Fotografi Kisah di Balik Foto Bersejarah (1)
KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Foto Cerita

Kisah di Balik Foto Bersejarah (1)

Oleh IWAN SETIYAWAN ·

Setiap tanggal 10 November bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Pahlawan. Penetapan tanggal tersebut sebagai Hari Pahlawan didasarkan pada catatan sejarah peristiwa pertempuran rakyat Surabaya di awal kemerdekaan tahun 1945 melawan pasukan sekutu dan Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia setelah Jepang menyatakan kalah di perang Asia Pasifik.

Yang tak kalah penting selain tulisan sejarah adalah foto-foto rekaman perjuangan arek-arek Surabaya dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan. Salah satu foto bersejarah awal kemerdekaan di Surabaya yang paling dikenal adalah peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato. Peristiwa ini terjadi pada 19 September 1945, hampir dua bulan sebelum pertempuran 10 November 1945.

IPPHOS

Peristiwa perobekan bendera merah putih biru di Hotel Yamato, Surabaya, 19 September 1945.

Di balik foto-foto berbagai peristiwa awal kemerdekaan di Surabaya itu ada sosok fotografer yang mengabadikannya, Abdul Wahab Saleh. Namanya nyaris tak banyak dikenal, tak seperti nama Mendur bersaudara (Frans dan Alex Mendur) yang dikenal karena mengabadikan pembacaan teks Proklamasi 17 Agustus 1945 dan pendiri Kantor Berita Foto IPPHOS.

Abdul Wahab Saleh asli arek Surabaya yang saat itu bekerja sebagai pewarta foto di Kantor Berita Indonesia (KBI) yang didirikan Bung Tomo. Sebelumnya, saat Jepang berkuasa, Saleh dan Bung Tomo bekerja di kantor berita Domei. KBI kemudian melebur menjadi bagian dari kantor berita Antara.

Saat peristiwa perobekan bendera terjadi, Saleh sedang berada di kantor KBI di bekas kantor Domei di pojok tikungan Jalan Tunjungan mengarah ke Jalan Embong Malang. Hotel Yamato tempat peristiwa itu terjadi juga berada di Jalan Tunjungan, sekitar 100 meter dari kantor KBI.

Saleh sedang beristirahat ketika dia dan beberapa rekan wartawan mendengar keributan para pemuda yang memprotes pengibaran bendera Belanda warna merah putih biru oleh personel tentara Belanda yang bermarkas di Hotel Yamato. Naluri jurnalistiknya mendorong dia mendekat ke lokasi dengan membawa kamera.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Gedung bekas Kantor Berita Domei yang kini menjadi Monumen Pers Perjuangan Surabaya.

Setelah terjadi perkelahian antara sejumlah tentara Belanda dan pemuda rakyat  serta sempat terdengar rentetan senjata, tiba-tiba sudah ada beberapa pemuda yang menggunakan tangga naik ke menara tempat berkibarnya bendera Belanda. Mereka merobek warna biru di bagian bawah dan menjadi bendera merah putih yang kemudian dikibarkan lagi. Peristiwa itu terekam di rol seluloid di kamera Saleh.

Rol Film

Selepas peristiwa itu, Saleh sempat pulang ke rumah ibunya di daerah Pabean Sayangan, Surabaya. Ia menitipkan rol film berisi rekaman perobekan bendera ke ibunya. Kemudian ia kembali sibuk sebagai pewarta foto yang kala itu harus meliput rentetan peristiwa di masa konflik pertempuran kemerdekaan hingga puncaknya pada tanggal 10 November.

Setelah Belanda menguasai Surabaya di awal Desember, Saleh mengikuti rekan-rekannya hijrah ke Malang untuk menghindari penangkapan oleh tentara Belanda.

Sementara itu adik perempuan Saleh, Siti Hanifah, juga aktif sebagai relawan perang kemerdekaan. Saat Surabaya sudah dikuasai Sekutu dan Belanda, Hanifah juga berusaha mengungsi ke luar kota. Ketika pamit ke ibunya untuk menyusul kakaknya ke Malang, ia dititipi rol film Saleh yang kemudian disimpannya di di kendit (semacam ikat pinggang).

Perjuangan Hanifah juga tak mudah, ia harus naik perahu menyusuri pesisir timur Surabaya hingga sampai di Sidoarjo. Kemudian ia diantar temannya ke Malang dan bertemulah dengan sang kakak.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Peristiwa perobekan bendera tahun 1945 tiap tahun diperingati dengan digelar tetrikal di lokasi yang sama, kini menjadi Hotel Majapahit, Surabaya, Kamis (19/9/2019).

Saleh sangat gembira ketika Hanifah menyerahkan rol film miliknya yang dikiranya sudah hilang karena tak ada kabar dari ibunya. Gulungan seluloid tersebut yang akhirnya diproses Saleh untuk kemudian dicetak menjadi foto yang kini kita kenal sebagai peristiwa perobekan bendera di Surabaya.

Catatan tentang peran Abdul Wahab Saleh selama perang kemerdekaan sangatlah minim. Yang ada hanyalah kliping berita koleksi keluarganya yang diambil dari berbagai media yang pernah menulis kisahnya di tahun 1970-an hingga saat Saleh wafat di bulan April 1982. Salah satu catatan tersisa adalah tulisan sahabatnya sesama wartawan di Antara, Soebagijo IN, yang dimuat di koran Surabaya Post seminggu setelah Saleh berpulang. Soebagijo yang juga dikenal sebagai wartawan senior penulis sejarah juga sudah berpulang tahun 2013 lalu.

Sepak terjang Saleh sungguh luar biasa karena dia mengabadikan semua peristiwa pertempuran kemerdekaan di Surabaya dari September hingga awal Desember 1945. Selain foto perobekan bendera, foto lain yang diabadikannya adalah pidato Bung Tomo yang membakar semangat arek-arek Surabaya. Bagaimana kisah lengkap Saleh selanjutnya akan disajikan di rubrik Klik edisi berikutnya.

Baca Juga : Tentang Abdul Wahab Saleh di Klik minggu depan