Sastra Cerpen Sebotol Sampanye

CERPEN DIGITAL

Sebotol Sampanye

Sejak aku menjadi milik lelakiku, setiap detik dalam hidupku hanyalah tentang dirinya. Kami seakan sudah ditakdirkan bersama.

Oleh Fitri Manalu
· 6 menit baca

Sejak aku menjadi milik lelakiku, setiap detik dalam hidupku hanyalah tentang dirinya. Kami seakan sudah ditakdirkan bersama. Aku selalu mengamatinya saat ia terjaga di pagi hari, pulang ke rumah pada sore hari, atau malam sewaktu ia tertidur di depan televisi. Aku bahagia kala ia tertawa, bersedih bila wajahnya berselimut duka. Lelaki itu hanya milikku. Aku tak perlu berbagi dirinya. Hingga pada suatu malam, ia membawa seseorang pulang bersamanya.

Saat aku melihat gadis mungil itu, aku dilanda perasaan tak suka. Mungkin karena sepasang matanya yang sendu. Gadis itu terlihat seperti perangkap yang akan menjerat hati lelakiku. Bibirnya pucat. Parasnya mengundang rasa iba. Gadis itu duduk meringkuk di sofa putih milik lelakiku. Gaunnya basah, lekat di sekujur tubuhnya yang menggigil kedinginan.

”Mengapa kamu melakukannya?”

Gadis itu membisu.

Lelakiku meraih selembar handuk lalu menaruhnya di atas kepala gadis itu. ”Keringkan rambutmu.” Lelakiku gegas ke dapur dan kembali dengan secangkir teh panas. Saat mengulurkan cangkir pada pada gadis itu, kecemasan tampak kentara di wajah lelakiku.

”Aku hanya ingin terlelap dan terbangun di surga.” Gadis itu berbisik lirih tanpa menyentuh secangkir teh pemberian lelakiku.

”Jangan berpikir yang tidak-tidak,” sergah lelakiku gusar, ”kau ingin mati?”
Gadis itu menatap kosong pada lelakiku. ”Aku hanya bosan bernapas.”
Lelakiku tertegun. Sepasang alisnya bertaut. ”Apa maksud perkataanmu?”

”Hidupku adalah derita. Kau takkan mengerti.” Gadis itu menenggelamkan wajahnya di balik lututnya. Tubuhnya lalu menekuk seperti siput.
Lelakiku meletakkan cangkir di atas meja lalu membisu. Parasnya tampak gulana. Ia tampak resah atas kepedihan yang dirasakan oleh gadis di sampingnya.

”Gaunmu basah. Kau bisa masuk angin.” Suara lelakiku terdengar lemah dan membujuk. ”Sebaiknya, kau berganti pakaian. Pakailah bajuku.”
Aku tersengat. Gadis itu akan memakai baju lelakiku?

”Tidak usah,” gadis itu mencampakkan handuk di kepalanya ke lantai, ”lain kali, jangan halangi aku.”

Gadis gila! Aku mengumpat.

”Selina! Sadarlah! Aku tidak suka kau berkata begitu!” Suaranya lelakiku menggelegar.

Aku tercengang. Baru kali ini lelakiku murka. Gadis bernama Selina itu benar-benar memuakkan!

Selina terpana. Sesaat kemudian, pundaknya berguncang. Gadis itu kembali menangis. ”Kau takkan mengerti… kau takkan memahamiku.”
Sorot mata lelakiku meredup. Hatiku tersayat.

”Maafkan aku Selina… aku tak berniat…”

Tangis Selina malah semakin keras. ”Tidak! Kau takkan tahu rasanya menjadi gila sepertiku!”

Gila? Apa maksudnya?

Lelakiku menghambur dan memeluk Salina erat-erat. ”Ceritakanlah padaku…” Lelakiku menepuk-nepuk pundak Selina. ”Agar kau merasa lega.”
Rasanya aku ingin menampar pipi Selina dan merenggut tubuh mungilnya dari dekapan hangat lelakiku. Melihat lelakiku bersikap seperti itu rasanya sungguh menyakitkan.

Selina mengangkat wajahnya yang berlumuran air mata. ”Benarkah kau akan mengerti deritaku?”

Lelakiku mengangguk. ”Kucoba untuk memahamimu.”

”Mereka mengurungku karena aku selalu bicara dengan peri-peri. Mereka bilang aku gila! Mereka keliru! Peri-peri itu yang mendatangiku setiap kali aku bersedih. Bukan salahku…” Tangis Selina geram.

Dasar gadis sinting! Apa yang ia bicarakan?

”Kalau begitu, bicaralah padaku. Jangan hiraukan peri-peri itu.”

”Kau belum lama mengenalku.”

”Tapi, aku peduli denganmu. Aku menyayangimu Selina…”

Selina menghambur ke dalam pelukan lelakiku. Mereka hanyut berbagi kepedihan. Gerimis mulai turun di luar rumah. Malam itu, aku menyaksikan dua insan meluapkan rasa dan menahan cemburu yang menyesakkan.

***

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Next-level goal requires next-level knowledge

Harian Kompas x The Straits Times Get a two-for-one digital subscription deal from the two biggest news publisher in Indonesia and Singapore.

Aku sungguh tak tahu sejak kapan dan bagaimana mulanya mereka bertemu. Yang kutahu hanyalah, sejak sore itu, hidup lelakiku hanyalah tentang Selina. Lelakiku telah melupakanku. Ia bukan lagi milikku seutuhnya. Aku harus berbagi dirinya dengan seorang gadis itu. Kejadian malam itu hanyalah permulaan. Rentetan kejadian berikutnya, justru lebih menyakitkan.
Suatu ketika di akhir pekan.

