Humaniora Reini Wirahadikusumah: Meningkatkan Partisipasi Perempuan di Iptek

Rektor ITB

Reini Wirahadikusumah: Meningkatkan Partisipasi Perempuan di Iptek

Rektor ITB periode 2020-2025 Reini D Wirahadikusumah bertekad meningkatkan partisipasi perempuan di dalam sains, teknologi, keinsinyuran, seni, dan matematika, terutama pada bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Oleh Laraswati Ariadne Anwar / Yovita Arika
· 3 menit baca
DOKUMENTASI ITB

Rektor Institut Teknologi Bandung  periode 2020-2025 Reini D Wirahadikusumah.

JAKARTA, KOMPAS — Terpilih sebagai Rektor Institut Teknologi Bandung periode 2020-2025 pada Jumat (8/11/2019), Profesor Reini D Wirahadikusumah bertekad meningkatkan partisipasi perempuan di dalam sains, teknologi, keinsinyuran, seni, dan matematika, terutama pada bidang teknologi informasi dan komunikasi. Sebanyak 45 persen mahasiswa di ITB merupakan perempuan.

Menurut Reini, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) merupakan bidang tempat perempuan bisa berkontribusi secara masif. Penguasaan ilmu ini memungkinkan perempuan mengembangkan kreativitas di dalam jaringan sehingga lebih fleksibel karena bisa dikerjakan di mana saja.

”Ini yang disebut teknologi tepat guna dan relevan bagi masyarakat,” ujarnya dalam jumpa pers seusai Sidang Pemilihan dan Penetapan Rektor ITB periode 2020-2025 di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Jumat (8/11/2019).

Sidang dilakukan Majelis Wali Amanat ITB yang diketuai Yani Panigoro bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Selain Reini, dua kandidat rektor lainnya adalah Prof Kadarsah Suryadi, Rektor ITB periode 2015-2020, dan Prof Jaka Sembiring, Dekan Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika ITB.  Reini akan menggantikan Kadarsah Suryadi yang akan menuntaskan tugasnya pada 20 Januari 2020.

Reini merupakan perempuan pertama yang terpilih sebagai rektor di almamater Presiden Soekarno tersebut. Dia adalah guru besar pada Kelompok Keahlian Manajemen dan Rekayasa Konstruksi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB. Dia adalah perempuan ketiga yang menjadi profesor dari Teknik Sipil ITB. Alumnus SMA Tarakanita Jakarta ini meraih gelar S-1 dari ITB serta gelar S-2 dan S-3 dari Universitas Purdue, Indiana, Amerika Serikat.

Reini merupakan perempuan pertama yang terpilih sebagai rektor di almamater Presiden Sukarno tersebut.

Menguatkan inovasi

Reini menargetkan dalam lima tahun ke depan ITB bisa menjadi lembaga pendidikan dan penelitian yang diakui dunia sekaligus relevan pada tataran lokal. ”Targetnya dalam lima tahun ke depan semakin menguatkan inovasi yang memang merupakan budaya ITB. Kampus akan mati tanpa inovasi karena menjadi tidak relevan bagi bangsa,” tutur Reini.

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Next-level goal requires next-level knowledge

Harian Kompas x The Straits Times Get a two-for-one digital subscription deal from the two biggest news publisher in Indonesia and Singapore.

Tantangan utama ITB, kata Reini, adalah kemampuan melampaui capaian yang diperoleh selama ini. Tahun 2020 merupakan peringatan ulang tahun ke-100 ITB dan selama itu pula perguruan tinggi ini berada di puncak peringkat nasional. Jangan sampai sivitas akademika terlena dengan posisi ini sehingga kurang jeli dan kreatif dalam melakukan inovasi.

Tahun 2020 merupakan peringatan ulang tahun ke-100 ITB dan selama itu pula perguruan tinggi ini berada di puncak peringkat nasional.

Baca juga: Mahaguru dan Riset

”Target lainnya adalah membangun ITB Enterprise, unit-unit usaha berdasarkan hasil riset dan inovasi yang dikembangkan oleh para dosen maupun mahasiswa. Selain sebagai wahana bisnis, juga tempat pelatihan mahasiswa mempraktikkan ilmu dan memetakan kebutuhan masyarakat,” ujar Reini.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR

Kiri ke kanan: Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) periode 2020-2025 Reini D Wirahadikusumah, Ketua Majelis Wali Amanat ITB Yani Panigoro, Rektor ITB periode 2015-2020 Kadarsah Suryadi, dan Dekan Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika ITB Jaka Sembiring dalam jumpa pers pengumuman Rektor ITB periode 2020-2025 di Jakarta, Jumat (8/11/2019).

Yani Panigoro mengatakan, penguatan kolaborasi adalah keniscayaan. Apalagi, para nomine calon rektor merupakan akademisi-akademisi mumpuni dengan berbagai karya. Hendaknya kolaborasi bisa menghasilkan terobosan-terobosan baru sambil tetap menjaga terlaksananya Tri Dharma ITB.

Nadiem berpesan agar ITB menjaga kemerdekaan kampus dalam berpikir dan berkreasi. ITB harus fleksibel dalam membaca perubahan zaman dan memiliki kebebasan menentukan langkah yang dinilai tepat untuk melewati berbagai tantangan.

Konteks perguruan tinggi kelas dunia (world class university) hanya bisa dilihat dari mutu alumni dan ITB harus mengembangkan cara mengolah potensi mahasiswa semaksimal mungkin. Pemerintah dalam hal ini hanya bertindak sebagai pendamping yang siap membantu.

Editor Yovita Arika
Bagikan