Muda Petualangan Seru di Doha

WISATA

Petualangan Seru di Doha

Siapa yang menyangka, dalam satu hari menjelajah ibu kota Qatar itu, kita bisa merasakan petualangan seru tak terlupakan. Dimulai dari safari di padang gurun sampai menikmati matahari terbenam di pantai.

Oleh Susie Berindra
· 5 menit baca
KOMPAS/SUSIE BERINDRA

Keindahan kota Doha, Qatar, diambil dari Hotel Mondrian lantai 15, Selasa (29/10/2019).

Salah satu hal yang terbayangkan dari kota Doha adalah cuaca panas menyengat. Namun, siapa yang menyangka, dalam satu hari menjelajah ibu kota Qatar itu, kita bisa merasakan petualangan seru tak terlupakan. Dimulai dari safari di padang gurun sampai menikmati matahari terbenam di pantai.

Memasuki kota Doha, kami disuguhi gedung-gedung tinggi ikonik yang modern. Rombongan wartawan dan influencer diundang oleh Qatar Airways dan Qatar National Tourism Council untuk menikmati Doha selama dua hari.

Sejak awal tahun ini, Qatar Airways membuka destinasi baru, Doha-Lisabon. Untuk wisatawan Indonesia, Doha bisa lebih mudah dicapai dengan adanya program bebas visa 30 hari dari otonomi Qatar. Tentu saja destinasi singgah ini bisa memberikan pengalaman yang agak berbeda.

Di hari kedua, Selasa (29/10/2019), Q-Explorer Tourism mengajak kami bertualang ke bukit pasir di Inland Sea yang berjarak sekitar 90 kilometer dari pusat kota Doha. Setelah naik mobil sekitar 1,5 jam, kami sampai di padang pasir. Turis bisa mengawali petualangan di padang pasir berfoto-foto atau menunggang unta. Jika menunggang unta, tak perlu khawatir jatuh karena unta berjalan perlahan-lahan mengitari padang pasir. Tarif yang dikenakan untuk menunggang unta 50 QR atau sekitar Rp 190.000.

KOMPAS/SUSIE BERINDRA

Jalan-jalan di Doha, Qatar, rasanya kurang lengkap jika tidak ke padang gurun di Inland Sea, Doha, salah satunya bisa naik unta, Selasa (29/10/2019).

Sambil menunggu, sopir kami, Abdullah, mengempiskan ban mobil Land Cruiser. Dia sedang mempersiapkan petualangan melintasi bukit-bukit pasir. Paket wisata yang dinamakan half day desert, safari bukit pasir, ini memang bikin penasaran. Sejak melewati deretan bukit pasir, saya sudah bertanya-tanya bagaimana rasanya naik mobil melewati pasir.

Rombongan kami dibagi menjadi dua mobil. ”Hati-hati, pakai seat belt, ya, apalagi yang duduk di belakang. Selamat menikmati petualangan seru ini,” kata Abdullah sebelum memulai perjalanan.

Awalnya, kami santai menikmati perjalanan sambil memotret kanan kiri padang pasir. Mobil berjalan tanpa arah menentu, tak ada jalan yang pasti, sesukanya sang sopir. Mobil bisa mengikuti jalan yang sudah dilewati mobil lain atau bisa juga sopir mencari jalan sendiri. Kami berjalan sambil diiringi musik-musik Arab bertempo cepat. Lama kelamaan, Abdullah membawa mobil sambil melenggok-lenggok sampai kami meloncat dalam mobil berkali-kali. Rasanya, seperti naik roaller coaster di atas pasir.

KOMPAS/SUSIE BERINDRA

Jalan-jalan di Doha, Qatar, rasanya kurang lengkap jika tidak merasakan safari padang gurun di Inland Sea, Doha, Selasa (29/10/2019).

Saat akan melewati jalan menurun yang curam, Abdullah bertanya kepada kami, ”Apakah kalian sudah siap?” Rombongan yang terdiri lima perempuan langsung berteriak menjerit ketika mobil meluncur turun. Selama empat jam, petualangan di bukit-bukti pasir sungguh menakjubkan.

Di sela-sela perjalanan, kami mampir makan siang di Sealine Camp. Di restoran tepi pantai yang berbatasan dengan padang pasir itu, kami menikmati lezatnya masakan laut.

Seusai makan siang dan beristirahat, ternyata petualangan di atas pasir belum selesai. Dengan cekatan, Abdullah kembali beraksi di belakang setir mobil. Salah satu yang menarik, dua mobil bergantian untuk beratraksi. Saat mobil lain beratraksi, kami berkali-kali mengucapkan ”wow” sambil memotret. Ketika giliran mobil kami beratraksi, saya langsung berpegang erat sambil merasakan mobil yang bergoyang-goyang seakan mau jatuh.

