Olahraga Titik Nadir Skuad ”Garuda”

Kualifikasi Piala Dunia 2022

Titik Nadir Skuad ”Garuda”

Buruknya penampilan tim nasional Indonesia di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2022 menjadi catatan kelam sejarah sepak bola Tanah Air. Pelatih Indonesia Simon McMenemy pun semakin tertekan.

Oleh Herpin Dewanto Putra
· 4 menit baca
ANTARA/NYOMAN BUDHIANA

Gelandang tim nasional Indonesia, Stefano Lilipaly (kanan), menendang bola dalam tekanan bek tengah timnas Vietnam, Duy Manh Do, dalam pertandingan Grup G Kualifikasi Piala Dunia 2022 putaran kedua zona Asia di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Selasa (15/10/2019). Indonesia kalah 1-3 dari Vietnam. Ini merupakan kekalahan keempat beruntun Indonesia pada Kualifikasi Piala Dunia 2022 sehingga menutup peluang skuad ”Garuda” untuk lolos ke putaran ketiga.

GIANYAR, SELASA — Indonesia kembali menelan kekalahan di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2022 seusai ditekuk Vietnam, 1-3, di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Selasa (15/9/2019). Tidak hanya membuat Indonesia kembali bermimpi tampil di Piala Dunia, rentetan penampilan buruk ini juga membawa skuad ”Garuda” ke titik nadir perjalanan tim nasional.

Sebanyak 14 gol sudah bersarang di gawang Indonesia dalam empat laga terakhir dan skuad Garuda belum mengantongi satu poin pun di Grup G kualifikasi Piala Dunia 2022 putaran kedua zona Asia. Dengan empat laga tersisa, yang tiga laga di antaranya merupakan laga tandang, upaya Indonesia untuk mencari poin akan semakin sulit. Bahkan, kans untuk tampil di Piala Asia 2023 ikut mengecil karena ajang ini sekaligus menjadi kualifikasi Piala Asia.

Bencana ini terjadi karena Indonesia masih mempertontonkan permainan tanpa skema yang jelas sejak kalah dari Malaysia, 2-3, pada laga perdana, awal September lalu. Pada laga kontra Vietnam, kemarin, tim asuhan Pelatih Simon McMenemy ini kembali ”berjudi” dengan memeragakan bola-bola panjang yang kerap jatuh ke kaki lawan. Upaya membangun serangan dilakukan secara serampangan, terlihat dari banyaknya kesalahan saat mengoper bola.

Vietnam kini berkembang pesat meninggalkan Indonesia.

Situasi ini diperburuk dengan sektor pertahanan yang masih rapuh meski McMenemy sudah berusaha menyegarkan lini belakangnya. Ia memasang Muhammad Ridho sebagai kiper dan bek yang baru saja dinaturalisasi, Otavio Dutra, untuk diduetkan dengan Yanto Basna yang menjadi kapten. Namun, pemain Vietnam, Do Duy Manh, tetap bisa membuka keunggulan pada menit ke-26 setelah Basna gagal membuang bola.

Basna kembali bertanggung jawab terhadap gol kedua Vietnam yang dicetak Que Ngoc Hai dari titik penalti. Wasit menunjuk titik putih setelah Basna menjatuhkan Do Hung Dung. Gawang Indonesia kembali bobol ketika Nguyen Tien Linh bisa berlari tanpa kawalan ketat pada menit ke-61.

Indonesia baru bisa mencetak gol pada menit ke-84 melalui tendangan Irfan Bachdim. Gol ini terjadi ketika Indonesia, melalui aksi Riko Simanjuntak, lebih berani menusuk pertahanan lawan tanpa menggunakan bola-bola panjang. Vietnam bisa saja menambah gol jika tendangan penalti kedua mereka di menit-menit akhir gagal dibendung Ridho.

Vietnam, pada akhirnya, bisa mengukir sejarah berupa kemenangan perdana di kandang Indonesia sejak berjumpa pertama kali pada ajang SEA Games 1991. Dalam 24 pertemuan hingga laga kemarin, Vietnam sebenarnya baru menang atas Indonesia sebanyak enam kali. Namun, Vietnam kini berkembang pesat meninggalkan Indonesia.

Tekanan McMenemy

Penampilan buruk Indonesia ini pun terus menambah tekanan terhadap McMenemy. Seusai dikalahkan Thailand, tagar #simonout pun bergema di Twitter. Desakan pubik agar PSSI memecat pelatih asal Skotlandia itu semakin kencang. Komentar-komentar yang mengungkapkan kerinduan terhadap pelatih lama Luis Milla juga bermunculan.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Konten premium, independen.

Anda sedang mengakses konten premium Kompas.id secara gratis.

Sebelum laga kontra Vietnam ini, McMenemy mengatakan bahwa tekanan itu sudah ada sejak ia menyetujui untuk melatih skuad Garuda. Persoalan penjadwalan liga yang membuat para pemain timnas menjadi kelelahan selalu menjadi alasan utamanya. Namun, McMenemy masih bersikeras bahwa timnya masih tampil bagus saat melawan Vietnam.

”Tim sudah bermain bagus, bertahan sangat bagus, organisasi juga sangat bagus. Namun, ketika tidak berkonsentrasi selama 10 menit, kami kebobolan,” kata McMenemy, seperti dilansir PSSI. Ia menilai, kurangnya konsentrasi menjadi penyebab utama kekalahan ini.

Tekanan terhadap McMenemy bakal bertambah karena pada laga-laga berikutnya Indonesia akan bertandang ke Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Satu laga kandang tersisa adalah melawan Uni Emirat Arab yang telah mengalahkan Indonesia, 5-0, di Dubai.

”Kami tidak bisa meninggalkan laga selanjutnya. Kami harus tetap fokus dan memberikan yang terbaik,” kata Irfan Bachdim. Ia mengakui bahwa tim tampil kurang percaya diri.

Pada pertandingan lainnya kemarin, Thailand menang 2-1 atas UEA dan kini menduduki puncak klasemen dengan tujuh poin. Sementara Vietnam juga memiliki tujuh poin dan berada di peringkat kedua.

Persiapan SEA Games

Vietnam dan Thailand juga akan menjadi lawan timnas U-23 Indonesia di Grup B ajang SEA Games 2019 yang akan berlangsung pada akhir November mendatang di Filipina. Tim-tim lainnya yang berada di grup itu adalah Laos, Singapura, dan Brunei Darussalam. Adapun Thailand merupakan juara bertahan.

Timnas U-23 sudah bersiap dengan mengikuti turnamen persahabatan di China pada Oktober ini. Dalam ajang itu, tim asuhan Pelatih Indra Sjafri ini kalah dari China, 0-2, dan dari Jordania, 0-1. Selasa kemarin, skuad ”Garuda Muda” bermain imbang 1-1 melawan Arab Saudi.

”Setiba di Jakarta, tim pelatih akan segera mengevaluasi,” kata Indra ketika dihubungi dari Jakarta. Indra juga optimistis timnya bisa tampil baik di ajang SEA Games nanti.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Oktober 2019 di halaman 20 dengan judul "Titik Nadir Skuad "Garuda"". baca epaper kompas