Riset Kajian Data Teka-teki Arah Koalisi Partai Nasdem

Kongres Partai Nasdem

Teka-teki Arah Koalisi Partai Nasdem

Menjelang kongres, dinamika Partai Nasdem diwarnai kejutan elite partai yang menemui tokoh dan parpol di luar koalisi pemerintahan Jokowi-Amin. Posisi Partai Nasdem di koalisi pemerintahan jadi hal yang paling dinanti.

Oleh Yohanes Mega Hendarto
· 4 menit baca
KOMPAS

Calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Joko Widodo menemui Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (NasDem) Surya Paloh di kantor Partai NasDem, Gondangdia, Jakarta Pusat, Sabtu (12/4/2014). Pertemuan tersebut diagendakan untuk membahas Pilpres 2014.

Menjelang kongres, dinamika Partai Nasdem diwarnai kejutan elite partai yang menemui tokoh dan parpol di luar koalisi pemerintahan Jokowi-Amin. Posisi Partai Nasdem di koalisi pemerintahan menjadi hal yang paling dinanti dari hasil kongres.

Kongres II Partai Nasdem yang digelar pada 8-11 November 2019 di Jakarta International Expo memiliki agenda utama memilih ketua umum partai untuk lima tahun mendatang. Sosok Surya Paloh masih terlihat sangat unggul untuk melanjutkan kepemimpinan partai.

Menguatnya sosok Surya Paloh untuk melanjutkan tampuk kepemimpinan partai bukanlah tanpa alasan. Selain sebagai pendiri partai, selama di bawah kepemimpinannya, Partai Nasdem juga telah mengukir prestasi yang semakin mendaki. Bersama  pengurus lain, seperti Sekretaris Jenderal Nasdem Johnny G Plate, Surya Paloh berhasil meracik strategi ketokohan untuk menguatkan Partai Nasdem.

Sebagai pendatang baru di Pemilu 2014, hasil perolehan suara Partai Nasdem cukup baik. Partai Nasdem berhasil meraup 8.402.812 suara (6,72 persen). Sementara perolehan kursi partai ini menduduki peringkat ke-9 dari 15 partai yang berkompetisi kala itu.

Keberhasilan pada Pemilu 2014 tentu tidak bisa dilepaskan dari pilihan capres-cawapres yang diusung. Bersama PDI-P (partai pengusung utama), PKB, Partai Hanura, dan didukung pula oleh PKPI, Partai Nasdem turut mendeklarasikan dukungannya kepada pasangan capres-cawapres Joko Widodo dan Jusuf Kalla pada Pemilu 2014.

Pemilu dan pilkada

Pada Pilkada 2018, raihan Partai Nasdem juga terlihat menonjol. Dari pemilihan gubernur, terdapat 11 pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung Partai Nasdem memenangi pemilihan. Menariknya, dari hasil pemilihan gubernur tersebut, Nasdem tidak sekadar berperan dalam pencalonan. Terdapat 3 gubernur dan 1 wakil gubernur yang sejak awal merupakan kader Partai Nasdem.

Dalam Pemilu Legislatif 2019, strategi Partai Nasdem dengan mengusung para caleg pesohor terbilang berhasil mengangkat suara partai. Dengan perolehan 12.661.792 suara, Partai Nasdem berhasil finis di lima besar. Bahkan, jika pada 2014 partai ini berhasil mendapatkan 36 kursi DPR, kini mendapatkan 59 kursi.

Kiprah yang cemerlang turut mengantarkan keterlibatan partai ini dalam pemerintahan baru di bawah Presiden Joko Widodo. Dalam susunan Kabinet Indonesia Maju, terdapat tiga nama anggota Partai Nasdem. Ketiganya, Menteri Komunikasi dan Informasi Johnny G. Plate, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Presiden dan wakil presiden terpilih periode 2014-2019 Joko Widodo dan Jusuf Kalla didampingi Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, serta Ketua Umum PKPI Sutiyoso (kiri ke kanan), menghadiri kegiatan Halalbihalal Partai Nasdem dan Relawan Jokowi-JK di Jakarta Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (22/8/2014). Dalam kesempatan tersebut, Joko Widodo menyampaikan ungkapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kerja keras para relawan hingga mengantarkan dirinya bersama Jusuf Kalla sebagai pemenang dalam Pilpres 2014.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Next-level goal requires next-level knowledge

Harian Kompas x The Straits Times Get a two-for-one digital subscription deal from the two biggest news publisher in Indonesia and Singapore.

Koalisi

Meski demikian, posisi Partai Nasdem sebagai oposisi atau koalisi belumlah jelas. Masuknya tiga nama anggota dalam jajaran kabinet kerja yang baru belum dapat memantapkan partai ini ke kubu koalisi.

Begitu juga dengan pertemuan yang Surya Paloh lakukan dengan sejumlah tokoh politik. Tercatat selama Juli 2019, Surya Paloh menyambut kedatangan Ketum Golkar Airlangga Hartanto, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, Pelaksana Tugas Ketum PPP Suharso Monoarfa, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada tanggal yang berbeda.

Di pertengahan Oktober, giliran Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bertamu ke kantor DPP Partai Nasdem. Terakhir, Surya Paloh dan jajaran pengurus Nasdem bertemu dengan Ketum PKS Sohibul Iman dan jajaran pengurus PKS di kantor DPP PKS di Jakarta pada akhir Oktober 2019 kemarin.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Presiden Joko Widodo didampingi Ketua Umum Partai Politik pendukung Koalisi Indonesia Kerja antara lain Ketua Umum Nasdem Surya Paloh dalam pertemuan koalisi pendukung di Jakarta, Kamis (9/8/2018).

Pertemuan politik Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dengan sejumlah tokoh sebenarnya merupakan pertemuan yang biasa dilakukan tokoh-tokoh parpol. Namun, pertemuan tersebut menjadi menarik perhatian ketika tak semua tokoh partai yang ditemui berasal dari partai koalisi pemerintahan Jokowi-Amin.

Di sisi lain, ada tiga kursi Partai Nasdem  di kabinet Presiden Jokowi. Dalam hal ini, posisi Partai Nasdem belum tegas.

Pertemuan akbar bertajuk Restorasi untuk Indonesia Maju” ini tidak hanya membahas soal kepemimpinan partai. Kongres ini turut membahas struktur organisasi partai periode 2019-2024, rancangan Garis Besar Haluan Partai, serta strategi dalam menatap Pilkada 2020, Pileg 2024, dan Pilpres 2024.

Akan tetapi, arah kejelasan posisi partai ini sebagai oposisi atau koalisi menjadi hal yang paling dinanti. Bagaimana Nasdem menegaskan posisinya?  (Litbang Kompas)