Ankara menyatakan, target serangan itu adalah kelompok militan Kurdi dan milisi NIIS di Suriah utara.

Turki memanfaatkan penarikan pasukan AS dan konflik Suriah untuk menuntaskan keinginan lamanya, memerangi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang selama ini dianggap sebagai kepanjangan partai terlarang di Turki, Partai Pekerja Kurdistan.

Perginya AS dari perbatasan Turki-Suriah membuat rencana Presiden Turki Erdogan mewujudkan zona aman seluas 32 kilometer ke wilayah Suriah timur laut makin mulus. Erdogan ingin membuat zona aman yang bisa menampung kembalinya sekitar 2 juta pengungsi Suriah di Turki. Syarat zona aman ini juga harus bebas dari milisi Kurdi. Artinya, strategi ini membuat milisi Kurdi harus berhadapan dengan militer Turki yang tidak menghendaki keberadaan mereka.

Bangsa Kurdi

Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, koalisi militer AS dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang merupakan kelompok paramiliter Kurdi cukup berhasil melakukan kontra-terorisme NIIS. Koalisi ini mencatatkan berbagai prestasi gemilang, seperti pengambilan kembali Raqqa, kota yang sempat menjadi ibu kota de facto NIIS.

Sayangnya, keberhasilan ini kemungkinan besar tidak akan terulang akibat Trump gagal memahami dinamika hubungan kelompok etnis Kurdi dengan Turki yang penuh konflik. Alih-alih menambah kekuatan, Trump justru menarik pasukan AS dan mengizinkan Turki menekan posisi SDF dengan memobilisasi kekuatan militer negaranya.

Bangsa Kurdi adalah sebuah kelompok etnis di kawasan Timur Tengah. Setidaknya, 30 juta orang Kurdi hidup di wilayah ini. Walaupun jumlahnya besar, hingga saat ini bangsa tersebut tidak memiliki negara sendiri. Alih alih, populasi golongan ini tersebar di beberapa negara, yang paling besar ialah Iran, Irak, Suriah, dan Turki. Di Turki sendiri, setidaknya seperlima penduduknya (15,8 juta orang) merupakan etnis Kurdi.

Jika ditarik ke belakang, bangsa Kurdi mendiami wilayah Kerajaan Ottoman. Setelah Perang Dunia I usai, Kerajaan Ottoman pecah dan bangsa Kurdi bermaksud memerdekakan diri.

Namun, perjuangan etnis Kurdi untuk mencapai kemerdekaan masih berlanjut hingga saat ini. Tak ayal, hubungan antara golongan Kurdi dan Pemerintah Turki dipenuhi dengan konflik.

Sejak 1978, setelah Abdullah Ocallan mendirikan Partai Buruh Kurdi, kelompok ini telah berusaha melawan otoritas Turki untuk membela hak-hak budaya serta politik mereka. Terlebih lagi, mereka juga ingin mendirikan negara Kurdi (Kurdistan) yang independen.

Upaya mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan tidak selamanya dilakukan secara damai. Beberapa aksi pemberontakan menyebabkan setidaknya 40.000 nyawa telah melayang hingga kini.

Di Suriah, kelompok Kurdi menduduki beberapa kota di bagian utara. Kota-kota tersebut ialah Afrin di bagian barat laut yang berbatasan langsung dengan Turki, Qamishli di bagian timur laut, dan Kobane (Ain al-Arab) di utara tengah.

Setelah gelombang demonstrasi dan krisis Suriah pada 2011, golongan Kurdi yang tergabung dengan nama Kurdish People Protection Unit (YPG) yang kemudian bertransformasi menjadi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) berusaha untuk menggunakan momentum tersebut guna merebut kemerdekaan.

Karena YPG berafiliasi dengan Partai Buruh Kurdi dan posisi kelompok ini berada di perbatasan Turki, keberadaan YPG praktis dianggap sebagai ancaman atas kedaulatan negara oleh Turki.

AP PHOTO/ANHA

Iring-iringan kendaraan militer Amerika Serikat menyusuri jalan utama di timur laut Suriah, Senin (7/10/2019). Menurut pasukan Kurdi yang didukung AS di Suriah, pasukan AS mulai menarik diri dari posisi mereka di sepanjang perbatasan Turki di timur laut Suriah. Penarikan diri AS itu berpotensi membalikkan keadaan setelah pencapaian dalam pertempuran melawan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Dapatkan Cashback 30% dari OVO!

Pakai OVO sebagai metode pembayaran di Gerai Kompas, dapatkan cashback 30% (maksimal Rp10.000) di Kompas.id! Hanya berlaku hingga 31 Desember 201

Kontribusi bangsa Kurdi

Kontribusi pasukan militan Kurdi tak dapat diremehkan dalam perang melawan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) di Suriah. Kelompok militan ini mulai memerangi ISIS pada 2014 setelah kota Kobane di Suriah diserang oleh NIIS. Serangan ini menyebabkan lebih dari 200.000 warga etnis Kurdi dan ribuan warga Suriah lain terlunta-lunta.