”Kau mau menemaniku jalan-jalan?”

Lelakiku mengangguk lalu meremas tangan Selina. Sementara mereka bertatapan mesra, aku terbakar api cemburu.

Suatu hari kala senja.

”Maukah kau membacakan cerita untukku?”
Lelakiku mengangguk lalu membelai-belai rambut Selina. Aku benar-benar merasa muak.

Di lain waktu.
”Datanglah, aku merindukanmu.”
Sebuah panggilan telepon dari Selina membuat lelakiku tergesa-gesa pergi dan membanting pintu. Seandainya saja, aku bisa mengutuk gadis itu menjadi patung! Aku sungguh membencinya.

Pada suatu malam.
”Berjanjilah, kau takkan pernah meninggalkanku.”
Lelakiku tak berkata apa-apa. Ia hanya merangkul Selina ke dalam pelukannya. Lalu bayangan mereka saling memagut di tirai jendela. Kilat menyambar-nyambar di luar. Hujan menderas. Malam itu, aku benar-benar ingin membunuh Selina.

***

Kisah bahagia tak selalu berjalan semulus awalnya. Pada suatu hari, lelakiku bersimpuh di depan Selina. Ia memohon gadis itu untuk merelakannya pergi memenuhi tuntunan nasib.

”Jarak hanya untuk mereka yang jauh. Kita dekat, kau seperti udara yang kuhirup setiap waktu,” bisik lelakiku pada Selina. Lelakiku mencium tangan Selina, bangkit menuju ke sudut ruangan, dan mengambil sesuatu.

Tidak! Aku sungguh tak rela! Lebih baik aku melihat mereka bersama daripada ia pergi meninggalkanku. Semoga saja Selina dapat menahan kepergian lelakiku.
Selina menerima tanda mata perpisahan dari lelakiku sambil meneteskan air mata. Rambutnya sepunggungnya kusut. Sepasang matanya berduka.

”Mengapa kau meninggalkanku? Kau sudah berjanji!”

Lelakiku menyentuh pundak Selina dengan lembut. ”Maafkan aku… aku benar-benar tak bisa menghindarinya. Ini harus kulakukan demi masa depan kita. Percayalah padaku.”

Selina melemparkan tanda mata perpisahan dari lelakiku ke atas ranjang. Gadis itu meraung lalu mencakar tubuh lelakiku sebisanya. ”Kau berbohong! Kau hanya ingin meninggalkanku!”

”Jangan berpikir begitu. Kalau kau tak percaya, tinggallah di sini. Rawatlah tanda mata dariku baik-baik. Kita akan merayakan pertemuan saat aku kembali.” Lelakiku mengucapkan janji lalu meredam kemarahan Selina dengan sebuah pelukan.

Aku melihat sepasang mata Selina berpendar redup. Aku yakin, gadis itu sedang menyemai harapan. Aku juga demikian. Untuk pertama kalinya, aku berhasil menghalau kemarahan pada gadis itu.

***

Hari-hari sepi tanpa sosok lelakiku dimulai. Aku dan Selina mabuk kesepian dengan cara kami masing-masing. Aku membisu, sedangkan gadis itu lebih banyak berbincang dengan dirinya. Saat melihat gelombang kepedihan di matanya, aku berhenti membencinya. Peri-peri kembali datang berkunjung ke dunianya. Selina yang rapuh tak kuasa menolak kehadiran mereka.

”Kau tahu? Dia sudah melupakanku.” Selina mengisak di sudut ruangan. ”Sudah lama dia tak berkirim kabar padaku.” Selina menghentikan tangisnya lalu mulai mengikik. ”Kau dengar itu? Peri-peri menyapaku. Kau ingin bicara dengan mereka?”

Sorot mata Selina tampak ganjil. Gadis itu lebih mabuk kesepian dariku. Ia lalu meninggalkanku dan bercakap-cakap dengan para peri. Sayangnya, aku tak dapat melihat peri-peri itu.

”Kalian ingin berpesta?” Selina meraih tanda perpisahan dari kekasihnya lalu menari berputar-putar layaknya seorang balerina. ”Merayakan pertemuan? Omong kosong! Kalian benar. Kekasihku takkan pernah kembali. Aku tak perlu menunggunya.”

Aku bergidik saat Selina menatapku penuh hasrat. Oh, tidak! Ia benar-benar akan menghabisiku.

Selina membuka tanda perpisahan dari kekasihnya lalu menuangkannya ke dalam gelas. ”Mari kita rayakan!” teriak gadis itu. Ia lalu merayakan kepedihannya bersama peri-peri dan menghamburkan isi gelasnya ke segala penjuru.

Perlahan-lahan, aku surut dalam kegilaan Selina. Meski begitu, sesungguhnya aku merasa bahagia, karena aku akan kosong dan terbebas dari rasa kehilangan. Aku harus berterima kasih pada gadis itu, karena ia memilih menghabiskan sebotol sampanye untuk merayakan kepedihannya.

***

TD, 23 Juni 2019

Lamria Fitriani Manalu, Penulis Kumcer Sebut Aku Iblis (2015) dan Novel Minaudiere (2017). Cerpennya termuat di sejumlah antologi bersama, media daring, dan media cetak. Bergiat di komunitas Rumah Pena Inspirasi Sahabat. Kini tinggal di Medan.