Seru sekali merasakan padang pasir yang seolah tak berujung. Di jalan pulang, Abdullah mampir sebentar ke bengkel untuk memompa ban mobil. Hati pun terasa lega setelah melihat jalan raya.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Next-level goal requires next-level knowledge

Harian Kompas x The Straits Times Get a two-for-one digital subscription deal from the two biggest news publisher in Indonesia and Singapore.

Pemandu wisata Q-Explorer Tourism, Fannie Loreal, mengatakan, petualangan di padang pasir ini menjadi destinasi utama para turis, dengan biaya sekitar 800 QR untuk dua orang atau sekitar Rp 3,079 juta.

”Pengalaman di Inland Sea menyuguhkan padang pasir yang indah dan jika cuaca mendukung, kita bisa melihat pegunungan Saudi Arabia. Semua perjalanan pasti akan didampingi sopir dan pemandu wisata yang berpengalaman, supaya tidak kesasar atau hilang di lautan pasir,” kata Fanny.

KOMPAS/SUSIE BERINDRA

National Museum of Qatar di Doha yang baru diresmikan  Maret 2019 mengajak kita mengeksplorasi sejarah Qatar, Selasa (29/10/2019).

Keindahan museum

Keseruan lain di Doha adalah menikmati gedung-gedung ikonik di pusat kota. Salah satu gedung dengan desain unik adalah National Museum of Qatar yang baru resmi dibuka untuk umum pada 28 Maret 2019. Suasana di museum, Senin (28/10/2019), sore itu ramai oleh pengunjung. Mereka bisa berfoto-foto di luar museum atau memilih mengeksplorasi koleksi galeri museum yang unik. Pemandu museum, Hilal, mengajak kami berkeliling di museum karya arsitek dari Perancis, Jean Nouvel.

Museum tersebut terbagi menjadi tiga bagian, yaitu sejarah dan kehidupan alami jutaan tahun yang lalu di Qatar, lalu disambung dengan bagian kehidupan tradisional penduduk Qatar. Bagian terakhir dari museum menampilkan kehidupan modern penduduk Qatar.

Salah satu koleksi yang menarik adalah karpet atau permadani yang penuh dengan mutiara, yaitu Carpet of Baroda. ”Karpet ini harganya termahal nomor 4 atau 5 di dunia. Mutiara di karpet ini jumlahnya sekitar 1,4 juta,” ujar Hilal.

Dari museum, kami beranjak ke Souq Waqif, pasar tradisional yang menawarkan keunikan khas Qatar. Kita bisa menemukan beragam barang-barang tradisional, seperti karpet, rempah-rempah, dan cendera mata. Selain dipenuhi para pedagang, kita bisa nongkrong di kafe-kafe yang berada di tengah pasar.

KOMPAS/SUSIE BERINDRA

Pemandangan gedung-gedung modern yang ikonik di Doha, Qatar, saat dilihat dari dhow, Selasa (29/10/2019).

Menjelang matahari terbenam, kami menuju ke Pelabulan Corniche of Doha untuk menyusuri pantai dengan kapal nelayan yang disebut dhow. Sambil menikmati pemandangan kota dari kapal, pemandu wisata, Zouhairi Yassin, menerangkan beberapa tempat menarik yang kami lewati. Salah satunya Museum of Islamic Art yang bersih dan indah. ”Tempat itu menjadi favorit bagi penduduk di sini setiap akhir pekan. Apalagi kalau acara, pasti akan penuh,” tuturnya.

Tujuan wisata selanjutnya adalah Katara Cultural Village yang menjadi pusat budaya dan seni di Doha. Di kawasan itu, terdapat masjid yang indah, Blue Mosque, lalu ada amfiteater yang saat itu sedang dipersiapkan untuk sebuah acara.

Di beberapa titik, di kawasan itu terpajang karya seni yang unik dan pastinya seru untuk menjadi latar belakang berswafoto. Untuk bisa mengelilingi kawasan yang luas di tepi laut itu, kita bisa menggunakan mobil golf yang disediakan gratis. Kalau lapar, pengunjung juga dapat memilih salah satu restoran atau kafe yang menawarkan berbagai macam makanan.

Persinggahan selama dua hari di Doha, sebelum melanjutkan perjalanan ke Lisabon, Portugal, meninggalkan kesan yang mendalam. Rasanya, dua hari kurang lama untuk bisa mengeksplorasi keindahan kota Doha.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 November 2019 di halaman 16 dengan judul "Petualangan Seru di Doha ". baca epaper kompas