Setahun berselang, kelompok militan Kurdi, yang dibantu oleh pasukan dan serangan udara AS, berhasil mengambil alih kota Kobane. Keberhasilan serupa juga dapat diulang pada 2017 saat mereka berhasil mengambil alih Raqqa, wilayah yang disebut-sebut sebagai ibu kota NIIS.

Tidak hanya memukul mundur, mereka pun berhasil menangkap dan menahan ribuan pasukan NIIS yang menghambat pergerakan kelompok tersebut. Keberhasilan ini menghasilkan stabilitas di kawasan utara Suriah selama beberapa tahun terakhir.

Amerika Serikat sendiri bergabung dalam upaya melawan NIIS pada 2014. Di bawah perintah dari Presiden Obama, AS memberikan dukungan berbentuk finansial dan pelatihan militer kepada beberapa kelompok pemberontak di Suriah, termasuk YPG.

Tidak hanya itu, AS juga mulai memobilisasi pasukan untuk ditempatkan di Suriah dan membantu menyerang basis pertahanan NIIS menggunakan serangan udara.

Pada 30 Desember 2018, Trump mengumumkan bahwa ia akan memulangkan para pasukan AS yang bertugas di Suriah. Pernyataan yang tiba-tiba ini memancing reaksi keras dari beberapa pihak Kementerian Pertahanan AS. Salah satunya Jim Mattis, mantan Menteri Pertahanan AS, yang segera mengundurkan diri setelah pengumuman tersebut diutarakan Trump.

Ia menyatakan bahwa upaya yang selama ini telah dibangun untuk memerangi NIIS akan berantakan jika pasukan AS ditarik mundur. Hal ini akibat kelompok militan yang bergerilya melawan NIIS masih belum kuat untuk melakukan aksi kontra-terorisme tanpa dukungan finansial dan pasukan AS.

Walau mendapatkan respons yang keras dari para politisi AS, rencana Trump untuk memulangkan para pasukan itu tetap dijalankan. Pasukan militer AS akhirnya berbondong-bondong meninggalkan Suriah pada minggu pertama Oktober 2019.

Foto-foto dari laman Newseum

Ancaman NIIS

Walau koalisi militer AS dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) berhasil meredam aktivitas NIIS, kegiatan kelompok teroris tersebut masih jauh dari kata selesai. Di beberapa wilayah Suriah, seperti di bagian utara, barat laut, dan timur laut yang berbatasan dengan Irak dan Turki, aktivitas terorisme NIIS masih terdeteksi.

Menurut laporan dari Kementerian Pertahanan AS, kelompok Pasukan Demokratik Suriah (SDF) masih kesulitan untuk melawan aksi-aksi NIIS, terutama yang berada di kawasan lembah Sungai Eufrat bagian tengah.

Salah satu alasan sulitnya membendung aksi NIIS ialah karena jumlahnya yang masih besar. Walau telah menahan 11.000 anggota dan pasukan NIIS, jumlah mereka diperkirakan masih ada 14.000-18.000 yang tersebar di Suriah dan Irak.

Tidak hanya itu, walau bukan dalam bentuk besar seperti pendudukan sebuah kota, NIIS juga masih kerap melakukan serangan dalam bentuk pembunuhan tokoh, bom bunuh diri, hingga pembakaran desa. Menurut dokumen dari Kementerian Pertahanan AS, aktivitas ini bahkan berhasil membatasi pergerakan dan menimbulkan korban dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Turki memanfaatkan penarikan pasukan AS untuk menuntaskan keinginan lamanya, memerangi milisi Kurdi yang selama ini dianggap sebagai kepanjangan partai terlarang di Turki, Partai Pekerja Kurdistan.

Pada kuartal pertama 2019 saja, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) berhasil membunuh 13 orang dan menangkap 152 anggota NIIS. Tidak hanya itu, SDF juga berhasil mengamankan lebih dari 8.000 bahan peledak di seluruh kawasan yang dikuasai NIIS. Melihat hal tersebut, pelemahan SDF bisa dipastikan akan semakin memperlemah upaya perlawanan terhadap NIIS.

Maka, perkembangan di Suriah kali ini praktis memukul pasukan SDF, yang akhirnya memaksa mereka untuk melarikan diri dan meninggalkan basis kekuatan mereka. Tidak hanya basis, mereka pun terpaksa meninggalkan 11.000 anggota NIIS yang selama ini mereka tahan.

Apalagi, fokus dari pasukan Turki bukanlah melawan NIIS, melainkan menggerus kekuatan milisi SDF. Tanpa ada yang menjaga, belasan ribu anggota NIIS tersebut kemungkinan besar dapat melarikan diri dan kembali bergabung dengan pasukan yang tersisa. Hal ini berpotensi besar untuk memicu peningkatan aktivitas NIIS yang akan mengarah pada destabilisasi kawasan Timur Tengah. (LITBANG KOMPAS)